PENGALAMAN
BERSAMA TUHAN
 
oleh: Pdt. Jeffrey Siauw, S.T., M.Div.
 
 
Saya mengamati bahwa sebagian
besar gereja-gereja dari kalangan Injili di Indonesia, entah mengapa,
menganggap tabu atau paling tidak menghindari pembicaraan mengenai
perasaan-perasaan bersama dengan Tuhan atau pengalaman-pengalaman rohani. 
 
Begitu ada orang yang bicara
tentang perasaan-perasaan atau pengalaman seperti demikian, banyak orang yang
langsung merasa ‘anti’ atau paling tidak waspada. Misalnya jika ada orang
berkata: 
“Saya merasa Tuhan menyentuh
saya” 
“Tiba-tiba saya merasa sangat
damai dan ada perasaan hangat di dalam hati” 
“Saya melihat seperti ada
cahaya dan tiba-tiba saya menangis” 
“Saya seperti mendengar Tuhan
berkata…” 
 
Kalimat-kalimat itu langsung
membuat ‘radar theologi’ kita naik ke atas dan kita siap untuk membom jatuh
‘pesawat musuh’. Mungkin radar anda sekarang juga mulai naik ke atas dan anda
siap untuk membom saya? 
 
Saya sangat mengerti
‘bahaya’nya kalimat-kalimat seperti di atas, dan saya sangat tahu 
penyimpangan-penyimpangan
yang selama ini dilakukan oleh orang-orang dengan kalimat-kalimat seperti di
atas. Tetapi kalau kemudian kita tabu dengan hal tersebut, kita anti dengan
pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan seperti itu, saya kira kita 
“membuang
air dalam baskom sekaligus dengan bayi di dalamnya”! 
 
Iman kita kepada Tuhan Yesus
Kristus adalah pusat dari kehidupan rohani kita. Dan kalau iman kita adalah
iman kepada Tuhan yang hidup, maka kita pasti mengalami perasaan dan pengalaman
bersama dengan Dia. Kita tidak berhubungan dengan Tuhan yang hanya jauh di
sana, tetapi Tuhan yang juga dekat dengan kita. Tiap hari Dia bersama kita, dan
tiap saat ada yang Dia lakukan terhadap kehidupan kita. Tidak mungkin tidak ada
perasaan dan pengalaman bersama dengan Dia. 
 
Di sisi lain, iblis memang bisa
menyamar menjadi malaikat terang. Artinya iblis bisa meniru berbagai hal yang
dikerjakan oleh Allah sedemikian rupa sehingga orang mengira itu adalah
pekerjaan Allah. Maka Iblis bisa meniru dengan memberikan perasaan dan
pengalaman yang mirip seperti yang bisa diberikan Allah kepada kita. Dia bisa
memberikan perasaan seperti damai, perasaan seperti adanya kehadiran Tuhan,
bahkan pengalaman-pengalaman ‘rohani’ yang sangat personal. 
 
Tetapi karena iblis bisa
meniru, apakah kalau begitu kita boleh anti dengan perasaan-perasaan dan
pengalaman-pengalaman yang memang diberikan oleh Tuhan? Bukankah Tuhan memang
berbicara kepada kita? Bukankah Tuhan memang menjamah hidup kita? Bukankah
kehadiran-Nya memang sering kali bisa dirasakan dengan jelas oleh anak-anakNya?
Lalu mengapa kita anti dengan semua itu? Bukankah seharusnya kita bahkan
mengingini pengalaman bersama dengan Tuhan? Itu yang diingini oleh Musa
(melihat kemuliaan Tuhan), itu juga yang Elisa doakan supaya bujangnya alami 
(melihat
ada tentara malaikat Tuhan), itu juga yang diberikan Yesus kepada para rasul
(memperlihatkan kemuliaan-Nya dengan berubah rupa bersama dengan kehadiran Musa
dan Elia), dan itu juga yang dialami oleh orang-orang percaya di sepanjang
Alkitab! 
 
Saya tahu sebagian orang akan
berkata “kami tidak anti, tetapi kami selalu harus menguji berdasarkan Firman”.
Saya 100% setuju dengan kalimat itu. Tetapi mari kita jujur, apakah selama ini
kita memang ‘menguji’ atau sebetulnya cenderung takut dan akhirnya tidak peduli
apakah kita mengalami Tuhan atau tidak? 
 
Mengapa kita hanya ‘belajar’
tentang Tuhan dan ‘bekerja’ untuk Dia tetapi kita miskin ‘pengalaman’ bersama
dengan Dia?
 
 
 
Sumber:
http://jeffreysiauw.blogspot.com/2010/08/pengalaman-bersama-tuhan.html
 
 
 
Profil Pdt. Jeffrey Siauw:
Pdt.
Jeffrey Siauw, S.T., M.Div.adalah gembala sidang Gereja Kristus Yesus (GKY) 
Singapore. Beliau
menyelesaikan studi Sarjana Teknik (S.T.) jurusan Teknik Industri di 
Universitas Trisakti, Jakarta dan Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah
Tinggi Theologi Reformed Injili Internasional (d/h Institut Reformed), Jakarta.
Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi Master
of Theology (M.Th.) bidang Perjanjian Baru di Trinity Theological College,
Singapore. Beliau menikah dengan Yudith. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta di
sinode GKY pada tanggal 1 Januari 2012.
 
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke