Heheeheh..perry..namanya juga twisted logic. Axioma ini berlaku umum untuk semua angka. Jika discount 1/6 dari yang dibayarkan dan office boy selalu mengambil 2/5 dari discount dan membagikan sisanya kepada masing2 turis( which i.e. 1/5 into Discount, for each turist) lalu... Anda jumlahkan uang yang dibayarkan turis dan uang yang "dibayarkan" (heehehhe, dibayarkan nggak yah) office boy maka selalu minus 1/10 x yang dibayarkan tiap2 turis.
Tapi sejauh ini belom terjawab hilang dimana yah: Jawabannya: hilang di PERSEPSI berikut ini: Pertama: hilang di persepsi tiap2 tourist Perceived value of money which is paid by each tourist i.e. -90 (padahal mereka juga membiayai si office boy atau OB yang nota bene preman..alias pre makan :D). Sialnya: Perceived value yang hilang ini nggak ditemukan ama auditor (alias yang jumlahin dan bikin laporan buku) malah dia ikut2an salah PERSEPSI (sengaja kalee). Perceived value of the one who add up the total losses of tourists to the gain of OB. Heheheheh...emang korupsi pasti bikin kacau.... Siapa-siapa yang jadi auditor hati2 kena syndrom twisted-logic. --- Perry Cornelius <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Daripada sibuk ngebahas pertanyaan mana duluan: ayam > atau telur (yang > menurutku tidak akan ada habis-habisnya), mending > ngebahas permasalahan > yang sedikit lebih real. Semoga dengan membahas > masalah ini kita bisa > mengetahui bahwa dampak serta konsekuensi dari > "melakukan tindakan > korupsi" bisa sedikit mengacaukan logika orang awam > dan membuat para > pemikir di negara kita ini, yang kata orang > logikanya rada minus, akan > menjadi semakin penuh komplikasi (he.. he..). > > Begini nih persoalannya: > > Pada suatu hari ada 3 orang turis yang baru saja > tiba dari negaranya. > Mereka lalu mendatangi hotel setempat untuk > menginap. Sewa kamar di hotel > itu sebesar Rp 300 ribu untuk 1 kamar dan bisa > digunakan untuk 3 orang. > Akhirnya kesepakatan mereka, akan membuka 1 kamar > dengan biaya patungan, > masing-masing orang sebesar Rp 100 ribu. > > Setelah membayar Rp 300 ribu, mereka diantar office > boy ke kamar. > Kebetulan pada hari itu, pihak hotel memberikan > potongan harga kamar > sebesar Rp 50 ribu rupiah. Karena turis itu membayar > Rp 300 ribu, maka > potongan harga yang Rp 50 ribu harus dikembalikan > kepada 3 orang turis > turis. Lalu office boy disuruh mengembalikan Rp 50 > ribu itu. > > Di dalam perjalanan office boy menilep uang itu > sebesar Rp 20 ribu. Asumsi > si office boy, uang Rp 50 ribu akan susah untuk > dibagi 3. Maka ia hanya > akan mengembalikan sebesar 30 ribu. > > Setelah 30 ribu itu dikembalikan, masing-masing > turis menerima sebesar Rp > 10 ribu. Dalam hati mereka masing-masing mengira > tarif kamar di hotel > hanya sebesar Rp 270 ribu, karena tiap-tiap orang > jadinya hanya membayar > Rp 90 ribu. > > Nah, yang jadi pertanyaan: > > Jika per orang membayar Rp 90 ribu, jadi tarif kamar > itu sebesar Rp 270 > ribu. Uang yang ditilep sama office boy sebesar Rp > 20 ribu. Jadi total > semuanya sebesar Rp 290 ribu. Padahal mereka tadinya > membayar sebesar Rp > 300 ribu ke hotel. > Kemana sisa uang yang Rp 10 ribu lagi? > > > PS: Jadi yang menggunakan nama samaran SARTE SATIRE > itu adalah YOGI > FRANSISCUS ya? Wah, pantas si Bob langsung tertarik > untuk mengadu > argumentasi dengannya, he.. he.... Khusus buat Sarte > Satire atau (jika > memang benar dia adalah Yogi Fransiscus), salam > kenal dariku. > > Aku sempat sedikit tertarik dengan > komentar-komentarnya di milis ini > beberapa waktu yang lalu. Aku sempat berpikir bahwa > tingkah lakunya persis > sama dengan temanku waktu kuliah dulu (yang sekarang > aku justru udah nggak > tahu keberadaannya dimana). Dia (temanku) itu dulu > sangat terobsesi > mempelajari filsafat dan berbagai aliran mazhab > lainnya, termasuk > mendalami ilmu dari semua agama dan aliran > kepercayaan yang ada di bumi > Indonesia ini. Namun karena tidak terkontrol, > akibatnya temanku itu sampai > (maaf..) 'over acting'. Dia sempat merasa dan > menganggap bahwa dunia yang > kita tinggali sekarang ini adalah dunia maya > (semuanya hanya fiksi > belaka). Hanya dialah yang dapat memahami makna > kehidupan di dunia ini, > sedangkan yang lainnya tidak mampu. Kalau aku bisa > bilang, dia itu bahkan > sudah nggak bisa lagi membedakan siapa yang > sebenarnya 'gila' dan 'waras". > > Waktu itu aku tidak peduli akan keadaan dia, karena > menurutku it is his > own choice! Dia sendiri yang memilih jalan hidupnya. > It is absolutely his > right, isn't it? Sampai suatu saat dia > memproklamirkan ke teman-temanku > (mungkin karena ketidakpedulianku terhadap dirinya) > bahwa aku lah yang > gila karena tidak menghormati dia yang sudah > menemukan intisari dari > kehidupan di dunia ini. Aku dianggap gila karena > teman-temanku yang > lainnya justru di saat yang bersamaan memuji-muji > dirinya tiap kali > bertemu dengannya. Kalau soal ngomong serta caranya > membahas dan > mengungkapkan sesuatu ide sih jangan ditanya lagi. > (Maaf sebelumnya) si > SARTE SATIRE sih masih berada beberapa kelas di > bawah dia. Yang pasti dia > udah mampu meng-influence orang-orang untuk menerima > idenya, kemudian > menjadi percaya betul sama dia dan selanjutnya > bahkan menjadi pengikut dan > pemujanya. Saat itu, diantara teman-teman dekatku, > bisa kubilang hanya aku > yang tidak peduli (atau barangkali tidak mempan, > he.. he...). > > So, SARTE SATIRE, it's also your own choice and your > own right to learn > the philosophy of life. However, please bear in > mind, being a man: it is > required a full control of your mind, given that you > are living in your > environment, where a lot of men also live in there. > You cannot live alone > without the society by devastating someone's live > through your 'amazing' > and undisputable ideas. You can lead and control > them (the other men) but > first you need to lead and control yourself. > > Nonetheless, this is only an advise as a friend and > should not be deemed > by you as an order. Please ignore it if you disagree > with it. > > Our brain, as 'human being' is like this: > > "Murenut sautu pelneitian di sbeuah Uinervtisas di > Amreika, atruan hruuf > dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan > trekahhir ynag ada pdaa > tepmatyna. Siasyna bsia dtiluis breantaakn, teatp > ktia daapt mebmacayna. > Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf > per hruuf, nmaun ktaa > per ktaa. > > Laur bisaa kan?" > > > Salam, > Perry Cornelius Sitohang > Attorney-at-Law > > > -- > LUBIS, SANTOSA & MAULANA Law Offices > Mayapada Tower 5th Floor > Jl. Jend. Sudirman Kav. 28 > Jakarta 12920 > T: (62-21) 521 1931 > F: (62-21) 521 1930 > www.lsm86law.com > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Everything you need is one click away. Make Yahoo! your home page now. http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/uBfwlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> _____________________________________________________________ Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB) [email protected] http://groups.yahoo.com/group/KBMSB http://www.mail-archive.com/[email protected] Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca ! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/KBMSB/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
