From: Ronny Simatupang 

Kutuk, Berkat, dan Pertobatan (2 Raja-Raja 6: 24 – 7: 20)* 
 
Ketika membaca 2 Raja-raja 6: 24 dan seterusnya, maka bagian yang paling 
menarik perhatian sekaligus membawa kita dalam suasana horror adalah ketika 
raja Israel yang sedang berjalan di atas tembok dihampiri seorang perempuan, 
dan terjadilah dialog ini: 
 
“…."Tolonglah, ya tuanku raja!" Jawabnya (raja Israel): "Jika TUHAN tidak 
menolong engkau, dengan apakah aku dapat menolong engkau? Dengan hasil 
pengirikankah atau hasil pemerasan anggur?" 
 
Kemudian bertanyalah raja kepadanya: "Ada apa?" Jawab perempuan itu: "Perempuan 
ini berkata kepadaku: Berilah anakmu laki-laki, supaya kita makan dia pada hari 
ini, dan besok akan kita makan anakku laki-laki. Jadi kami memasak anakku dan 
memakan dia. Tetapi ketika aku berkata kepadanya pada hari berikutnya: Berilah 
anakmu, supaya kita makan dia, maka perempuan ini menyembunyikan anaknya." 
 
 Tatkala raja mendengar perkataan perempuan itu, dikoyakkannyalah pakaiannya; 
dan sedang ia berjalan di atas tembok, kelihatanlah kepada orang banyak, bahwa 
ia memakai kain kabung pada kulit tubuhnya”. (2 Raj 6: 27-30) 
 
Dialog di atas walau singkat, namun menggambarkan suatu masa yang penuh 
kegilaan, tidak terbayangkan, menakutkan, memuakkan, tanpa belas kasihan, 
meneror akal sehat dan nurani, di mana terjadi kesepakatan antara dua orang ibu 
untuk membunuh anaknya dan mengolahnya menjadi makanan penyambung hidup secara 
bergantian! Sungguh membuat siapapun yang membaca bergidik dan mual ! Mengapa 
bisa demikian? Apa yang sesungguhnya terjadi saat itu? 
 
2 Raja-Raja pasal 6:24 di mulai dengan berita pengepungan Samaria oleh Ben 
Hadad, Raja Aram, yang berakibat kelaparan hebat, sehingga sebuah kepala 
keledai berharga delapan puluh syikal perak (keledai termasuk hewan yang 
diharamkan dalam Imamat 11: 2-7) dan seperempat kab tahi merpati berharga lima 
syikal perak. Jika kita hanya mencomot ayat dan kurang mempelajari Alkitab 
secara organic (tiap bagian dari Alkitab saling berkaitan dan memiliki benang 
merah secara konsisten), maka kita akan cepat menyimpulkan bahwa tragedi yang 
terjadi di Samaria, semata karena pengepungan oleh Ben Hadad, raja Aram dan 
ketidakmampuan raja Israel dalam membebaskan bangsanya, yang kemudian hanya 
bisa menyalahkan Elisa (2 Raj 6:31). Namun benarkan demikian? Tidak! 
Kanibalisme yang terjadi bukan hanya karena bencana kelaparan akibat 
pengepungan raja Aram. Lebih dalam maknanya, kanibalisme adalah salah satu dari 
kutukan akibat tidak taat pada perintah Tuhan saat perjanjian di Sinai 
(Sinaitic Covenant). Nabi Musa memberikan peringatan bahwa kanibalisme akan 
menjadi salah satu kutukan jika Israel berdosa dan tidak mentaati firman TUHAN, 
”... dan kamu akan memakan daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan” 
(Im 26:29). Dalam Ulangan 28: 53, ditegaskan lagi:”....Dan engkau akan memakan 
buah kandunganmu, yakni daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan 
yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Elohimmu, —dalam keadaan susah dan sulit 
yang ditimbulkan musuhmu kepadamu”. 
 
Apa yang sesungguhnya Israel telah lakukan sehingga Tuhan memberikan kutukan 
demikian mengerikan? Israel telah mengabaikan perintah Tuhan, dengan dipimpin 
oleh raja yang walau menjauhkan atau menyingkirkan penyembahan patung-patung 
Baal, namun penyembahan Baal masih berlangsung dan baru benar-benar dihancurkan 
pada jaman Yehu (Pulpit Commentary). Ini tidak mengherankan, karena Izebel, 
ibunya, masih hidup dalam sepanjang pemerintahannya. Selain itu, ia masih 
berpegang pada dosa Yerobeam yaitu penyembahan anak lembu. Walau hubungannya 
dengan Elisa relatif baik, namun saat krisis terjadi, ia menjadikan abdi Tuhan 
tersebut sebagai musuh, objek yang harus dipersalahkan atas keterpurukan 
bangsanya. Alih-alih memimpin bangsa Israel untuk bertobat, raja Israel malah 
mencari Elisa untuk memenggal kepalanya (2 Raj 6: 31 – 32). Di tengah ancaman 
dari raja, Elisa tetap menyampaikan firman Tuhan yang terdengar  mustahil, 
yaitu besok, kira-kira waktu yang sama, sesukat tepung yang terbaik akan 
berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang 
Samaria. Menurut akal sehat, ini tidak mungkin sehingga ajudan raja tidak 
percaya. Namun Elisa tidak bergeser dari nubuatannya dan menubuatkan ajudan 
raja akan melihat dengan mata kepala-nya sendiri namun tidak akan menikmatinya. 
Nubuatan Elisa digenapi ketika Tuhan membuat tentara Aram yang mengepung, 
merasa mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar, sehingga 
berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Sesungguhnya raja Israel telah 
mengupah raja-raja orang Het dan raja-raja orang Misraim melawan kita, supaya 
mereka menyerang kita, sehingga bangkitlah tentara Aram melarikan diri pada 
waktu senja dengan meninggalkan kemah dan kuda dan keledai mereka serta tempat 
perkemahan itu dengan begitu saja untuk menyelamatkan nyawanya (2 Raj 7: 6,7). 
Perkemahan tentara Aram yang kosong tersebut diketahui oleh empat orang kusta 
yang kemudian memberitahukan kepada penduduk kota Samaria, sehingga keluarlah 
penduduk kota untuk menjarah tempat tempat perkemahan orang Aram sehingga 
genaplah firman Tuhan, ”sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan 
dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria”. Tragisnya, 
ajudan raja yang tidak percaya nubuatan Elisa, mengawasi pintu gerbang, dan 
tidak dapat mengendalikan penduduk kota yang berebutan keluar dari gerbang 
kota, sehingga ajudan raja mati terinjak-injak! 
 
Apakah ini berkat Tuhan? Apakah kutuk telah berakhir? Ya dan Tidak. Berkat 
Tuhan, YA, karena dalam masa-masa penghukuman, Tuhan tetap berbelas kasihan. 
Namun dalam hal ini, belas kasihan Tuhan bersifat partikular dan tidak untuk 
menghentikan hukuman. Dari mana kita tahu? Jika kita membaca 2 Raj 8:1, Elisa 
menyampaikan nubuat Tuhan kepada perempuan Sunem: ”Berkemaslah dan pergilah 
bersama-sama dengan keluargamu, dan tinggTuhan di mana saja engkau dapat 
menetap sebagai pendatang, sebab TUHAN telah mendatangkan kelaparan, yang pasti 
menimpa negeri ini tujuh tahun lamanya." Kelaparan tetap terjadi, pasti 
terjadi, menimpa selama tujuh tahun lamanya. Kutuk tetap harus berjalan.  
Alkitab secara konsisten menyatakan kepada kita mengenai berkat dan kutuk, 
sebagaimana perintah dan janji, bagaikan dua sisi dari sekeping uang logam. 
Berkat tidak bisa dipisahkan dari kutuk dan janji tidak bisa dipisahkan dari  
perintah atau ketaatan. Seringkali orang Kristen dan beberapa pengkhotbah 
modern hanya memberitakan mengenai berkat dan janji sambil mencampakkan 
jauh-jauh berita kutuk dan perintah dari mimbar pemberitaan firman. Padahal 
Alkitab membicarakan secara konsisten dan seimbang. Imamat 26: 1 – 46 dan 
Ulangan 28: 1 – 68 secara komprehensif memberitakan berkat dan kutuk. Imamat 
26: 1 dan 2 secara spesifik memerintahkan umat Tuhan untuk jangan membuat 
berhala, memelihara hari Sabat dan menghormati tempat kudus Tuhan. Kemudian 
secara umum, Tuhan menegaskan dalam ayat 3: ”Jikalau kamu hidup menurut 
ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku 
akan...”. Jelas bahwa Tuhan akan mencurahkan berkat-berkatNya jika umatNya 
hidup sesuai ketetapanNya dan mentaati perintahNya. Sebaliknya kutuk akan 
ditimpakan jika:”...kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala 
perintah itu, jikalau kamu menolak ketetapan-Ku dan hatimu muak mendengar 
peraturan-Ku, sehingga kamu tidak melakukan segala perintah-Ku dan kamu 
mengingkari perjanjian-Ku,  maka Akupun akan...” (Imamat 6: 14 - 16a). 
 
Dalam Ulangan 28: 1 dan 2, dikatakan: ”Jika engkau baik-baik mendengarkan suara 
TUHAN, Elohimmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang 
kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Elohimmu, akan mengangkat 
engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu 
dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Elohimmu:” Kemudian 
kembali secara konsisten kutuk diberitakan pada ayat ke-15: ”Tetapi jika engkau 
tidak mendengarkan suara TUHAN, Elohimmu, dan tidak melakukan dengan setia 
segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, 
maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau” bahkan pada 
ayat 46, dikatakan: ”...semuanya itu akan menjadi tanda dan mujizat di antaramu 
dan di antara keturunanmu untuk selamanya. Karena engkau tidak mau menjadi 
hamba kepada TUHAN, Elohimmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun 
kelimpahan akan segala-galanya,” Kutuk dikatakan sebagai tanda dan mujizat oleh 
Tuhan ! 
 
Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Sangat mudah untuk menemukan perintah dan 
janji secara bersamaan sebagai satu kesatuan yang dapat dibedakan namun tidak 
dapat dipisahkan. Matius 6:33 menyatakan: ”Tetapi carilah (Perintah) dahulu 
Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan (Janji) 
kepadamu”. Sudahkah kita mencari Kerajaan Tuhan sekeras bahkan seharusnya 
lebih, ketimbang mencari pemuasan keinginan atau ambisi pribadi yang tidak 
memuliakan Tuhan? Sudahkah kita menemukan Kerajaan Tuhan dalam studi Alkitab 
yang konsisten, disiplin, keras dan komitmen sebagaimana yang dilakukan oleh 
orang-orang Yahudi di Berea, sehingga Paulus melontarkan pujian: ”Orang-orang 
Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di 
Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan 
setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu 
benar demikian” (Kis 17: 11)?. Perkataan Tuhan Yesus yang tercatat di Injil 
Matius 28: 19, 20 yang sangat populer yaitu: ”Karena itu pergilah (perintah), 
jadikanlah (perintah) semua bangsa murid-Ku dan baptislah (perintah) mereka 
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah (perintah) mereka melakukan 
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai 
(janji) kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Tidak perlu analisis 
ataupun perdebatan teologi untuk meyimpulkan secara gamblang, bahwa Tuhan Yesus 
menyertai kita, jika kita memberitakan Injil ! Sudahkan kita memberitakan 
Injil? Pantaskah kita meminta penyertaan Tuhan Yesus, jika kita melalaikan 
perintahNya? 
 
Lalu bagaimana dengan nubuatan Elisa mengenai ”besok, kira-kira waktu yang 
sama, sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai 
akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria”? Apakah berarti Elisa tidak 
memiliki kuasa ”kata-kata iman”? Apakah prinsip “name it and claim it” tidak 
berlaku? Bagaimana dengan Markus 11: 20, bukankah kita dapat seperti Tuhan 
Yesus yang mengucapkan “kata-kata iman” kemudian menjadi kenyataan atau realita 
keesokan harinya? Sangat penting untuk tidak mencomot dan menafsirkan ayat ini 
di luar konteks. Ayat ini bukan bicara mengenai “kata-kata iman” yang dapat 
menggerakkan alam roh untuk mewujudkan kehendak kita. Yesus mengutuk pohon ara 
yang tidak berbuah sebelum Ia memasuki bait Tuhan dan melakukan “pembersihan” 
dari para pedagang dan money changer yang berjual beli di halaman bait Tuhan. 
Kutukan Yesus digenapi, karena Ia adalah Tuhan yang sejati dan berdaulat. Bukan 
manusia yang memaksakan kehendaknya. Kutukan Yesus langsung terjadi, di mana 
pohon ara tersebut kering mulai dari akar hingga terlihat secara kasat mata 
keesokan harinya. Pesan yang hendak disampaikan adalah pohon ara merupakan 
analogi dari orang yang hipokrit, yang nampak impresif, namun tidak 
menghasilkan buah apapun (atau tidak melakukan kehendak Tuhan), sehingga tidak 
ada pilihan lain selain Tuhan Yesus mengutuknya untuk menjadi kering dari 
akar-akarnya, mencerminkan kerusakan yang total (complete destructive) dari 
contoh orang yang tidak berbuah. 
 
Yang dibutuhkan bangsa Israel, sebagaimana bangsa Indonesia untuk bangkit dari 
keterpurukan adalah pertobatan yang komprehensif. Seorang hamba Tuhan yang 
sudah cukup senior menyatakan dalam suatu khotbah bahwa pertobatan meliputi 
tiga aspek, yaitu aspek rasio, mengetahui bahwa itu adalah dosa, aspek emosi, 
membenci dosa tersebut dan aspek perbuatan, yaitu secara aktif tidak melakukan 
dosa tersebut dan secara aktif mengarahkan diri pada kehendak dan kebenaran 
Tuhan yang kudus untuk hidup taat padaNya. Dari mana kita mengetahui kebenaran 
dan kehendak Tuhan? Dari Alkitab, untuk dipelajari secara ketat dan mendalam 
untuk kemudian melakukannya. Bukan dengan kata-kata iman atau doa untuk memaksa 
Tuhan mengabulkan keinginan, tetapi dengan ketaatan untuk sangkal diri, pikul 
salib dan ikut Yesus. Serta berdoa dengan sikap hati yang benar sebagaimana 
kutipan berikut: 
 
We are to pray with an awful apprehension of the majesty of God, and deep sense 
of our own unworthiness, necessities, and sins; with penitent, thankful, and 
enlarged hearts; with understanding, faith, sincerity, fervency, love, and 
perseverance, waiting upon him, with humble submission to his will (kutipan 
dari “The Larger Catechism – The Westminster Confession of Faith”). Soli Deo 
Gloria. 
===============================================
From: Adi Kurniawan 

Berdoa ke udara

Grace and peace,

Tanya jawab berikut ini diambil dan diterjemahkan dari kolom Now, That's a Good 
Question!

Saya tidak tahu apakah Anda akan mengerti apa yang saya katakan, tapi sangat 
sering ketika saya berdoa, saya merasa seperti saya sedang berbicara kepada 
diri saya sendiri. Maksud saya, doa seharusnya merupakan pencurahan hati kita 
kepada Tuhan, tapi saya merasa saya hanya mengatakan kalimat-kalimat secara 
mekanis ke udara. Saya rasa kadang-kadang saya merasakan kehadiran Tuhan. Tapi 
saya sungguh tidak yakin apakah ini yang dibicarakan orang-orang Kristen yang 
lain. Apakah ada yang salah dengan saya? Atau apakah saya berharap terlalu 
banyak? 

... (selengkapnya, baca  Berdoa ke udara)

Grace and peace,
Adi
http://reposeinthee.blogspot.com
====================================================
From: [EMAIL PROTECTED] 

SUAMI YANG BARU
 

"Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka 
yang mengetahui hukum-- bahwa Hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu 
hidup? Sebab seorang isteri terikat oleh Hukum kepada suaminya selama suaminya 
itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang 
mengikatnya kepada suaminya itu."  (Roma 7:1-2)

Kerajaan Surga adalah kudus sama seperti Kristus sendiri adalah kudus, dan 
kerajaan Surga bersifat "rohani". Dengan demikian semua orang percaya yang 
sejati juga "dipisah" dari dunia ini karena mereka telah menjadi bagian dari 
Kerajaan Surga. 
Dalam kitab Yohanes 18:36 kita membaca demikian:
"Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia 
ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada 
orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."
Dan dalam kitab Yohanes 17, ayat 6 dan 14 Tuhan Yesus berkata demikian:
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku 
dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku 
dan mereka telah menuruti firman-Mu ......... Aku telah memberikan firman-Mu 
kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama 
seperti Aku bukan dari dunia."
Dari ayat-ayat ini kita melihat bahwa sesungguhnya dunia ini tidak kudus dan 
berada dibawah kutuk Hukum Tuhan. Pada bagian-bagian pertama dari Alkitab kita 
mempelajari bahwa umat manusia dan dunia ini telah dikutuk sebagai akibat dari 
dosa Adam dan Hawa di taman Eden. Kitab Kejadian 3:17-19 memberitahukan kepada 
kita demikian:
"Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau men dengarkan perkataan 
isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan 
makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau [yaitu terkutuklah 
tanah untuk kebaikanmu]; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu 
dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya 
bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh 
engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena 
dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi 
debu."
Dan kitab 1 Yohanes 2:16 menjelaskan inti dari keadaan dunia ini demikian:
"Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata 
serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."
Jadi, secara individu, setiap dari umat manusia yang belum diselamatkan masih 
berada di bahwa kutuk Tuhan seperti yang dinyatakan dalam kitab Galatia 3:10 
demikian:
"Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan Hukum Taurat, berada di bawah 
kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala 
sesuatu yang tertulis dalam kitab Hukum Taurat."
Ini adalah paralel dengan kita baca dalam kitab Yakobus 2:10 demikian:
"Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian 
dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya."
Apakah sebenarnya yang dimaksud disini? Sama seperti lembaga pernikahan manusia 
yang tidak dapat dipisahkan sampai salah satu dari pasangannya meninggal dunia, 
setiap dari umat manusia secara rohani juga telah menikah dengan Hukum Tuhan 
dari sejak mereka dilahirkan. 
Dan karena sifat alami kita yang berdosa maka kita tidak mau mendengarkan suami 
rohani kita, yaitu Firman Tuhan. Dalam kata lain kita telah berlaku tidak setia 
terhadap Hukum Tuhan, dan itu adalah definisi dari dosa. Kitab 1 Yohanes 3:4 
menyatakan demikian:
"Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Tuhan, sebab dosa ialah 
pelanggaran hukum Tuhan."
Itulah sebabnya mengapa setiap orang yang belum diselamatkan berada di bawah 
kutuk Hukum Alla h, secara rohani mereka masih mati di dalam 
pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa mereka sehingga mereka tidak dapat 
menuruti perintah Alkitab baik di dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.
Sekarang anda mungkin akan bertanya, "Apakah ada jalan keluar dari masalah yang 
gawat dan kekal ini?" Syukur kepada Tuhan, melalui kasih karunia-Nya, Alkitab 
berkata bahwa ada jalan keluar yang ilahi seperti yang kita baca dalam Galatia 
3:13 demikian:
"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk 
karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu 
salib!"
Dan kitab 2 Korintus 5:21 menambahkan sebagai berikut:  
"Dia [yaitu Tuhan Putera] yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya [yaitu 
dibuat oleh Tuhan Bapa] menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia [yaitu Tuhan 
Putera] kita dibenarkan oleh Tuhan."
Dengan kata lain secara rohani kita memerlukan Seorang suami yang baru, kita 
membaca mengenai hal ini dalam kitab Roma 7:4 demikian:
"Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh 
tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik Orang lain, yaitu milik Dia, yang 
telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Tuhan."
Jadi dengan sangat gawat kita semua membutuhkan Seorang Juruselamat20-- dan 
hanya ada satu orang yang dapat melakukan hal tersebut seperti yang kita baca 
dalam banyak tempat di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, misalnya kitab Hosea 
13:4 berkata demikian:
"Tetapi Aku adalah TUHAN [yaitu Yehovah], Tuhanmu sejak di tanah Mesir; engkau 
tidak mengenal Allah kecuali Aku, dan tidak ada Juruselamat selain dari Aku."
Dan Yesaya 45:21b-22 menyatakan demikian:
"Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! 
Tuhan yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Berpalinglah 
kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab 
Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain."
Tuhan di dalam Perjanjian Lama (Yehovah) adalah sama dengan Tuhan Putera, Tuhan 
Yesus Kristus. Di Perjanjian Baru dalam kitab Matius 1:21 kita juga menemukan 
pernyataan ini:
"Ia [yaitu Maria] akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia 
Yesus, karena Dialah yang akan MENYELAMATKAN umat-Nya dari dosa mereka."
Apakah anda dapat melihat betapa ajaibnya Firman Tuhan kita? Dan kitab Kolose 
1:21-22 menguatkan pernyataan ini demikian: 
"Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Tuhan dan yang memusuhi-Nya dalam hati 
dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang 
diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus=2 0oleh kematian-Nya, untuk 
menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya ... "
"Let the word of Christ dwell in you richly in all wisdom; teaching and 
admonishing one another in psalms and hymns and spiritual songs, singing with 
grace in your hearts to the Lord"  (Colossians 3:16)
 
May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit.

Kirim email ke