KRISTEN
TETAPI BUKAN PENGIKUT KRISTUS

 

oleh: Pdt. Bigman Sirait

 

 

 

KRISTEN sering hanya menjadi
sekadar identitas bagi seseorang. Maka setiap kita perlu bertanya pada diri
sendiri: Apakah kita Kristen orang yang terhormat menjadi pengikut Kristus?
Pengikut Kristus harus punya suatu gaya hidup kristiani, yang sesuai dengan
kehendak Kristus, gaya hidup yang memberi kita identitas bahwa kita
adalah  pengikut Kristus, bukan pengikut dunia. Identitas yang jelas, bisa
dikenal semua orang. Dalam Kisah Para Rasul 11:26 dikisahkan tentang kehidupan
orang-orang Kristen yang dianggap, unik, aneh di tengah-tengah masyarakat
kafir, pemuja banyak tuhan (politeisme). Bagi warga Antiokhia saat itu,
orang-orang Kristen itu lain, tidak masuk akal. Orang Kristen dianggap aneh dan
bodoh. Orang-orang Kristen tampak terlalu sopan di tengah kehidupan yang sangat
vulgar dan borjuis.

 

Ketika kita berani menyebut
diri sebagai orang Kristen, tugas dan tanggung jawab kita untuk menjadi orang
terhormat, menjadi pengikut Kristus yang sekaligus menghormati gaya hidup
Kristen. Gaya hidup kristiani sesuai dengan ketetapan-ketetapan Kristus, bukan
ketetapan gereja, golongan, tetapi harus mengacu jauh ke dalam kebenaran
firman. Karena kita pengikut Kristus, ikuti saja jejak-Nya. Karena kita pengikut
Kritus, ikuti saja yang dilakukan-Nya. Kristen harus mempunyai spirit yang
sangat kuat. Kekristenan membuat kita menjadi orang yang siap hidup berbeda
dengan yang bukan Kristen, dalam kualitas iman dan moral. 

 

Anda tidak perlu membuktikan
sebagai orang Kristen yang baik dengan cara,  misalnya, memegang tampuk
kekuasaan lalu mengendalikan orang lain. Anda tidak perlu menyebut diri Kristen
yang baik dengan memaksa orang lain menyebut Anda baik.  Supaya disebut
orang Kristen yang baik, Anda tidak perlu membayar kiri kanan. Siap
berbeda dengan orang yang bukan Kristen, bukan dengan cara seperti itu.
Tetapi seperti kata Roma 12:2, kita berubah sehingga tidak sama dengan
dunia ini. Berubah karena pembaruan budi yang dikerjakan Roh Kudus. Berubah
sehingga kita mengerti apa yang menjadi kehendak Allah. Siapkah Saudara menjadi
tidak sama dengan dunia ini? Siap berbeda untuk menunjukkan kualitas iman,
kualitas moral? Sebagai orang Kristen omongan kita harus bisa dipegang. Jangan
seperti orang lain yang omongannya tidak bisa dipegang. Kita memang beda. Sebab
bagaimanapun kualitas iman kita adalah kualitas iman yang mengacu pada semangat
gairah untuk mengekspresikan cinta kasih, bukan membalas dendam. Semangat kita
bukan sekadar untuk menjadi yang paling banyak, sehingga paling berkuasa,
tetapi paling banyak membagi berkat dan cinta kasih. Sehingga setiap orang
Kristen, sekalipun berbeda di tengah-tengah gelombang jaman yang materialistis,
mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu sehingga tidak menghalalkan segala cara
untuk cari uang. Ia menjadi orang yang hormat dan sungkan, tidak
mengatasnamakan agama untuk mencari uang, tidak menjual penderitaan orang lain
demi uang. 

 

Orang Kristen adalah orang
yang sadar akan komitmennya menjadi murid Kristus, dan siap menerima segala
konsekuensi yang akan muncul. Kita tidak boleh berubah di tengah jalan. Ketika
Anda menjadi seorang Kristen, maka itulah komitmen yang harus disadari
sepenuhnya, bahwa menjadi pengikut Kristus itu memang begitu risikonya. Kita
musti hidup sungguh-sungguh, hidup sepadan dengan apa yang dituntut-Nya. 

 

Komitmen
Melayani Tuhan

Seorang Kristen harus setia
kepada komitmennya untuk mau melayani Tuhan. Seorang Kristen harus setia untuk
mau menyatakan komitmennya mengikut jejak Kristus.

Kristen tidak mengimingi orang lain dengan hal-hal yang bersifat duniawi,
tetapi bagai-mana kejujuran batin kita, gaya hidup kita, karya nyata kita,
supaya orang lain tahu siapa kita, dan akhirnya mereka juga berkata, “Aku pun
mau jadi pengikut Kristus”. Adakah hal-hal se-perti itu yang terjadi? Atau
justru umpatan yang kita dapat? 

 

Sering dalam perjalanan hidup,
kita tidak setia dengan komitmen awal kita. Saat dalam  kesusahan, dekat
sekali dengan Tuhan, hidup penuh kejujuran, apa adanya. Waktu punya uang
sedikit, kita mulai neko-neko. Punya banyak uang, larilah segalanya. Perilaku
berubah total, karena sudah menjadi liar karena uang. Omongan kita tidak bisa
lagi dipegang, tidak lagi jujur, karena sudah gila karena uang.

 

Kita semua bisa jatuh ke dalam
jurang yang sama. Kita bisa mengalami perubahan dari kemajuan menuju
kehancuran. Perubahan yang bukan ke positif, tetapi negatif. Kita berubah: dulu
baik, sekarang tidak baik. Padahal kekristenan seharusnya perubahan dari yang
tidak baik menjadi baik. Tetapi rupanya realita jaman, daya tarik alam semesta
ini sangat kuat, sehingga banyak orang yang gelap mata terhadap glamour
kehidupan, akhirnya menyangkali kejujuran iman. Mungkin demi mobil, rumah,
jabatan, jodoh, atau kenikmatan yang mungkin tidak pernah dia miliki. Ini 
berbahaya.


 

Ketika menyebut diri sebagai
seorang Kristen apakah Anda sadar dengan semua itu? Atau sekadar karena lahir
dalam keluarga Kristen? Identitas di KTP? Maka perlu kejujuran untuk memeriksa
diri dengan baik, di mana kita berada, dan bagaimana seharusnya kita hidup.
Berhentilah sejenak, memikir ulang: adakah saya sungguh-sungguh mengikuti
Kristus, sehingga saya berani menyebut diri saya Kristen? Adakah saya
betul-betul hidup menjadi berkat sehingga orang-orang akhirnya tahu siapa itu
pengikut Kristus, karena melihat hidup saya? 

 

Karena itu berdoalah. Jangan
menjadi seorang Kristen yang belum menjadi Kristen. Jangan mengaku Kristen
namun belum menjadi pengikut Kristus. Berhenti sejenak dan berdoa: Kiranya hari
ini Tuhan, aku menjadi seorang Kristen yang Kristen, Kristen yang mengikut
Kristus.

 

 

 

(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P. Tan)  

 

 

 

Sumber:


http://reformata.com/05553-kristen-tetapi-bukan-pengikut-kristus.html

 

 



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke