Sampurasun,
Sim kuring ti payun kantos nyerat dina PR, kinten taun Jumat 11
Oktober 2002, perkawis "seni tradisi" kalebet Jaipongan sareng
karakteristik erotismena..... Tapi duka tah dina leresan leres sareng
hanteuna mah. Tapi puntan tacan ditarjamahkeun kana basa Sunda.

LATAR KOSMOLOGI SENI TRADISI;
Kritik Nalar Poskolonial

Seni tradisi, secara antropologis, merupakan presentasi tearerikal
pandangan kosmologi masyarakatnya. Dalam konteks tertentu, seni
tradisi merupakan suatu "ritus" yang menghubungkan antara diri dan
biografi dirinya dengan sejarah masa lalu primordial masyarakatnya
yang sakral. Sakralitas seni tradisi terletak pada "apresiasi"
masyarakat terhadap sejarah masa lalunya, bukan pada objek yang
diapresiasi. Sakralitas yang tentunya tidak bisa diidentikan dengan
sakralitas keagamaan, yang bukan hanya pada apresiasi tapi juga pada
objek apresiasinya.
Sebagai presentasi pandangan kosmologis suatu masyarakat, seni
tradisi pada wujud dan nilainya tentunya tidak mungkin bersebrangan
dengan pandangan kosmologi tersebut. Demikian pula dengan seni tradisi
masyarakat Sunda. Pandangan kosmologi Sunda yang tergambar dalam
mitologinya, yang memposisikan Sunan Ambu, Dewi Sri (tokoh-tokoh di
Kahiyangan), Purba Sari, Dewi Asri, Dayang Sumbi (tokoh-tokoh di
marcapada), dan yang lainnya, sebagai sosok "ideal". Kehadiran tokoh
Sangkuriang, Mundinglaya di Kusumah (tokoh di marcapada), dan Lutung
Kasarung atau Guru Minda (tokoh Kahiyangan) merupakan tokoh
penegas terhadap sosok ideal tersebut. Dengan kata lain, dengan Sunan
Ambu dan Dewi Sri (anak angkat Sunan Ambu) sebagai performa ideal,
struktur mitologi Sunda didasarkan pada kearifan tokoh "ibu". Hal ini
bisa dipahami, dari pola mata pencaharian dalam bentuk pertanian, yang
mengedepankan simbol kesuburan, yaitu sosok perempuan. Namun,
sosok perempuan tersebut dimunculkan dalam nuansa yang berwarna
"keibuan", ambu, dengan diawali terma "sunan" yang bisa dimakna "anu
disuhun" atau yang diagungkan.
Pemunculan sosok perempuan dengan performa "ibu" (ambu)
sebagai pusat gravitasi dalam mitologi Sunda, tidak berujung dan tidak
pula berawal dari tema-tema dan pesan-pesan erotisme, akan tetapi
lebih pada sisi-sisi moralitas keperempuanan (ibu, ambu) sebagai sosok
yang memiliki keteguhan hati, lembut, khrismatis, penuh kasih sayang,
dan hal lain yang sejenis.
Kontur geografis Sunda yang pada umumnya adalah pengunungan
dan perbukitan (pasir). Kontur giografis yang membentuk budaya
pertanian dalam bentuk tradisi huma dan palawija. Sistem cocok tanam
yang lebih menggantungkan diri pada keteraturan dan curah turunnya
hujan, bukan pada irigasi. Hal ini bisa dimengerti karena pada umunya
wilayah Sunda, Jawa Barat, memiliki curah hujan yang tinggi. Sehingga,
masyarakat Sunda tidak memiliki ketergantungan terhadap solidaritas
dan kerja-sama masyarakatnya. Dengan demikian, pada asalnya,
masyarakat Sunda tidak mengenal budaya populis (tidak mementingkan
popularitas), budaya yang melahirkan sikap mengalah atau tidak
memiliki keinginan untuk tampil.
Terdapat hal yang unik, dibanding dengan kosmologi jawa,
simbolisasi kesuburan yang digunakan adalah dalam sosok "ibu" (Sunan
Ambu, Dewi Sri) yang memiliki "kharisma", sabar, bijak, lebut,
melindungi, mau berkorban dan sebagainya. Sedangkan dalam kosmologi
jawa simbolisasi kesuburan digambarkan dalam bentuk "lingga", alat
kelamin.
Perbedaan simbolisasi tergambar dalam karakteritik seni tradisinya.
Seni tradisi jawa memiliki kecenderungan mengeksploitasi aspek-aspek
erotis dari seorang perempuan, seperti terungkap dalam seni tadisi
Tayuban, Ronggeng dan lain sebagainya. Sedangkan dalam tradisi Sunda
terungkap dalam seni tradisi seperti Degung, Kecapi Suling, dan
seni-seni lainnya. Dengan demikian, autentisditas seni tradisi suatu
masyarakat dapat "diukur" dengan melakukan pembacaan dan analisis
dalam pendekatan pandangan kosmologinya.
Seni tradisi Cianjuran sebagai contoh, dapat dilihat sebagai seni
tradisi campuran antara tradisi Jawa-Mataram dan Sunda. Dilihat dari
sisi genre gaya puitiknya (struktur dan aturan"persajankan"),
merupakan seni tradisi Jawa, sedangkan dari jiwa dan iraman serta
nuansa kelebutan lebih merupakan unsur dari karakter seni tradisi
Sunda. Unsur-unusr kesundaan yang berpijak pada karakter kosmologi
ke-ambu-an, keibuan.
Dalam logika post-kolonial, tardisi Cianjuran merupakan upaya
resistensi seni trasisi Sunda, dari seorang Pangeran Pancaniti,
terhadap hegemoni seni trasdisi Jawa yang mengeksploitasi unsur-unsur
erotis, dengan menggantikan unsur erotisme dengan menampilkan
kelembutan yang penuh dengan kesantunan. Lain halnya dengan seni
tradisi Tayuban atau Ronggeng yang dikenal wilayah pesisir utara
(pantura), karena tidak terjadi proses resistensi oleh tokoh
budayawannya, maka seni tersebut masuk secara utuh dalam masyarakat
Sunda pesisir utara. Seni tradisi tersebut, Ronggeng dan Tayuban,
merupakan seni tradisi Jawa-Mataram yang terinternalisasi dalam
masyarakat Sunda ketika terjadi proses pengiriman pasukan Mataram ke
Batavia, melalui jalur pantura. Apalagi, karena daerah Karawang
sebagai salah satu wilayah jalur pantura tersebut dijadikan kantung
yang menyediakan akomodasi pangan dalam menghadapi peperangan dengan
Belanda atau VOC di Batavia.
Bila dilakukan pemetaan pola hubungan tradisi di tatar Sunda, dapat
dilihat terdapat empat struktur dan biografi yang membentuk tadisi
Sunda pada masa pendudukan Mataran di tatar Sunda, Priangan. Pertama,
tradisi Sunda-asli yang diwariskan dari sejarah klasik masyarakat Sunda.
Kedua, tradisi Islam-Sunda yang merupakan warisan Sunda-Islam masa
para wali. Tradisi ini kemudian sering disebut sebagai tradisi
pesantren, Sunda-pesantren; Suatu tradisi yang telah menyatu antara
kebudayaan dan tradisi Sunda dengan tradisi keislaman (merupakan
strategi dakwah Sunan Gunung Jati). Ketiga, tradisi Jawa-Mataram asli.
Keempat, tradisi Jawa Mataram-Islam. Unsur ketiga dan kempat ini
dibawa oleh bala tentara Mataram yang pada umunya berasal dari
kelompok masyarat biasa, abangan, lebih banyak dibandingan dengan yang
berasal dari masyarakat kraton dan pesantren.
Dengan demikian, peristiwa pengiriman pasukan Mataram ke Batavia, yang
pada akhirnya juga diikuti dengan pendudukan Mataram di wilayah
Priangan, khususnya, telah merubah struktur, formasi dan biografi
seni dan tradisi bahkan sistem kosmologi masyarakat Sunda, khususnya
di wilayah pantura dan pusat-pusat kekuasaan Mataram. Lain halnya
dengan di pusat-pusat kekuasaan (perkotaan, dayeuh), di sana terdapat
sejumlah budayawan yang bahkan terdapat juga budayawan yang merangkap
sebagai priyayi (bangsawan) atau bangsawan Sunda-Mataram, maka proses
resistensi budaya terjadi secara efektif, melalui proses negosiasi
kultural. Berbeda dengan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat
kekuasaan, terjadi secara langsung tanpa proses penyaringan yang
berarti. Sedangkan, dalam hal penggunaan bahasa, terjadi sebaliknya.
Bila melihat matriks tersebut, maka ketika tradisi Sunda melakukan
resistensi terhadap tradisi Jawa (Mataram) sebagai contoh, seperti
dalam kasus lahirnya seni tradisi Jaipongan dan Cianjuran, maka peta
resistensi tersebut dapat dilihat dalam dua bentuk resistensi.
Pertama, resistensi Sunda-asli terhadap seni tradisi Jawa Mataram asli
atau seni tradisi Mataram-Islam. Kedua, resistensi Sunda-Islam
terhadap seni tradisi Jawa-Mataram atau terhadap Mataram-Islam. Pada
kasus tradisi Cianjuran, sebagai contoh, bisa dipandang sebagai
resistensi tradisi seni Sunda-asli terhadap seni tradisi Jawa-Mataram,
dengan menghilangkan aspek erotik yang diganti dengan usnur-unsur
kelembutan. Atau resistensi pesantren-Sunda terhadap Jawa-Mataram
terhadap unsur yang sama, dengan memunculkan aspek-aspek religius
dalam syair-syair Cianjuran. Demikian juga dengan seni Tradisi
Jaipongan sebagai wujud baru sebagai hasil dari resistensi seni-tadisi
Sunda terhadap seni Tayuban dan Ronggeng. Dan bila melihat upaya
eliminasi unsur-unsur erotis dalam seni-tradisi Jawa-Mataram yang
dilakukan oleh seniman tradisi Sunda-asli dan Sundapesantren atau
Sunda-Islam, maka terdapat kesamaan cara pandang yang "sama" terhadap
erotisme (antara Sunda-asli dan Sunda-pesantren).
Dengan demikian, asumsi yang kini berkembang bahwa seni Tayuban dan
seni Ronggeng yang berkembang di Karawang dan daerah sekitarnya
merupakan resistensi seni-tradisi Sunda-asli terhadap Sunda-pesantren,
merupakan asumsi yang sangat tidak berdasar. Karena, seni-seni tradisi
Tayuban, Ronggeng serta tradisi sejenis seperti seni tradisi Dombret,
tradisi "warung-remang" dan sejenisnya, merupakan seni dan tradisi
warisan pasukan Mataram di tatar Sunda. Asimilasi budaya tardisi
erotisme yang berpijak di atas kosmologi "lingga" merupakan pemenuhan
kebutuhan "seksual" pasukan Mataram ketika melakukan penyerangan ke
Batavia.
Terdapat upaya seniman untuk mempertemukan seni tradisi peninggalan
tradisi Mataram tersebut dengan memasukkan unsur-unsur kesundaan.
Lahirnya seni tradisi Jaipongan, sebagai contoh, bisa dipandang
sebagai hasil negosiasi antara dua tradisi, yaitu tradisi Jawa
(Tayuban atau Ronggeng) dengan tradisi Sunda, sehingga dalam
Jaipongan telah mengalami proses penghalusan unsur-unsur erotisnya,
dengan memasukkan unsur seni pencak silat, ketuk tilu, walupun unsur
erotisme tersebut tampak masih kental.
Dalam analsis kosmologi, tradisi dan seni-tradisi warisan tradisi
Mataram tersebut, bila dilihat dari cara pandang konsmologi Sunda,
sangat bersebrangan. Karena, dalam kerangka kosmologi Sunda,
eksploitasi unsur-unsur erotisme dianggap tabu. Apalagi, bentuk-bentuk
penyimpangan seksual. Dengan demikian, sulit untuk dipahami bila
budaya dan tradisi yang mengandung untur eksploitasi erotisme
ditemukan dalam seni tradisi Sunda. Lain halnya, bila seni dan tradisi
tersebut merupakan unsur adopsi dari budaya dan tradisi luar.
Namun demikian, bila memang unsur-unsur luar dan bersebrangan
dengan prinsip kosmologi Sunda tersebut telah dianggap sebagai seni
tradisi yang autentik bagi masyarakat Sunda tertentu, persoalannya
menjadi lain. Artinya, telah terjadi perkembangan atau bahkan
peralihan paradigma kosmologis, dan itu biasa dalam masyarakat. Bila
pengaruh Mataram tersebut telah demikian kuat ditambah lagi kini
dengan mundulnya proses modensasi di berbagai bidang, maka wajar bila
kini masyarakat Sunda, khususnya generasi muda, yang tidak mengenal
pandangan ksomologinya sendiri. Fenomena innilah yang digambarkan
dalam cerita Pun Boncel. Sosok yang telah menafikan keberadaan ibunya,
menafikan Sunan Ambu. Menafikan nilai-nilai primordial bangsanya.
Maka, tunggulah kutuk "Sunan Ambu".








PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke