SIMBOLISME HEWAN CINA

". bagi orang-orang Cina kuna sejak zaman Dinasti Hsia desain-desain hewan
itu tidaklah tanpa makna karena bagi mereka desain-desain tersebut mempunyai
arti penting magis yang berasal dari peran utama mereka sebagai pembawa
berita dunia roh." (Ong Hean Tat, Simbolisme Hewan Cina, hlm.10). 

Masyarakat Tionghoa/Cina kuno mempunya kepercayaan bahwa baik manusia maupun
hewan setelah mati rohnya masih tetap hidup di langit dan roh itu memiliki
kekuatan yang dapat mempengaruhi hidup manusia di bumi. Kepercayaan ini
disebut 'Animisme/Spiritisme.'

Semula, hewan-hewan itu hanya digunakan untuk menamai ke-12 cabang bumi yang
digambarkan sebagai simbol shio dan juga ke-5 tangkai langit, namun dalam
perkembangannya simbol-simbol yang dibuat manusia itu kemudian dijadikan
obyek penyembahan dan ujung-ujungnya dipercayai memiliki kekuatan magis
menghubung dunia roh yang dapat mempengaruhi manusia.

Hewan - Hewan S h i o 

Semula orang Tionghoa kuno mengikuti penanggalan berdasarkan peredaran bulan
(lunar calendar) yang dibagi ke dalam 12 bulan dengan panjang sekitar 29,5
hari perbulan dan dinamakan zhengyue (bulan utama), eryue (bulan kedua),
sanyue (bulan ketiga) sampai bulan shi'eryue (bulan keduabelas), namun sejak
kaisar Hsia, karena penamaan itu dianggap menyulitkan maka dicarilah nama
hewan sebagai simbol nama bulan maka ia mengundang hewan-hewan untuk
berlomba menyeberangi sungai.

Tikus adalah hewan cerdik yang semula berteman dengan kucing dan mengelabui
kerbau yang bisa berenang agar bekerjasama mencapai seberang dengan catatan
tikus menjadi penunjuk arah karena matanya lebih tajam daripada kerbau.
Mendekati seberang tikus ternyata licik dan mendepak kucing sehingga kucing
tenggelam tidak masuk penanggalan dan tikus melompat lebih dahulu keseberang
meninggalkan kerbau yang menjadi nomor dua. Demikianlah ceritanya maka Tikus
dianggap simbol nama bulan pertama, disusul kerbau, harimau, kelinci, naga,
ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing sampai babi yang keduabelas.
Nama-nama itulah yang kemudian dijadikan nama-nama Shio dalam kalender
Tionghoa. (Kucing tidak masuk karena mati tenggelam dan sejak itu kucing
bermusuhan dengan tikus).

Legenda lain menyebutkan bahwa di malam tahun baru, Buddha mengundang
hewan-hewan untuk makan bersama, yang datang pertama adalah tikus, kemudian
disusul kerbau, harimau, kelinci, naga dan yang keduabelas yang terakhir
yaitu babi. 

Kekuatan Magis Simbol Hewan 

Sejak masa dinasti Hsia simbol hewan bukan saja dijadikan nama bulan namun
lama-kelamaan menjadi obyek penyembahan dan dipercayai mempunya daya magis
sebagai perantara dunia roh. Ong Hean Tat dalam buku hasil studinya yang
mendalam tentang Simbolisme Hewan Cina (Megapoin, Jakarta, 1996) menyebutkan
bahwa:

"Dalam pemujaan dan dalam upcara-upacara magis yang terdapat dalam
kebudayaan-kebudayaan religi, banyak bentuk simbol dianggap mempunyai daya
misterius yang mempengaruhi orang. Daya ini adalah daya magis." (hlm. 5)

"Simbol-simbol religi juga bisa ampuh karena simbol-simbol ini dalam dirinya
mempunyai kemampuan untuk mengundang roh dan memerintah roh tersebut."
(hlm.6)

Jadi, ke-12 simbol hewan bukan saja hanya dijadikan nama 12 shio/zodiak
melainkan lebih dari itu dipercayai sebagai memiliki kekuatan magis yang
mempengaruhi manusia yang dilahirkan dibawah simbol hewan tersebut.
Penanggalan Tionghoa berulang setiap 60 tahun sekali, yaitu 12 shio
dikalikan 5 unsur Tangkai Langit yaitu Naga (Timur), Finiks (Selatan), Bumi
(Pusat), Harimau (Barat) dan Kura-kura/Ular (Utara).

"Seorang rahib Tao akan mengundang kekuatan-kekuatan Langit atau roh lewat
Hewan-hewan Perlambang namun ia juga harus mengakui kekuatan-kekuatan di
Bumi yang dilambangkan oleh Dua belas Hewan Zodiak, yang secara khusus
mencerminkan sifat-sifat khas seseorang." (hlm. 24)

"Upacara-upacara magis Tao yang paling penting, yang mengikuti urut-urutan
Lo-Shu, terdiri dari kemampuan untuk mengundang datang kekuatan yang
dipunyai Jenderal-Jenderal Roh ini dan upcara-upcara tersebut menunjukkan
bahwa Unsur Pakua-Empat Hewan Perlambang merupakan hakekat daya-daya
supranatural." (hlm. 28).

Hewan-hewan itu, yang utama yang digunakan dalam perayaan Sincia/Imlek
adalah Barongsai dan Naga yang diarak dalam tarian. Barongsai dan Naga
memiliki kesamaan sebagai penjaga dunia roh dan sebagai pengusir roh-roh
jahat. Naga bertujuan melindungi raja/istana dan gedung-gedung umum dalam
menghadapi kuasa-kuasa jahat, sedangkan barongsai masuk ke rumah-rumah untuk
mengusir roh jahat dari kamar-ke-kamar sehingga rumah itu memperoleh
rejeki/keberuntungan/keselamatan.

Akhirnya . . . 

Sehubungan dengan kuasa dunia roh dalam tarian yang dilambangkan sebagai
hewan Barongsai dan Naga, umat kristen agar waspada untuk tidak sembarangan
mengundang kedua simbol itu masuk ke rumah apalagi masuk ke gedung gereja.
Seperti kita ketahui dan percayai, rumah orang kristen adalah rumah dari
orang-orang yang menjadi rumah Roh Kudus, demikian juga gedung gereja adalah
rumah Allah dimana Roh Allah hadir. Karena itu, dengan mengundang kedua
simbol hewan itu kita patut bertanya: "Lalu roh mana yang akan mengusir roh
yang mana?"

Semoga artikel ini membawa kehati-hatian bagi umat kristen yang kebetulan
berhubungan dengan perayaan Sincia/Imlek. ***

Salam kasih dari YABINA ministry (www.yabina.org) 

Kirim email ke