From: "Nathan Minta" <[EMAIL PROTECTED]> IMAN: JADILAH SEPERTI RIO Oleh: John Adisubrata “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Surga seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:17) Kata iman dan definisinya sering kali menjadi sebuah tema perbincangan orang-orang kristiani, yang oleh karena pengertiannya terlalu dipersulit, bisa berubah menjadi sebuah tema perdebatan yang tak berguna bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Apalagi jika sudah berbentuk debat kusir mengenai tema-tema yang berhubungan dengannya. Khususnya: Mujizat, … mulai dari kesembuhan-kesembuhan adikodrati sampai hal-hal supranatural lainnya! Padahal menurut Alkitab, iman itu sebenarnya sederhana sekali! Injil-Injil Matius, Markus dan Lukas menceriterakan sebuah kejadian yang yang sama, di mana Yesus memakai seorang anak kecil yang masih murni imannya sebagai teladan untuk menegur ‘kesombongan’ iman murid-murid-Nya. Ketika mendengar hal yang dipertengkarkan oleh mereka dalam perjalanan ke kota Kapernaum mengenai siapakah sebenarnya yang terbesar di antara para murid-Nya, Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Sambil memeluk anak itu Yesus memperingati murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3-4) Kitab Ibrani menerangkan definisi iman dengan jelas sekali: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) Di antara ayat-ayat lainnya, yang menguraikan dengan terperinci sekali arti iman menggunakan tokoh-tokoh Alkitab sebagai contoh-contohnya, tertulis di sana syarat terpenting bagi setiap orang untuk bisa menjadi pengikut Kristus: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Elohim.” (Ibrani 11:6a) Padahal menurut surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus jelas dikatakan, bahwa keselamatan dan iman adalah karunia yang berasal dari Tuhan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamat kan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Elohim, …” (Efesus 2:8) Iman selalu berhubungan dengan kemuliaan Tuhan dan kebenaran firman-Nya. Ia selalu berpusat pada Yesus serta ajaran-ajaran-Nya. Karena orang-orang yang beriman akan selalu membaca Alkitab, berusaha mendengarkan suara Tuhan, mengetahui rencana-rencana-Nya bagi kehidupan mereka, dan yang paling penting, bersedia untuk melakukan perintah-perintah-Nya! Iman adalah percaya, bahwa Yesus datang sebagai Juruselamat dunia, disalibkan, mati dan dikuburkan untuk menebus dosa-dosa kita! Pada hari yang ketiga Ia bangkit kembali, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Elohim. Dan pada saat mendatang yang sudah ditentukan oleh Elohim di sorga, Ia akan turun kembali ke dunia untuk menghakimi setiap orang yang hidup dan yang telah mati. Iman adalah percaya, bahwa orang-orang yang beriman kepada Yesus juga akan bangkit di akhir zaman, karena Ia sudah mengalahkan maut untuk selama-lamanya. (1 Korintus 15:55-57) Iman adalah percaya, bahwa bersama Yesus kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa bagi kebesaran kerajaan Tuhan, menjadi pelita yang bersinar terang bagi-Nya di tengah-tengah kegelapan yang sedang mencekam dunia ini, meraih dan memberikan harapan kepada orang-orang lain yang sudah tidak mempunyai harapan lagi. Kesimpulannya: Iman adalah percaya kepada Tuhan dan percaya pada kebenaran firman-Nya! Dan bukan: Percaya kepada iman, atau: Percaya, karena beriman kepada iman! Definisi yang keliru tersebut sudah menyebabkan pengertian kata ‘iman’ akhir-akhir ini disimpang-siurkan oleh orang-orang di kalangan tubuh Kristus sendiri. Yesus ingin agar kita mempunyai iman seperti anak-anak kecil yang mau menerima kebenaran firman Tuhan tanpa menggunakan logika-logika dunia yang selalu menuntut bukti-buktinya terlebih dahulu. Jelas yang dimaksud terbesar di sorga oleh Tuhan Yesus di Matius 18:1-5 bukan anak-anak kecilnya, tetapi iman mereka, yang masih diliputi oleh kemurnian hati dan kesederhanaan pikiran yang belum terkontaminasi oleh illah-illah masa kini. Ia berkata, bahwa kita akan menjadi besar, bahkan terbesar di sorga, jika kita mempunyai iman seperti anak-anak kecil tersebut. Beberapa tahun yang lalu, di antara banyak e-mails yang saya terima melalui sebuah milis kristiani di Indonesia, saya membaca sebuah ceritera fiksi yang sangat menggelitik hati mengenai iman seorang anak kecil bernama Rio. Saya tidak bisa melupakan isi ceriteranya yang dengan jitu sekali mengilustrasikan pernyataan Yesus kepada murid-murid-Nya di ketiga Injil itu mengenai iman seorang anak kecil, tetapi … dalam bentuk humor. Kisah tersebut dimulai dengan hasrat Rio yang amat besar untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Tetapi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai keinginannya. Selain itu ibunya yang sedang sakit membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya. Setelah mempertimbangkan cukup lama, dengan iman Rio memutuskan diri untuk menulis surat kepada Tuhan: Kepada Yang Terhormat Tuhan di sorga Tuhan, namaku Rio. Aku ingin meneruskan sekolahku, tetapi orang tuaku tidak mempunyai uang. Ibuku juga sakit, sehingga biaya keperluan rumah tangga kami menjadi semakin meningkat. Tuhan, aku membutuhkan uang Rp 200.000 untuk membeli obat ibuku, Rp 200.000 untuk membayar uang sekolahku, Rp 100.000 untuk membayar seragamku, sedangkan Rp 100.000 untuk membayar harga buku-bukuku. Jadi jumlah uang yang aku butuhkan dari-Mu saat ini hanya Rp 600.000 saja. Terima kasih, Tuhan. Aku akan menantikan uang kiriman-Mu dengan sabar. Dari Rio Rio segera pergi ke kantor pos untuk mengirimkan suratnya. Membaca alamat yang tertulis di sampulnya, petugas kantor pos merasa iba sekali, sehingga ia tidak tega untuk mengembalikan surat itu kepada Rio. Bingung menentukan apa yang harus ia lakukan, akhirnya petugas kantor pos tersebut menyerahkan suratnya ke kantor polisi di seberang jalan. Membuka dan membaca isi surat tulisan Rio, komandan polisi pun menjadi terharu sekali. Ia menceritakannya kepada seluruh anak buahnya. Lalu bersama-sama mereka mengambil keputusan untuk mengumpulkan uang bagi Rio. Setelah dihitung, ternyata dana yang berhasil mereka kumpulkan hanya berjumlah Rp 540.000 saja. Sang Komandan menyelipkan uang itu ke dalam sebuah amplop, dan menulis di sampulnya: “Untuk Rio, dari Tuhan di sorga”. Lalu ia memerintahkan bawahannya untuk mengantar dan menyerahkan bingkisan kecil tersebut secara pribadi kepada Rio. Ketika menerima dan menghitung jumlah uang yang diterima olehnya, di samping merasa senang karena permintaannya telah dikabulkan oleh Tuhan, Rio merasa sangat tidak puas. Ia mengambil secarik kertas, lalu menulis surat lagi kepada Tuhan: “Tuhan, lain kali kalau Engkau mengirimkan uang kepadaku, jangan lewat polisi dong. Karena uang kiriman-Mu sudah dipotong 10 persen oleh mereka. Rio” RIO REALLY ROCKS! John Adisubrata November 2008 ======================================================== From: tinudh
Bapa Surgawi Terima Kasih untuk semua anugerah-Mu dalam kehidupanku Terima kasih untuk kasih-Mu yang tanpa batas bagiku, keluargaku dan orang orang di sekitarku. Terima Kasih menjadikan aku sebagai alasan Engkau memberkati lingkunganku, pekerjaanku dan komunitasku. Semua kutukan nenek moyangku, kedua orangtuaku , keluargaku dan aku sendiri, aku patahkan dalam KUASAMU. Segala sakit penyakit dalam tubuhku dan keluargaku telah ENGKAU sembuhkan oleh bilur bilur-Mu. Tahirkan lidah, mulut dan bibirku sehingga hanya kata kata berkat dan Firman-Mu saja yang bisa aku katakan Tahirkan mataku sehingga hanya hal hal yang daripadaMu saja yang aku lihat, untuk pertumbuhan imanku Tahirkan telingaku sehingga hanya kebenaranMu yang aku dengar dan perdengarkan Berkatilah aku, pasangan hidupku, anak-anakku, semua keluargaku, rumahku, pekerjaanku serta teman2ku. Jadikanlah kami perpanjangan hati dan tanganMU. Terima Kasih Bapa untuk semuanya Dalam nama TUHAN YESUS aku berdoa. AMIN.... ================================================== From: Romo maryo “Sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai” (Yes 2:1-5; Mat 8:5-11) “Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:"Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan didalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 8:5-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Beato Dionisius dan Redemptus, biarawan dan martir Indonesia, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Seorang perwira militer pada umumnya ahli strategi dan tukang perintah, memerintah kepada anak buahnya, dan dengan demikian juga dihormati, namun sering kurang memperhatikan para pembantu rumah tangganya. Dalam Warta Gembira ini kepada kita disajikan seorang perwira yang dengan rendah hati mohon kepada Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang sakit lumpuh dan sangat menderita dan dengan rendah hati juga ia mengakui bahwa dirinya sebagai orang berdosa, tidak layak didatangi oleh Tuhan Yesus. Maka Yesus bersabda: “Sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel”. Beriman berarti mengakui atau menghayati diri sebagai di satu sisi yang berdosa dan di sisi lain yang dirahmati atau dianugerahi oleh Tuhan. Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman. Maka marilah di masa Adven ini kita memperdalam kebenaran tersebut. Rasanya berani mengakui dan menghayati sebagai yang berdosa, lemah dan rapuh pada masa kini merupakan salah satu bentuk penghayatan kemartiran, mengingat dan mempertimbangkan begitu banyak orang sombong karena kekayaan, pangkat/ kedudukan/ jabatan atau kehormatan duniawi yang dimilikinya. Mengakui dan menghayati diri sebagai yang berdosa, lemah dan rapuh berarti senantiasa membuka diri atas berbagai kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman alias bersikap mental belajar terus menerus sampai mati (ongoing education, ongoing formation). Warta Gembira hari ini juga mengajak kita semua untuk memperhatikan para hamba atau para pembantu rumah tangga/keluarga atau komunitas kita masing-masing, sebagaimana dihayati oleh perwira yang dengan rendah hati menghadap Yesus demi kesembuhan dan keselamatan hambanya yang sakit lumpuh dan sangat menderita. · "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Elohim Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.”(Yes 2:3). Berada di puncak gunung atau bukit orang akan menyadari dan menghayati diri sebagai yang kecil, lemah dan rapuh serentak mengagumi dan terhibur oleh kebesaran dan keagungan Elohim dalam ciptaan-ciptaanNya, dalam alam raya yang indah. Maka gunung dan bukit sering menjadi tempat suci, dimana orang dapat menerima hiburan, pengajaran atau petuah-petuah yang menyelamatkan dan membahagiakan. Maaf kalau agak porno: ‘gunung atau bukit di dada perempuan alias buah dada’ rasanya juga menjadi symbol ‘keindahan dan kesucian’. Dari dan melalui buah dada seorang anak/bayi menerima dan menikmati kasih, hidup dan kebahagiaan luar biasa. Seorang ibu menyalurkan kasih kepada dan mendidik anak/bayinya dengan dan dalam menyusui. Marilah kita lihat, sikapi dan nikmati berbagai keindahan ciptaan Elohim di dunia ini sebagai wahana atau jalan untuk semakin mengenal dan menghayati aneka ajaran atau sabda-sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Di tempat-tempat atau bagian-bagian tubuh yang indah rasanya kita dapat melihat dan menikmati karya penyelenggaran Ilahi atau Tuhan, karya atau jalan yang menumbuh-kembangkan dan menyelamatkan. Di masa Adven ini kita dipanggil untuk menemukan dan menghayati aneka jalan atau cara untuk menumbuh-kembangkan iman kita sehingga kita tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Elohim maupun sesama. “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, “(Mzm 122:1-4a)

