From: dede wijaya 

Berita Way Of Life: Darwin-Paus-Israel

BULETIN GITS 20 SEPTEMBER 2008 

GEREJA INGGRIS MEMINTA MAAF KEPADA DARWIN
Pada tanggal 14 September, Gereja Inggris secara resmi meminta maaf kepada 
Charles Darwin karena telah menolak teori evolusinya. Pernyataan dari gereja 
Inggris berbunyi: "Charles Darwin, 200 tahun setelah kelahiranmu, Gereja 
Inggris berhutang permintaan maaf karena salah mengerti terhadap anda dan, 
karena reaksi pertama kami salah, telah membuat orang lain tetap salah mengerti 
terhadap anda" ("Church Makes `Ludicrous' Apology," The Daily Mail, 13 Sept. 
2008). Pernyataan ini ditulis oleh Malcolm Brown, seorang yang menjabat di 
Konsil Uskup Agung, yaitu badan kepemimpinan Gereja Inggris yang kini diketuai 
oleh Uskup Agung Canterbury (Rowan Williams). Pernyataan ini berargumen bahwa 
teori evolusi bukanlah tidak cocok dengan pengajaran Kristen, dan itu adalah 
argumen yang sangat konyol. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa dunia 
diciptakan oleh Elohim dalam enam hari, bahwa tumbuhan dan binatang dibuat 
untuk berkembang biak menurut jenis mereka masing-masing, bahwa manusia 
diciptakan menurut gambar dan rupa Elohim, bahwa manusia berdosa melawan 
Elohim, dan bahwa dunia lalu terlempar ke dalam kacaunya kejatuhan dosa. Semua 
ini cocok sekali dengan kondisi yang kita lihat di dunia hari ini, dan juga 
cocok dengan catatan arkheologi dan geologi. Jika tidak ada penciptaan ilahi, 
jika manusia adalah produk evolusi, maka kitab Kejadian adalah mitos, kejatuhan 
dalam dosa adalah fabel, tidak ada tujuan dalam kehidupan, tidak ada kehidupan 
setelah kematian, dan tidak ada keselamatan. Jika cerita tentang Adam hanyalah 
legenda, maka Rasul-Rasul Yesus Kristus telah tertipu dan Injil yang mereka 
beritakan adalah tipuan, karena mereka menyebut Adam tujuh kali dalam tulisan 
emreka, dan selalu menggambarkan Adam sebagai tokoh yang historis.

PAUS MENGHORMATI MARIA YANG SESAT DI LOURDES
Bulan ini, Paus Benediktus XVI mengunjungi Lourdes untuk merayakan peringatan 
150 tahun `penampakan' Maria kepada seorang perempuan 14 tahun bernama 
Bernadette. Ia mengingatkan orang ramai bahwa Maria menampakkan dirinya sebagai 
Immaculate Conception (doktrin Katolik bahwa Maria lahir tanpa dosa), dan 
mengklaim lahir tanpa dosa. Hal ini membuktikan bahwa "Maria" yang menampakkan 
diri di Lourdes adalah roh yang menipu, karena Maria yang sebenarnya dalam 
Alkitab mengakui bahwa dia adalah seorang berdosa yang memerlukan Juruselamat 
(Luk. 1:47). Paus mengatakan bahwa orang-orang berbondong-bondong ke Lourdes 
karena mereka "dapat mempercayakan kepada Maria pikiran mereka yang paling 
intim" ("Pope Celebrates Mass, Tells Lourdes Pilgrims Mary Leads to Christ," 
Catholic News Service, 14 Sept. 2008). Ini adalah pernyataan yang menghujat, 
karena hanya ada satu yang mengetahui pikiran manusia yang paling dalam, yaitu 
Elohim yang mahakuasa (1 Raj. 8:39). Sementara berada di Lourdes, Paus 
melakukan penghujatan lain dengan cara "berlutut dan berdoa dalam pujaan sunyi 
di hadapan Sakramen Kudus." Hal ini didasarkan pada doktrin yang keji bahwa 
wafer misa berubah menjadi Yesus Kristus dan dapat disembah sebagai Elohim. 
Konsili Vatikan Kedua menyatakan, "Orang beriman maka harusnya berusaha untuk 
menyembah Kristus Tuhan kita dalam Sakramen Kudus" ("The Constitution on the 
Sacred Liturgy," Instruction on the Worship of the Eucharistic Mystery, Pasal 
3, I B, hal. 132).

KEMUNAFIKAN MUSIK KRISTEN KONTEMPORER
Contemporary Christian Music (Musik Kristen Kontemporer) seolah memiliki gaya 
yang "saleh," tetapi gaya ini sungguh tipis! Pertimbangkan grup The Jonas 
Brothers, sebuah band yang telah menjadi sangat populer dua tahun belakangan, 
terutama karena mereka masuk Disney Channel. Mereka adalah orang-orang Kristen 
yang dididik homeschool, ayah mereka seorang gembala jemaat, dan mereka 
menampilkan diri sebagai orang-orang yang baik dan berorientasi keluarga, 
bahkan mereka memakai "cincin kemurnian" yang menyimbolkan janji mereka untuk 
tetap murni secara moral hingga hari pernikahan. Tetapi apa yang mereka 
lakukan, tempat-tempat yang mereka kunjungi, dan apa yang mereka nyanyikan, dan 
cara mereka menyanyikannya melanggar semua pernyataan mereka. Dengan penampilan 
mereka di MTV utnuk acara Video Music Awards, dan saya asumsikan mereka 
bersenang-senang dan beria-ria dengan orang-orang yang sedang menghancurkan 
moralitas masyarakat modern di sana, bukannya menghardik kekotoran dan 
pemberontakan mereka sebagaimana Efesus 5:11, mereka mengirimkan pesan yang 
kuat kepada orang-orang muda Kristen dan pesan itu bukanlah pesan akan 
kekudusan dan ketaatan. Lebih jauh lagi, musik mereka membangkitkan kebebasan 
(seks). Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Nick Jonas, menyinggung tentang 
konser rock & roll mereka, mengatakan, "cewek-cewek yang berteriak-teriak di 
bawah sungguh luar biasa" (Celebrity News, 22 Feb. 2008). Cewek-cewek yang 
berteriak itu bukan berteriak untuk Tuhan. Mereka berteriak karena pengaruh 
musik rock pada mereka secara fisik dan juga sensualitas menontoni orang-orang 
muda sedang show. Ketika saya mengecek web site The Jonas Brother tanggal 9 
September 2008, situs itu penuh dengan pesan-pesan sensual dari para fans 
wanita. Berikut beberapa contoh: "Saya cinta kalian; kalian adalah prinsip 
saya; kalianlah lelaki idamanku; suara-suara yang saya dengar tiap hari, adalah 
yang ada dalam hatiku."
"Joe, kamu begitu hotttttttt.. ....joe kamu begitu cakep & seksi. Saya cinta 
kamu sekaliiiiii. " Bahkan lirik-lirik lagu mereka mendukung hubungan antara 
pria dan wanita yang memimpin kepada immoralitas. Perhatikan lirik dari lagu 
"Live to Party": ""We're gonna live to party/ gotta bust your move/ Everyone's 
in the groove/ Tell the DJ to play my song/ Are you ready to rock & roll/ ... 
We were out on the floor and we danced the night away/ ... I drove her home and 
she whispered in my ear/ Party doesn't have to end, we can dance here..." Tidak 
ada yang murni dan baik dalam lagu-lagu seperti ini. Hai orang tua, jika 
anak-anakmu mendengarkan lagu pop Disney dan Musik Kristen Kontemporer, maka 
mereka berada dalam bahaya kesesatan rohani, moral, dan doktrinal yang besar. 

MAYORITAS ORANG ISRAEL PERCAYA BAHWA NEGARA ISRAEL TIDAK AKAN EKSIS LAGI DALAM 
20-30 TAHUN
Menurut poling, mayoritas orang Israel percaya bahwa negara Israel akan hilang 
dalam dua atau tiga dekade mendatang ("Will Israel Soon Disappear," OneNewsNow, 
3 Sept. 2008). Berbicara secara kemanusiaan, mereka tampaknya benar, tetapi 
mereka sedang melihat masa depan dengan mata ketidakpercayaan. Israel kini 
kembali di tanahnya sesuai dengan nubuatan Alkitab namun dia masih mati secara 
rohani. Dalam Yehezkiel 37, nabi diperlihatkan lembah yang penuh tulang dan 
disuruh untuk berkhotbah bagi mereka. Pertama tulang-tulang itu menyatu lalu 
ditutupi oleh daging, "tetapi mereka belum bernafas" (Yeh. 37:8). Nabi 
berkhotbah lagi dan "nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka 
hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar" 
(Yeh. 37:10). Sisa dari pasal itu menjelaskan bahwa ini mengacu keapda 
pemulihan Israel ke tanahnya dan pendirian kembali kerajaan Daud di akhir 
zaman. Nubuat ini mengajar kita bahwa pemulihan Israel terjadi dalam dua 
bagian. Pertama, bangsa yang telah cerai berai hingga ujung bumi dan 
kelihatannya mati dan selamanya terpisah, bersatu kembali, tetapi dalam kondisi 
rohani yang mati. Inilah yang kita lihat hari ini. Berikutnya, Elohim 
memberikan nafas hidup ke dalam mereka dan mereka hidup. Ini akan terjadi saat 
Kesusahan Besar ketika Elohim akan menobatkan sisa Israel dan memulihkan mereka 
ke posisi berkat. Mereka akan bertobat dari ketidaktaatan mereka kepada Firman 
Elohim dan menerima Mesias yang telah mereka tolak (Zak. 12-14), dan Yesus akan 
mendirikan kerajaan yang dijanjikan kepada Daud (Yes. 9:6-7). Sebelum ini semua 
terjadi, Israel akan ditipu oleh Antikristus dan akan mempercayai program 
damainya (1 Tes. 5:3; 2 Tes. 2:3-12). Ia akan datang mengendarai kuda putih 
seolah seorang yang damai, tetapi "damai"nya akan berakibat kesusahan terbesar 
yang dunia pernah alami (Wah. 6). Israel tidak akan pernah hancur. Saat Elohim 
selesai dengan penghukumanNya atas Israel, dia akan kembali mulia sebagai pusat 
kerajaan Elohim di bumi. 

PEMBAGI ALKITAB DIBAKAR HINGGA MATI DI INDIA
Di tengah kekerasan yang memuncak akhir-akhir ini terhadap orang-orang Kristen 
di negara bagian Orissa, India, seorang pengkhotbah dibakar hingga mati. Kumuda 
Bardhan, usia lima puluh tahun, ditarget oleh radikal-radikal Hindu karena dia 
mengunjungi desa demi desa, memberitakan Injil dan membagi-bagikan Alkitab. 
Rombongan yang berjumlah lebih dari 1000 membakar gerejanya dan rumah-rumah 
orang Kristen. Ketika dia meminta mereka untuk berhenti, mereka memukulinya 
hingga pingsan dan melemparkan dia ke dalam api ("Bible Distributor Killed in 
India," Mission Network News, 12 Sept. 2008). Istri, anak, dan menantu Bardhan 
masuk rumah sakit. Setidaknya satu lagu orang yang mengaku Kristen juga mati 
dibakar dalam kekerasan baru-baru ini, dan tahun 1999 misionari Baptis, Graham 
Staines dan kedua putranya, dibakar hingga mati oleh gerombolan Hindu di negara 
bagian yang sama di India.

www.dedewijaya.co.cc
dedewijaya.blogspot.com
====================================================
From: Vitalis 

Sungguh Memilukan kematian Oma tua di Latuharhari Menteng Jakarta

Rekan-rekan milis

Berikut ini saya teruskan sebuah berita yang dimuat di kompas.com hari ini 
(lebih lengkap dapat diakses sendiri di website kompas: www.kompas.com) 
mengenai Kematian seorang Oma tua di Jalan Latuharhari Nomor 6A Menteng, 
Jakarta. 

Sungguh sangat mengharukan nasib yang dialami kedua nenek atau Oma tua ini. 

Semoga berita ini menjadi bahan permenungan bagi kita untuk semakin peduli 
terhadap sesama dan mengajak kita semua untuk mengasihi dan mencintai kedua 
orang tua kita.

Selamat membaca. 
Salam,
Vitalis
======

BAU BUSUK MASIH BAYANGI RUMAH OMA LOUISE

RITA AYUNINGTYAS 
Keadaan di dalam rumah Oma Louise Komala (81) di Jalan Latuharhari 6A Jakarta, 
Minggu (21/9). 

Artikel Terkait:
Oma Louisje, 4 Bulan Hidup dalam KegelapanBERITA FOTO: Rumah Baru Sang OmaPagi 
Ini Nenek Louisje PulangOma Louisje yang Kesepian...Balada Dua Nenek di Rumah 
Tua

Minggu, 21 September 2008 | 17:38 WIB

JAKARTA, MINGGU
- Lebih dari sebulan, Erfiene Komala (84), telah meninggal dunia.
Namun, bau busuk yang menusuk hidung masih menebar di rumah tua di Jalan 
Latuharhari Nomor 6A Menteng, milik Louisje Komala (81) adik dari Erfiene.Bau 
menyengat ini mulai tercium ketika rombongan wartawan memasuki gerbang rumah 
yang bersebelahan dengan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Menteng. Rombongan 
kemudian menutup hidung ketika bau
yang semakin menyengat datang dari kamar kedua sebelah ruang tamu. Di kamar 
itulah kedua nenek malang tersebut ditemukan pada 8 Agustus 2008 silam. Louisje 
yang kini ditampung oleh keluarga Gereja Santo Ignatius Menteng ditemukan lemas 
karena dehidrasi dan kurang gizi. Sementara, kakaknya tercinta, Erfiene 
ditemukan telah membusuk di bawah tempat tidur dalam kamar berukuran 3x2 meter 
itu.Pada saat tewas, tubuh Erfiene telah dipenuhi belatung. Polisi 
memperkirakan nenek tersebut telah berpulang setidaknya 10 hari sebelum 
ditemukan. Di bawah tempat tidur itu, masih terdapat sisa-sisa cairan tubuh 
Erfiene dan sejumlah dus makanan. Sejumlah pakaian kotor yang tergantung pada 
seutas tali rafia dan tempat tidur yang telah jebol menambah miris siapapun 
yang melihatnya."Ya Elohim!" celetuk seorang wartawan ketika melihat 
pemandangan tersebut. Rumah yang terbilang mungil untuk ukuran rumah di Menteng 
itu sekilas tampak seperti rumah kosong. Kondisinya sangat kotor dan 
memprihatinkan. Tepat di balik pintu pagar, ada tumpukan daun kering, kertas 
koran, dan masker bekas berwarna hijau.
Halaman rumahnya, tak terawat. Daun jambu dan jeruk nipis kering berserakan di 
seluruh pekarangan dan teras. Sarang laba-laba menghiasi seluruh dinding dan 
plafonnya.Setelah pintu dalam dibuka, rumah tua itu terlihat sangat berantakan. 
Beberapa kantung plastik putih
berisi koran, terjejer hampir di seluruh bagian rumah. Ada juga plastik putih 
berisi pakaian bekas, seprei, korden yang terselimuti debu berwarna coklat 
muda.Foto OrangtuaPerabot-perabot di tengah seperti meja dan bufet tertumpuk 
kasur-kasur bekas dengan sobekan di sana-sini, sehingga kapuknya mencuat 
keluar. Akibatnya, perabot tersebut tak dapat menunjukkan keunikan funitur 
zaman Belanda.Hanya ada satu meja yang masih dapat dilihat wujudnya. Meja itu 
merupakan tempat di mana foto kedua orang tua Louisje dan Erfiene. Sepasang 
pigura antik terbuat dari kuningan adalah satu-satunya hiasan di ruang tengah 
tersebut yang masih terlihat jelas. Di sekelilingnya, terdapat lilin-lilin yang 
tinggal separuh karena meleleh dan bungkusan plastik berwarna putih.Kembali ke 
RumahMinggu (21/9) pagi ini, Louisje telah dijemput oleh keluarga Gereja Santo 
Ignatius Menteng dari Rumah Sakit Carolus Jakarta. Sementara, oma itu ditampung 
di rumah bendahara Paroki Santo Ignatius di Jalan Pandeglang Nomor 41 Jakarta. 
Jika telah sembuh benar, oma yang masih kuat daya ingatnya itu ingin kembali ke 
rumah di Jalan Latuharhari."Pengen(pulang). Tapi aman tidak? Nanti rumahnya 
jadi bersih lagi (dirampok.red)," candanya sambil tersenyum. Rencananya, 
setelah mendapat izin dari Louisje, pihak gereja akan membersihkan rumah 
miliknya tersebut
===================================================
From: rm_maryo 

Mg Biasa XXV: Yes 55:6-9; Flp 1:20c-24.27a; Mat 20:1-16a
"Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?"

"Hari ini membeli susu, sambil membeli sekaleng roti. Iri hati dan hawa nafsu, 
sering bercokol di dalam hati" (Paulus Lion BA: Berpantun dan Merenung, Masa 
Biasa /stensilan). Iri hati dan hawa nafsu memang `lahir', tumbuh dan 
berkembang di dalam hati. Di dalam menghadapi atau mengalami berbagai macam 
pekerjaan, tugas atau masalah orang dapat `menyimpan' iri hati dan hawa nafsu 
tersebut di dalam hati untuk sementara, namun pada suatu saat dapat meledak 
serta menimbulkan keonaran yang memprihatinkan. Sebagai contoh: Paulus dan 
Maria adalah suami isteri yang memiliki tiga anak bernama Ani, Anna dan Anto 
(nama-nama samaran saja ya!). Hidup berkeluarga mereka nampak baik-baik, damai 
sejahtera, sampai anak-anak menjadi dewasa dan berkeluarga. Namun ketika 
orangtua mereka, Paulus dan Maria, telah dipanggil Tuhan terjadilah keonaran di 
antara mereka bertiga (Ani, Anna dan Anto), yaitu perihal pembagian warisan. 
Paulus dan Maria boleh dikatakan kaya karena memiliki beberapa perusahaan dan 
memang sebelum meninggal dunia telah membuat surat wasiat berisi pembagian 
warisan berupa perusahaan kepada ketiga anaknya. Nilai setiap perusahaan 
kiranya tidak sama, dan perbedaan nilai perusahaan yang menjadi warisan 
masing-masing dari mereka bertiga itulah yang menimbulkan iri hati. Pengalaman 
iri hati macam itu dalam berbagai bentuk kiranya terjadi di sana-sini didalam 
kehidupan bersama.

"Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?
Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?Demikianlah orang yang terakhir 
akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir" (Mat 
20:15-16).

Dalam system imbal jasa atau gaji di dalam hidup bernegara maupun dunia kerja 
pada umumnya berlaku kebijakan atau rumus bahwa mereka yang memiliki jabatan 
atau kedudukan tinggi memperoleh imbal jasa lebih banyak daripada 
pegawai/pejabat di bawahnya, dan kiranya ada perbedaan bagaikan `langit dan 
bumi jauhnya' jika dibandingkan dengan para tenaga kasar seperti pembantu atau 
satpam/petugas keamanan, dst..
Cara berpikir/ paradigma dunia memang berbeda atau bertolak belakang dengan 
cara berpikir/paradigma Tuhan Yesus, sebagaimana disabdakan bahwa `orang yang 
terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang 
terakhir'. Yang utama dan terdahulu dalam hidup beriman atau beragama adalah 
mereka yang suci, yang lebih dekat hidup mesra atau bersatu dengan Tuhan di 
dalam hidup sehari-hari.

Secara historis atau menurut usia di dalam keluarga `yang terdahulu' adalah 
orangtua dan `yang terakhir' adalah anak-anak, di dalam sekolah `yang 
terdahulu' adalah pengurus/ pengelola dan guru-guru dan `yang terakhir' adalah 
para peserta didiik, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun 
beragama 'yang terdahulu' adalah para pemimpin dan `yang terakhir' adalah 
rakyat atau umat. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk 
tidak membeda-bedakan pelayanan dan apa yang harus dapat dinikmati secara 
pribadi di dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun. Perbedaan yang ada 
bersifat fungsional, maka ketika para fungsionaris (pemimpin beserta para 
pembantunya) diberi kesempatan untuk memanfaatkan dan menikmati aneka
macam sarana-prasarana yang lebih, hendaknya sungguh difungsikan untuk 
pelayanan bagi rakyat atau umat, bukan untuk kepentingan pribadi. "Vox populi, 
vox Dei", suara rakyat/umat adalah suara Tuhan, demikian kata sebuah pepatah, 
yang selayaknya kita imani dan hayati. Dengan kata lain hendaknya para 
fungsionaris sungguh mendengarkan dan melayani apa yang menjadi kebutuhan 
rakyat atau umat, mengutamakan kepentingan rakyat atau umat di dalam 
memfungsikan jabatan, kedudukan maupun aneka macam sarana-prasarana yang 
dipercayakan kepada mereka. 

Para fungsionaris dipanggil untuk `bermurah hati' terhadap rakyat atau umat, 
artinya `hatinya dijual murah' bagi rakyat atau umat, hatinya dipersembahkan 
seutuhnya bagi rakyat atau umat, sungguh memperhatikan kepentingan dan 
kebutuhan rakyat atau umat dalam sepak terjang dan pelayanannya. Dengan kata 
lain para fungsionaris memiliki sikap pemurah, yaitu "sikap dan perilaku yang 
murah hati, pengasih dan penyayang. Ini diwujudkan dalam perilaku suka menolong 
dan rela memberikan bantuan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri, keluarga dan 
masyarakat atau bangsa" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi 
Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 21).

"Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus 
hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang 
harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan 
diam bersama-sama dengan Kristus -- itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih 
perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu"(Fil 1:21-24) 

"Mati adalah keuntungan" dan "lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena 
kamu", kata-kata inilah yang selayaknya menjadi permenungan, pedoman dan 
pegangan bagi para fungsionaris (pemimpin bersama pembantunya, pengelola 
bersama pelaksana, orangtua, dst..) di dalam pelayanan dan kinerjanya. "Mati" 
berarti rela menyerahkan tubuh seutuhnya kepada Tuhan melalui sesama dan 
saudara-saudari kita. Dengan kata lain para fungsionaris harus memiliki dan 
menghayati keutamaan `bekerja keras', yaitu "sikap dan perilaku yang suka 
berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih 
dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Ini diwujudkan dengan
perilaku yang selalu menggebu-gebu dalam melakukan sesuatu dan tidak kenal 
lelah sampai akhir pekerjaan. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan 
diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: 
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10).

"Bekerja keras" kiranya menjadi tuntutan atau kewajiban kita semua, entah 
apapun fungsi, pekerjaan atau tugas perutusan kita. Bekerja keras ini rasanya 
senada dengan apa yang diserukan oleh nabi Yesaya ini :"Carilah TUHAN selama Ia 
berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik 
meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia 
kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Elohim kita, 
sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.Sebab rancangan-Ku bukanlah 
rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN" (Yes 
55:6-8)
Kita adalah `pekerja-pekerja' dan Tuhan-lah yang memiliki rancangan atas apa 
yang harus kita kerjakan. Kita tidak mengerjakan rancangan atau cita-cita kita 
sendiri/pribadi, melainkan rancangan Tuhan. Secara konkret dan terbatas 
rancangan Tuhan ini antara lain menjadi nyata dalam aneka macam `rancangan 
program kerja' (keluarga, organisasi, kantor/ perusahaan, pemerintah, dst..). 
Maka hendaknya masing-masing dari kita, sesuai dengan fungsi, jabatan atau 
tugas kita, sungguh-sungguh melaksanakan atau mengerjakan rancangan program 
kerja bersama bukan pribadi. Rancangan Tuhan tidak lain adalah keselamatan dan 
kesejahteraan seluruh dunia dan umat manusia, keselamatan dan kesejahteraan 
baik raga maupun jiwa. Marilah kita bergotong-royong dan bekerja keras demi 
kebahagiaan ataa kesejahteraan bersama (`bonum commune').

"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu
untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan
kebesaran-Nya tidak terduga.TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang
sabar dan besar kasih setia-Nya.TUHAN itu baik kepada semua orang, dan
penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya " (Mzm 145:2-3.8-9)

Jakarta, 21 September 2008

Kirim email ke