http://www.poskota.co.id/poskota/truestory_contents.asp?id=152

True Story


Patung dewa yang pantang jatuh (2)

Selasa,1/28/2003 8:27:09 AM
- SAAT upacara Cap Go Me yang menandai puncak peringatan acara Tahun Baru
Imlek sekaligus memperingati Hari Magha Puja. Cap Go Me memiliki arti
tersendiri yang sangat religius dan sakral. Pada acara itu, Dewa Rupang
(Patung dewa-dewa) digotong,
diusung dan diarak keliling.Ada cerita magis di sini. Saat digotong, gerakan
tandu yang membawa para dewa ini bergerak seakan ada kekuatan yang
menggerakkan. Dewa ini diyakini pancaran magisnya bisa memayungi masyarakat
dari segala bencana dan mengusir roh-roh jahat. Ketika tiba waktunya, rupang
Kong Co yang dipindahkan dari singgasananya ke dalam Joli, dilakukan oleh
orang-orang yang diseleksi, orang-orang yang sebelumnya melakukan puasa
mutih.

Patung-patung itu saat diusung tidak goyah ataupun jatuh meski tandu
bergoyang-goyang maju-mundur. Kain pengikat dewa ini lalu diperebutkan oleh
masyarakat yang diyakini bisa sebagai jimat yang dapat memberikan
keselamatan dan kedamaian bagi yang memilikinya.

LILIN SEHARGA RP 8,4 JUTA
Di Klenteng Hok Lay Kiong Bekasi, belasan lilin raksasa mewarnai perayaan
imlek 2554 mendatang. Lilin berharga jutaan tersebut sebagai persembahan
umat Budha yang bakal tak putus menyala selama berbulan-bulan. Umat Budha
percaya bahwa lilin persembahan itu akan bisa menjadikan pancaran kehidupan
lebih terang. Karenanya, nyala lilin selama mungkin akan bisa mejadikan
wujud simbol penyinaran kehidupan.

Lilin tersebut disiapkan di klenteng yang berada di kawasan pecinan
Margahayu, Kota Bekasi. Besar lilin tergantung kemampuan keluarga. Lilin ini
akan dinyalakan tepat pada pergantian tahun Cina. �Lilin itu wujud
persembahan umat sebagai simbol penerangan kehidupan,� kata Drs Rudy
Hermawan MM MBA, sesepuh klenteng. Pengurus Klenteng lain bahkan menyebut
ada umat yang menyerahkan sepasang lilin dari Taiwan seharga Rp 8,4 juta.
Lilin raksasa ini diperkirakan akan bisa menyala sampai 4 bulan.

AKSI SOSIAL
Umat dan pengurus saat Pos Kota berkunjung di klenteng tertua (berusia
sekitar 350 tahun) menyambut Imlek tampak tengah membersihkan klenteng.
Tampak diantaranya pengurus Lo Cu Aing Suryadi, Ir Winarto, Lim Fok Him,
William dan Ny Angraini. Sementara itu, Feri Sito, bagian sosial,
menyebutkan selain upacara ritual juga dilakukan aksi sosial dari umat
Budha. Di antaranya, pembagian sembako dan donor darah. Atraksi lain seperti
injak bara, mandi minyak panas maupun seni barongsay juga ditampilkan saat
Perayaan Cap Go Me. �Tapi, tahun ini kita senderhana,� katanya.

Lilin-lilin berbagai merek itu kini telah siap dinyalakan di klenteng
tersebut. Saat pergantian tahun baru Cina nanti, lilin itu, bersama dengan
lampion dan lilin lainya, bakal dinyalakan. Bagi umat Budha, perayaan Cap Go
Me yang digelar 15 hari setelah tahun baru dirayakan lebih meriah. Atraksi
Barongsai, maupun kesenian gambang kromong biasanya turut ditampilkan di
sini. Masyarakat pun ikut menikmati dengan atraksi tersebut karena biasanya
diarak keliling kota. (chotim/75)





---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke