From: Romo maryo “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi” (Ef 3:14-21; Luk 12:49-53)
"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”(Luk 12:49-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Capestrano, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Gerakan Reformasi di Indonesia telah berlangsung lebih dari satu daaa warsa/sepuluh tahun. Jika kita cermati ada dua arus evaluasi: (1) tidak ada perubahan sama sekali, bahkan semakin bobrok antara lain nampak dalam jumlah orang miskin dan kenaikan harga bahan pokok yang semakin mencekik rakyat, dst.. dan (2) telah terjadi perubahan/perbaikan kecil-kecil di sana-sini, dan memang dari pengalaman pencermatan gerakan reformasi di seluruh dunia pada umumnya baru berhasil setelah berlangsung gerakan selama 25 th, atau paling cepat asal semua terlibat baru akan berhasil setelah 15 th. “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!”, demikian kutipan sabda Yesus hari ini. Api yang membakar atau membumi-hanguskan bangunan memang meluluh-lantakkan atau menghancurkan semuanya kecuali emas murni. Karena begitu besar jumlah penduduk di Indonesia dan kiranya tidak semuanya murni atau suci atau mungkin hanya sedikit yang murni atau suci, maka gerakan reformasi bangsa terkesan tidak berjalan atau berjalan sangat lamban. Maka hemat saya gerakan reformasi akan segera berhasil jika semua warganegara berpartisisasi, dengan kata lain baiklah pertama-tama dan terutama masing-masing dari kita mereformasi diri. Reformasi diri antara lain tidak melakukan atau menghayati aneka bentuk KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) dalam hidup maupun cara bertindak, melainkan hidup dan bertindak sesuai dengan konstitusi, undang-undang atau aneka aturan dan tatanan hidup serta janji yang berlaku dan terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing. Marilah kita ‘back to basic’ sebagai “manusia (yang) diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Elohim Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan” (St.Ignatius Loyola. LR no 23) · “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Elohim” (Ef 3:18-19), demikian kesaksian Paulus, Rassul Agung, kepada umat di Efesus. St.Yohanes dari Capestrano adalah pelindung bagi para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata. Sesuai dengan namanya kiranya para anggota dan pemimpin Angkatan Bersenjata mengandalkan diri pada aneka macam jenis senjata yang mematikan. Maka pada hari pesta atau untuk mengenangkan St Yohanes dari Capestrano hari ini, saya mengajak dan mengingatkan, entah para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata, para pemimpin atau anggota Angkatan Bersenjata, saudara atau saudari yang dekat dengan Angkatan Bersenjata, dll, dalam mengatasi atau menyelesaikan aneka masalah dan ketegangan tidak hanya mengandalkan diri pada senjata-senjata yang mematikan, melainkan pertama-tama hendaknya dengan senjata rohani lebih dahulu, yaitu doa dan cintakasih. Ingatlah dan hayatilah bahwa setiap orang/manusia diciptakan dan dibesarkan dalam dan oleh cintakasih dan doa/ penyerahan diri kepada Tuhan, maka dekati dan sapalah ‘musuh’ yang juga manusia dengan dan dalam cintakasih dan doa, sebelum dengan senjata yang mematikan. Hendaknya senjata yang mematikan baru digunakan lebih untuk mempertahankan diri bukan menyerang. Ingat dan hayatilah betapa lebar, panjang, tinggi dan dalam kasih Elohim kepada kita manusia; teruskan dan sebarluaskan kasih Elohim tersebut kepada sesama dan saudara-saudari kita. “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm 33:18-19) ================================================= From: Romo maryo “Mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? (Ef 4:16; Luk 12:54-59) “Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas." (Luk 12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · “Tanda-tanda zaman” itulah judul rubrik/ulasann pada halaman pertama majalah bulanan Basis, ketika majalah tersebut diasuh/dipimpin oleh P.Dick Hartoko SJ alm. Dengan cermat dan tajam Pater Dick Hartoko mengangkat dalam bentuk tulisan singkat perihal makna aneka macam peristiwa yang sedang terjadi, dan berusaha menemukan apa yang sebenarnya terjadi di balik aneka macam peristiwa tersebut. Berbagai macam bentuk peristiwa, entah yang menggembirakan atau menyedihkan, merupakan ‘ledakan’ dari suatu impian, cita-cita atau harapan dari beberapa orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bersama. Banjir bandang antara lain disebabkan oleh keserakahan sementara orang yang berkuasa dan berduit yang membabat hutan maupun membetoni tanah-tanah sehingga tiada resapan air hujan lagi, pemanasan global serta berbagai dampak bencana alam karena perubahan cuaca antara lain karena pengaruh kemajuan dan perkembangan tehnologi, buah karya para pakar, dst.. Mungkin baik kita cari contoh yang sederhana yaitu apa yang terjadi di dalam keluarga atau tempat kerja dan masyarakat basis(RT,RW): ketika ada ketegangan atau permusuhan antar anggota keluarga, pekerja atau warga masyarakat, rasanya ada kesalah-pahaman atau belum adanya titik temu dan pengintegrasian aneka macam ide, gagasan, cita-cita, harapan dari masing-masing anggota, pekerja atau warga. Maka marilah kita ‘berusaha berdamai selama di tengah jalan’, selama mengarungi hidup dan kerja bersama, antara lain dengan saling membuka diri atas ide, gagasan, cita-cita dan harapan, dan kemudian bersama-sama mencari ‘benang merah’ atau apa yang sama. Apa yang sama kita hayati dengan bergotong-royong secara mendalam, dan dengan demikian apa yang berbeda akan fungsional untuk membangun hidup bersama yang damai dan sejahtera. Secara pribadi hendaknya dibiasakan ‘mawas diri’ atau ‘pemeriksaan batin’ setiap hari. · “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:” (Ef 4:2-3), demikian nasihat Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua orang beriman. Rendah hati, lemah lembut dan sabar merupakan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan dasar dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan bersama masa kini. Rendah hati antara lain senantiasa bersikap terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan serta siap sedia untuk dituntun, dididik, dibina, dikembangkan, dst.. Lemah lembut dalam bahasa Latin ‘pietas’ ‘Pietas’ antara lain memiliki arti cinta, hormat, rasa segan, setia, saleh, adil, jujur, rasa kasihan, kerahiman, kelembutan hati, maka bersikap lemah lembut hemat saya juga menghayati keutamaan-keutamaan/arti dari ‘pietas’ tersebut. Sedangkan ‘sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kita juga dipanggil untuk saling membantu atau bergotong-royong. Dalam kenyataan hidup atau kerja, masing-masing dari kita sering telah memiliki tugas atau kewajiban tertentu, yang berbeda satu sama lain. Maka ketika saya sudah selesai menghayati atau melakukan tugas dan kewajiban kita dan sementara itu rekan-rekan kita belum selesai, hendaknya dengan rendah hati membantu mereka yang belum menyelesaikan tugas dan kewajiban tersebut. Solidaritas dan kerjasama merupakan keutamaan yang harus kita hayati dan sebarluaskan di tengah-tengah maraknya kesadaran jati diri akan suku, agama, ras, golongan yang semakin marak pada saat ini. Marilah kita bermoto: “Kesatuan dalam keragaman, keragaman dalam kesatuan” atau “Bhineka Tunggal Ika”. “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan” (Mzm 24:1-4b) ======================================================== From: Romo maryo “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya ketika tuannya datang” (Ef 3:2-12; Luk 12:39-48) “Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakan nya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."(Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Cukup banyak pegawai di kantor-kantor pemerintahan di Indonesia, dari tingkat pusat sampai daerah, sering hanya ngobrol, ngrumpi, baca majalah, tiduran dst. selama jam/waktu kerja. Mereka sungguh bekerja kalau diawasi atau ditunggui oleh atasannya yang tertib dan baik. Hal yang senada adalah ‘mental proyek’ yang terjadi di kalangan para pejabat dan pegawai, artinya mereka lebih senang mengerjakan ‘proyek-proyek khusus’ daripada tugas rutin karena imbal jasa atau honorarium dalam aneka proyek lebih tinggi/banyak, dampaknya adalah pelayanan rutin bagi masyarakat atau rakyat terbengkelai. Rasanya sikap mental yang demikian itu telah disiapkan atau ‘dididik’ ketika mereka masih belajar dengan budaya jalan pintas, artinya belajar kalau akan ulangan umum atau ujian. Maka merenungakan warta gembira hari ini saya mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah kita setia pada tugas pokok dan rutin yang menjadi tanggungjawab dan perutusan atau kewajiban kita masing-masing. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat. Ini diwujudkan dalam perilaku tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat dari godaan-godaan lain yang lebih menguntungkan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Hendaknya kesetiaan ini pertama-tama dibiasakan pada anak-anak atau para peserta didik, entah di dalam keluarga maupun di sekolah dan tentu saja butuh keteladanan dari para orangtua/guru. Sesuatu yang mendesak juga adalah menertibkan para pegawai atau pekerja/buruh agar mereka sungguh setia pada tugas pekerjaan dan kewajiban, sungguh bekerja dan melayani pada waktu/jam kerja. · “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Elohim dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya “(Ef 3:12), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Efesus. Secara kebetulan ayat ini juga saya pilih menjadi motto tahbisan imamat saya kurang lebih 25 tahun yang lalu :”Di dalam Dia kita beroleh keberanian”. Asal kita senantiasa dalam dan bersama dengan Tuhan: jujur, setia, disiplin, dst. kiranya tiada ketakutan sedikitpun menghadapi aneka tantangan dan hambatan di dalam hidup sehari-hari, dalam panggilan dan tugas pekerjaan, termasuk ‘memberitahukan pelbagai hikmat Elohim’ kepada para penguasa dan pejabat. “Di dalam Dia” hemat saya juga berarti senantiasa hidup dijiwai oleh Roh, sehingga mampu melihat dan mengimani karya Roh dalam aneka tantangan dan hambatan, artinya mampu melihat kekuatan dan peluang atau kesempatan untuk mewujudkan atau menghayati dan mensinerjikan aneka kekuatan yang ada. Dalam aneka tantangan dan hambatan hemat saya ‘kekuatan dan peluang’ lebih banyak daripada ‘kelemahan dan ancaman’, dengan kata lain jika kita berkehendak baik maka akan ada kekuatan dan peluang besar untuk terus maju melangkah ke ‘jalan masuk kepada Elohim’, alias memperbaiki dan memperbaharui atau mempertobatkan. “Deus semper maior est” (= Tuhan senantiasa lebih besar dari segalanya), maka bersama dan bersatu dengan Tuhan pasti akan mampu mengatasi segala sesuatu yang menantang dan menghambat. Orang baik lebih banyak daripada orang jahat, maka kami berharap kepada siapapun yang merasa baik untuk bersatu padu melawan aneka kejahatan. “Sungguh, Elohim itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN YHWH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi! Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Elohim Israel, agung di tengah-tengahmu! (Yes 12:2-3.5-6) .

