KESENDIRIAN YANG TIADA TARA

(Refleksi atas Seruan Yesus
di Kayu Salib)

 

oleh: Ev.
Hali Daniel Lie, M.Th.

 

 

 

Eli, Eli,
Lama Sabakhtani

Pada detik-detik terakhir
menjelang kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus berseru: “Eli, Eli, lama 
sabakhtani?”
(Mat. 27:46). Seruan yang tercatat di dalam Injil Matius ini setengahnya
memakai bahasa Ibrani dan setengahnya lagi menggunakan bahasa Aram. Agak
berbeda sedikit, Injil Markus mencatat seluruh kalimat itu dengan memakai
bahasa Aram: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” (Mrk. 15:34). Makna sesungguhnya
dari kalimat tersebut, sebagaimana yang diterjemahkan langsung di dalam
Alkitab, adalah “Allah-Ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kalimat
macam apakah ini gerangan?

 

Saudara-saudariku sekalian,
apabila pada saat dahulu seruan itu sedang diucapkan dari mulut Yesus, engkau
berdiri di bawah salib, pikiran apakah yang muncul? Bila telingamu mendengarkan
secara langsung: “Eli, Eli, lama sabakhtani?”, apakah yang terbersit di dalam
sanubarimu? Andaikata engkau hidup sezaman dengan Kristus pada waktu kalimat
itu diucapkan: “Allah-Ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, perasaan
apakah yang timbul di dalam hatimu? Takutkah? Pilukah? Gemetarkah? Ibakah?
Sedihkah? Kasihankah?

 

Ditinjau dari teologi
sistematika kalimat itu sangat kontroversial. Tidak tanggung-tanggung,
persoalan Trinitas atau Tritunggal diperdebatkan dengan hangat bahkan sangat
mungkin disangsikan keabsahannya. Mereka yang menolak doktrin Trinitas sering
memakai ayat ini sebagai dukungan. Bagi mereka, bagaimanakah mungkin Sang Putra
terpisah dari Sang Bapa? Bukankah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus, tak
terpisahkan satu sama lainnya?

 

Ditinjau dari teologi biblika,
sumber dan latar belakang teks ini dipersoalkan. Banyak penafsir mensinyalir
kalimat itu mengambil latar belakang seluruhnya dari Mazmur 22. Dengan membaca
Mazmur 22 maka kita tahu bahwa seruan Yesus sama dengan seruan Pemazmur pada
ayat 2a. Memang ada kesamaan konteks antara seruan Yesus dengan seruan Pemazmur
namun harus diakui juga zaman dan pergumulannya berbeda.

 

Dalam tulisan ini kita tidak
hendak menyelesaikan kedua persoalan di atas, baik dari teologi biblika maupun
sistematika. Kita akan lebih menyoroti pergumulan batiniah Yesus. Coba kita
renungkan kembali kalimat itu: Allah-Ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan
Aku? Kristus bergumul dengan problem ditinggalkan oleh Allah Bapa. Perasaan
kesendirian muncul di dalam diri-Nya.

 

Tidak ada yang menemaninya,
termasuk Allah Bapa. Bapa pun sampai meninggalkan-Nya sendirian di kayu salib.
Singkatnya, very very very alone....Timbul satu perasaan kesendirian
yang tiada taranya. Biasakah engkau turut merasakannya?

 

Bagaimana tidak, sepanjang
hidup-Nya Yesus menunaikan tugas agung nan mulia? Dia mengajarkan kebenaran dan
keadilan. Dia mempraktekkan kebenaran dan keadilan. Tak sekalipun dalam
hidup-Nya Dia berbuat yang tak benar dan tak adil. Kini, apa hasilnya? Air susu
dibalas air tuba! Yesus harus mati begitu tragis, yakni dengan penyaliban.
Tidak adakah cara kematian lain yang lebih wajar dan manusiawi? Dia harus mati
dengan terhitung sebagai seorang penjahat besar padahal tak satu kesalahan
kecil pun yang pernah diperbuat-Nya. Mengapa Allah Bapa sendiri tidak peduli
pada-Nya? Mengapa Bapa meninggalkan-Nya seorang diri?

 

Jangan lupa pula bahwa seruan
itu diteriakan-Nya dengan suara nyaring. Di satu pihak memang penyaliban
itu sangat menyakitkan tubuh jasmani-Nya. Terpaku, kehausan, darah sedikit demi
sedikit mengalir sebelum akhirnya habis. Akan tetapi, hati batiniah-Nyalah yang
lebih sakit, ditinggalkan seorang diri bahkan juga termasuk oleh Allah Bapa.
Betapa memilukan hati! Kesendirian yang tiada tara!

 

 

Satu Demi
Satu Meninggalkan-Nya

Setelah memulai karya-Nya
mengajar berkeliling, banyak orang mulai mengikuti-Nya. Kelemahlembutan-Nya 
menyegarkan
jiwa banyak orang yang sedang merana. Penyembuhan penyakit, pengusiran setan,
mujizat demi mujizat membuat khalayak ramai berbondong-bondong mengikuti-Nya.
Namun, perlahan-lahan satu per satu mulai meninggalkan-Nya.

 

Manakala Dia mengingatkan khalayak
ramai akan segala risiko mengikuti-Nya maka orang-orang mulai mengundurkan
diri. Di taman Getsemani, Dia bergumul seorang diri. Pada saat keringat-Nya
mengalir seperti darah, Petrus, Yakobus dan Yohanes, tiga orang yang menemani
di Getsemani, tidur terlelap. Justru di saat-saat hati-Nya amat sedih, seperti
mau mati rasanya, ketiga murid-Nya tidak mampu berjaga-jaga. Yesus dibiarkan
bergumul sendirian.

 

Sepanjang pelayanan sekitar
tiga setengah tahun, Dia disertai dua belas orang murid. Kedua belas orang
murid itu selalu mengiringi-Nya ke mana pun Dia pergi. Akan tetapi, salah
seorang di antara murid-Nya itu akhirnya mengkhianati-Nya. Yudas begitu tega
menjual Yesus dengan harga tiga puluh uang perak. Seorang guru dikhianati oleh
muridnya sendiri. Betapa pedih hati-Nya!

 

Salah seorang murid-Nya pernah
bersumpah setia untuk berbela-Nya sampai mati. Sumpah itu dibuktikan oleh sang
murid, yakni Petrus, dengan memotong telinga Malkhus, seorang perwira yang
menangkap-Nya. Namun, tidak lama berselang, sang murid menyangkal dan mengutuk
bahwa dia tidak pernah mengenal Yesus. Tidak tanggung-tanggung, penyangkalan
itu sampai dilontarkan tiga kali. Baru tatkala ayam berkokok, Petrus menyadari
dan menyesal atas kepengecutannya. Pil pahit berupa penyangkalan dari Simon
Petrus harus ditelan-Nya. Bagaimana mungkin hati-Nya tidak hancur?

 

Sewaktu memasuki Yerusalem
dengan menunggang seekor keledai, Dia disambut meriah. Khalayak ramai
menghamparkan pakaian mereka di jalan dan melambai-lambaikan daun. Salam
kebesaran dipersembahkan pada-Nya: Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang
datang dalam nama Tuhan. Sambutan hangat itu begitu membesarkan hati-Nya. Akan
tetapi, hampir dapat dipastikan, sebagian orang itu kemudian berbalik
menentang-Nya. Kali ini mereka mengganti sambutan kehormatan itu dengan sumpah
serapah. Maka terdengarlah teriakan penghinaan: Salibkan Dia! Salibkan Dia!
Salibkan Dia! Awalnya Dia diterima tapi akhirnya ditolak. Kembali Yesus
ditinggalkan seorang diri.

 

Satu demi satu meninggalkan
Yesus. Kesendirian-Nya mencapai titik kulminasi pada saat Dia berseru:”Eli,
Eli, lama sabakhtani?” Allah Bapa di Surga pun meninggalkan-Nya. Dan jangan
lupa, seruan itu diucapkan dengan suara nyaring. Betapa sepi kesendirian-Nya
kala itu! Kesendirian yang tiada tara. Kesendirian itu sudah tak tertahankan.
Di kayu salib, menjelang kematian-Nya, Yesus merasakan sunyi..., sepi...,
sendiri ....

 

 

Sedang
Sendiriankah Engkau Sekarang?

Saudara-Saudariku sekalian,
apabila seseorang berbuat kejahatan maka sangat wajar dia ditinggalkan orang.
Massa akan menghindarinya. Khalayak ramai akan mencaci makinya, menolaknya dan
menyumpahinya. Akan tetapi, sebaliknya, bagaimana terhadap orang yang berbuat
kebenaran dan keadilan?

 

Orang-orang yang mau teguh
berpegang pada kebenaran dan keadilan pun cepat atau lambat akan ditinggalkan
khalayak ramai. Sampai pada satu saat kelak, orang yang tetap bersiteguh
bertahan dalam kesetiaan pada firman Tuhan juga akan mengalami kesendirian.
Satu demi satu orang meninggalkannya. Satu demi satu teman-sahabat
meninggalkannya. Bahkan tak jarang, anggota keluarga sendiri pun akan
meninggalkannya.

 

Pernahkah engkau menghadapi
kenyataan hidup seperti itu? Setiap orang yang mau tetap berpegang teguh pada
kebenaran dan keadilan harus bersiap diri untuk menghadapinya. Kenyataan itu
hampir tak terhindari dan kenyataan hidup itu pasti akan engkau tempuh.

 

Pada saat-saat sedemikian,
yang engkau rasakan hanyalah sunyi..., sepi...dan sendiri.... Apa yang paling
engkau butuhkan bukanlah nasehat, penghiburan atau pengajaran doktrinal.
Cukuplah bilamana ada satu orang saja yang mau menemanimu, duduk bersamamu dan
bila perlu menangis bersamamu. Jika begitu beratnya sampai satu orang pun tak
ada yang bersamamu, engkau tetap harus berdiri kokoh. Masih ada Allah yang akan
bersamamu. Saudara-Saudariku sekalian, bila oleh karena mempertahankan
kebenaran dan keadilan, engkau sampai ditinggalkan orang-orang, teman-sabahat,
bahkan keluarga sendiri, engkau harus bersiap hati merasakan kesendirian hidup
itu. Sesunyi-sunyinya, sesepi-sepinya, dan sesendiri-sendirinya, perasaaan
jiwamu saat itu, jauh lebih berat situasi-kondisi yang pernah dirasakan oleh
Yesus Kristus di kayu salib. Tetaplah ingat selalu ada satu pujian yang
mengatakan: 

Allah
mengerti, Allah perduli

Segala
persoalan yang kita hadapi

Tak
akan pernah dibiarkan-Nya

Kubergumul
sendiri

Sebab
Allah mengerti

 

 

 

Sumber:
www.gky.or.id

 

 

 

Profil Ev. Hali
Daniel Lie:

Ev.
Hali Daniel Lie, S.Th., M.A., M.Th.
adalah dosen Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Theologi Bandung (STTB). Beliau
menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.)
dan Master of Arts (M.A.) di STTB;
dan Master of Theology (M.Th.) di
Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang.



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke