From: Romo maryo 

"Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja” (Tit 1:1-9; Luk 
17:1-6) 

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
"Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang 
mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan 
pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah 
satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat 
dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia 
berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali 
kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata 
rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau 
sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata 
kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia 
akan taat kepadamu." (Luk 17:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St. Leo Agung, Paus dan 
Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai 
berikut:

·   Iman dan kasih pengampunan rasanya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat 
dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Beriman antara lain berarti mengakui dan 
menghayati kasih pengampunan Elohim yang melimpah ruah, dan dengan demikian 
rasanya akan tergerak untuk meneruskan kasih pengampunan Elohim tersebut kepada 
sesamanya. St Leo Agung yang kita kenangkan hari ini adalah seorang Paus yang 
dengan tegas dan berani serta lemah lembut menjaga kemurnian iman dan kesatuan 
umat . Leo yang berarti ‘singa’, sebagaimana seekor singa dengan cermat dan 
sabar melihat mangsanya serta kemudian dengan cepat menangkap mangsanya, 
demikianlah kiranya Paus Leo Agung dalam menggembalakan dan melayani umatnya. 
Ia dengan tegas dan lemah lembut memberantas aneka macam bidaah, yang 
menyesatkan kehidupan iman umat, ‘celakalah orang yang mengadakan penyesatan 
ini’. Maka marilah kita dengan rendah hati berusaha untuk memurnikan iman kita, 
berani menegor empat mata saudara-saudari kita yang bersalah serta tidak 
menyebarluaskan kesalahan mereka ke orang lain atau menjadikan bahan 
ngrumpi/ngrasani. Dengan tidak menyebar luaskan kesalahan orang lain hemat saya 
iman kita juga semakin bertambah, diteguhkan dan diperkuat. Dengan kata lain 
kita dapat berpartisipasi dalam pennghayatan
‘kepunjanggaan gerejawi’ , dimana dengan dan dalam iman yang sekecil biji 
sesawi mampu merubah yang jahat menjadi baik, yang malas menjadi rajin, yang 
tidak murni menjadi murni, dst.. Marilah saling memperteguh iman dan kasih 
pengampunan dalam dan melalui hidup sehari-hari, dalam kesibukan pelayanan dan 
pekerjaan kita. Secara khusus perkenankan saya mengingatkan dan mengajak 
siapapun yang menjadi pimimpin atau atasan, yang cukup berpengaruh di dalam 
kehidupan bersama, untuk tidak menjadi batu sandungan dalam berbuat dosa atau 
jahat, melainkan.hendaknya menjadi teladan dalam penghayatan iman dan kasih 
pengampunan.

·   “Sebagai pengatur rumah Elohim seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, 
tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 
melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, 
dapat menguasai
diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang
sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup
meyakinkan penentang-penentangnya “(Tit 1:7-9), demikian saran atau nasihat
Paulus kepada Titus, dan kepada siapapun yang berpartisipasi dalam 
penggembalaan umat: para pastor paroki, dewan parok/stasi/wilayah/lingkungan 
serta para pewarta iman atau katekis/guru agama. Yang rasanya layak 
direnungkan, dihayati dan disebar-luaskan pada masa kini kiranya ‘bukan 
pemarah’, mengingat dan memperhatikan masih begitu mudah orang marah 
(nggrundel, ngrasani, ngrumpi, melecehkan yang lain, menyakiti yang lain 
dst..). 
Maklum banyak orang marah tidak pada tempatnya atau tidak benar, antara lain 
memarahi mereka yang bersalah atau tidak mampu. Ingat Yesus memang pernah
marah, yaitu ketika ada orang yang melecehkan/menurunkan harkat tempat ibadat
menjadi pasar, tempat berdagang. Orang bersalah dan tidak mampu pada umumnya
tidak melecehkan yang lain melainkan kerena tidak tahu. Kepada orang yang tidak
tahu hendaknya diberi tahu atau diajar dengan menghayati motto bapak pendidikan
kita Ki Hajar Dewantoro: “ing arso asung tulodho, ing madyo mbangun karso, tut 
wuei handayani” (kesaksian/keteladanan, pemberdayaan, motivasi). Menghayati dan 
melaksanakan motto ini hemat saya orang akan rendah hati, dan tidak mudah 
marah. Siapapun yang berpartisipasi dalam penggembalaan umat kami harapkan 
menghayati motto bapak pendidikan kita diatas ini. 

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di 
dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di 
atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah 
yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?""Orang yang bersih tangannya dan 
murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan” (Mzm 24:1-4b) 
=================================================
From: Romo maryo 

Pesta Pemberkatan Gereja
Basilik Lateran: Yeh 47:1-2,8-9,12; 1Kor 3: 9b-11,16-17; Yoh 2:13-22

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat 
berjualan."

Mengenangkan atau merayakan ‘Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran’ hari ini 
pertama-tama perkanankan saya angkat dua pengalaman yang cukup mengesan bagi 
saya ketika saya bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang, sbb:

1). Paroki “X” adalah sebuah paroki di kota kecil, yang mencakup atau meliputi 
daerah
pedesaan yang miskin. Dengan atau melalui relasi tertentu paroki tersebut 
memperoleh sumbangan cukup besar guna pelayanan pastoral sosial di parokinya. 
Ada kabar burung atau suara-suara bahwa terjadi penyelewengan dana atau uang 
yang dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam pengelolaan pelayanan sosial 
ini. Salah satu bentuk pelayanan sosial adalah berupa ‘pinjaman tanpa bunga’ 
bagi para tukang becak untuk membeli becak (maklum kebanyakan pengemudi becak 
tidak memiliki becak sendiri, melainkan milik boss tertentu). Pengurus pinjaman 
pembelian becak ini ada 10 (orang) dan setiap bulan mengadakan pertemuan untuk 
evaluasi, sedangkan jumlah peminjam adalah 20 orang. Para pemimjam berkewajiban 
mengangsur pinjaman Rp.25.000,-/bulan, sementara itu tiap anggota pengurus 
pinjaman becak memperoleh uang transport rapat Rp.50.000-/hadir. Jika dicermati 
kiranya jelas sekali bahwa para pengurus pinjaman becak ini ‘makan becak’ alias 
mencari keuntungan dari keringat atau jerih payah orang miskin, padahal mereka 
sendiri berkecukupan. Maka dengan rendah hati dan tegas saya bubarkan 
panitia/pengurus pinjam becak ini. Setelah saya lihat lebih cermat ternyata 
tidak hanya para pengurus pinjaman becak yang komersial dalam pelayanan 
pastoral, tetapi juga pengurus dewan paroki, antara lain ‘layat’ ke salah 
seorang keluarga  anggota dewan paroki ke kota lain menggunakan uang paroki 
untuk perjalanan/sewa kendaraan maupun makan bersama di perjalanan. 

2). Paroki “Y” memiliki proyek untuk membangun sebuah kapel di stasi, maka 
dibentuklah panitia pembangunan kapel. Diusahakan kolekte khusus dan sumbangan 
sukarela dari umat, yang memang miskin atau tidak kaya, maka jumlah 
dana/sumbangan uang dari umat kiranya kecil sekali jika dibandingkan dengan 
kebutuhan beaya pembangunan kapel. Untuk itu panitia berusaha mencari dan 
mengusahakan dana/sumbangan ke luar daerah. Dalam rangka mencari dan 
mengusahakan dana tersebut pada umumnya mereka pergi bersama-sama dengan 
menyewa mobil dan diperjalanan mereka juga makan bersama di warung atau 
restoran. Yang menarik adalah bahwa beaya sewa mobil dan makan bersama ini 
diambil dari sumbangan umatnya/kolekte yang terkumpul, dan dari laporan yang 
ada dapat dilihat bahwa jumlah sumbangan umat sendiri tidak mencukupi untuk 
sewa mobil dan makan bersama mereka, dan untuk itu mereka minta bantuan paroki.
Nah sekali lagi di sini saya melihat bahwa panitia pembangunan kapel tersebut
kurang berkorban atau bahkan mencari keuntungan (maklum ketika ke luar kota 
mereka pada umumnya sambil belanja untuk keperluan pribadi/keluarga): uang 
sumbangan umat habis untuk ‘jalan-jalan’ panitia pembangunan kapel. Maka dengan 
rendah hati dan tegas minta supaya panitia tersebut dibubarkan dan diganti oleh 
mereka yang rela berkorban. 

Dari dua kasus di atas saya melihat masih ada atau cukup banyak orang “membuat
Rumah Bapa menjadi tempat berjualan” alias mencari keuntungan  atau bersikap 
mental komersial dalam kegiataan socsal maupun keagamaan    

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat
berjualan."(Yoh 2:16)

“Rumah Bapa-Ku”  untuk masa kini antara lain adalah ‘gereja/kapel, tempat 
ziarah’ atau tempat suci, yaitu “tempa-tempat yang dikhususkan untuk ibadat 
ilahi atau pemakaman kaum beriman yang dipersembahkan atau diberkati sesuai 
dengan buku-buku liturgi yang ditetapkan” (KHK kan 1208). “Dalam tempat suci 
hanya dapat diizinkan hal-hal yang berguna bagi pelaksanaan atau peningkatan 
ibadat, kesalehan dan keagamaan, serta dilarang segala sesuatu yang tidak cocok 
dengan  kesucian tempat itu. Namun Ordinaris
(Uskup) dapat sesekali memberi izin untuk penggunaan lain, asalkan tidak 
bertentangan dengan kesucian tempat itu” (KHK kan 1210). 

Masih adakah ‘orang-orang yang berjualan di tempat suci’ atau berbisnis di 
tempat suci, sebagaimana dikisahkan dalam Kabar Gembira hari ini, di daerah 
atau tempat kita? Mungkin anda masih ingat ‘peristiwa penampakan Bunda Maria, 
yang didalangi oleh Bapak Thomas dan rekan-rekannya’ di tempat-tempat ziarah 
Bunda Maria di wilayah Keuskupan Agung Semarang, antara lain di Sendang Sono 
dan Sendang Sriningsih. Banyak orang dari mana-mana berbondong-bondong datang 
ke tempat-tempat tersebut ketika mendengar info bahwa akan terjadi penampakan 
Bunda Maria, yang didalangi oleh Bapak Thomas tersebut. Kami (keuskupan) curiga 
atas peristiwa ini, namun melarang
juga tidak bijak, dan sementara itu kami berpegang pada sabda ini :”Biarkanlah 
mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan 
lenyap, tetapi kalau berasal dari Elohim, kamu tidak akan dapat melenyapkan 
orang-orang ini”(Kis 5:38-39). Kami curiga karena dari info yang kami terima 
tidak ada sedikitpun dari jumlah uang kolekta yang jumlahnya jutaan itu 
ditinggalkan untuk kepetingan pemeliharaan tempat ziarah yang bersangkutan, 
melainkan semuanya mereka ambil dan bawa pergi. Maka sementara itu kami juga 
berusaha mencari tahu dari berbagai pihak, dan ada kecurigaan jangan-jangan ini 
merupakan kegiatan ‘para normal’. Dan memang benar, ketika kami mohon bantuan 
seorang para normal yang baik, yaitu P.Loggman MSC, ternyata penampakan Bunda 
Maria tersebut merupakan upaya dari sekelompok para normal yang jahat. Dari 
bantuan para normal baik ini, pada suatu saat berhasiillah usaha kami
menggagalkan adanya penampakan Bunda Maria tersebut, dan sejak itu kegiatan
Bapak Thomas dan teman-teman ‘mati’. Yang memprihatinkan adalah kami dengar
bahwa Bapak Thomas sendiri mati karena bunuh diri, mungkin karena frustrasi.  

 "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat
berjualan.", demikian sabda Yesus yang menjadi kenyataan atau terwujud terkait 
dengan ‘penampakan Bunda Maria’ tersebut. Maka dengan ini kami berharap kepada 
siapapun: jangan coba-coba mencari keuntungan diri sendiri atau memperkaya diri 
, dengan mengkomersialkan tempat suci atau ibadat . Sekiranya ada sumbangan, 
entah dalam bentuk barang atau uang,  terkait dengan tempat suci atau ibadat 
hendaknya dimanfaatkan sesuai dengan ajaran Gereja. Barang atau uang tersebut 
dengan demikian menjadi harta benda gerejawi, yang memiliki tujuan-tujuan 
khas,terutama ialah untuk “mengatur ibadat ilahi, memberi sustensi(kehidupan) 
yang layak kepada klerus serta
pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal
kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan” (KHK kan 1254 $ 2). 

“Kamu adalah ladang Elohim, bangunan Elohim. Sesuai dengan kasih karunia 
Elohim, yang
dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah
meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap
orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena
tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang
telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”(1Kor 3:9b-11)

Yang menjadi ‘rumah/bangunan Elohim’ terutama dan pertama-tama adalah manusia, 
bukan gedung atau tempat, sebagaimana dikatakan oleh Paulus bahwa “Kamu
adalah ladang Elohim, bangunan Elohim”.  Sebagai orang yang beriman pada Yesus 
kita
juga disebut sebagai kaum beriman kristiani “ialah mereka yang karena melalui 
baptis diinkorporasikan pada Kristus, dibentuk menjadi umat Elohim, dan karena 
itu dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian dan 
rajawi Kristus, dan sesuai dengan kedudukan masing-masing dipanggil untuk 
menjalankan perutusan yang dipercayakan Elohim kepada Gereja untuk dilaksanakan 
di dunia” (KHK kan 204$ 1)     

Sebagai manusia, ciptaaan Elohim, masing-masing dari kita adalah ‘kasih karunia 
Elohim’, ‘ladang dan bangunan Elohim’, dimana Elohim hidup dan berkarya di 
dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Sebagai ‘tempat Elohim hidup dan 
berkarya’ kita dipanggil untuk ‘mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian 
dan rajawi Kristus’ sesuai dengan
kedudukan, jabatan, tugas pekerjaan dan fungsi kita masing-masing di dunia ini:

1)     Tugas imami. Fungsi seorang imam antara lain adalah sebagai penyalur 
rahmat atau berkat Elohim kepada manusia dan doa/dambaan/kerinduan manusia 
kepada Elohim. Kita semua orang beriman dipanggil untuk menjadi penyalur berkat 
Elohim kepada sesama manusa dan dambaan/kerinduan sesama manusia kepada Elohim. 
Sebagai ‘penyalur’ tentu saja kita senantiasa dirajai atau dikuasai oleh atau 
hidup bersama dengan Elohim dalam situasi apapun, dimanapun dan kapanpun alias 
dalam keadaan suci, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Elohim. Ambil bagian 
dalam tugas imami Yesus Kristus berarti berbudaya seperti Yesus, memiliki cara 
melihat, cara merasakan, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak sesuai 
dengan cara Yesus. Kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada diharapkan 
seperti Yesus yang “datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya 
dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10). Ambil bagian dalam tugas imami Yesus 
Kristus juga bagaikan  ‘sungai’, “sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, 
segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan 
menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ 
menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup”(Yeh 
47:9)  

2)      Tugas kenabian. Seorang nabi adalah pembawa suara atau kehendak Elohim 
atau
pewarta kebenaran-kebenaran di tengah-tengah hidup bersama yang sering diwarnai
oleh aneka macam bentuk kebohongan maupun korupsi dan manipulasi. Maka pada
umumnya cara hidup dan cara bertindak seorang nabi ada kemungkinan harus
melawan arus serta menghadapi aneka macam tantangan dan hambatan, serta ada
kemungkinan ia menjadi korban pembunuhan. Namun seorang nabi juga memiliki
keyakinan iman ‘mati satu tumbuh seribu’.
Tugas kenabian sebagai orang beriman pada masa kini sungguh mendesak dan up
to date untuk dihayati dan disebarluaskan. Keutamaan-keutamaan yang layak untuk
dihayati dan disebarluaskan pada masa kini antara lain : “kasih, sukacita, 
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, 
penguasaan diri” (Gal 5:22-23)   

3)      Tugas rajawi. Seorang raja pada umumnya dihormati, dijunjung tinggi, 
dipuji
dan dikasihi oleh mereka yang dirajai atau dikuasai. Raja di dunia ini pada 
umumnya menguasai dan menindas, sedangkan tugas rajawi yang harus kita hayati 
dan sebarluaskan adalah tugas melayani sesama manusia dimana saja dan kapan
saja. Pelayan yang baik senantiasa membahagiakan mereka yang dilayani tanpa
pandang bulu. Pelayan yang baik pada umumnya kerja keras, cekatan, tanggap,
gembira/ceria serta siap sedia menanggapi kebutuhan orang lain. Marilah kita
hidup saling melayani dan membahagiakan.

Akhirnya dengan rendah hati kami, atas nama para imam, mohon dukungan dan doa 
anda sekalian agar kami dalam kelemahan dan kerapuhan serta rahmat Tuhan boleh 
menjadi imam-imam yang suci sampai mati. Seorang imam berasal dari umat dan 
harus kembali ke umat dengan melayani umat.  

“Elohim itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam 
kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi 
berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; TUHAN semesta alam 
menyertai kita, kota benteng kita ialah Elohim. Pergilah, pandanglah pekerjaan 
TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi “(Mzm 46:2-3.8-9) 
=================================================
From: Romo maryo 

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara 
besar”. (Flp 4:10-19; Luk 16:9-15) 

“Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang 
tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di 
dalam kemah abadi."
"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam 
perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, 
ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia 
dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu 
harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, 
siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak 
dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang 
seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan 
tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Elohim dan 
kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang 
itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata
kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Elohim 
mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Elohim”(Luk 
16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:

·   Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah menghasilkan 
aneka alat atau instrument yang sangat kecil dan penting, antara lain yang 
terkait dengan serat optic. Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari juga 
perkara kecil dan sederhana, misalnya: makan, minum, tidur, istirahat, 
omong-omong, duduk bersama dengan mesra, dst.. Dalam hal makan, minum dan tidur 
misalnya, jika orang mengalami kesulitan dalam hal ini kiranya ia juga akan 
mengalami kesulitan yang lebih besar terhadap hal-hal besar, sulit dan 
berbelit-belit. Maka marilah kita dengan rendah hati dan bekerja keras untuk 
setia dalam perkara-perkara kecil, pekerjaan dan tugas yang kecil dan 
sederhana. Dengan kata lain marilah kita sungguh hidup mendunia, terlibat dan 
berparsipasi dalam seluk-beluk dunia mulai dari yang kecil dan sederhana; 
mencari dan mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia. Kita tidak dapat 
memisahkan hal-hal duniawi atau Mamon dari Elohim, dan mungkin hanya dapat 
membedakan. Sebagai orang beriman kita menerima tugas perutusan dari Elohim : “:
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, 
berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala 
binatang yang merayap di bumi."(Kej 1:28)  Bukankah untuk ‘beranak cucu’ maupun 
menguasai ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan segala binatang yang 
merayap di bumi kita harus setia pada perkara-perkara kecil dan sederhana?  
Memang dalam hidup sehari-hari perkara-perkara kecil dan sederhana itu pada 
umum diurus atau dikelola dan dikerjakan oleh orang-orang kecil dan sederhana 
juga, para buruh atau pembantu rumah tangga; namun kiranya seperti ketika pada 
masa Liburan Lebaran/Idul Fitri yang baru saja berlalu kita semua menyadari 
betapa pentingnya perkara-perkara kecil dan sederhana, yang kita butuhkan dalam 
hidup kita sehari-hari. 

·   “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu 
kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala 
perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal 
kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal 
kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan 
kepadaku” (Flp 4:11b-13), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, 
kepada kita semua orang beriman. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia 
yang memberi kekuatan kepadaku”, inilah kiranya yang juga layak menjadi 
pegangan atau acuan hidup dan kesibukan pelayanan kita. Tumbuh berkembang 
menjadi cerdas beriman tidak akan terlepas dari aneka perkara, dan semakin 
tumbuh berkembang berarti semakin banyak menghadapi perkara, entah besar atau 
kecil.. Kita imani dan hayati bahwa pertumbuhan dan perkembangan kita karena 
dan oleh Tuhan, maka hadapilah juga aneka perkara yang muncul ‘di dalam Dia 
yang memberi kekuatan kepadaku’. Menanggung semua perkara dalam Tuhan berarti 
dengan dan dalam iman kita hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara.
Iman adalah anugerah Tuhan, maka percayalah menghadapi aneka perkara dengan
iman berarti Tuhan sendiri yang akan berkarya atau bekerja dalam dan melalui
diri kita yang lemah dan rapuh ini. Dalam iman juga kita dipanggil untuk 
‘mencukupkan diri dalam segala keadaan’, artinya antara lain senantiasa 
bersyukur dan berterima kasih dalam situasi maupun kondisi apapun. Tiada 
rahasia bagiku, semua saya buka dan serahkan kepada Tuhan melalui 
saudara-saudari dan sesama kita. Baik dalam kenyang atau lapar, berkelimpahan 
atau kekurangan kita tetap hidup penuh syukur dan terima kasih.     ·

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada 
segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar 
akan diberkati. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi 
pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.Sebab ia takkan goyah 
untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya” (Mzm 
112:1-2.5-6) 

Kirim email ke