From: Romo maryo "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja” (Tit 1:1-9; Luk 17:1-6)
“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Luk 17:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St. Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Iman dan kasih pengampunan rasanya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Beriman antara lain berarti mengakui dan menghayati kasih pengampunan Elohim yang melimpah ruah, dan dengan demikian rasanya akan tergerak untuk meneruskan kasih pengampunan Elohim tersebut kepada sesamanya. St Leo Agung yang kita kenangkan hari ini adalah seorang Paus yang dengan tegas dan berani serta lemah lembut menjaga kemurnian iman dan kesatuan umat . Leo yang berarti ‘singa’, sebagaimana seekor singa dengan cermat dan sabar melihat mangsanya serta kemudian dengan cepat menangkap mangsanya, demikianlah kiranya Paus Leo Agung dalam menggembalakan dan melayani umatnya. Ia dengan tegas dan lemah lembut memberantas aneka macam bidaah, yang menyesatkan kehidupan iman umat, ‘celakalah orang yang mengadakan penyesatan ini’. Maka marilah kita dengan rendah hati berusaha untuk memurnikan iman kita, berani menegor empat mata saudara-saudari kita yang bersalah serta tidak menyebarluaskan kesalahan mereka ke orang lain atau menjadikan bahan ngrumpi/ngrasani. Dengan tidak menyebar luaskan kesalahan orang lain hemat saya iman kita juga semakin bertambah, diteguhkan dan diperkuat. Dengan kata lain kita dapat berpartisipasi dalam pennghayatan ‘kepunjanggaan gerejawi’ , dimana dengan dan dalam iman yang sekecil biji sesawi mampu merubah yang jahat menjadi baik, yang malas menjadi rajin, yang tidak murni menjadi murni, dst.. Marilah saling memperteguh iman dan kasih pengampunan dalam dan melalui hidup sehari-hari, dalam kesibukan pelayanan dan pekerjaan kita. Secara khusus perkenankan saya mengingatkan dan mengajak siapapun yang menjadi pimimpin atau atasan, yang cukup berpengaruh di dalam kehidupan bersama, untuk tidak menjadi batu sandungan dalam berbuat dosa atau jahat, melainkan.hendaknya menjadi teladan dalam penghayatan iman dan kasih pengampunan. · “Sebagai pengatur rumah Elohim seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya “(Tit 1:7-9), demikian saran atau nasihat Paulus kepada Titus, dan kepada siapapun yang berpartisipasi dalam penggembalaan umat: para pastor paroki, dewan parok/stasi/wilayah/lingkungan serta para pewarta iman atau katekis/guru agama. Yang rasanya layak direnungkan, dihayati dan disebar-luaskan pada masa kini kiranya ‘bukan pemarah’, mengingat dan memperhatikan masih begitu mudah orang marah (nggrundel, ngrasani, ngrumpi, melecehkan yang lain, menyakiti yang lain dst..). Maklum banyak orang marah tidak pada tempatnya atau tidak benar, antara lain memarahi mereka yang bersalah atau tidak mampu. Ingat Yesus memang pernah marah, yaitu ketika ada orang yang melecehkan/menurunkan harkat tempat ibadat menjadi pasar, tempat berdagang. Orang bersalah dan tidak mampu pada umumnya tidak melecehkan yang lain melainkan kerena tidak tahu. Kepada orang yang tidak tahu hendaknya diberi tahu atau diajar dengan menghayati motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro: “ing arso asung tulodho, ing madyo mbangun karso, tut wuei handayani” (kesaksian/keteladanan, pemberdayaan, motivasi). Menghayati dan melaksanakan motto ini hemat saya orang akan rendah hati, dan tidak mudah marah. Siapapun yang berpartisipasi dalam penggembalaan umat kami harapkan menghayati motto bapak pendidikan kita diatas ini. “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?""Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan” (Mzm 24:1-4b) ================================================= From: Romo maryo Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran: Yeh 47:1-2,8-9,12; 1Kor 3: 9b-11,16-17; Yoh 2:13-22 "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Mengenangkan atau merayakan ‘Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran’ hari ini pertama-tama perkanankan saya angkat dua pengalaman yang cukup mengesan bagi saya ketika saya bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang, sbb: 1). Paroki “X” adalah sebuah paroki di kota kecil, yang mencakup atau meliputi daerah pedesaan yang miskin. Dengan atau melalui relasi tertentu paroki tersebut memperoleh sumbangan cukup besar guna pelayanan pastoral sosial di parokinya. Ada kabar burung atau suara-suara bahwa terjadi penyelewengan dana atau uang yang dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam pengelolaan pelayanan sosial ini. Salah satu bentuk pelayanan sosial adalah berupa ‘pinjaman tanpa bunga’ bagi para tukang becak untuk membeli becak (maklum kebanyakan pengemudi becak tidak memiliki becak sendiri, melainkan milik boss tertentu). Pengurus pinjaman pembelian becak ini ada 10 (orang) dan setiap bulan mengadakan pertemuan untuk evaluasi, sedangkan jumlah peminjam adalah 20 orang. Para pemimjam berkewajiban mengangsur pinjaman Rp.25.000,-/bulan, sementara itu tiap anggota pengurus pinjaman becak memperoleh uang transport rapat Rp.50.000-/hadir. Jika dicermati kiranya jelas sekali bahwa para pengurus pinjaman becak ini ‘makan becak’ alias mencari keuntungan dari keringat atau jerih payah orang miskin, padahal mereka sendiri berkecukupan. Maka dengan rendah hati dan tegas saya bubarkan panitia/pengurus pinjam becak ini. Setelah saya lihat lebih cermat ternyata tidak hanya para pengurus pinjaman becak yang komersial dalam pelayanan pastoral, tetapi juga pengurus dewan paroki, antara lain ‘layat’ ke salah seorang keluarga anggota dewan paroki ke kota lain menggunakan uang paroki untuk perjalanan/sewa kendaraan maupun makan bersama di perjalanan. 2). Paroki “Y” memiliki proyek untuk membangun sebuah kapel di stasi, maka dibentuklah panitia pembangunan kapel. Diusahakan kolekte khusus dan sumbangan sukarela dari umat, yang memang miskin atau tidak kaya, maka jumlah dana/sumbangan uang dari umat kiranya kecil sekali jika dibandingkan dengan kebutuhan beaya pembangunan kapel. Untuk itu panitia berusaha mencari dan mengusahakan dana/sumbangan ke luar daerah. Dalam rangka mencari dan mengusahakan dana tersebut pada umumnya mereka pergi bersama-sama dengan menyewa mobil dan diperjalanan mereka juga makan bersama di warung atau restoran. Yang menarik adalah bahwa beaya sewa mobil dan makan bersama ini diambil dari sumbangan umatnya/kolekte yang terkumpul, dan dari laporan yang ada dapat dilihat bahwa jumlah sumbangan umat sendiri tidak mencukupi untuk sewa mobil dan makan bersama mereka, dan untuk itu mereka minta bantuan paroki. Nah sekali lagi di sini saya melihat bahwa panitia pembangunan kapel tersebut kurang berkorban atau bahkan mencari keuntungan (maklum ketika ke luar kota mereka pada umumnya sambil belanja untuk keperluan pribadi/keluarga): uang sumbangan umat habis untuk ‘jalan-jalan’ panitia pembangunan kapel. Maka dengan rendah hati dan tegas minta supaya panitia tersebut dibubarkan dan diganti oleh mereka yang rela berkorban. Dari dua kasus di atas saya melihat masih ada atau cukup banyak orang “membuat Rumah Bapa menjadi tempat berjualan” alias mencari keuntungan atau bersikap mental komersial dalam kegiataan socsal maupun keagamaan "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."(Yoh 2:16) “Rumah Bapa-Ku” untuk masa kini antara lain adalah ‘gereja/kapel, tempat ziarah’ atau tempat suci, yaitu “tempa-tempat yang dikhususkan untuk ibadat ilahi atau pemakaman kaum beriman yang dipersembahkan atau diberkati sesuai dengan buku-buku liturgi yang ditetapkan” (KHK kan 1208). “Dalam tempat suci hanya dapat diizinkan hal-hal yang berguna bagi pelaksanaan atau peningkatan ibadat, kesalehan dan keagamaan, serta dilarang segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu. Namun Ordinaris (Uskup) dapat sesekali memberi izin untuk penggunaan lain, asalkan tidak bertentangan dengan kesucian tempat itu” (KHK kan 1210). Masih adakah ‘orang-orang yang berjualan di tempat suci’ atau berbisnis di tempat suci, sebagaimana dikisahkan dalam Kabar Gembira hari ini, di daerah atau tempat kita? Mungkin anda masih ingat ‘peristiwa penampakan Bunda Maria, yang didalangi oleh Bapak Thomas dan rekan-rekannya’ di tempat-tempat ziarah Bunda Maria di wilayah Keuskupan Agung Semarang, antara lain di Sendang Sono dan Sendang Sriningsih. Banyak orang dari mana-mana berbondong-bondong datang ke tempat-tempat tersebut ketika mendengar info bahwa akan terjadi penampakan Bunda Maria, yang didalangi oleh Bapak Thomas tersebut. Kami (keuskupan) curiga atas peristiwa ini, namun melarang juga tidak bijak, dan sementara itu kami berpegang pada sabda ini :”Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Elohim, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini”(Kis 5:38-39). Kami curiga karena dari info yang kami terima tidak ada sedikitpun dari jumlah uang kolekta yang jumlahnya jutaan itu ditinggalkan untuk kepetingan pemeliharaan tempat ziarah yang bersangkutan, melainkan semuanya mereka ambil dan bawa pergi. Maka sementara itu kami juga berusaha mencari tahu dari berbagai pihak, dan ada kecurigaan jangan-jangan ini merupakan kegiatan ‘para normal’. Dan memang benar, ketika kami mohon bantuan seorang para normal yang baik, yaitu P.Loggman MSC, ternyata penampakan Bunda Maria tersebut merupakan upaya dari sekelompok para normal yang jahat. Dari bantuan para normal baik ini, pada suatu saat berhasiillah usaha kami menggagalkan adanya penampakan Bunda Maria tersebut, dan sejak itu kegiatan Bapak Thomas dan teman-teman ‘mati’. Yang memprihatinkan adalah kami dengar bahwa Bapak Thomas sendiri mati karena bunuh diri, mungkin karena frustrasi. "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.", demikian sabda Yesus yang menjadi kenyataan atau terwujud terkait dengan ‘penampakan Bunda Maria’ tersebut. Maka dengan ini kami berharap kepada siapapun: jangan coba-coba mencari keuntungan diri sendiri atau memperkaya diri , dengan mengkomersialkan tempat suci atau ibadat . Sekiranya ada sumbangan, entah dalam bentuk barang atau uang, terkait dengan tempat suci atau ibadat hendaknya dimanfaatkan sesuai dengan ajaran Gereja. Barang atau uang tersebut dengan demikian menjadi harta benda gerejawi, yang memiliki tujuan-tujuan khas,terutama ialah untuk “mengatur ibadat ilahi, memberi sustensi(kehidupan) yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan” (KHK kan 1254 $ 2). “Kamu adalah ladang Elohim, bangunan Elohim. Sesuai dengan kasih karunia Elohim, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”(1Kor 3:9b-11) Yang menjadi ‘rumah/bangunan Elohim’ terutama dan pertama-tama adalah manusia, bukan gedung atau tempat, sebagaimana dikatakan oleh Paulus bahwa “Kamu adalah ladang Elohim, bangunan Elohim”. Sebagai orang yang beriman pada Yesus kita juga disebut sebagai kaum beriman kristiani “ialah mereka yang karena melalui baptis diinkorporasikan pada Kristus, dibentuk menjadi umat Elohim, dan karena itu dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian dan rajawi Kristus, dan sesuai dengan kedudukan masing-masing dipanggil untuk menjalankan perutusan yang dipercayakan Elohim kepada Gereja untuk dilaksanakan di dunia” (KHK kan 204$ 1) Sebagai manusia, ciptaaan Elohim, masing-masing dari kita adalah ‘kasih karunia Elohim’, ‘ladang dan bangunan Elohim’, dimana Elohim hidup dan berkarya di dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Sebagai ‘tempat Elohim hidup dan berkarya’ kita dipanggil untuk ‘mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian dan rajawi Kristus’ sesuai dengan kedudukan, jabatan, tugas pekerjaan dan fungsi kita masing-masing di dunia ini: 1) Tugas imami. Fungsi seorang imam antara lain adalah sebagai penyalur rahmat atau berkat Elohim kepada manusia dan doa/dambaan/kerinduan manusia kepada Elohim. Kita semua orang beriman dipanggil untuk menjadi penyalur berkat Elohim kepada sesama manusa dan dambaan/kerinduan sesama manusia kepada Elohim. Sebagai ‘penyalur’ tentu saja kita senantiasa dirajai atau dikuasai oleh atau hidup bersama dengan Elohim dalam situasi apapun, dimanapun dan kapanpun alias dalam keadaan suci, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Elohim. Ambil bagian dalam tugas imami Yesus Kristus berarti berbudaya seperti Yesus, memiliki cara melihat, cara merasakan, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan cara Yesus. Kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada diharapkan seperti Yesus yang “datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10). Ambil bagian dalam tugas imami Yesus Kristus juga bagaikan ‘sungai’, “sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup”(Yeh 47:9) 2) Tugas kenabian. Seorang nabi adalah pembawa suara atau kehendak Elohim atau pewarta kebenaran-kebenaran di tengah-tengah hidup bersama yang sering diwarnai oleh aneka macam bentuk kebohongan maupun korupsi dan manipulasi. Maka pada umumnya cara hidup dan cara bertindak seorang nabi ada kemungkinan harus melawan arus serta menghadapi aneka macam tantangan dan hambatan, serta ada kemungkinan ia menjadi korban pembunuhan. Namun seorang nabi juga memiliki keyakinan iman ‘mati satu tumbuh seribu’. Tugas kenabian sebagai orang beriman pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan. Keutamaan-keutamaan yang layak untuk dihayati dan disebarluaskan pada masa kini antara lain : “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23) 3) Tugas rajawi. Seorang raja pada umumnya dihormati, dijunjung tinggi, dipuji dan dikasihi oleh mereka yang dirajai atau dikuasai. Raja di dunia ini pada umumnya menguasai dan menindas, sedangkan tugas rajawi yang harus kita hayati dan sebarluaskan adalah tugas melayani sesama manusia dimana saja dan kapan saja. Pelayan yang baik senantiasa membahagiakan mereka yang dilayani tanpa pandang bulu. Pelayan yang baik pada umumnya kerja keras, cekatan, tanggap, gembira/ceria serta siap sedia menanggapi kebutuhan orang lain. Marilah kita hidup saling melayani dan membahagiakan. Akhirnya dengan rendah hati kami, atas nama para imam, mohon dukungan dan doa anda sekalian agar kami dalam kelemahan dan kerapuhan serta rahmat Tuhan boleh menjadi imam-imam yang suci sampai mati. Seorang imam berasal dari umat dan harus kembali ke umat dengan melayani umat. “Elohim itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Elohim. Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi “(Mzm 46:2-3.8-9) ================================================= From: Romo maryo "Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara besar”. (Flp 4:10-19; Luk 16:9-15) “Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Elohim dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Elohim mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Elohim”(Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah menghasilkan aneka alat atau instrument yang sangat kecil dan penting, antara lain yang terkait dengan serat optic. Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari juga perkara kecil dan sederhana, misalnya: makan, minum, tidur, istirahat, omong-omong, duduk bersama dengan mesra, dst.. Dalam hal makan, minum dan tidur misalnya, jika orang mengalami kesulitan dalam hal ini kiranya ia juga akan mengalami kesulitan yang lebih besar terhadap hal-hal besar, sulit dan berbelit-belit. Maka marilah kita dengan rendah hati dan bekerja keras untuk setia dalam perkara-perkara kecil, pekerjaan dan tugas yang kecil dan sederhana. Dengan kata lain marilah kita sungguh hidup mendunia, terlibat dan berparsipasi dalam seluk-beluk dunia mulai dari yang kecil dan sederhana; mencari dan mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia. Kita tidak dapat memisahkan hal-hal duniawi atau Mamon dari Elohim, dan mungkin hanya dapat membedakan. Sebagai orang beriman kita menerima tugas perutusan dari Elohim : “: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kej 1:28) Bukankah untuk ‘beranak cucu’ maupun menguasai ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi kita harus setia pada perkara-perkara kecil dan sederhana? Memang dalam hidup sehari-hari perkara-perkara kecil dan sederhana itu pada umum diurus atau dikelola dan dikerjakan oleh orang-orang kecil dan sederhana juga, para buruh atau pembantu rumah tangga; namun kiranya seperti ketika pada masa Liburan Lebaran/Idul Fitri yang baru saja berlalu kita semua menyadari betapa pentingnya perkara-perkara kecil dan sederhana, yang kita butuhkan dalam hidup kita sehari-hari. · “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11b-13), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, inilah kiranya yang juga layak menjadi pegangan atau acuan hidup dan kesibukan pelayanan kita. Tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman tidak akan terlepas dari aneka perkara, dan semakin tumbuh berkembang berarti semakin banyak menghadapi perkara, entah besar atau kecil.. Kita imani dan hayati bahwa pertumbuhan dan perkembangan kita karena dan oleh Tuhan, maka hadapilah juga aneka perkara yang muncul ‘di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’. Menanggung semua perkara dalam Tuhan berarti dengan dan dalam iman kita hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara. Iman adalah anugerah Tuhan, maka percayalah menghadapi aneka perkara dengan iman berarti Tuhan sendiri yang akan berkarya atau bekerja dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini. Dalam iman juga kita dipanggil untuk ‘mencukupkan diri dalam segala keadaan’, artinya antara lain senantiasa bersyukur dan berterima kasih dalam situasi maupun kondisi apapun. Tiada rahasia bagiku, semua saya buka dan serahkan kepada Tuhan melalui saudara-saudari dan sesama kita. Baik dalam kenyang atau lapar, berkelimpahan atau kekurangan kita tetap hidup penuh syukur dan terima kasih. · “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya” (Mzm 112:1-2.5-6)

