From: L Hutabalian Pondasi dan Bangunan.
Umumnya, bentuk suatu rumah akan mengikuti bentuk bondasi yang telah dibuat. Kekuatan bangunan akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan pondasi dan tulang bangunan. Semakin kuat pondasi dan tulang bangunan maka semakin kuatlah rumah itu dan lebih aman untuk di tempati. Namun, meski struktur utama sebuah bangunan akan mengikuti bentuk pondasi, tetapi seorang arsitek/designer dan tukang bangunan dapat membuat tambahan bentuk bangunan untuk memberi nilai tambah pada bangunan itu, misalnya nilai artistik (Seni dan keindahan). Penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan kemampuan (skill) membangun yang baik, akan menghasilkan suatu bangunan yang kokoh dan indah. Dua unit rumah yang memiliki bentuk pondasi dan struktur tulang yang sama, belum tentu akan menghasilkan rumah yang sama bagus dan indahnya antara satu dengan yang lain. Bisa saja rumah yang satu menggunakan material yang murahan, bentuk kosen dan pintu yang biasa-biasa saja, sedangkan rumah yang lainnya menggunakan material kualitas tinggi dengan design kusen dan pintunya yang artistik. Rasul Paulus suatu saat dalam suratnya kepada jemaat di Korintus berkata : …tiap-tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia harus membangun diatasnya……Entah orang membangun diatas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami……. (1 Kor 3: 10-12). Firman ini mengajak kita untuk melihat kehidupan kita, bagaimana kita telah membangun diri kita. ------------------------------------------------- KS-ILT 1Kor 3:10 Sesuai dengan anugerah Elohim yang diberikan kepadaku, selaku ahli bangunan yang bijaksana aku telah meletakkan fondasi, dan yang lain membangun di atasnya. Namun biarlah masing-masing memerhatikan bagaimana dia membangun di atasnya. 3:11 Sebab tidak seorang pun sanggup untuk meletakkan fondasi yang lain selain yang sudah diletakkan, yaitu YESHUA, Sang Mesias. 3:12 Dan jika seseorang membangun di atas fondasi ini: emas, perak, batu-batu berharga, kayu, rumput, atau jerami; KJV 1Co 3:10 According to the grace of God which is given unto me, as a wise masterbuilder, I have laid the foundation, and another buildeth thereon. But let every man take heed how he buildeth thereupon. 1Co 3:11 For other foundation can no man lay than that is laid, which is Jesus Christ. 1Co 3:12 Now if any man build upon this foundation gold, silver, precious stones, wood, hay, stubble; Dalam kekristenan kita bisa mengatakan kita sama-sama memiliki pondasi yang sama yaitu Yesus Kristus, tetapi perlu diperhatikan apakah kita sudah membangun dengan benar hidup kita diatas pondasi yang benar itu? Apakah bangunan hidup kita termasuk murahan (kualitas rendah) dengan design yang biasa-biasa saja atau suatu bangunan dengan kualitas tinggi serta yang memiliki nilai artistik? Dengan kata lain : Orang kristen yang bagaimanakah kita ini? Biji Sesawi http://hutabalian72.wordpress.com/2010/11/15/414/ =============================================== From: L Hutabalian KUE LUPIS Pagi ini di ruang makan kapal di sediakan kue Lupis sebagai salah satu menu sarapan pagi. Kue ini terbuat dari beras dimasak seperti lontong berbentuk segi tiga dan bertabur kelapa parut dan air gula merah. The taste is nice. I really enjoyed it. Lupis ini memang salah satu makanan kesukaan saya. Entah mengapa, setiap saya menemukan kue Lupis dimana saja, saya selalu teringat kesaksian seorang ibu penjual Lupis yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya masih remaja. Ibu yang telah lelah berkeliling itu beristirahat sejenak di rumah kami. Sebagai pedagang keliling dengan berjalan kaki, wajarlah bila dia lelah dan butuh istirahat barang sejenak. Tidak disangka bahwa dalam perbincangan dengan keluarga saya di teras rumah, ibu penjual Lupis keturunan India ini didalam istirahatnya, masih menyempatkan diri menyaksikan kepada keluarga kami akan pertolongan Tuhan yang dia alami. Suatu waktu, seperti biasa, ibu ini melangkahkan kakinya dari rumah dengan menjunjung tampi Lupis diatas kepalanya. Langkah yang penuh harapan bahwa Lupis jualannya akan laku dan dia akan membwa pulang uang untuk kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Tetapi hari itu merupakan kejadian yang aneh. Suatu kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak pagi dia berangkat dari rumah hingga menjelang siang, tidak satu orang pun yang membeli kue Lupisnya. Menyadari keadaan itu, si ibu inipun mulai kawatir. Dia kwatir tidak dapat membawa uang pulang ke rumah untuk membeli beras dan sedikit lauk untuk keperluan keluarga besok hari. Sedangkan suaminya yang biasanya kerja mocok-mocok dengan penghasilan yang tidak dapat diharapkan, sedang tidak bekerja sejak beberapa minggu. Siang pun berlalu, ibu ini terus berkeliling sambil meneriakkan nama dagangannya yaitu Lupis. Sedang peluh sudah membasahi tubuhnya yang kurus yang diselimuti baju yang warnanya mulai pudar. Semakin sore, semakin sering pula dia meneriakkan Lupisnya. Mungkin karena perasaan kesal bercampur dengan kwatir yang semakin menjadi-jadi. Tapi sungguh aneh, sampai jam 5 sore, semua usahanya sepertinya sia-sia. Tidak satu orang pun yang membeli lupis dagangannya. Ini sungguh belum pernah terjadi. Dalam kelelahan dan putus asa, dia pun duduk di pinggir jalan sambil merenungkan nasibnya hari itu. Air matanya mulai menetes. Ibu ini menangis bukan karena menyesali segala usaha dan jerih payahnya yang seakan sia-sia, karena ia sadar bahwa itu adalah tanggung jawab yang harus dilakukannya. Tetapi ia menangis karena memikirkan apa yang akan dimakan oleh anak-anaknya besok. Di tengah isak-tangis dan kegalauannya, tiba-tiba ia teringat kepada Tuhan. Diatas rerumputan di pinggir jalan itu ia duduk dan berdoa di dalam hati ;" Tuhan, hari ini aku tidak mendapat apa-apa. Aku sudah berusaha, tapi tidak seorangpun membeli daganganku. Aku tidak menyesal atas jerih payahku yang sia-sia. Tetapi Engkau tahu Tuhan, anak-anak yang Engkau berikan kepadaku butuh makan besok hari. Terserah Engkaulah Tuhan." Setelah berdoa, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud untuk membuang ke Tong Sampah semua kue Lupisnya. Tapi kemudian tiba-tiba ia berpikir untuk membuang dagangannya itu ke sebuah sangai kecil yang terdapat di pinggiran komplek perumahan kami. Dia pun berjalan menuju kesana sambil tetap menjunjung tampi dagangannya, tapi tidak lagi meneriakkannya. Saat menuju ke sungai itulah, tiba-tiba seorang anak kecil memanggilnya. Ia pun menoleh dan mendatangi anak kecil yang berdiri di teras rumahnya itu. "Beli Lupis, bu" kata anak itu. Dia sempat tertegun, tapi ia terus mendekati anak kecil itu. Rupanya di teras itu ada beberapa orang dewasa dan anak-anak sedang berkumpul dan bercanda ria. Dan sesampai di teras itu, bukan anak kecil ini yang membeli kue Lupisnya, tapi seorang ibu, yang mungkin ibu anak itu malah memborong semua kue Lupisnya. Sungguh kejadian yang luar biasa. Tuhan menjawab doanya. Begitu kuatnya kesaksian ibu ini tertanam dalam ingatan saya, sehingga pagi inipun saya menceritakan kesaksian ibu ini kepada teman yang satu meja dengan saya di ruang makan, sambil saya memakan kue Lupis kesukaan saya. Vietnam, 29-09-08 ===================================== From: Janiwati [email protected] Peka Akan Suara Tuhan Sewaktu jaman telegraph sedang berjaya, ada seorang anak muda yang begitu mencintai sandi-sandi morse dan bermimpi dapat bekerja di perusahaan pengiriman pesan kilat tersebut. Hingga suatu hari kesempatan itu datang, perusahaan mengumumkan adanya sebuah lowongan pekerjaan. Dengan bersemangat anak muda tersebut datang ke perusahaan tersebut untuk melamar pekerjaan itu. Ketika memasuki perusahaan telegraph itu, ia terkagum-kagum melihat sekeliling bagaimana para sibuk bekerja dan terdengar ramai suara-suara sandi morse. Namun ternyata peminat atas pekerjaan itu tidak sedikit. Banyak orang telah duduk menunggu untuk melakukan wawancara. Oleh repsesionis ia diminta mengisi formulir sambil duduk menanti bersama para pelamar lainnya. Namun ketika ia telah selesai mengisi formulir, tiba-tiba anak muda itu berdiri dan segera masuk ruang wawancara tanpa menunggu dipanggil. Hal itu tentu saja membuat para pelamar lainnya bertanya-tanya. Apa lagi beberapa saat kemudian diumumkan bahwa pemuda tersebut mendapatkan pekerjaan tersebut. Mereka pun protes dengan keputusan itu. Akhirnya pihak manajemen memberi penjelasan, "Anak muda ini datang bukan hanya menunggu dipanggil, namun ia benar-benar menguasai dan mencintai sandi-sandi morse. Sedari tadi kami sudah memberikan informasi melalui sandi morse yang berbunyi, ‘Jika Anda sudah selesai mengisi formulir, silahkan masuk untuk wawancara.’ Dan anak muda ini menangkap informasi tersebut sedangkan saudara-saudara tidak." Terkadang, kita seperti para pelamar itu. Kita sibuk dengan permintaan kita, sehingga kita tidak tahu bahwa Tuhan sedang berbicara dengan kita. Akhirnya, berkat yang harusnya kita terima terlewatkan, hanya karena kita tidak peka dengan suara Tuhan. Untuk itu mari kita belajar seperti anak muda yang mencintai sandi morse itu. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita bukan hanya sibuk dengan permintaan dan pikiran kita sendiri, namun juga mengarahkan telinga rohani kita kepada suara-Nya. "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku." ~ Yohanes 10 : 14 ---------------------------------------------------------- KS-ILT Yoh 10:14 Akulah gembala yang baik, dan Aku mengenal domba-domba-Ku, dan Aku dikenal oleh domba-domba-Ku. KJV Joh 10:14 I am the good shepherd, and know my sheep, and am known of mine.

