saya setuju dgn mas ery wijaya
memang tdk semua yg ahli meneliti mau jd bisnisman atau pengusaha utk 
menerapkan ilmu nya.
dan tidak semua yg berbakat jadi bisnisman atau pengusaha mendapatkan 
mempunyai ilmu / teknologinya...
lha kalau keduanya mau berkerja sama dan saling mengisi hasilnya akan 
sangat bagus ...dan nilai keberhasilannya juga tinngi
klo begitu ayo kita sama sama saling mengisi klo perlu buat proyek 
bersama yg seneng neliti dpt mengarah kan teknologinya dan yg senang 
bisnis perkuat marketing nya dan bahan baku pendukungnya.
yang pintar mesin dan peralatan kontor coba rancang alat produksinya...
yg pinter acount dan admin bikin rancangan modal dan bagi hasilnya
wahh klo komplit bisa jdi prabrik baru nich ... :-)
terima kasih
agusmst

ery wijaya wrote:
> Ya tiap orang kan ada dalam posisinya masing2 dan itu juga sebuah 
> pilihan, gak mungkin to dari hulu ke hilir smuanya mesti ditangkap 
> (dikerjain smuanya), adakalanya kita mesti memilih berada pada posisi 
> tertentu untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik (ini prinsip yang 
> kadang sering dilupakan orang kita ).
>
> Ya mungkin temenku itu lebih memilih hanya berada di balik meja aja, 
> alias peneliti dan selebihnya mungkin dia akan lebih suka diserahkan 
> pihak lain. Mungkin juga alasannya kurang bisa berbisnis atau mungkin 
> juga dia ingin lebih fokus jadi peneliti. Ada kepuasan lain yang ingin 
> diraih, contohnya Pak Mudasir biarpun penelitiannya udah banyak sampe 
> jadi Profesor beliau tetep aja tuh milih jadi peneliti n dosen kagak 
> malah milih jadi pengusaha, padahal saya yakin klo hasil-hasil 
> penelitian beliau bisa dibisniskan dsbnya.
>
> Oh dl di ST3, smoga aja deh pada ketularan anak2 ITB yang mental n 
> bakatnya jadi entrepeneur kayak Pak Siswono itu. Klo emang bisa sistem 
> kontrol n monitoring mungkin malah akan lebih bagus bikin peralatan 
> kontrol untuk produksi bioethanol, biar serba otomatis, mungkin pake 
> PLC, DCS, atau bahkan SCADA jadi hasilnya bisa maksimal.
>
> *mantan instrument and control system engineer
> Salam,
>
>
> Ery Wijaya
> http://erywijaya.wordpress.com/ <http://erywijaya.wordpress.com/>
>
> <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id>
> <http://kamase.org>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: TIGOR OSEANIKA <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, 5 September, 2008 1:51:14
> Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
>
> Aq mhs ST3 bdg, dah kerja. aq g ngerti masalah bioethanol babar blas, 
> cuman klo d liat2 kynya g terlalu susah, basicny ky bikin tape yah. Aq 
> ngerti masalah sistem kontrol ma monitoring doank, kli aj bisa d 
> kombi, soalnya mubajir klo riset yg dulu g kepake
> Kli aj bisa ngasilin $, asal permintaan pasar bagus kayany oke tuh
> qoute:
> "klo tahap risetnya seh aku kira dah clear" kok g d jual sih?
> Klo d liat pengusaha brazil d youtube, tu modalnya cuman tebu, y 
> namany usaha harus d itung jg untung ruginya siy, cari2 info. Masa 
> slamanya jd pegawai
>
>
> Thanks,
>
> Tigor
>
> --- On *Thu, 9/4/08, ery wijaya /<muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>/* wrote:
>
>     From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
>     Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
>     To: kendal-online@ yahoogroups. com
>     Date: Thursday, September 4, 2008, 11:40 AM
>
>     Klo bikin ethanol dari 95 atau berapapun ke 99,99% seh banyak
>     caranya. Mungkin bisnisnya aja yang belum terlaksana, klo tahap
>     risetnya seh aku kira dah clear, btw mas Tigor ini mahasiswa mana
>     ya?atau udah kerja?
>     Best Regard,
>
>
>     Ery Wijaya
>     http://erywijaya. wordpress. com/ <http://erywijaya.wordpress.com/>
>
>     <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id>
>     <http://kamase.org>
>
>
>     ----- Original Message ----
>     From: TIGOR OSEANIKA <mechabytes2@ yahoo.com>
>     To: kendal-online@ yahoogroups. com
>     Sent: Thursday, 4 September, 2008 23:37:20
>     Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
>
>     Kayany masalahnya d 99%, ok deh mas mungkin thn depan baru
>     ngrintis(blajar dulu). minta imelnya anak UGMny dunk. gw yakin
>     masalahnya g smudah itu. pasti ada faktor x teknisnya, namany jg usaha
>
>     --- On *Thu, 9/4/08, ery wijaya /<muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>/*
>     wrote:
>
>         From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
>         Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
>         To: kendal-online@ yahoogroups. com
>         Date: Thursday, September 4, 2008, 11:25 AM
>
>         Klo saya pikir saat ini ethanolnya aja yang masih menjanjikan
>         soalnya dibutuhkan banyak industri mulai dari kosmetik sampe
>         makanan n kesehatan (rumah sakit, puskesmas) nah klo untuk
>         bensin ya cuman oke untuk dipakai sendiri, soalnya harga
>         jualnya masih lebih mahal dibanding bensin, atau kecuali mo
>         jual seharga bensin atau dibawah harga bensin.
>
>         Ada satu mahasiswa teknologi pertanian UGM asal kendal yang
>         tahun lalu memenangkan kejuuaraan inovasi teknologi di Jogja
>         dengan membuat bioethanol ini, tapi sampe sekarang juga belum
>         sempat produksi masih sibuk cari tempat kuliah baru kayaknya
>         (s2 maksudnya), monggo klo emang ada yang tertarik bisnis bisa
>         hub dia, kontaknya japri ke saya
>         Best Regard,
>
>
>         Ery Wijaya
>         http://erywijaya. wordpress. com/
>         <http://erywijaya.wordpress.com/>
>
>         <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id>
>         <http://kamase.org>
>
>
>         ----- Original Message ----
>         From: TIGOR OSEANIKA <mechabytes2@ yahoo.com>
>         To: kendal-online@ yahoogroups. com
>         Sent: Thursday, 4 September, 2008 23:17:06
>         Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
>
>         Wew...thx infonya. kebetulan aq mo experiment bisnis ini(lg
>         ngumpulin modal:])
>         bahan bukan cuma singkong jagung, gula, rumput dll. yg penting
>         ada karbohidratny
>         cek this:
>         http://www.youtube. com/watch? v=59R-NqykoXs
>         http://www.youtube. com/watch? v=lTu5apw7AjQ
>
>         Klo dr vidnya 80%ethanol sisany BBM, kayany menjanjikan
>         Aq g tau teknisnya tp kayany cocok buat bisnis kendal:] nice
>
>         --- On *Thu, 9/4/08, ery wijaya /<muh_ery_wijaya@ yahoo.co.
>         uk>/* wrote:
>
>             From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
>             Subject: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong
>             To: kendal-online@ yahoogroups. com
>             Date: Thursday, September 4, 2008, 11:04 AM
>
>             Mas Agus ini saya dapat artikel di Majalah Trubus, kalau
>             versi aslinya ada gambarnya, mungkin mas Agus bisa pinjam
>             siapa saja yang berlangganan Trubus, kalau memang mas Agus
>             gak punya kenalan yang berlangganan Trubus bisa hubungi
>             rumah saya, kebetulan mas saya pelanggan setia Trubus,
>             soalnya pas pulang kemaren saya pernah baca artikel ini.
>             Rumah saya Plantaran mas, gangnya deket balai desa, nama
>             kampungnya Tangkisan... .klo tertarik mau pinjam n copy
>             artikel aslinya dari majalah trubus silahkan hub sya via
>             Japri nanti saya kasih no kontak mas saya.
>
>
>             Singkong diolah menjadi *bioetanol, * pengganti premium.
>             Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Tcknik Kimia
>             Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu
>             sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum *
>             difermentasi, * pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat
>             yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan
>             cendawan / Aspergillus / sp. Cendawan itu menghasilkan
>             enzim alfamilase dan gliikoamilase yang * berperan *
>             mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana.
>             Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol.
>
>             Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol?
>             Berikut Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan
>             singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan
>             berikut ini berkapasitas 10 liter per hari.
>
>                1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal
>                   dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.
>                2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar
>                   air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan
>                   menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga
>                   produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku.
>                3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki /stainless si
>                   eel /berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air
>                   hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek
>                   hingga 100"C selama 0,5 jam. * Aduk rebusan * gaplek
>                   sampai menjadi bubur dan mengental.
>                4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam
>                   langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses
>                   penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin,
>                   masukkan cendawan /Aspergillus /yang akan *memecah
>                   *pati menjadi glukosa. * Untuk * menguraikan 100
>                   liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan
>                   cendawan /Aspergillus /atau 10% dari total bubur.
>                   Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml.
>                   Sebclum digunakan, /Aspergilhis /dikuhurkan pada
>                   bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif
>                   dengan *sifat *kimia bubur gaplek. Cendawan
>                   berkembang biak dan bekerja mengurai pati.
>                5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2
>                   lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati
>                   yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam
>                   tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi
>                   pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%.
>                   Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri
>                   /Saccharomyces /unluk hidup dan bekerja mengurai
>                   gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi,
>                   tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan.
>                   Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar
>                   mencapai kadar gula maksimum.
>                6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah
>                   kontaminasi dan /Saccharomyces / bekerja mengurai
>                   glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung
>                   anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar
>                   fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32"C dan pH
>                   4,5—5,5.
>                7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3
>                   lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di
>                   atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu
>                   disebut bir yang mengandung 6—12% etanol.
>                8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui
>                   kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring
>                   endapan protein.
>                9.  Meski telah disaring, etanol masih bercampurair.
>                   Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau
>                   penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada
>                   suhu 78"C atau setara titik didih etanol. Pada suhu
>                   itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang
>                   bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui
>                   pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan
>                   kembali menjadi etanol cair.
>               10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat
>                   larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol
>                   berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab
>                   itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu
>                   dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air
>                   menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam
>                   pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati.
>                   Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga
>                   diperoleh etanol 99% yang siap dieampur
>                   denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan
>                   120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek.
>
>             Tanggal Tayang : 12-1-2007
>             Sumber : Trubus
>
>
>             Best Regard,
>
>
>             Ery Wijaya
>             http://erywijaya. wordpress. com/
>             <http://erywijaya.wordpress.com/>
>
>             <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id>
>             <http://kamase.org>
>
>
>
>
>
>
>
>
>  

Kirim email ke