Baraya,
Ieu aya artikel perkara Ki Sunda, lumayan keur sasarap
isuk-isuk. Dititenan teh, asa geus sering US ngbahas
perkara kaayaan dirina. Boh perkara basa oge budaya.
Sababaraha waktu ka tukang, asana Kang Ayip Rosidi
ngabahas perkara nu ampir sarua. Ngan nu tacan
katinggal teh, kumaha komentar US nu nyepeng
kalungguhan di pamarentahan, ngeunaan panyawang
maranehna kana perkara ieu.

Salam,
MH

=========
PR. BERITA UTAMA. Rabu, 13 April 2005
Ki Sunda di Ambang Kepunahan

"BAGAIKAN ayam mati di lumbung padi". Pepatah itu
sangat cocok disematkan kepada Ki Sunda, yang dengan
segala identitas kesundaannya saat ini justru seolah
tak punya tempat di buminya sendiri. Tidak percaya?
Lihat saja Kota Bandung. Kota yang dikenal sebagai
pusat pemerintahan dan sentra budaya Sunda, justru tak
punya identitas kesundaan yang bisa diperlihatkan ke
publik. 

"Boleh Anda lihat sendiri, saat kita memasuki Kota
Bandung, apakah disambut dengan tulisan berbahasa
Sunda atau yang ada hubungannya dengan budaya
kesundaan? Padahal kita masuk ke daerah Sunda.
Identitas (kesundaan) itu tidak ada. Justru yang
ditonjolkan outlet atau jajanan," tegas Dedi "Miing
Bagito" Gumilar saat memaparkan pandangannya tentang
keberadaan Ki Sunda dewasa ini dalam dialog yang
berlangsung di Redaksi Koran Sunda Galura, Jln.
Belakang Factory Bandung, Selasa (12/4). 

Dialog menghadirkan Ketua PWI Jabar, H. Us Tiarsa,
Pamingpin Redaksi Koran Sunda Galura, Eddy D.
Iskandar, Ketua STSI Bandung, Arthur S. Nalan, seniman
dan budayawan Nano S., Taufik Faturohman, Mas Nanu
Muda, S. Sen, Nana Munajat, S. Sen., Kusye D' Bodor,
dan undangan lainnya. 

Menurut Miing, generasi muda Sunda saat ini lebih
cenderung mengadopsi perilaku luar. Tidak hanya dalam
hal bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi juga dalam
hal berkesenian maupun tatanan busana yang
memperlihatkan pusar dan celana dalam. Kondisi
tersebut, katanya, tidak hanya terjadi di masyarakat
perkotaan, tetapi juga sudah diadopsi masyarakat
pedesaan yang notabene sangat menjunjung tinggi nuansa
kedaerahan. "Coba saja datang ke Garut, Tasikmalaya,
atau Sumedang, pasti anak-anak mudanya lebih senang
menggunakan bahasa Indonesia atau berpakaian seperti
orang di perkotaan," ujarnya.

Kondisi seperti itu, lanjut Miing, dikhawatirkan akan
mengarah pada kepunahan Ki Sunda sebagai warisan
leluhur. Apalagi, pada saat yang sama, untuk
melestarikan Ki Sunda, baik bahasa maupun seni budaya,
baru sebatas wacana dengan teori yang dihasilkan dalam
diskusi, seminar, maupun dialog. Sementara, begitu
kembali ke lapangan, apa yang terungkap tidak
dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan.

Diakui Miing, identitas Ki Sunda memang masih ada dan
diperlihatkan di sejumlah daerah. Namun, itu pun sudah
dalam kondisi terancam kepunahan. Identitas kesundaan
itu masih bisa dijumlah di sejumlah daerah di Tatar
Sunda, misalnya dalam upacara perkawinan. "Tidak saja
bahasa, tata cara dan kesenian yang ditampilkan
semuanya serba nyunda," ujarnya.

Miing berpendapat, untuk menghidupkan kembali Ki Sunda
sehingga bisa terhindar dari kepunahan, tidak hanya
dibutuhkan dana, tetapi juga upaya serius ke depannya.
"Hal ini saya rasakan saat berupaya menghidupkan seni
budaya di Jakarta melalui Gedung Miss Tjitjih, selain
sulit mencari orang Sunda, juga sulit untuk mencari
dana penyelenggaraan," ujarnya.

Kendala dana

Hal senada dikatakan seniman, budayawan, dan praktisi
seni Sunda, Nano S., bahwa masalah keuangan selalu
dijadikan kendala. Tetapi, menurutnya, hal tersebut
bila terus menjadi kendala justru akan menghambat
kreativitas, yang pada akhirnya mematikan profesi
seniman itu sendiri.

Untuk itu, menurut Nano, ke depan meski tanpa bantuan
dari pihak pemerintah atau pihak mana pun, perlu
dilakukan upaya-upaya yang nyata. "Upaya tersebut di
antaranya memberikan kesempatan maupun motivasi kepada
generasi muda terus berkreasi dengan ada maupun tidak
ada biaya. Bila hanya keresahan dan ketakutan yang
diungkapkan, justru dikhawatirkan akan mematikan
semangat berkreasi," tegasnya.

Demikian juga dengan Athur S. Nalan, Ketua Sekolah
Tinggi Seni Indonesia, untuk mempertahankan keberadaan
Ki Sunda perlu komitmen bersama tidak saja dari pelaku
seni, tetapi juga pemerintah maupun warga Sunda.
"Sebagai wujud kepedulian sudah dibentuk perda. Untuk
itu, kita perlu ada komitmen dalam pelaksanaannya dan
hal ini harus didukung oleh warga Sunda. Tanpa itu,
tetap saja tidak akan terealisasi alias loba catur teu
ngabukur," ujarnya.

Taufik Faturohman sependapat dengan Miing. "Bagaimana
tidak memprihatinkan, di sejumlah daerah seperti
Banten, Tangerang, dan Depok, guru bahasa Sunda sudah
tidak lagi dibutuhkan," ujarnya.

Hal ini menunjukkan kurangnya keseriusan pihak
pemerintah terhadap keberadaan Ki Sunda. Bahkan
program dengan anggaran yang cukup besar justru
dijadikan projek yang dibagi-bagi di kalangan
pemerintahan sendiri. 

"Seperti pengadaan buku yang akan dijadikan parameter,
justru dibuat oleh lingkungan pemerintahan. Hasilnya
banyak yang salah seperti ungkapan katempuhan buntut
maung diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan
'ketiban ekor macan' atau teu mais teu meuleum dengan
terjemahan 'tidak mepes tidak membakar," ujarnya yang
disambut gelak tawa hadirin.

Parahnya, kata Taufik, dari 29 masalah di Kota
Bandung, seni budaya maupun bahasa Sunda tidak
dicantumkan (Retno HY/"PR")***


=====
Situs: http://free.angeltowns.com/studio579/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke