From: rm_maryo "Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa" (2Raj 24:8-17; Mat 7:21-29)
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka" (Mat 7:21-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Ada pastor atau pendeta ketika berkotbah dengan membacakan apa yang telah ditulis, demikian juga ada guru mengajar hanya dengan membacakan buku, dst.. , sebaliknya ada yang berkotbah atau mengajar tanpa pegangan teks melainkan secara spontan berkotbah atau mengajar serta apa yang disampaikan sungguh berisi dan mudah ditangkap dan dicerna. Yang kemudian ini kiranya sungguh menguasai dan bahkan menghayati apa yang dikotbahkan dan diajarkan, maka boleh dikatakan mereka meneladan Yesus, yang "mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat". Para ahli Taurat mengajarkan hal-hal yang baik, indah dan mulia tetapi mereka tidak berusaha menghayati apa yang mereka ajarkan. Marilah kita yang sering mengajar, memberi nasihat atau saran, mengritik , dst. meneladan Yesus, yang mengajarkan apa yang Ia lakukan juga. Ajakan ini kiranya lebih kena bagi para orangtua, pemimpin atau petinggi, yang sering memberi arahan, nasihat atau saran kepada anak-anaknya, anggota atau bawahannya. Hendaklah entah orangtua, pemimpin atau petinggi menjadi teladan atas apa yang mereka arahkan, nasihatkan atau sarankan, bukan hanya omong atau bicara saja. Keteladanan merupakan bentuk pengajaran dan pendidikan atau pewartaan yang pertama dan utama serta tak dapat digantikan oleh cara lainnya apapun juga. Ajaran utama dan pertama dari Tuhan adalah `saling mengasihi', maka marilah kita menjadi teladan hidup `saling mengasihi' di dalam hidup sehari-hari, saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan. Kita masing-masing dapat hidup `tegak, segar dan sehat' seperti saat ini kiranya hanya karena dan oleh kasih yang telah kita terima dengan melimpah ruah dari Tuhan melalui sesama dan saudara-saudari kita. Hidup dan bertindak dalam dan oleh kasih akan tahan dan kebal terhadap aneka macam godaan dan tantangan yang dapat menghancurkan atau merusak iman, kepribadian dan jati diri kita, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder, suster, pekerja atau pelajar. . "Semua orang yang gagah perkasa, tujuh ribu orang banyaknya, para tukang dan para pandai besi, seribu orang banyaknya, sekalian pahlawan yang sanggup berperang, dibawa oleh raja Babel sebagai orang buangan ke Babel" (2Raj 24:16). Yoyakhin, raja yang jahat, tidak dapat bertahan dan hancur berantakan bahkan menjadi tawanan bersama dengan anak buah dan rakyatnya. Yang jahat pemimpin dan yang kena atau memperoleh hukuman adalah rakyat atau pengikut-pengikutnya, itulah yang terjadi. Hal ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi mereka yang merasa menjadi `raja atau pemimpin', entah di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja serta hidup beragama. Jauhkan aneka macam bentuk kejahatan dalam menghayati atau memfungsikan jabatan dan kedudukan anda, sebagai pemimpin atau atasan. Pengalaman dan aneka peristiwa yang terjadi saat -saat ini, entah di tingkat Negara, daerah atau keluarga, dimana yang menjadi pemimpin bejat moralnya, maka rakyat atau anggota keluarganya menderita. Dengan kata lain pemimpin atau atasan yang jahat berarti menyakiti atau menyengsarakan anggota atau bawahannya. Apa yang terjadi di Indonesia rasanya demikian adanya: aneka sumber kekayaan alam serta usaha yang menjanjikan keuntungan besar `dijual' ke orang, perusahaan atau Negara asing, sehingga kemiskinan semakin bertambah dan parah. Semua itu terjadi karena `jalan pintas' atau `sikap mental instant', tidak mau dan tidak bersedia mengikuti proses yang benar dan menyelamatkan, yang memang sarat dengan tantangan-tantangan. "Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Tuhan penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu" (Mzm 79:8-9) Jakarta, 26 Juni 2008 ===================================================== From: rm_maryo "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (2Raj 22;8-13; 23:1-3; Mat 7:15-20) "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Mat 7:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Cukup banyak orang bangga dan puas diri dengan gelar sarjana, jabatan/kedudukan, upacara liturgis/formal, ahli waris orangtua terhormat dan terkenal, dst.., namun kebanggaan dan kepuasan mereka berhenti pada formalitas atau liturgy, dan apa yang dibanggakan tidak menjadi kenyataan sesuai dengan apa yang dibanggakan. "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka", demikian sabda dan nasihat atau ajaran Yesus. Marilah sabda ini kita renungkan atau refleksikan: (1) Jika merasa diri sebagai orang yang terkenal dan terhormat, entah karena jabatan/kedudukan dalam SARA atau masyarakat, gelar, dst.., marilah kita tidak berhenti bangga dan puas secara teroritis dan formal, melainkan sungguh berbuah dalam apa yang berguna atau berfungsi bagi kesejahteraan umum. Hendaknya juga menjauhkan diri dari aneka macam bentuk kepalsuan, kebohongan atau kesombongan; jangan menyamar sebagai `domba' padahal kenyataannya adalah `serigala ganas'! (2) Kepada kita yang merasa diri sebagai orang biasa, rakyat atau orang kebanyakan marilah kita `waspada terhadap nabi-nabi palsu yang mendatangi kita'. Nabi-nabi palsu tersebut dapat berupa orang, nasihat, iklan-iklan aneka macam produksi atau barang, tawaran atau rayuan. Bagi kita semua marilah kita sadari dan hayati bahwa `dari buah perilaku atau tindakan atau kinerja' , kita dikenal oleh orang lain siapa saya sebenarnya. Kita semua kiranya menyadari dan mengakui sebagai orang beriman, maka hayati nasihat Yakobus ini: "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."(Yak 2:17). Marilah kita wujudkan iman kita ke dalam perbuatan atau keutamaan-keutamaan, misalnya "kebajikan, pengetahuan, pengetahuan penguasaan diri,i ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan semua orang" (lih 2 Pet 1:5-7) Bagi para orangtua saya ingatkan bahwa berhasil atau sukses menjadi orangtua berarti anak-anak dan cucu-cucu kita lebih baik, suci, cerdas, beriman dst..daripada kita. . "Berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu."(2Raj 23:3). Kutipan ini kiranya baik menjadi acuan permenungan dan refleksi. Siapa yang merasa diri sebagai `raja', yang berarti menjadi yang tertinggi, terhormat dalam kehidupan bersama, hendaknya menjadi teladan "untuk hidup dengan mengikuti Tuhan, dan tetap menuruti perintah-perintahNya, peraturan-peraturanNya dan ketetapan- ketetapan Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam aneka macam perjanjian". Ada `raja' rumah tangga/keluarga/komunitas, kantor/tempat kerja maupun masyarakat. Keteladanan atau kesaksian hidup sang `raja' dalam aneka macam penghayatan peraturan atau perjanjian. `Raja' kiranya juga hanya menjadi bagian kecil dalam kebersamaan hidup yang besar, bersama-sama dengan `yang dirajai', maka hendaknya juga hidup dan bertindak dengan `rendah hati' agar yang dirajai dapat mendekat dan bersahabat dan kemudian mendukung usaha atau upaya sang `raja'. Sebaliknya bagi yang merasa diri sebagai `rakyat' atau `anggota' hendaknya secara positif mendukung usaha atau upaya sang `raja'. Dengan kata lain semuanya berkerja dan bertindak untuk menepati perjanjian yang tertulis, tejadilah kerjasama atau gotong-royong yang indah dan fungsional, sebagaimana dihayati oleh `semut-semut yang bekerja sama mengangkat bangkai binatang seperti cacing atau `menghabiskan ` bangkai binatang besar sampai tuntas. Jika tidak percaya: lihat dan cermati semut-semut yang sedang mengusung bangkai cacing mendaki tembok! "Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya " (Mzm 119:33-35) Jakarta, 25 Juni 2008 ====================================================== From: rm_maryo "Janganlah kuatir akan hidupmu" (2Taw 24:17-25; Mat 6:24-34) "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Tuhan mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."(Mat 6:25-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Aloysius Gonzaga hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . "Karena sempurna dalam waktu yang pendek, maka orang benar memenuhi waktu yang panjang"(Keb.4:13). Kutipan dari kitab Kebijaksanaan ini kiranya boleh dikenakan pada Aloysius Gonzaga, dimana pada usia 16 tahun ia merasa terpanggil untuk mempersembah kan hidup seutuhnya kepada Tuhan dengan menjadi anggota Serikat Yesus dan dipanggil Tuhan dalam usia 23 tahun. Dalam usia muda, dimana kebanyakan orang muda sering lebih senang berfoya-foya, Aloysius Gonzaga mengabdikan diri bagi orang yang menderita dan sakit, khususnya korban penyakit pes di kota Roma pada masa itu. Kiranya ia juga menghayati sabda Yesus :" Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?". Sabda Yesus ini kiranya juga bagi kita semua, maka marilah kita renungkan dan hayati dalam hidup sehari-hari kita, dan lebih-lebih bagi generasi muda, karena Aloysius Gonzaga juga menjadi pelindung generasi muda. Maka kami berharap rekan-rekan generasi muda lebih mementingkan atau mengutamakan hidup daripada makanan, dan makanan daripada pakaian atau assesori-assesori lainnya. Untuk itu antara lain ketika sedang bertugas belajar atau selama masa pendidikan hendaknya belajar sebaik dan seoptimal mungkin, tidak hanya ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu kehidupan yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan. Kepada mereka yang telah bekerja hendaknya tidak memfungsikan gaji atau imbal jasanya untuk berfoya-foya, dan jika merasa berlebihan atau kecukupan hendaknya ingat dan perhatikan saudara-saudari kita yang miskin dan menderita. Sebaliknya para orangtua hendaknya tidak memanjakan anak-anaknya. . "Walaupun tentara Aram itu datang dengan sedikit orang, namun TUHAN menyerahkan tentara yang sangat besar kepada mereka, karena orang Yehuda telah meninggalkan TUHAN, Tuhan nenek moyang mereka. Demikianlah orang Aram melakukan penghukuman kepada Yoas"(2Taw 24:24). Kutipan ini hendaknya tidak dimengerti atau dipahami sebagai sejarah atau fakta melainkan suatu peribahasa: bersama dan bersatu dengan Tuhan kita mampu mengalah kan kejahatan serta mengatasi aneka tantangan dan hambatan kehidupan maupun tugas perutusan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan antara lain hidup dan bertindak sesuai dengan aturan atau tatanan hidup yang berlaku dan terkait dengan hidup dan panggilan kita, dan tentu saja termasuk mentaati dan menghayati aneka macam nasihat dan saran baik yang kita terima dan dengarkan. Marilah sedini mungkin kita berusaha menjadi `man or woman for others', peka akan kebutuhan hidup orang lain, lebih-lebih mereka yang menderita dan miskin atau berkekurangan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kiranya juga tidak melupakan kebiasaan berdoa, doa harian maupun berpartipasi dalam ibadat-ibadat bersama, entah di lingkungan atau di tempat ibadat (gereja, kapel, dst..). Sadari dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai hidup kita maupun yang kita kuasai dan miliki saat ini adalah anugerah Tuhan, dan selayaknya difungsikan sesuai dengan kehendak Tuhan. "Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku, jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku"(Mzm 89:31-34) Jakarta, 21 Juni 2008 . . N ote; yg sebelumnya, buka: www.ekaristi.org

