From: rm_maryo "Ia menempatkannya di atas kaki dian" (Ams 3:27-34; Luk 8:16-18)
"Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." (Luk 8:16-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . "Sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga", demikaian kata sebuah pepatah. Pepatah ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, khususnya bagi siapapun yang sering `menyembunyikan' atau `merahasiakan' cita-cita, harapan, gagasan, perilaku, dst.. (1) Pertama-tama saya ingatkan mereka yang suka korupsi dengan berbagai cara, entah berupa pungutan, laporan palsu, uang pelican/sogokan, dst.. Saat ini KPK sedang giat melaksanakan tugas perutusannya, dan kita tahu apa yang dulu disembunyikan akhirnya terbongkar juga. Maka kami berharap gebrakan KPK ini menjadi peringatan dan kekuatan untuk meninggalkan dan memberantas aneka bentuk kejahatan dan korupsi di berbagai tingkatan. Kepada mereka yang masih `menyembunyikan' atau `merahasiakan' aneka kejahatan hendaknya segera mengaku diri apa adanya, agar anda tidak merasa terkejar-kejar serta menghabiskan/ memboroskan waktu, tenaga dan pikiran untuk berbantah atau `melindungi diri' yang tiada arti. (2) Kepada siapapun yang memiliki kemampuan, kecerdasan, pengetahuan atau bakat dan anugerah-anugerah Elohim berupa keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, kami berharap untuk mewujudkannya dalam hidup sehari-hari demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. "Sithik ora katampik, akeh soyo pikoleh" (=Sedikit tidak ditolak, banyak lebih baik), demikian salah satu motto Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono Pr, alm., Apapun dan sebesar atau sekecil apapun yang anda miliki dan kuasai saat ini hendaknya difungsikan menjadi tindakan-tindakan atau perilaku konkret bagi kebahagiaan atau kesejahteraan bersama. Keutamaan, nilai, keterampilan, kepandaian, pengetahuan, dst.. semakin diberikan kepada yang lain tidak akan semakin berkurang, melainkan semakin bertambah, kuat dan mendalam. Keutamaan dan nilai kehidupan pertama-tama dan terutama untuk dihayati atau dilakukan, bukan diomongkan atau diceramahkan. . "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu. Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau" (Ams 3:27-29). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita bersama, sebagai orang-orang beriman. "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya", inilah yang kiranya pertama-tama harus kita hayati dan sebarluaskan. Apa yang disebut 'baik' senantiasa berlaku umum, universal, dimana saja dan kapan saja, maka untuk berbuat baik juga tiada batasnya: kapan saja dan dimana saja kita dapat berbuat baik bagi sesama dan saudara-saudari kita. Hemat saya `tidak menahan kebaikan' atau kebiasaan berbuat baik ini pertama-tama harus hidup dan dihayati di dalam keluarga, dengan teladan para orangtua/bapak-ibu dan dibiasakan kepada anak-anaknya. Jika ada kebiasaan berbuat baik di dalam keluarga, kami percaya dengan mudah kita dapat berbuat baik kepada sesama dan saudara-saudari kita di masyarakat, tempat kerja maupun pergaulan dimanapun. Apa yang diperoleh atau dinikmati di dalam keluarga: relasi antara orangtua-anak, kakak-adik, anggota rumah tangga-pembantu, dst.. menjadi modal dan kekuatan untuk berrelasi dengan sesamanya di masyarakat, tempat kerja/kantor atau pergaulan-pergaulan. Kami percaya jika kita membiasakan diri untuk berbuat baik di manapun dan kapanpun, maka kita tidak akan merencanakan kejahatan kepada sesama dan saudara-saudari kita. Aneka macam kejahatan dan kebejatan moral di antara pelajar, mahasiswa atau generasi muda yang terjadi saat ini menunjukkan minimnya kebiasaan berbuat baik di dalam keluarga. "Sesungguhnya pengertian budi pekerti paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 4). "TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya"(Mzm 15). ================================================== From: rm_maryo "IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Elohim dan melakukannya" (Ams 21: 1-6.10-13; Luk 8:19-21) "Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Elohim dan melakukannya." (Luk 8:19-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Berbudi pekerti luhur rasanya merupakan tuntutan dan tantangan yang mendesak dan up to date pada saat ini mengingat masih maraknya kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan. Apa itu budi pekerti? "Sesungguhnya pengertian budi pekerti yang paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku. Sikap dan perilaku budi pekerti mengandung lima jangkauan sebagai berikut: (1) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan Tuhan. (2) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan diri sendiri. (3) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan keluarga. (4) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan masyarakat dan bangsa. (5) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan alam sekitar" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 4-5) Sikap dan perilaku tersebut atnara lain: `bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang,rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka, ulet" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka- Jakarta 1997).. Pengertian ini dan uraian sikap dan perilaku ini hemat saya sangat dekat atau mungkin dapat dikatakan sebagai `terjemahan' dari kutipan Warta Gembira di atas. Maka baiklah, sebagai orang-orang beriman atau murid-murid Yesus Kristus, pengertian atau pemahaman perihal budi pekerti di atas kita hayati dan sebar luaskan. Sekali lagi penghayatan pertama-tama dan terutama hendaknya sungguh-sungguh terjadi di dalam keluarga, selanjutnya perlu dibiasakan atau dididikkan di sekolah-sekolah kepada para peserta didik, antara lain juga dengan keteladanan para guru atau pendidik. . "Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban.Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa. Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan. Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan yang lenyap dari orang yang mencari maut" (Ams 21:3-6). Hendaknya kita hanya memikirkan kebenaran dan keadilan, sehingga kita senantiasa menginginkan terwujudnya kebenaran dan keadilan di dalam berbagai bidang kehidupan bersama. Tentu saja pertama-tama dan terutama dari pihak saya/kita sendiri senantiasa harus menginginkan melakukan apa yang benar dan adil. Memang untuk melakukan apa yang benar dan adil masa kini sarat dengan tantangan dan perjuangan, sehingga banyak orang malas atau enggan berbuat apa yang adil dan benar. Keinginan bersayapkan imajinasi dan kepercayaan, maka jika kita menginginkan sesuatu hendaknya mengembangkan imajinasi dan kepercayaan, artinya dengan bekerja keras kami percaya bahwa apa yang kita inginkan pasti akan terwujud, apalagi kalau yang kita inginkan adalah apa yang benar dan adil. Mengembangkan imajinasi berarti kita membuka diri atas serta kreatif mengusahakan berbagai kemungkinan dan kesempata, sedangkan mengembangkan kepercayaan berarti kita tidak hanya omong-omong atau berkata-kata atau bermimpi-mimpi saja, melaikan sedikit demi sedikit mulai menjalankan atau melaksanakan aneka tuntutan agar apa yang kita inginkan segera menjadi kenyataan. Percayalah bahwa "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Fil 1:6). Maka ketika kita menginginkan sesuatu, lebih-lebih apa yang benar dan adil, hendaknya kita tetap bergairah, bersemangat, bergembira meskipun harus menderita karena kebenaran dan keadilan. "Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku" (Mzm 119:27.30). ==================================================== From: rm_maryo "Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus" (Pkh 1:2-11; Luk 9:7-9) "Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus" (Luk 9:7-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Pemimpin atau pejabat tinggi yang gila akan kekuasaan, pangkat, kedudukan, kehormatan duniawi serta harta benda pada umumnya cemas ketika muncul tokoh-tokoh alternatif yang dinilai mengancam dirinya. Rasanya hal ini pernah terjadi di Indonesia, pada masa Orde Baru, dimana ketika ada tokoh-tokoh demokratis dan vocal maka dengan atau melalui berbagai macam cara tokoh-tokoh tersebut segera dihabisi, disingkirkan; pada masa Reformasi pun juga masih terjadi antara lain dengan kasus Munir, yang sampai kini masih menjadi bahan pengadilan yang sungguh menyita waktu dan perhatian. Dalam warta gembira hari ini diceriterakan bahwa Herodes merasa cemas ketika mendengar bahwa muncul tokoh baru yang lebih besar daripada Elia atau Yohanes Pembaptis, yaitu Yesus, "lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus". Entah apa yang menjadi motivasi Herodes untuk bertemu dengan Yesus, apakah ia juga akan menghabisi atau menyingkirkan-nya?.Apakah keingingan tahunya merupakan bagian usaha untuk mencari strategi bagaimana menyingkirkan Yesus? Jika mengingat dan memperhatikan bahwa ia berani membunuh Yohanes Pembaptis demi gengsi dan nama dirinya sebagai raja atau pemimpin, kiranya ia juga bermaksud sama terhadap Yesus. Bercermin dari kisah ini saya mengajak dan mengingatkan para pemimpin atau pejabat tinggi: ketika muncul tokoh-tokoh baru sebagai pembaharu, hendaknya didengarkan dan diterima dengan hati terbuka, jiwa besar dan rela berkorban. Pembaharuan-pembaharuan cara hidup dan cara bertindak bersama kiranya dibutuhkan, mengingat dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan yang sedang terjadi. Marilah kita beri kesempatan kepada generasi muda, tokoh-tokoh baru, karena jika tidak memberi kesempatan kepada mereka maka generasi pendahulu hemat saya `salah'. Munculnya tokoh-tokoh baru hemat saya merupakan keberhasilan generasi pendahulu, yang dengan kerja keras berusaha mendidik dan membina generasi penerus/muda. Maka jika para pemimpin atau pejabat tinggi masa kini juga ada keinginan tahu perihal munculnya tokoh-tokoh muda sebagai pembaharu, hendaknya keinginan tahu tersebut sungguh tulus , yang berarti pada suatu saat siap mengundurkan diri serta mempercayakan kepemimpinan kepada generasi penerus. Marilah kita hayati pepatah Jawa ini: "Kebo nyusu gudel" (=Kerbau menyusu pada anaknya), artinya orangtua/generasi tua berani belajar dari anak-anak/ generasi muda/penerus. . "Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada."(Pkh 1:2-4). Kutipan ini rasanya bagus untuk kita renungkan atau refleksikan. Yang dimaksudkan dengan `segala sesuatu' disini kiranya adalah `harta benda/uang, kedudukan/pangkat atau jabatan dan kehormatan duniawi' yang menjadi pujaan dari mereka yang bersikap mental materialistis atau duniawi. Ingat, sadari dan hayati bahwa semuanya itu tidak abadi dan sementara sifatnya, termasuk hidup kita sendiri yang hanya sementara, sebagaimana dikatakan oleh pepatah Jawa "urip iku koyo mampir ngombe" (= Hidup itu bagaikan singgah sejenak untuk minum). Jika hidup saja hanya sementara, apalagi `harta benda/ uang, pangkat/kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi'. Kesia-siaan belaka jika orang mendewa-dewakannya. Hidup, harta benda/uang, pangkat/kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi adalah sarana dan bersifat fungsional, maka hendaknya dihayati dan difungsikan sedemikian rupa sehingga kita semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan maupun sesama kita. Marilah kita hayati dua motto hidup beriman atau menggereja, yaitu "solidaritas dan keberpihakan pada atau dengan yang miskin dan berkekurangan'. Jika dalam hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini masih ada yang miskin dan berkekurangan berarti para pemimpin atau pejabat tinggi `berusaha dengan jerih payah di bawah matahari' demi kepentingan sendiri, berarti mengejar kesia-siaan. "Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang" , demikian peringatan pengkotbah. Peringatan ini hendaknya diperhatikan dan dihayati oleh orangtua, generasi pendahulu, antara lain siap sedia `untuk pergi' sambil mempersiapkan anak-anak, generasi penerus untuk mengambil alih sesuai dengan tuntutan zaman. "Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu" (Mzm 9):3-6)

