Horas/Mejuah-juah,Bang Sutan!

Aku coba kasi ulasan sedikit ya,Bang. :-) Aku angap ini sebagai
brainstorming aja.

 

Byk aspek yg bisa dijadikan sebagai tolak ukur penilaian terhadap
kinerja pemerintah, bisa dilihat dari aspek hukum,politik
(kemanan),ekonomi,dsb. 

Kita coba kecilkan scope nya di bidang ekonomi krna pembahasan kita ada
di bagian ini.

(Berbicara tentang kinerja pemerintah dan 'pertumbuhan' sepertinya bakal
ngomong panjang lebar dan ga ada abis2nya nih. He he Aku coba
sambung2-kan pendapat dari beberapa pakar yah.) :-)

Saya kurang sependapat jika dikatakan kinerja pemerintah dilihat dari
aspek 'pertumbuhan penjualan' dan saya lebih setuju jika parameter nya
adalah 'pertumbuhan ekonomi'  yg mencakup wilayah perencanaan dan
pelaksanaan. Karena implikasi pelaksanaan bergantung pada rumusan
perencanaan, dalam hal ini APBN. APBN (dan juga APBD) sebagai pilar
utama kinerja pemerintahan di Indonesia dapat dijadikan alat bagi
mendorong kemajuan ekonomi bangsa utk meningkatkan kesejahteraan
(welfare) rakyat. 

Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu
perekonomian yg diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional
<http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional> . Suatu negara
dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=GNP&action=edit&redlink=1>
riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi
keberhasilan pembangunan ekonomi (economic growth). Pembangunan ekonomi
adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita
dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk
<http://id.wikipedia.org/wiki/Penduduk>  dan disertai dengan perubahan
fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara.Pembangunan ekonomi tak
dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi mendorong
pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar
proses pembangunan ekonomi.

Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya
lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar
pendapatan dan tingkat output produksi yg dihasilkan, sedangkan
pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan
produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur
produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti
dalam lembaga <http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga> , pengetahuan
<http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan> , dan tekn
<http://id.wikipedia.org/wiki/Teknik> ologi.

Ada beberapa faktor yg mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi,
namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi
dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor nonekonomi. Faktor ekonomi yg
mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diantaranya adalah
sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan keahlian
atau kewirausahaan.

Sumber daya alam <http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam> , yg
meliputi tanah dan kekayaan alam seperti kesuburan tanah, keadaan
iklim/cuaca <http://id.wikipedia.org/wiki/Iklim> , hasil hutan
<http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan> , tambang
<http://id.wikipedia.org/wiki/Tambang> , dan hasil laut
<http://id.wikipedia.org/wiki/Laut> , sangat mempengaruhi pertumbuhan
industri <http://id.wikipedia.org/wiki/Industri>  suatu negara, terutama
dalam hal penyediaan bahan baku produksi. Sementara itu, keahlian dan
kewirausahaan <http://id.wikipedia.org/wiki/Wirausaha>  dibutuhkan utk
mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu yg memiliki nilai lebih
tinggi (disebut juga sebagai proses produksi).

Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional
melalui jumlah dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yg besar merupakan
pasar <http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_%28ekonomi%29>  potensial utk
memasarkan hasil2 produksi, sementara kualitas penduduk menentukan
seberapa besar produktivitas yg ada. Sementara itu, sumber daya modal
<http://id.wikipedia.org/wiki/Modal>  dibutuhkan manusia
<http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia>  utk mengolah bahan mentah
tersebut. Pembentukan modal dan investasi ditujukan utk menggali dan
mengolah kekayaan. Sumber daya modal berupa barang2 modal sangat penting
bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena
barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas. Jangankan
menguasai pasar ekspor, utk bersaing di pasar domestik pun industri kita
kedodoran menghadapi banjir komoditas sejenis dari Cina, Vietnam, dan
negara lain. Alih2 menjadi industriwan, pengusaha Indonesia pun byk yg
banting setir menjadi importir yg hanya menjadi pedagang atau lebih
tepat dikatakan sebagai calo saja!

Di lain pihak, persoalan ini turut disebabkan oleh pemerintah yg entah
disadari atau tidak justru memberi insentif kebijakan yg mendorong
pengusaha lebih memilih menjadi pedagang dan meninggalkan sektor
industri dengan memperkaya kualitas produk (red : adding value).
Akibatnya, beberapa industri manufaktur seperti mobil di Indonesia
mengalihkan kebijakan dari perakitan menjadi importir. Contoh nya,
peralihan perakitan sedan Toyota Soluna oleh pihak Astra menjadi
importir sedan Toyota Vios dari Thailand.

Jadi kebijakan selalu tidak mungkin menyenangkan smua pihak. Situasi
sekonomi yg stabilitas dan dinamis tentunya sangat diharapkan para
pelaku ekonomi. Pelaku ekonomi lebih menghargai suatu kondisi makro
ekonomi yg stabil dinamis daripada menerima margin besar dalam jangka
pendek. Dengan makroekonomi stabil dinamis maka aktivitas ekonomi bisa
berjalan sehat utk jangka panjang dan pelaku bisnis dapat menjalankan
kegiatannya secara tenang tanpa keraguan.
 
Aku setuju dengan pendapat bahwa issuance PP butuh proses yg notabene
tidak sesingkat seperti yg dibayangkan, krna permasalahan pencetusan PP
memiliki prosedur dan tata-cara yang harus ditaati. Tapi paling tidak
pemerintah lewat KADIN nya dan DPR selaku pengkritisi bisa sedikit
mengerutkan dahi utk memikirkan cara mensejahterakan dan memakmurkan
rakyatnya (Welfare State).
 
Rakyat butuh alat transportasi pribadi...jelas, tapi rakyat selaku
penggerak roda perekonomian juga butuh 'kenyamanan'.
 

best regards,

-Candra RG-

= SPEED & COMMUNICATION & IMPROVEMENT & INNOVATION & WELFARE STATE =

 

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Sutan Sinar Situmorang
Sent: Friday, May 30, 2008 6:27 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [KBMSB] Re: Ironis juga yah.. :-)

 

sekarang kinerja pemerintah di lihat darimana,
setahu aku kinerja pemerintah selalu dilihat dari byknya pertumbuhan
penjualan bukan dilihat dari pemerataaan,
kalau mengeluarkan PP ngga sesingkat yg kita baygkan karena byknya
kepentingan lho, kalau misalkan jadi berarti angka pertumbuhan akan
mengalami masalah, wauuuu bisa diganti tuh Dirjen... tahu aja Dirjen kan
susah merintisnya..
jadi udah tahu kan sedikit masalhnya kan

--- On Fri, 5/30/08, Candra Ridou GInting <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

From: Candra Ridou GInting <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [KBMSB] Re: Ironis juga yah.. :-)
To: [email protected]
Date: Friday, May 30, 2008, 11:08 AM

Benar juga sih ya, udh hukum alam anjing ga pernah akur dengan kucing.
He he...

 

Tapi aku optimis, selama negara Indonesia msh berstatuskan negara hukum
(rechstaat) smua roda perekonomian yg menygkut hajat hidup orang byk
bisa diatur sedemikian rupa. Smua organisasi usaha berlandaskan prinsip
ekonomi, tapi mereka tetap kudu ikut aturan main, take it or leave it. 

Pemerintah bisa keluarkan PP atas persetujuan DPR utk lakukan C&M system
itu.  

 

best regards,

-Candra RG-

= SPEED & COMMUNICATION & IMPROVEMENT & INNOVATION & WELFARE STATE =

 

 

________________________________

From:

 

 

Kirim email ke