Tina PR dinten ieu ( 2 April 2006)
Gugum Gumbira : Erotisme Itu Kodrati
MENYEBUT Jaipongan sesungguhnya tak hanya akan mengingatkan orang pada
sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan,
bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang
lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan,
seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata.
Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada
akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di
tengah masyarakat.
Jaipongan adalah sebuah fenomena menarik dan penting dalam perkembangan
khazanah tari Sunda dan itu tak hanya mendasar pada gagasan estetis yang
diusungnya, melainkan juga pada bagaimana kemudian tarian ini membuat
fenomena tersendiri atas sambutan masyarakat terhadapnya. Akhir tahun
1970-an sebagai awal kemunculannya Jaipongan langsung menjadi trend yang
mencengangkan. Tak hanya menjadi pentas "wajib" di panggung-panggung kawinan
di rumah penduduk, atau juga pentas 17 Agustusan, tapi juga bahkan sampai ke
pentas yang prestisius. Dari mulai hotel hingga atraksi pertunjukan
seremonial besar lainnya, bahkan juga melanglang buana ke berbagai negara
sebagai misi kesenian.
Di tengah masyarakat, demam Jaipongan ketika itu menjadi fenomena yang belum
pernah terjadi terhadap jenis tari tradisi lainnya. Termasuk di perkotaan
dengan minat para remaja terhadap tarian ini. Maka di mana-mana ketika itu
berdirilah sanggar dan kursus-kursus Jaipongan. Di antar oleh ibunya, anak
sekolah pun begitu antusias mengikutinya. Nama-nama seperti Daun Pulus dan
Keser Bojong ketika itu amat populer sebagai tembang pengiring Jaipongan.
Begitu nama Mang Samin, atau penari Tati Saleh (alm.), dan sebutan serempak
berbunyi "Jugala" dengan pukulan kendang yang ritmis.
Tapi menyebut Jaipongan adalah juga memanggil ingatan pada seorang seniman
yang namanya tak bisa dipisahkan dari tarian tersebut, yakni Gugum Gumbira.
Ingatan pada lelaki yang usianya sama dengan usia negara ini memang harus
dipanggil kembali mengingat nama dan sosoknya lama tak lagi terdengar. Jika
pun pernah terdengar, nama itu selalu dihubungkan jabatan birokrasi yang
disandangnya sebagai Kepala Dinas Pariwisata atau manajer Persib, ketimbang
dengan Jaipongan, terlebih di mata anak-anak muda meski memang Jaipongan
sampai hari ini masih diminati.
Nama itu kemudian makin menjarak dari publik setelah Gugum Gumbira pensiun.
Kecuali sesekali muncul dan berkumpul bersama komunitas seniman di suatu
acara, Gugum Gumbira memang jarang sekali muncul di tengah publik.
"Yah, kesibukan sebagaimana orang yang sudah pensiunlah! Yang tadinya ingin
santai ternyata ada usaha dan pekerjaan. Wiraswasta. Ternyata sama sibuknya,
bahkan mungkin lebih sibuk ketimbang birokrat," ujarnya dalam percakapan di
rumahnya yang sejuk di kawasan Jalan Kopo Bandung Rabu (29/3).
"Kesibukan saya mengelola padi dan beras. Juga mengurus studio rekaman.
Ketiganya, saya diajak oleh teman di Jakarta membuat perusahaan. Saya
diminta untuk membantu," tambah suami dari sinden Cianjuran terkenal, Euis
Komariah ini.
Sebagai birokrat seseorang bisa saja pensiun, tapi rasanya tidak sebagai
seniman. Begitu juga dengan Gugum Gumbira. Lelaki yang pernah membawa
Jaipongan ke berbagai negara di Eropa dan Asia ini dengan semangat akan
bertutur banyak jika diajak bicara tentang Jaipongan, termasuk ketika
dihubung-hubungkan dengan apa yang tengah marak dan tarik-menarik pro-kontra
di tengah masyarakat yakni Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan
Pornoaksi (RUUAPP). Bahkan kadang-kadang nada suaranya mendadak menjadi
tinggi.
"Ini menyangkut etnik! Ini menyangkut seni tradisi yang sudah jadi misi
kesenian ke berbagai negara. Nanti, misalnya, tidak boleh karena
undang-undang itu muncul, ini apa? Lepas dari soal setuju tidak setuju, saya
belum tahu. Tapi saya juga anak sekolahan, bekas birokrat, tahu sedikit
banyak apa itu peraturan, hukum dan undang-undang!" katanya sengit. Berikut
percakapan kami, dari mulai persoalan Jaipongan hingga erotisme.
Bagaimana dulu proses Anda menciptakan Jaipongan itu? Asal kata Jaipongan
itu dari mana?
Kata Jaipongan itu memang bukan arti kata suatu bangunan kesenian, tapi
dibawakan oleh Alisahban dan Ijem di Topeng Banjet Gaya Asmara. Topeng
Banjet itu kan berlakon, nah, di tengah ceritanya ada bodorannya. Itu yang
muncul sampai sekarang Ijem, kalau Alisahbannya sudah wafat. Di tengah
permainan mereka berdua ketika itu terdapat bunyi ucapan "Jaipong". Kata itu
mereka lantunkan untuk meniru bunyi pukulan kendang yang dilatahkan,
blaktingpong! Jadi "Jaipong". Jadi keluarnya kata Jaipong, saya mendengarnya
dari Alisahban dan Ijem di tengah-tengah pertunjukan lakon teater rakyat
Topeng Banjet, dalam sesi bobodoran. Bunyi pukulan kendang itu blaktingpong
dan oleh Alisahban dan Ijem itu ditirukan bunyinya jadi "Jaipong". Itu saja.
Tidak ada artinya, lebih ke bunyi, seperti asal kata dangdutlah!
Terus inspirasi Anda bagaimana bisa mengadopsi dan menjadikannya sebuah
tarian?
Saya sudah membuat satu konsep gerak yang pada waktu itu belum ada namanya.
Konsep gerak itu saya bayangkan akan bisa dicerna dan dimainkan, dan
diminati oleh remaja untuk jadi tari pergaulan dan tari pertunjukan. Waktu
itu kan ngahikhok tidak boleh. Saya berpikir ketika itu tarian tersebut bisa
sebagai penggantinya sebagai tari pergaulan. Saya memulainya itu dari tahun
1968 dan selesai tahun 1976. Tahun 1978 ada Festival Tari Rakyat Jawa Barat
yang dilaksanakan oleh Projek Pengembangan Kebudayaan Jawa Barat. Nah, saya
dimasukkan ke dalam event tersebut sebab saya dianggap punya sesuatu yang
dianggap baru. Tapi memang belum selesai. Garapan karawitannya belum
selesai. Lantas apa boleh buat, harus diselesaikan dan langsung mengikuti
festival itu. Hanya namanya waktu itu saya memakai nama "Ketuk Tilu
Perkembangan". Nah, dalam seminar, panitia mendapatkan masukan dari seniman
komunitas Ketuk Tilu. Mereka keberatan saya memakai nama "Ketuk Tilu
Perkembangan", sebab Ketuk Tilu belum mati. Jadi, kreasi saya itu belum ada
namanya. Diberi waktu oleh panitia, seminggu harus ada nama baru, sebab ini
semua baru. Lain dari Ketuk Tilu, berbeda dari Tayub, lain dari apa saja
yang waktu itu difestivalkan. Wah, bingung saya! Tadinya mau saya namain
Bojongan, tapi Bojongan terlalu banyak kan? Nah, saya pergi ke Karawang,
perlu tukang gong. Tapi tukang goong itu sedang dipake oleh Alisahban. Di
situ saya mendengar kata-kata Jaipongan, lalu saya pikir sudah saja ini
namanya. Tapi sempat saya tanya pada Alisahban, arti kata Jaipongan. Kata
dia tidak ada artinya. Hanya untuk bobodoran. Ini melawak saja. Jadi dalam
adegan bobodoran itu, Alisahban berperan sebagai guru tari dan mencontohkan
gerak, "Mundur-mundur lalu maju-maju, blaktingpong blaktingpong
pletuk-pletuk! Lalu disusul oleh suara gamelan, Jaipong! Jaipong! Ya, sudah
jadi saja Jaipongan.
Terus gerak idiom tari pergaulan itu Anda ciptakan sendiri atau mencoba
mengadopsi dari tradisi yang sudah ada?
Oh tidak! Jadi, saya survei dari tahun 1967 ke seantero Jawa Barat sampai ke
Betawi dan yang banyak tersebar di Jawa Barat itu memang Ketuk Tilu. Yang
telah menjadi baku adalah pencak silat dan itu sudah menjadi bahan dasar
bagi saya, itu pun tidak seutuhnya gerak pencak. Tapi yang diambil esensi
dinamika gerak dan karakternya, yang memang sama dengan modern dance
anak-anak muda ketika itu.
**
SATU hal juga patut diingat orang ketika itu, yakni ketika Jaipongan
mendadak tidak disukai oleh sejumlah pejabat Provinsi Jawa Barat pada masa
Gubernur Aang Kunaefi karena dianggap terlalu erotis. Istilah 3 G ketika itu
dianggap sebagai biang keladi dari erotisme itu, yakni goyang, geol, gitek.
Namun ternyata hal itu toh tidak mengurangi minat masyarakat pada Jaipongan.
Sebenarnya apa yang terjadi ketika itu? Mengapa para pejabat dan elite
tiba-tiba merasa gerah dengan Jaipongan?
"Ah! Saya kira itu bukan datang dari para elite. Kalau yang saya lihat itu
mungkin muncul dari komunitas kesenian itu sendiri yang takut
tersingkirkan," ujar Gugum mengenang.
Ia beralasan dalam setiap event pertunjukan di Gedung Pakuan, dia sendirilah
yang selalu diminta ngibing oleh gubernur. Bahkan ketika ia sakit dan tak
bisa menari, gubernur mengirim dokter pribadinya. Tapi, katanya, entah siapa
yang diam-diam memberi bisikan pada gubernur bahwa Jaipongan itu terlalu
erotis. "Pak Aang juga menerima masukan itu, dan menyarankan pada saya,
untuk mengurangi unsur erotisnya. Nah, saya tanyakan, yang erotis tuh yang
kayak gimana? Beliau bilang, ya, geol, gitek, goyang.
"Lho, tari saya dari awal sampai akhir, tidak ada 20% itu gerakan geol,
gitek, goyang. Kalau saja ketiga unsur itu sedikit ada, itu bukan buat
mendominasi gerakan. Tapi memang dalam tari rakyat unsur erotisme itu ada.
Rasa erotis di mana-mana pun ada,"paparnya.
Menurut Anda sendiri erotisme itu apa sih?
Konotasi atau sudut pandang erotis bagi saya adalah keindahan.
Bukan yang mengarahkan kepada seks appeal. Sebab kalau yang disebut
keindahan atau yang bisa mengusung kepada unsur
erotis atau seks appeal bukan hanya goyang saya kira.
Jadi menurut Anda erotisme itu sesuatu yang alamiah begitu?
Memang kodrati. Itu dari sananya, kita nggak usah malu-malu. Tapi memang
kalau dalam pertunjukan, kita harus memberikan suatu edukasi atau tanda
bahwa sejauh ini kita ini masyarakat yang sangat beradab. Ya, saya kira
kalau ngomong goyang, ya, jalan juga goyang! Parfum juga bisa menimbulkan
unsur erotis. Karena itu golongan elite kota besar lebih gila itu erotisnya,
dari mulai parfum, sampai bedak, dan lipstik yang kalau semuanya kita cium,
waaaaah! (tertawa). Belum lagi baju dan modelnya.
Tapi tampaknya sekarang pengertian erotisme selalu diarahkan pada pornografi
dan imbasnya bukan tidak mungkin sampai ke tari-tari rakyat.
Ya, memang kita hidup dalam masyarakat yang heterogen. Sudut pandangnya bisa
ada berbeda antara komunitas satu dan komunitas yang lainnya. Yang mayoritas
dan yang minoritas. Termasuk mereka yang mengajukan hal ini supaya dibuat
undang-undang (RUUAPP). Undang-undang itu kan harus esensi sekali. Apakah
betul erotisme merupakan gejala kejahatan, kriminal? Maksudnya dalam
pornoaksi jika yang dimaksud itu menunjuk pada gerak-gerak tari. Sebab
kenapa yang bukan gerak tari tidak akan diatur, seperti berenang? Jalan kaki
bagi yang bagus badannya, wanita ada juga yang pinggulnya goyang, apakah itu
nanti jadi kasus? Dalam ilmu anatomi, bahwa badan atas dan kaki di bawah,
semuanya juga pakai sendi. Semuanya bergantung pada apa yang ada dalam
kepala orangnya. Kalau orangnya ngeres teu kuat iman, susah itu mah! Saya
bukan orang yang seperti itu. Saya orang Indonesia, saya orang beragama
Islam, dan orang berbudaya. Berarti beradab, sekolah. Nah, sekarang kalau
undang-undang ini akan dibuat, bawalah semua bicara, supaya nantinya tidak
jadi bumerang ke pemerintah itu sendiri. Kalau masyarakatnya tidak mau,
bagaimana?
Kalau undang-undang itu nanti ternyata disahkan dan diterapkan, pasti
Jaipongan kena yah? Termasuk juga mungkin Kliningan di pesisir Jawa Barat?
Oh, tidak! Saya bukan persoalan Jaipongan, dangdut lebih-lebih! Berhenti itu
musik dangdut! Kalau Jaipongan berapa persen goyangannya dalam satu tarian,
tidak ada 20%. Di Kliningan kebanyakan orang nari laki-laki. Kalaupun
perempuan dia tidak merasa harus seperti penari striptis! Memang keahliannya
ada di tiap sendi tubuhnya. Ya, dia menari saja melenggak-lenggok dari atas
ke bawah. Karena sendinya ada di pinggul, ya, seperti jalan kaki saja.
Kenapa kok anggota tubuh kita ini dikenakan norma yang berbeda-beda yah?
Iya, padahal itu kan pemberian Tuhan, yah!
Saya ingin balik lagi ke Jaipongan. Sejak muncul akhir tahun 1970-an sampai
sekarang, sampai sejauh mana perkembangannya?
Ya, kalau pengembangannya memang tercerabut kepada segala hal.
Ke Pop Sunda, ke wayang, ke calung, sampai ke gamelan Jawa, gamelan Bali,
dan rock di Jerman dan di New Zealand. Tapi kebanyakan yang diambil
kendangnya saja misalnya, nyanyinya saja, tariannya saja. Memang ada
beberapa penari latar lagu dangdut, yang mengeksploitasi goyang. Itu bukan
tari Jaipongan! Itu tari dangdut! Itu kan musiknya bukan musik
Jaipongan?! Yang disebut Tari Jaipongan itu total, tidak bisa dipereteli!
Jadi kalau diambil idiomnya saja, dan dipakai untuk tari latar dangdut, itu
bukan Jaipongan ya?
Pada waktu kapan dan musiknya apa? Tari itu ada gerak ada musik.
Tidak bisa itu disebutkan tari Jaipongan. (Ahda Imran)***
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/