Ya tiap orang kan ada dalam posisinya masing2 dan itu juga sebuah pilihan, gak 
mungkin to dari hulu ke hilir smuanya mesti ditangkap (dikerjain smuanya), 
adakalanya kita mesti memilih berada pada posisi tertentu untuk menghasilkan 
sesuatu yang terbaik (ini prinsip yang kadang sering dilupakan orang kita ). 

Ya mungkin temenku itu lebih memilih hanya berada di balik meja aja, alias 
peneliti dan selebihnya mungkin dia akan lebih suka diserahkan pihak lain. 
Mungkin juga alasannya kurang bisa berbisnis atau mungkin juga dia ingin lebih 
fokus jadi peneliti. Ada kepuasan lain yang ingin diraih, contohnya Pak Mudasir 
biarpun penelitiannya udah banyak sampe jadi Profesor beliau tetep aja tuh 
milih jadi peneliti n dosen kagak malah milih jadi pengusaha, padahal saya 
yakin klo hasil-hasil penelitian beliau bisa dibisniskan dsbnya.

Oh dl di ST3, smoga aja deh pada ketularan anak2 ITB yang mental n bakatnya 
jadi entrepeneur kayak Pak Siswono itu. Klo emang bisa sistem kontrol n 
monitoring mungkin malah akan lebih bagus bikin peralatan kontrol untuk 
produksi bioethanol, biar serba otomatis, mungkin pake PLC, DCS, atau bahkan 
SCADA   jadi hasilnya bisa maksimal.

*mantan instrument and control system engineer

 Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/






----- Original Message ----
From: TIGOR OSEANIKA <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, 5 September, 2008 1:51:14
Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong


Aq mhs ST3 bdg, dah kerja. aq g ngerti masalah bioethanol babar blas, cuman klo 
d liat2 kynya g terlalu susah, basicny ky bikin tape yah. Aq ngerti masalah 
sistem kontrol ma monitoring doank, kli aj bisa d kombi, soalnya mubajir klo 
riset yg dulu g kepake
Kli aj bisa ngasilin $, asal permintaan pasar bagus kayany oke tuh
qoute:
"klo tahap risetnya seh aku kira dah clear" kok g d jual sih?
Klo d liat pengusaha brazil d youtube, tu modalnya cuman tebu, y namany usaha 
harus d itung jg untung ruginya siy, cari2 info. Masa slamanya jd pegawai


Thanks,

Tigor

--- On Thu, 9/4/08, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> wrote:

From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Thursday, September 4, 2008, 11:40 AM


Klo bikin ethanol dari 95 atau berapapun ke 99,99% seh banyak caranya. Mungkin 
bisnisnya aja yang belum terlaksana, klo tahap risetnya seh aku kira dah clear, 
btw mas Tigor ini mahasiswa mana ya?atau udah kerja?

 Best Regard, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/






----- Original Message ----
From: TIGOR OSEANIKA <mechabytes2@ yahoo.com>
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, 4 September, 2008 23:37:20
Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong


Kayany masalahnya d 99%, ok deh mas mungkin thn depan baru ngrintis(blajar 
dulu). minta imelnya anak UGMny dunk. gw yakin masalahnya g smudah itu. pasti 
ada faktor x teknisnya, namany jg usaha

--- On Thu, 9/4/08, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> wrote:

From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Thursday, September 4, 2008, 11:25 AM


Klo saya pikir saat ini ethanolnya aja yang masih menjanjikan soalnya 
dibutuhkan banyak industri mulai dari kosmetik sampe makanan n kesehatan (rumah 
sakit, puskesmas) nah klo untuk bensin ya cuman oke untuk dipakai sendiri, 
soalnya harga jualnya masih lebih mahal dibanding bensin, atau kecuali mo jual 
seharga bensin atau dibawah harga bensin.

Ada satu mahasiswa teknologi pertanian UGM asal kendal yang tahun lalu 
memenangkan kejuuaraan inovasi teknologi di Jogja dengan membuat bioethanol 
ini, tapi sampe sekarang juga belum sempat produksi masih sibuk cari tempat 
kuliah baru kayaknya (s2 maksudnya), monggo klo emang ada yang tertarik bisnis 
bisa hub dia, kontaknya japri ke saya

 Best Regard, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/






----- Original Message ----
From: TIGOR OSEANIKA <mechabytes2@ yahoo.com>
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, 4 September, 2008 23:17:06
Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong


Wew...thx infonya. kebetulan aq mo experiment bisnis ini(lg ngumpulin modal:])
bahan bukan cuma singkong jagung, gula, rumput dll. yg penting ada karbohidratny
cek this:
http://www.youtube. com/watch? v=59R-NqykoXs
http://www.youtube. com/watch? v=lTu5apw7AjQ

Klo dr vidnya 80%ethanol sisany BBM, kayany menjanjikan
Aq g tau teknisnya tp kayany cocok buat bisnis kendal:] nice

--- On Thu, 9/4/08, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> wrote:

From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
Subject: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Thursday, September 4, 2008, 11:04 AM


Mas Agus ini saya dapat artikel di Majalah Trubus, kalau versi aslinya ada 
gambarnya, mungkin mas Agus bisa pinjam siapa saja yang berlangganan Trubus, 
kalau memang mas Agus gak punya kenalan yang berlangganan Trubus bisa hubungi 
rumah saya, kebetulan mas saya pelanggan setia Trubus, soalnya pas pulang 
kemaren saya pernah baca artikel ini. Rumah saya Plantaran mas, gangnya deket 
balai desa, nama kampungnya Tangkisan... .klo tertarik mau pinjam n copy 
artikel aslinya dari majalah trubus silahkan hub sya via Japri nanti saya kasih 
no kontak mas saya.


Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H 
Soerawidjaja, dari Tcknik
Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber
pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah 
menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu 
bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan 
gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. 
Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol.
Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut
Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang dilerapkan
Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per
hari.

        1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. 
Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.
        2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%.
Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih
awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku.
        3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 
120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek 
hingga 100"C selama 0,5 jam. Aduk rebusan  gaplek sampai menjadi bubur dan 
mengental.
        4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi.
Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah
dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. 
Untuk  menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan 
cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 
100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek 
yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan 
berkembang biak dan bekerja mengurai pati.
        5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan
endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu
masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi
pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula
maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan
bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi,
tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya,
tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.
        6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan 
Saccharomyces  bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung 
anaerob
alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu
pada 28—32"C dan pH 4,5—5,5.
        7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan
terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil
fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol.
        8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring 
berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.
        9.  Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk 
memisahkannya,
lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol
pada suhu 78"C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol
lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol
dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan
kembali menjadi etanol cair.
        10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam
bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol
kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu
dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya
kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau
pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol
99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%,
membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek. 
Tanggal Tayang : 12-1-2007
Sumber : Trubus 

Best Regard, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/




 

 

 
    


      

Kirim email ke