On Sat, Nov 12, 2005 at 01:36:46PM +0100, I Made Wiryana wrote:
> Sesuatu yg terlihat akan lebih disukai ketimbang hal yg sifanya mendasar
> walau berguna dan lebih gampang diatasi.

ini juga penyakit :-) tapi yang saya maksud sebelumnya, itu masih kurang
terlihat bagaimana? yang pasti kan ndak ada yang mau lihat.

> PTN masuk ke setan yg mengangkang itu ??

duh .. ini bisa panjang hi...hi.. tapi sebagai institusi ya tidak bisa
dibilang begitu toh. yang jadi masalah sebenarnya terlalu banyak
'the untouchable'. kalau itu bersifat kolektif dalam satu institusi,
sebaiknya perlu dibuatkan aturan main supaya arah institusi itu jelas,
atau kalau perlu bisa dibubarkan.

saya lihat perguruan tinggi itu potensi terbesar di negara ini. saya
paling jengkel kalau ada yang berdalih bahwa mengimplementasikan ilmu
(dari perguruan tinggi) di bumi indonesia ini sulit, karena tidak
'applicable'. lah ya sudah, bubar jalan saja kalau gitu. perguruan
tinggi dibuat kan untuk mencerdaskan bangsanya dan demi pembangunan
bangsanya (kalau berlebih, sukur-sukur bisa mencerdaskan bangsa lain
juga). kalau ada perguruan tinggi dengan lebih dari 50% disiplin ilmunya
tidak applicable di Indonesia, sebaiknya segera bertobat dan kembali ke
jalan yang benar atau membubarkan diri.

bagaimana supaya perguruan tinggi terlibat dalam pembangunan bangsa?
jawabannya kan: susah .. sulit .. kurang dana .. bergantung pada
kebijakan paimo, tergantung pada keterlibatan paimin dll.

yang ini tidak terkait langsung dengan perguruan tinggi, tapi coba
lihat, waktu sars kemarin, sekarang flu unggas, bisanya kan cuman
mengekspor spesimen ke luar. kalau ditanya jawabnya jelas dan tegas:
tidak ada dana! lah itu rezim medis bercokol bertahun-tahun bisa
menelorkan banyak konglomerat masa beli mercon bantingan saja kagak
bisa. bolak balik bilang anti barat, anti amerika, anti kapitalis tapi
gak sadar kalau bangsanya sendiri lebih kapitalis dari negara kapitalis.

benang merahnya mana? hint: tidak ada dana -> naikkan SPP.

tertibkan tarif dokter dan pelayanan kesehatan, pasti bisa beli alat
untuk melihat bisulnya virus. intinya modal, modal, modal dan modal
-> kapitalisme.

tutup PT yang tidak bisa berperan aktif dalam pembangunan (bikin jakarta
ndak macet misalnya). kalau ndak gusur saja lahannya, ganti citos saja.
sebagai ganti, cukup sediakan kios petak 2x3 buat jualan ijasah.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

-- 
Ini signature saya. Pasang iklan anda di sini ... tarif menantang :-)


--
Right or wrong my list. Unsubscribe option is currently unavailable.
Indeed, it's available upon request .. but: cepek dulu donk!

Kirim email ke