salam hormat buat pak mudasir. saya salut mengenai wawasan pak mudasir ttg bahan bakar nya sampai nyangkut nyangkut ke pemerintahan kita its ok menurut pemikiran saya cuma sederhana klo kita tdk siap dan hanya nunggu saja kebijakan pemerintah trus klo minyak tanah dan LPG nya tidak ada di pasar kita yg repot sendiri kasihan masyarakat klo sampai tdk ada ...alternatif lain klo kita sudah siap bio etanol yg penting bisa utk masak dan penerangan kita ndak akan kelabakan harus antri dan nunggu jatah minyak tanah dan pasokan LPG kalo minyak tanah nya dan LPG nya lancar , bio etanolnya bisa kita jual ke tmp lain ms rumah sakit / apotik atau pabrik farmasi nilai bisnisnya juga ok koq. dr pada di jual dlm bentuk singkong ndak ada harganya...klo di buat bio etanol juga dpt meningkat kan pendapatan petani nialai jual nya bisa lebih tinngi nuwun sewu pak sekedar ulasan saja jangan di masukin ke hati lho... salam agusmst M. Mudasir wrote: > > Wah nama saya disebut-sebut, kepaksa nongol nih. Memang benar, > bioethanol dari sisi teknologi sudah mapan bisa cara kimia atau > biologi (fermentasi). Yang belum siap adalah pemerintahnya dan > penggunanya. Pemerintahnya kayaknya juga tidak serius untuk beralih ke > energi alternatif, dari pada ngurusin energi alaternatif, pemerintah > (presiden, wapres, menteri dan segenap jajarannya) kayaknya lebih > asyik ngurusi bagaimana periode yang akan datang bisa menjabat lagi, > maklum selama minyak masih ada orang pasti males beralih. Pengguna > juga belum siap? mengapa? karena memang semua mesin (baik mobil maupun > motor) masih didesain untuk bahan bakar minyak bumi saja, belum dibuat > hybrid, misalnya biodiesel, biofuel, biogas dan juga minyak bumi. mau > apa mobil atau motor kita lebih cepat jebool, paling-paling baru > dicampur itupun kadar minyak buminya lebih besar, kecuali kalau > mesinnya memang sudah didesain khusus untuk ethanol. > > By the way, memang sudah siap jualan "arak" (alkohol/ethanol) dengan > kadar 99%, he....he....... jangan-jangan tidak dipakai bahan bakar > tapi malah untuk mabuk-mabukkan. Oh ya pada trubus edisi kemerdekaan > RI ke 63, dimuat banyak sekali agrobisnis sekala rumahan, lengkap > dengan gambar-gambarnya, bagus juga tuh untuk referensi bagi yang > berminat. > > Saya pilih jadi dosen n peneliti karena adem ayem ( lanjutannya: > mangan turu nderek morosepuh....), ritme dan volume pekerjaan dapat > diatur sendiri. Resepnya adalah "Jika engkau bahagia dengan pekerjaan > yang sekarang ditekuni maka itulah kesuksesan" dari pada duwite akeh > ning bendino kemrungsung (he..he... jangan dimasukkan ati ini cuma > alasan orang yang nggak bisa dagang). > > Selamat berpuasa, semoga puasa kita berbekas pada 11 bulan kemudian amien. > > Salam dari Yokohama, > > > Mudasir > Visiting Professor (up to Sept. 12, 2008) > Department of Applied Chemistry, > Keio University, > 3-14-1 Hiyoshi, Kohoku-ku > Yokohama, Japan > HP:(+62)-811-251267 > Fax:(+62)-274-545188 > > > ----- Original Message ---- > From: ery wijaya <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Friday, September 5, 2008 5:04:00 AM > Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong > > Ya tiap orang kan ada dalam posisinya masing2 dan itu juga sebuah > pilihan, gak mungkin to dari hulu ke hilir smuanya mesti ditangkap > (dikerjain smuanya), adakalanya kita mesti memilih berada pada posisi > tertentu untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik (ini prinsip yang > kadang sering dilupakan orang kita ). > > Ya mungkin temenku itu lebih memilih hanya berada di balik meja aja, > alias peneliti dan selebihnya mungkin dia akan lebih suka diserahkan > pihak lain. Mungkin juga alasannya kurang bisa berbisnis atau mungkin > juga dia ingin lebih fokus jadi peneliti. Ada kepuasan lain yang ingin > diraih, contohnya Pak Mudasir biarpun penelitiannya udah banyak sampe > jadi Profesor beliau tetep aja tuh milih jadi peneliti n dosen kagak > malah milih jadi pengusaha, padahal saya yakin klo hasil-hasil > penelitian beliau bisa dibisniskan dsbnya. > > Oh dl di ST3, smoga aja deh pada ketularan anak2 ITB yang mental n > bakatnya jadi entrepeneur kayak Pak Siswono itu. Klo emang bisa sistem > kontrol n monitoring mungkin malah akan lebih bagus bikin peralatan > kontrol untuk produksi bioethanol, biar serba otomatis, mungkin pake > PLC, DCS, atau bahkan SCADA jadi hasilnya bisa maksimal. > > *mantan instrument and control system engineer > Salam, > > > Ery Wijaya > http://erywijaya. wordpress. com/ <http://erywijaya.wordpress.com/> > > <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id/> > <http://kamase.org/> > > > ----- Original Message ---- > From: TIGOR OSEANIKA <mechabytes2@ yahoo.com <http://yahoo.com/>> > To: kendal-online@ yahoogroups. com > Sent: Friday, 5 September, 2008 1:51:14 > Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong > > Aq mhs ST3 bdg, dah kerja. aq g ngerti masalah bioethanol babar blas, > cuman klo d liat2 kynya g terlalu susah, basicny ky bikin tape yah. Aq > ngerti masalah sistem kontrol ma monitoring doank, kli aj bisa d > kombi, soalnya mubajir klo riset yg dulu g kepake > Kli aj bisa ngasilin $, asal permintaan pasar bagus kayany oke tuh > qoute: > "klo tahap risetnya seh aku kira dah clear" kok g d jual sih? > Klo d liat pengusaha brazil d youtube, tu modalnya cuman tebu, y > namany usaha harus d itung jg untung ruginya siy, cari2 info. Masa > slamanya jd pegawai > > > Thanks, > > Tigor > > --- On *Thu, 9/4/08, ery wijaya /<muh_ery_wijaya@ yahoo.co > <http://yahoo.co/>. uk>/* wrote: > > From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> > Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong > To: kendal-online@ yahoogroups. com > Date: Thursday, September 4, 2008, 11:40 AM > > Klo bikin ethanol dari 95 atau berapapun ke 99,99% seh banyak > caranya. Mungkin bisnisnya aja yang belum terlaksana, klo tahap > risetnya seh aku kira dah clear, btw mas Tigor ini mahasiswa mana > ya?atau udah kerja? > Best Regard, > > > Ery Wijaya > http://erywijaya. wordpress. com/ <http://erywijaya.wordpress.com/> > > <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id/> > <http://kamase.org/> > > > ----- Original Message ---- > From: TIGOR OSEANIKA <mechabytes2@ yahoo.com> > To: kendal-online@ yahoogroups. com > Sent: Thursday, 4 September, 2008 23:37:20 > Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong > > Kayany masalahnya d 99%, ok deh mas mungkin thn depan baru > ngrintis(blajar dulu). minta imelnya anak UGMny dunk. gw yakin > masalahnya g smudah itu. pasti ada faktor x teknisnya, namany jg usaha > > --- On *Thu, 9/4/08, ery wijaya /<muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>/* > wrote: > > From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> > Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong > To: kendal-online@ yahoogroups. com > Date: Thursday, September 4, 2008, 11:25 AM > > Klo saya pikir saat ini ethanolnya aja yang masih menjanjikan > soalnya dibutuhkan banyak industri mulai dari kosmetik sampe > makanan n kesehatan (rumah sakit, puskesmas) nah klo untuk > bensin ya cuman oke untuk dipakai sendiri, soalnya harga > jualnya masih lebih mahal dibanding bensin, atau kecuali mo > jual seharga bensin atau dibawah harga bensin. > > Ada satu mahasiswa teknologi pertanian UGM asal kendal yang > tahun lalu memenangkan kejuuaraan inovasi teknologi di Jogja > dengan membuat bioethanol ini, tapi sampe sekarang juga belum > sempat produksi masih sibuk cari tempat kuliah baru kayaknya > (s2 maksudnya), monggo klo emang ada yang tertarik bisnis bisa > hub dia, kontaknya japri ke saya > Best Regard, > > > Ery Wijaya > http://erywijaya. wordpress. com/ > <http://erywijaya.wordpress.com/> > > <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id/> > <http://kamase.org/> > > > ----- Original Message ---- > From: TIGOR OSEANIKA <mechabytes2@ yahoo.com> > To: kendal-online@ yahoogroups. com > Sent: Thursday, 4 September, 2008 23:17:06 > Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong > > Wew...thx infonya. kebetulan aq mo experiment bisnis ini(lg > ngumpulin modal:]) > bahan bukan cuma singkong jagung, gula, rumput dll. yg penting > ada karbohidratny > cek this: > http://www.youtube. com/watch? v=59R-NqykoXs > http://www.youtube. com/watch? v=lTu5apw7AjQ > > Klo dr vidnya 80%ethanol sisany BBM, kayany menjanjikan > Aq g tau teknisnya tp kayany cocok buat bisnis kendal:] nice > > --- On *Thu, 9/4/08, ery wijaya /<muh_ery_wijaya@ yahoo.co. > uk>/* wrote: > > From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> > Subject: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong > To: kendal-online@ yahoogroups. com > Date: Thursday, September 4, 2008, 11:04 AM > > Mas Agus ini saya dapat artikel di Majalah Trubus, kalau > versi aslinya ada gambarnya, mungkin mas Agus bisa pinjam > siapa saja yang berlangganan Trubus, kalau memang mas Agus > gak punya kenalan yang berlangganan Trubus bisa hubungi > rumah saya, kebetulan mas saya pelanggan setia Trubus, > soalnya pas pulang kemaren saya pernah baca artikel ini. > Rumah saya Plantaran mas, gangnya deket balai desa, nama > kampungnya Tangkisan... .klo tertarik mau pinjam n copy > artikel aslinya dari majalah trubus silahkan hub sya via > Japri nanti saya kasih no kontak mas saya. > > > Singkong diolah menjadi *bioetanol, *pengganti premium. > Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Tcknik Kimia > Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu > sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum > *difermentasi, *pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat > yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan > cendawan /Aspergillus /sp. Cendawan itu menghasilkan enzim > alfamilase dan gliikoamilase yang *berperan *mengurai pati > menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi > gula, bam difermentasi menjadi etanol. > > Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? > Berikut Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan > singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan > berikut ini berkapasitas 10 liter per hari. > > 1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal > dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil. > 2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar > air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan > menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga > produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku. > 3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki /stainless si > eel /berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air > hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek > hingga 100"C selama 0,5 jam. *Aduk rebusan *gaplek > sampai menjadi bubur dan mengental. > 4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam > langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses > penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, > masukkan cendawan /Aspergillus /yang akan *memecah > *pati menjadi glukosa. *Untuk *menguraikan 100 liter > bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan > /Aspergillus /atau 10% dari total bubur. Konsentrasi > cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum > digunakan, /Aspergilhis /dikuhurkan pada bubur > gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan > *sifat *kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak > dan bekerja mengurai pati. > 5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 > lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati > yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam > tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi > pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. > Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri > /Saccharomyces /unluk hidup dan bekerja mengurai > gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, > tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. > Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar > mencapai kadar gula maksimum. > 6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah > kontaminasi dan /Saccharomyces /bekerja mengurai > glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung > anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar > fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32"C dan pH > 4,5—5,5. > 7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 > lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di > atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu > disebut bir yang mengandung 6—12% etanol. > 8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui > kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring > endapan protein. > 9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. > Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau > penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada > suhu 78"C atau setara titik didih etanol. Pada suhu > itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang > bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui > pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan > kembali menjadi etanol cair. > 10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat > larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol > berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab > itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu > dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air > menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam > pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. > Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga > diperoleh etanol 99% yang siap dieampur > denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan > 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek. > > Tanggal Tayang : 12-1-2007 > Sumber : Trubus > > > Best Regard, > > > Ery Wijaya > http://erywijaya. wordpress. com/ > <http://erywijaya.wordpress.com/> > > <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id/> > <http://kamase.org/> > > > > > > > > > >
------------------------------------ _____ http://www.KendalOnline.Net _____ Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet <!--Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kendal-online/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kendal-online/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

