bang aku sebenarnya kurang paham dan kurang tau dengan hal-hal yang berbau 
politik. tapi aku tertarik ama tulisan yang abang buat. pertanyaan yang muncul 
di kepalaku ketika membaca tulisan ini adalah mampukah masyarakat Indonesia 
membawa bangsanya sendiri ke arah yang lebih baik?
kita lihat aja sekarang klo cara berpikir setiap orang zaman ini udah jauh 
sangat berbeda dengan zaman dulu.
sekarang semua orang kebanyakan berpikir individualis. semua hanya memikirkan  
diri sendiri, sibuk dengan aktifitasnya sendiri, sibuk dengan dunianya sendiri.
jarang kutemukan mahasiswa yang mau peduli terhadap bangsanya sendiri. 
jangankan peduli, untuk mau tau kondisi negaranya sendiri aja susah.
aku gak tau apa pemikiranku sempit atau pergaulanku yang kurang tapi yang jelas 
hal-hal seperti itulah yang kutemui dalam lingkunganku. 
termasuk kuakui aku adalah salah satu dari mereka.
menurut abang sendiri, dengan kondisi kita sekarang, dimana banyak orang yang 
gak tau harus percaya ama siapa, mana yang benar dan mana yang salah apa kita 
masih mampu membangun kembali? thx bang.

 

manganju luhut <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
GLOBALISASI , WESTERNISASI = PENJAJAHAN GAYA BARU
  
  
-Sebuah Refleksi Bersama-
  
 
  
Kita Pernah Menjadi Bangsa Yang Besar
  
    "Jangan pernah melupakan sejarah!" kata Bung Karno semoga kata-kata ini 
terpatri kuat. 
Jika Anda membuka lembaran sejarah Indonesia, maka kita akan menemukan 
kisah-kisah besar kejayaan bangsa Indonesia.  Siapakah yang akan menyangkal 
bahwa Majapahit pernah menjadi salah satu peradaban besar di timur, dengan 
kekuatan laut yang menggetarkan. 
Siapakah yang akan menyangkal bahwa Sriwijaya pernah menjadi sekolah bagi 
raja-raja di timur. Borobudur adalah buktinya, Syahyakirti adalah monumennya. 
Kekayaan alam negeri ini tak terkira besarnya. Kita punya gunung tembaga di 
Irian, kita punya minyak di Riau, kita punya emas di Cilotok dan masih sangat 
banyak lagi. Apa yang tidak ada di  Indonesia? 
Keindahannya merupakan zamrud khatulistiwa. Kita punya Bali dengan pantainya, 
kita punya Manado dengan keindahan alam bawah lautnya, danau Toba dengan 
panoramanya..!!   Ragam budayanya yang unik dengan keluhuran dan kearifan yang  
adiluhung melebur menjadi manusia Indonesia yang sangat menjunjung tigggi 
norma-norma ketimuran. Kita adalah bangsa yang besar.  


    
Tapi... Mengapa Kita Miskin...??!!
  
       Kisah ini dimulai ketika armada barat pertama kali menyentuh bumi 
pertiwi ini. Kesopanan timur membuat kita dengan terbuka menerima mereka. 
Dengan jargon pemberadaban, mereka mengecap manisnya tebu Jawa, pedasnya pala 
Maluku, pahitnya kopi Sidikkalang dan wahh... tentunya masih banyak lagi. 
Dengan jargon demokrasi dan hak asasi manusia mereka merasa berhak menjatuhkan 
Soekarno (silahkan tonton KBRI Kado Buat Rakyat Indonesia) dan mencampuri 
urusan politik kita. Dengan jargon kebebasan dan modernitas mereka membujuk 
kita anak-anak bangsa untuk melupakan akar budayanya.
  
Benarkah untuk alasan itu..??! Tidak kawan!! Kerakusan barat yang dilandasi 
oleh prasangka-prasangka  rasial-lah yang membuat mereka merasa berhak merampok 
negeri ini. Alasannya sangat sederhana karena kita kaya dan mereka miskin.
  
Globalisasi = Penjajahan Gaya Baru......!!
  
    Yah... itulah slogan terbaru mereka, hanya saja kita kurang menyikapi!
 Globalisasi menghasilkan kemakmuran kata ekonom-ekonom mereka.
 Simak beberapa teori mereka:
Jika setiap individu dijamin kebebasannya (individual liberty) untuk berbuat 
maksimal untuk dirinya sendiri (self-interest) maka sistem akan  optimal. 
Setiap individu akan menggali keunggulan komparatifnya masing-masing dan 
bertemu dipasar. Akan ada "tangan tak tampak"  yang akan menjamin keadilan 
sistem. 
Untuk itu, semua hambatan yang dapat mengganggu pergerakan individu atau 
serikat individu (korporasi) dalam mencari sumber daya baru, pasar dan tenaga 
kerja yang paling efisien harus dihilangkan. Persaingan bebas adalah solusi 
terbaik yang akan membuat perekonomian efesien dan tumbuh dengan cepat.

  
Globalisasi di semua faktor adalah jawabannya.
  
Jangan percaya kawan!! Petani keramba dipinggiran danau Toba tidak akan menang 
menghadapi PT Aquafarm Nusantara (memakai nama Nusantara "penipuan terselubung" 
padahal perusahaan asal Swiss, 75 ton-80 ton Ikan Nila kualitas ekspor per hari 
pengiriman ke Eropa dan AS) yahhh gunakan lahan Indonesia kemudian hasilnya 
dibawa keluar (tentunya ingat kembali kejadian matinya ikan-ikan petani keramba 
di danau Toba terindikasi akibat virus aneh??).
Sebentar lagi rumah makan Padang akan tergantikan oleh Mc-D. Pabrik  sepatu di 
Cibaduyut hanyalah berisi buruh pabrik Nike. Anak kita tidak dapat lagi 
bersekolah karena subsidi pendidikan harus dicabut, sementara para sarjana 
sibuk menjadi sekrup-sekrup perusahaan luar. Kompor minyak kita harus dibuang 
karena subsidi BBM dicabut, air minum semakin mahal karena PDAM sudah dijual ke 
perusahan asing (pelanggaran pasal 33 UUD 45,), emas , tembaga, minyak bumi dan 
sebahagian besar kekayaan alam kita habis terkuras oleh perusahaan asing dan 
menyisakan kesengsaraan bagi warga disekitarnya (hanya bisa terdiam melihat 
tanah airnya "dirampok").
  
  
 
    Lalu dimanakah para pemuda negeri ini?? Rupanya mereka sedang tertidur 
setelah menonton MTV sambil bermimpi menjadi boysband atau  Idol. Vicky 
Sianipar dengan aransement gondang bataknya (no offense). 
Bentuk hegemoni. (contoh lain silahkan baca tulisan B.Malem "Globalisasi Dan 
Pergeseran Budaya Indonesia" ada di web ->siantarman menulis -> budaya) 
    Dimanakah petinggi negeri ini? Rupanya mereka juga sedang 'tertidur' 
dibawah ketiak para kapitalis asing tanpa bisa berbuat apa-apa karena Negara 
tidak boleh lagi mencampuri urusan pasar secara leluasa.. 
Dunia parawisata hanya akan dinikmati orang-orang 'berduit'.. Lingkungan 
semakin rusak. Globalisasi tidak akan membawa kemakmuran.! Kompetisi bebas 
hanya akan melahirkan kesenjangan karena pemenangnya pasti yang punya modal 
besar. 
Persaingan bebas (versi mereka) menjadi semakin mustahil terjadi, karena pasti 
ada berbagai kepentingan yang akan mendistori pasar. Berbagai cara dilakukan 
untuk memaksa negara berkembang agar membuka pintu  pasarnya. Pemberian hutang 
, janji investasi (ingat kembali George Soros), isu demokrasi, hingga 
penggunaan kekuatan militer dan politik adalah beberapa senjata yang sering 
digunakan.
  
  
    Kawan, Adam Smith terlalu pemalu untuk mengatakan terus terang bahwa 
invisible hand-nya adalah tangan para kapitalis, dan satu-satunya keunggulan 
komparasi adalah keunggulan modal. 
Hanya satu jalan keluarnya : TOLAK GLOBALISASI!!!!!   Diskusi hangat sangat 
dinantikan.
  


    Salam hangat,  kompak selalu.
Berpikir positif.
        

---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers
     
                       

       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

Kirim email ke