On Sat, 12 Nov 2005, Patriawan, Carlos wrote: > Makanya di negeri yang terlalu pemaaf,yang namanya excuse ada dimana2 > dan public responsility/accountability jadi hilang. > > Tapi apa benar masih ada PT yang ngajarin wordstar ? masih pensaran euy.
Suka tidak suka, di kurikulum ada ketentuan itu. LAngkah pertama, ubah "otak" yg membuat kurikulum. Ini yg berat. Ngerubah kampus nggak ngajarin wordstar itu gampang., Ngerubah kurikulum itu yg susah :-) (bukan kurikulumnya tapi ngerubah pandangan yg bikin decision). Tapi untung dg struktur peraturan pendidikan yang baru, kampus memiliki tingkat keluwesan yang lebih tinggi. Saya ingat waktu diundang jadi tim pengusul kurikulum (masih muda, idealis, maunya materi yg bagus). Tiba-tiba diprotest para PT kelas "gurem"... pak.. kalau kurikulum seperti itu, saya nyari pengajar di mana :-) ini sama saja gantung diri. Saya cuma bisa cengar-cengir, apalagi mereka bilang... lha tuh mahaisswa pengen lulus jadi sarjana, terus mau jadi salesman aja koq. :-) > Gue bilang juga apa. Kalau sudah di level "lembaga",antara satu dan > yang lain melihat sebagai enemy dan bukan partner, gak ada yang mau > berkorban dan bilang: Please give the job to me so i could get the job > done. Untungnya kampus tempat kerja saya tidak :-), sayangnya yg mo diajak partner itu kadang merasa kami enemy. Ada satu PTN yagn pernah akan diajak kerja sama, jawabannya "Wah nanti kami dimanfaatkan oleh PT anda" > > tertibkan tarif dokter dan pelayanan kesehatan, pasti bisa beli alat > > untuk melihat bisulnya virus. intinya modal, modal, modal dan modal > > -> kapitalisme. > > Kalau yang ini,jawaban Kanada adalah Tax melalui semacam jaminan Sosial. Seperti Jerman, pajak hingga 45% :-) IMW -- Right or wrong my list. Unsubscribe option is currently unavailable. Indeed, it's available upon request .. but: cepek dulu donk!
