Sampurasun, Bagea baraya kisunda sareng urangsunda yahoogroups, sok sanaos simkuring teu acan tiasa ngiring ulubiung dina gunem catur, namung masih satia noongan milist kisunda sareng milist-milist sanesnya. Simkuring mendakan ieu topik dina bahasa Indonesia nu pangemut simkuring peryogi oge diaji, pikeun nambihan wawasan urang, luyu sareng harenghengna kaayaan sosial pulitik sareng kaagamaan di nagara urang. Happunten bilih teu sapagodos.
Rampes, pun engkus Mangga dilenyepan --- nurul huda maarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > To: [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], "Abdul Moqsith Ghazali" > <[EMAIL PROTECTED]>, > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED] > From: "nurul huda maarif" > <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Fri, 1 Sep 2006 09:28:05 +0700 > Subject: [advokasi_kub] Penting: Meneropong > Pergerakan Hizbut Tahrir > > Sumber > > Harian Bangsa > > > > Catatan : HTI ini sudah menyusupkan dua orang > anggotanya ke Komisi Fatwa MUI > > dan mereka lah yang di balik fatwa pengharaman > kontroversi kemaren tentang > > pruralisme , dan sekarang mereka membidik kaum > feminis. > > > > ========================= > > Di Yordan, Organisasi Terlarang > > Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir (1) > > > > Beberapa kiai NU belakangan ini mengaku didatangi > aktivis Hizbut Tahrir > > Indonesia (HTI). Para aktivis HTI itu selain > membagikan brosur juga mengajak > > > kiai masuk kelompok mereka. Diantara kiai itu adalah > KH Ahmad Muhammad > > Alhammad, pengasuh pesantren Qomaruddin Bungah > Gresik. "Saya katakan kepada > > mereka, saya ini NU, tak mungkin ikut paham > sampean," kata Yai Mad - > > panggilan kiai berparas teduh itu - kepada sejumlah > tamunya suatu ketika. " > > Brosur-brosurnya ada tapi tidak saya baca," tuturnya > lagi. > > > > Pengurus NU di berbagai daerah, termasuk PWNU Jawa > Timur, juga mengaku > > sering mendapat pengaduan dari warga NU soal aktivis > HTI yang berusaha > > mempengaruhi warga nahdliyin. Bahkan dalam Munas dan > Mubes NU di Asrama Haji > > Sukolilo Surabaya tempo hari para aktvis HTI masuk > ke kamar-kamar peserta > > membagikan selebaran. Jargon mereka - seperti biasa > -khalifah sebagai > > solusi. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi > sasaran mereka. > > Karuan saja banyak kiai penasaran. Gerakan apa > sebenarnya HTI? Bagaimana > > asal-usulnya? Berikut wawancara HARIAN BANGSA dengan > KH Imam Ghazai Said, > > MA, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan > Islam radikal. Pengasuh > > pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo ini memang > sangat paham soal berbagai > > gerakan Islam, terutama yang berasal dari Timur > Tengah. Ia selain banyak > > menulis dan mengoleksi leteratur Islam aliran keras > juga bertahun-tahun > > studi di Timur Tengah. Ia mendapat gelar S-1- di > Universitas Al-Azhar Mesir, > > sedang S-2 di Hartoum International Institute Sudan. > Kemudian ia melanjutkan > > > ke S-3 di Kairo University Mesir. Kini intelektual > muslim ini aktif sebagai > > Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN Sunan > Ampel Surabaya. > > > > Bisa Anda jelaskan bagaimana sejarah gerakan Islam > aliran keras yang > > belakangan menjadi perhatian para kiai NU? > > > > Sebenarnya kelompok besarnya itu Ikhwanul Muslimin > yang pusatnya di > > Ismailiah, Mesir. Organisasi ini berdiri pada 1928, > dua tahun setelah NU > > berdiri, NU kan berdiri 1926. Pendiri Ikhwanul > Muslimin Syaikh Hasan > > Al-Banna. Menurut saya, pemikiran Syaikh Hasan > Al-Banna ini moderat. Dia > > berusaha mengakomodasi kelompok salafy yang wahabi, > merangkul kelompok > > tradisional yang mungkin perilaku keagamaannya sama > dengan NU dan juga > > merangkul kelompok pembaharu yang dipengaruhi oleh > Muhammad Abduh. Syaikh > > Al-Banna menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin itu > harkah islamiyah, sunniyah, > > salafiyah, jadi diakomodasi semua, sehingga ikhwanul > muslimin menjadi besar. > > > Dalam Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama > Tandhimul Jihad. Yaitu institusi > > jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin yang sangat > rahasia. Kader yang > > berada dalam Tandhimul Jihad ini dilatih militer > betul, doktrinnya pakai > > kesetiaan seperti tarikat kepada mursyid. Ini > dibawah komando langsung > > Ikhwanul Muslimin. Para militer atau milisi ini > menarik kelompok-kelompok > > sekuler yang ingin belajar tentang disiplin militer. > Nasser (Gammal Nasser, > > red) dan Sadat (Anwar Sadat, red) juga belajar pada > Tandhimul Jihad ini. > > > > Apa Nasser dan Sadat yang kemudian jadi presiden > Mesir itu bagian dari > > Ikhwanul Muslimin? > > > > Mereka bagian dari militernya, bukan dari ideologi > Ikhwanul Muslimin. Jadi > > mereka belajar aspek militernya. Ketika pada 1948 > Israel mempermaklumkan > > sebagai negara maka terjadi perang. Nah, Tandhimul > Jihad ini ikut perang, > > dan kelompok ini yang punya prakarsa-prakarsa. Waktu > itu Mesir kan masih > > dibawah kerajaan Raja Faruk dan sistemnya masih > perdana menteri, Nugrasi. > > Tapi akhirnya Arab kalah dan Israel berdiri. > Kemudian Tandhimul Jihad balik > > lagi ke Mesir. Nah, dalam kelompok ini ada Taqiuddin > Nabhani yang kemudian > > mendirikan Hizbut Tahrir. Jadi Taqiuddin itu awalnya > bagian dari Ikhwanul > > Muslimin. Namun antara Hasan Al-Banna dan Taqiuddin > ini kemudian terjadi > > perbedaan. Hasan Al-Banna berprinsip kita terus > melakukan perjuangan dan > > memperbaiki sumber daya manusia. Sedang Taqiuddin > bersikukuh agar terus > > melakukan perjuangan bersenjata, militer. Taqiuddin > berpendapat kekalahan > > Arab atau Islam karena dijajah oleh sistem politik > demokrasi dan > > nasionalisme. Sedang Hasan Al-Banna berpendapat > sebaliknya. Menurut dia, > > tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi > dan nasionalisme, yang > > penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu > negara. > > Pada 1949 Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak > agen pemerintah dan > > dianggap syahid. Sedang Taqiuddin terus berkampanye > di kelompoknya di Syria, > > Libanon dan Yordania. > > Kemudian Tandhimul Jihad diambil alih Sayid Qutub, > ideolognya Ikhwanul > > Muslimin. Ia dikenal sebagai sastrawan dan penulis > produktif, termasuk > > tafsir yang banyak dibaca oleh kita di Indonesia. > Nah, Sayid Qutub ini > > mendatangi Taqiuddin agar secara ideologi tetap di > Ikhwanul Muslimin. Tapi > > Taqiuddin tidak mau karena ia beranggapan bahwa > Ikhwanul Muslimin sudah > > masuk lingkaran jahiliyah. Ya, itu menurut Taqiuddin > hanya gara-gara > > Ikhwanul Muslimin menerima nasionalisme. Akhirnya > Taqiuddin mendirikan > > Hizbut Tahrir. Artinya, partai pembebasan. > Maksudnya, pembebasan kaum > > muslimin dari cengkraman Barat dan dalam jangka > dekat membebaskan Palestina > > dari Israel. Itu pada mulanya. > > Ia mengonsep ideologi khilafah Islamiyah. > > > > Lantas? > > > > Nah, karena ia berideologi khilafah Islamiyah, > sementara di negaranya > > sendiri telah berdiri negara nasional, maka akhirnya > berbeda dengan > > masyarakatnya. Di Lebanon, sudah berdiri negara > nasionalis yang multi karena > > rakyatnya terdiri dari banyak agama, > undang-undangnya sesuai jumlah > > penduduknya, misalnya, presidennya, harus orang > Kristen Maronit, Perdana > > Menterinya harus orang Islam Sunni, ketua > parlemennya harus orang Islam > > Syiah. Di Syiria juga telah menjadi negara sosialis, > begitu juga Yordania > > telah berdiri sebagai negara sesuai kondisi > masyarakatnya. > > Akhirnya Hizbut Tahrir itu menjadi organisasi > terlarang (OT) di negara asal > > berdirinya. Karena ia menganggap nasionalisme itu > sebagai jahiliah modern. > > Namun meski menjadi organisasi terlarang Hizbut > Tahrir tetap bekerja dan > > menyusup ke tentara, ke berbagai organisasi profesi > dan masuk juga ke > > parlemen. Hizbut Tahrir masuk ke partai politik > dengan menyembunyikan > > identitasnya. Dari situlah kemudian terjadi > upaya-upaya untuk melakukan > > kudeta terhadap pemerintah yang sah pada jaman Raja > Husen. Sehingga sebagian > > anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan > dihukum mati. Sampai > > sekarang Hizbut Tahrir masih jadi organisasi > terlarang di Yordania. > > > > Bagaimana sejarahnya sampai ke Indonesia? > > > > Mereka mengembangkan ke sini melalui mahasiswa yang > belajar di Mesir. Pola > > ikhwan dikembangkan, pola Salafy dan pola Hizbut > Tahrir dikembangkan. Tapi > > antara Ikhwan, Salafy dan Hizbut Tahrir secara > ideologi bertemu, ada > > kesamaan. Mereka sama-sama ingin menerapkan > formalisasi syariat Islam. Hanya > > bedanya, kalau Salafy cenderung ke peribadatan, atau > dalam bahasa lain > > mengislamkan orang Islam, karena dianggap belum > Islam. Dan target utamanya > > NU karena dianggap sarangnya bid'ah.ha.ha.ha.. Bisa > saja kelompok Salafy, > > Hizbut Tahrir dan Ikwanul Muslimin membantah, tapi > saya tahu karena saya > > telah berkumpul dengan mereka. > > > > Kalau Ikhwanul Muslimin? > > Sama. Kelompok Ikhwanul Muslimin, menjadikan NU > sebagai target. Mereka > > bergerak lewat mahasiswanya yang dinamakan usrah > (keluarga). Usrah ini > > minimal 7 orang, dan maksimal 10 orang. Ini ada > amirnya dan amir inilah yang > > > bertanggungjawab terhadap kelompok. Bagaimana > mengatasi kebutuhan kehidupan > > sehari-hari terpenuhi, misalnya kalau ada anggota > yang kesulitan bayar SPP. > > Jadi mereka tak hanya bergerak di bidang politik, > tapi juga bidang-bidang > > lain. Nah, kelompok inilah yang kemudian menamakan > diri sebagai Tarbiyah > > yang bermarkas di kampus-kampus seperti Unesa dan > sebagainya. Kelompok > > Tarbiyah inilah yang menjadi cikal bakal PKS (Partai > Keadilan Sejahtera). > > Mereka umumnya alumni Mesir, Syiria atau Saudi. > Kelompok ini masih agak > > moderat karena masih mau menerima negara nasional. > Tapi substansi perjuangan > > formalisasi syariat sama dengan Hizbut Tahrir atau > Salafy. > > > > Kalau dalam ideologi khilafah Islamiyah? > > > > Hizbut Tahrir katemu dengan Salafy dan Ikhwanul > Muslimin dalam soal > > formalisasi syariat. Tapi dari segi sistem > khilafahnya tidak ketemu. Sebab > > khilafah Islamiyah itu dianggap utopia. Misalnya > bagaimana denganya sistem > > Syuronya, apakah meniru sistem Turki Utsmani yang > diktator atau Umayah, itu > > masih problem. Tapi bagi Hizbut Tahrir yang penting > khilafah Islamiyah. > > > > Apa saja program Hizbut Tahrir? > > Mereka sampai kini punya konstitusi yang terdiri > dari 187 pasal. Dalam > > konstitusi ini ada program-program jangka pendek. > Yaitu dalam jangka 13 > > tahun, menurut Taqiuddin, sejak berdiri 1953, Negara > Arab itu sudah harus > > jadi sistem Islam dan sudah ada khalifah. Taqiuddin > juga menarget, setelah > > 30 tahun dunia Islam sudah harus punya khalifah. > Tapi kalau kita hitung > > sejak tahun 1953 sampai sekarang kan tidak > teralisir.he..he..he.. Jadi > > utopia, tapi mereka masih semangat. > > > > Bagaimana sejarah Hizbut Tahrir ke Indoneisia? > > > > Itu melalui orang Libanon. Namanya Abdurrahman > Al-Baghdadi. Ia bermukim di > > Jakarta pada tahun 80-an. Kemudian juga dibawa > Mustofa bin Abdullah bin Nuh. > > Inilah yang mendidik tokoh-tokoh HTI di Indonesia > seperti Ismail Yusanto, > > tokoh-tokoh Hizbut Tahrir sekarang. Tapi sebenarnya > diantara mereka ada > > friksi. Karena tokoh-tokoh HTI yang sekarang merasa > dilangkahi oleh Ismail > > Yusanto ini. > > > > Bagaimana gerakan mereka di Indonesia? > > Ini anehnya. Di Indonesia mereka terus terang > menganggap Pancasila jahiliah. > > > Nasionalisme bagi mereka jahiliah. Tapi reformasi > kan memberi angin kepada > > kelompok-kelompok ini sehingga dibiarkan saja. Dan > tidak ada dialog. > > Akhirnya mereka memanfaatkan institusi (seolah-olah) > "mendukung" pemerintah > > untuk mempengaruhi MUI (Majelis Ulama Indonesia). > Tapi mereka taqiah > > (menyembunyikan agenda perjuangan aslinya), sebab > mereka menganggap > > Indonesia itu sebenarnya jahiliah. Taqiah itu > ideologi Syiah tapi dipakai > > oleh mereka. > > Nah, bagaimana respon tokoh Hizbut Tahrir? Ikuti > lanjutan serial ini besok > > dan seterusnya (bersambung) > > > > > > Boleh Cium Perempuan Bukan Muhrim > > Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir (2) > > > > Lalu bagaima cara Hizbut Tahrir merealisasikan > kepentingan politiknya? > > > > > > > > Meski bernama partai, Hibut Tahrir, tak bisa ikut > pemilu. Hizbut Tahrir > > membentuk beberapa tahapan dalam menuju pembentukan > khilafah Islamiah. > > Pertama, taqwin asyakhsyiah islamiah, membentuk > kepribadian Islam. > > Mereka pakai sistem wilayah, karena gerakan mereka > internasional. Jadi untuk > > > Indonesia wilayah Indonesia. Tapi sekarang pusatnya > tak jelas, karena di > > negaranya sendiri sangat rahasia. Mereka > dikejar-kejar karena Hizbut Tahrir > > ini organisasi terlarang. Tapi mereka sudah ada di > London, Austria, di > > Jerman dan sebagainya. > > > > Siapa tokoh internasionalnya itu? > > Nah itu rahasia. Tapi di sini mereka terbuka karena > Indonesia memberi > > peluang. Ada Ismail Yusanto dan sebagainya, jadi > bisa muncul di media massa. > > Nah, dari taqwin syahsyiah islamiah ini bagaimana > bisa mengubah ideologi > > nasionalis menjadi internasionalis Islam. Mereka > agresif, jadi terus > > menyerang. Karena itu orang-orang NU didatangi, > termasuk kiai-kiainya > > didatangi oleh mereka. > > Kedua, attau'iyah, penyadaran. > > Ketiga, at-ta'amul ma'al ummah, interaksi dengan > masyarakat secara > > keseluruhan. Mereka membantu > kepentingan-kepentingan. Saya dengar di > > Surabaya, di Unair dan ITS saja, dalam urunan mereka > bisa menghasilkan uang > > Rp 30 juta tiap bulan. > > Keempat, harkatut tatsqif, gerakan intelektualisasi. > > Ini diajari bagaimana menganalisa hubungan > internasional, mempelajari > > kejelekan-kejelekan ideologi kapitalisme. Pokoknya > yang ideologi modern itu > > mereka serang semua. Mereka melontarkan Islam > sebagai solusi atau > > alternatif. > > Ini beda dengan Ikhwanul Muslimin dan Tarbiah > Islamiah yang kemudian > > menjelma sebagai PKS. Sebab Ikhwanul Muslimin agak > fleksibel. Kasus di > > Syria, di bawah Mustofa as-Syiba'i, ketika ideologi > pemerintahannya > > sosialisme, mereka ikut sosialis. Ia mencari > landasan hukum bahwa sosialisme > > itu benar menurut Islam. Maka Mustofa as-Syiba'i > menulis buku Istiroqiyah > > Islamiah, jadi sosialisme Islam. > > > > Tapi Hizbut Tahrir di Indonesia kan pendukung PKS? > > Kalau dukungan iya, tapi secara formal mereka tidak. > Ya, mungkin ada > > kesamaan dalam perjuangan yang terbatas. > > > > Lalu tahapan apalagi? > > Yang terakhir, at-taqwin daulah islamiah, membentuk > Negara Islam. Sarananya > > apa? Biwasailil jihad, dengan sarana jihad. Jadi > bagi negara nasional, > > gerakan mereka, menurut saya, bahaya. Karena gerakan > selanjutnya adalah > > istilamul hukmi, merebut kekuasaan. > > Meskipun utopia tapi kalau mereka pakai cara-cara > kekerasan, kan berat. > > Karena mereka didoktrin dan pengikutnya muda-muda > semua. Misalnya, mahasiswa > > semester 2 atau 3. Bahkan santri saya datang ke > saya, ia bilang diajak > > Hizbut Tahrir. Saya persilakan. Tapi saya sendiri > pernah diprotes oleh > > Hizbut Tahrir. > > > > Kenapa? > > Saya kan pernah bilang, bahwa pendapat ijtihadi > Hizbut Tahrir ada yang > > kontroversial. Misalnya pendapat fiqhnya menyatakan > bahwa anggota Hizbut > > Tahrir itu sebenarnya boleh non-muslim. Ini kan > kontroversi. Kemudian, > > menurut Hizbut Tahrir, perempuan boleh jadi anggota > parlemen. Kalau di Arab > > ini kontroversi. Lalu juga - menurut Hizbut Tahrir - > boleh melihat film > > porno. Kemudian, ini yang menarik, menurut Hizbut > Tahrir, boleh mencium > > perempuan bukan muhrim, baik syahwat maupun tidak > syahwat. Begitu juga > > salaman dengan perempuan, boleh. > > Tapi mereka (aktivis Hizbut Tahrir) membantah. Waktu > di NU Centre, mereka > > membantah karena saya menyatakan menurut paham > Hizbut Tahrir boleh salaman > > dengan perempuan bukan muhrim. Mereka tanya, masak > Hizbut Tahrir membolehkan > > ciuman dengan cewek bukan muhrim. Padahal setelah > saya lihat dalam buku > > mereka ini (Imam Ghazali Said menunjukkan buku) > memang boleh. > > Berikutnya, perempuan boleh berpakaian celana yang > untuk kawasan Timur > > Tengah dianggap kontroversi. Juga boleh orang kafir > menjadi panglima di > > Negara Islam, bahkan jadi khalifah sekalipun, asal > dia taat pada > > undang-undang Islam. Kemudian juga boleh umat Islam > membayar jizyah (pajak) > > kepada Negara kafir dalam kondisi umat Islam belum > kuat. > > > > Respon mereka? > > Lha, ini nggak benar, kata mereka. Kata mereka, yang > bicara begini ini harus > > > Hizbut Ttahrir. Lalu saya bilang, saya kan punya > data autentik. Ini tulisan > > syaikh Anda sendiri, Taqiuddin Nabhani (pendiri > Hizbut Tahrir). Daulah > > Islamiyah. Saya sebagai guru kan tak boleh bohong. > Sekarang mahasiswa tak > > bisa dibohongi. Mereka bisa akses informasi > kemana-mana sehingga kita tak > > bisa nutup-nutupi. Katanya mereka (aktivis Hizbut > Tahrir) mau kesini, mau > > lihat buku ini. Saya bilang boleh, tapi cukup difoto > kopi. Kalau buku ini > > dibawa jangan, nanti hilang. > > > > Apa kira-kira dasar Hizbut Tahrir membolehkan cium > cewek segala itu? > > Di sini tak dijelaskan alasannya. Tapi perkiraan > saya agar orang Islam dapat > > dukungan dalam mendirikan khilafah, maka tak boleh > terlalu ketat. Tapi > > menurut saya sampai sekarang belum ada tanda-tanda > mereka akan bisa > > mendirikan khilafah. Karena kalau terlalu ketat > mereka tak bisa mendapat > > dukungan internasional. Padahal mereka orientasinya > internasional. Karena > > itu kampanye mereka sekarang tidak boleh > mengkafirkan sesama muslim. Padahal > > ideologinya mereka kafirkan. Nasionalisme mereka > kafirkan. (bersambung) > > > > Abu Jahal juga Berjenggot dan Bersorban > > Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir Indonesia (3) > > > > Pengurus DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa > Timur dan DPD II Surabaya > > kemarin silaturahim ke redaksi HARIAN BANGSA. Mereka > mengklarifikasi > > beberapa pernyataan KH Imam Ghozali Said. Mereka > yang kemarin ditemui > > jajaran redaksi terlibat dialog secara intensif dan > gayeng. Beberapa kali > > terdengar ger-geran. Bagaimana tanggapan mereka? > Tunggu saja. Redaksi akan > > menurunkan tanggapan mereka setelah wawancara dengan > Imam Ghazali Said usai. > > Berikut ini lanjutan wawancara dengan Imam Ghazali > Said. > > > > > > Bagaimana pandangan mereka soal fiqh? > > Ada pemikiran begini. Apakah negara yang pakai > sistem jahiliah itu perlu > > fiqh. Padahal fiqh itu adalah hukum Islam yang harus > dilaksanakan dalam > > pemerintahan yang Islam. Ini terjadi perdebatan > antara Sayid Qutub dan Wahba > > Suhairi. Dr Wahba ini orang Syria yang kitabnya jadi > kutub muktabarah di NU. > > > Dalam ICIS tempo hari Wahba ini datang. Sayid Qutub > ini asalnya kan seorang > > hakim. Tapi, ketika dia masih jadi hakim ia masih > menganggap penting sistem > > khlafah. > > Menurut Sayid Qutub dan Taqiuddin Nabhani, fiqh > tidak perlu dipelajari atau > > dipraktikkan sepanjang suatu negara belum > melaksanakan sistem Islam. Sedang > > Wahba Suhairi menganggap bahwa fiqh adalah suatu > keniscayaan. Ini jadi > > polemik. Menurut Wahba, orang Islam harus belajar > fiqh, baik negaranya Islam > > > maupun tidak Islam. Jadi menurut Wahba tidak hanya > sistem pemerintahan saja, > > tapi bagaimana orang nikah, orang salat, muamalah, > semua itu kan fiqh yang > > ngatur. Tapi menurut Sayid Qutub dan Taqiuddin > Nabhani tidak perlu itu. Yang > > > penting bagaimana memperjuangkan menegakkan > pemerintahan Islam, baru setelah > > itu fiqh. Karena itu meski buku-buku atau tulisan > Sayid Qutub banyak tapi > > tak ada fiqhnya. Semua buku-buku dia bernuansa > politik. Misalnya pertarungan > > > Islam dan kapitalisme dan sebagainya. > > > > Dari penjelasan Anda ini tampak bahwa aktivis HTI > sendiri kemungkinan banyak > > yang belum paham tentang pemikiran Taqiuddin Nabhani > sebagai pendirinya? > > > > Begini. Mereka itu ada jubirnya, jadi informasi dan > pemikiran yang keluar > > diatur. Jadi referensi mereka tidak terbuka. > > > > Berarti ada beberapa pemikiran yang disembunyikan > bagi pengikutnya? > > Ya, padahal kondisi sekarang kan sudah tidak bisa > model begitu. Seperti saya > > kan tidak bisa mengelabuhi mahasiswa saya. Karena > mahasiswa saya bisa > > mengakses literatur primer. Kecuali anggotanya > bodoh-bodoh. Kan kasihan > > kalau anggotanya bodoh-bodoh. Karena itu ketika saya > menyampaikan informasi > > yang benar dari sumber primer lalu dikira keliru > oleh mereka. Ya, ndak bisa, > > > wong saya punya sumber primer. Mereka katanya mau > melihat sumber primer ini. > > > > Maksudnya sengaja disembunyikan? > > Bisa saja dianggap aib dan kalau itu dimunculkan > pasarnya bisa tidak laku. > > Karena itu disembunyikan. Tapi pada era sekarang > mana bisa disembunyikan. > > Lha,wong, di tiga negara, di Libanon, Syria dan > Yordan, Hizbut Tahrir itu > > jadi organisasi terlarang. Di Mesir juga jadi > organisasi terlarang karena > > mau menggulingkan pemerintahan yang sah. Jadi mereka > gampang terseret pada > > aksi kekerasan. Karana itu anak-anak muda NU jangan > mudah terprovokasi ikut > > mereka. > > > > Tapi dalam hal-hal tertentu kan ada juga beberapa > kesamaan dengan NU? > > Ya, mungkin ada kesamaan. Qur'annya satu, Nabinya > satu (Muhammad), karena > > itu kita tak bisa saling menyesatkan sebab > masing-masing punya pandangan > > keagamaan yagn berbeda. Jadi ada hal yang sama dan > ada hal yang beda. > > Artinya, bidang-bidang yang dikerjakan NU ya > serahkan kepada NU, sedang > > bidang-bidang bagian mereka ya serahkan mereka. Ini > tidak akan berbenturan. > > Jadi jangan mencaplok. Sudahlah yang bagian khilafah > sampean (Hizbut > > Tahrir), carilah pengikut tapi jangan di NU. > Mestinya orang-orang kafir > > diupayakan jadi basis pendukung, misalnya. > > > > Kalau kelompok Salafy? > > > > Mereka bergerak dalam bidang pendidikan. Misalnya > LPBA (Lembaga Pendidikan > > Bahasa Arab) yang sekarang menjadi Lembaga Ilmu > Keislaman cabang dari > > Jamiatul Imam Riyadh. Ini dibiayai dari sana sangat > besar. Sebenarnya > > orang-orang seperti Ulil (Ulil Abshar Abdalla, red), > Imdad dan sebagainya > > alumni LPBA ini. Lah, mereka ketemu dengan Rofik > Munawar yang dulu ketua PKS > > > Jawa Timur. Anis Matta (sekjen PKS) itu juga teman > Ulil di LPBA. Mereka dulu > > alumni situ. Hanya saja ada yang kemudian terbawa > dan larut dalam salafy > > seperti Anis Mattta, tapi ada yang nggak, ya kayak > Ulil itu. Kalau Anis > > Matta terbawa Salafy tapi pola politiknya ikut > Ikhwanul Muslimin. > > > > Kelompok Salafy ini sangat puritan. Jadi tahlilan, > dibaan, ziarah kubur, > > mereka sangat tidak mau. Mereka menganggap itu > syirik. Nah, disinilah, dalam > > > bidang peribadatan itu, kelompok PKS ketemu dengan > Salafy. > > > > Sedang orang-orang seperti Ulil, Imdad dan anak-anak > pesantren yang sekolah > > di LPBA melakukan pemberotakan. Mereka menganggap > (paham Salafy) itu tak > > cocok dengan budaya saya (Ulil cs) yang NU. Akhirnya > mereka melanjutkan ke > > ilmu-ilmu filsafat, sosial dan sebagainya, termasuk > belajar ke Magnez Suseno > > di Driyarkara. Kemudian berkomunikasi dengan > Nurcholis Madjid, ketika > > Nurcholis masih ada (hidup). Nah, dalam diri Ulil cs > ini kemudian > > terbentuklah suatu sosok yang berasal dari pola > radikal (Salafy), ketemu > > dengan ilmu-ilmu sosial, ketemu dengan Nurcholis > Madjid, ketemu dengan Gus > > Dur dan sebagainya. Jadi mereka ini meramu dari > berbagai unsur itu sehingga > > jadilah orang seperti Ulil, Hamid Basyaib, Luthfi > Syaukani, Muqsith dan > > sebagainya. > > > > > > > > Apa ada kesamaan dalam soal simbol-simbol pakaian di > antara mereka? > > Ya, memang ada kesamaan, baik kelompok Hizbut > Tahrir, Tarbiah (PKS) maupun > > Salafy. Misalnya pakai celana cingkrang, berjenggot > dan sebagainya. Tapi > > semua kelompok ini sama menyerang NU. > > > > O, ya bagaima sebenarnya sebenarnya soal pakaian itu > menurut Islam? > > Menurut mereka, Nabi itu jenggotan. Abdul Aziz, > tokoh Salafy, itu menulis > > tentang membiarkan jenggot. Menurut dia, kalau orang > mencukur jenggot > > dianggap tabi'ul hawa, mengikuti hawa nafsu. Jadi > menurut mereka memahami > > sunnah Rasul itu apa saja diikuti, termasuk cara > berpakaian. > > Tapi kalau NU kan tidak begitu cara memahami sunnah > Rasul. Paling tidak, NU > > terdidik memahami sunnah Rasul itu dalam arti > substantif, misalnya soal > > peribadatan. Tapi kalau soal pakaian kalangan NU > yang terdidik menganggap > > itu sebagai budaya. Misalnya soal sorban. Nabi > memang bersorban tapi harus > > diingat Abu Jahal dulu juga sorbanan. > > > > Begitu juga soal jenggot. Kalangan NU terdidik > menganggap itu sebagai > > budaya. Karena Abu Jahal pun juga jenggotan. Masak > orang nggak punya jenggot > > disuruh memelihara jenggot. Ada orang yang > jenggotnya hanya tiga helai atau > > tiga lembar itu disuruh pelihara..kan lucu.ha.ha.ha. > > > > > > Kalau soal celana mereka yang cingkrang? > > > > Kan ada dalam hadits Nabi bahwa kalau pakaian orang > itu nglembreh ke kakinya > > dianggap huyala, sombong. Padahal dulu pakaian Abu > Bakar juga ngelembreh, > > panjang ke bawah tapi tidak dianggap sombong. Waktu > itu Abu Bakar tanya, > > apakah saya ini juga dianggap sombong karena pakaian > saya ngelembreh. Lalu > > dijawab, o, tidak, karena Abu Bakar memang tidak > sombong, meski pakaiannya > > nglembreh. Karena tubuh Abu Bakar kurus, jadi sudah > wajar kalau pakaiannya > > dipanjangkan sampai nglembreh. > > Karena itu menurut kalangan NU, pakaian itu dianggap > sebagai budaya. Masak > > orang pakai kopyah hitam dianggap bid'ah hanya > karena Nabi tak pernah pakai > > kopyah hitam. Kan waktu itu belum ada perusahaan > kopyah Gresik ha.ha.. > > Nah, disini lalu semua menyerang NU. Jadi mereka > semua, Hizbut Tahrir, > > Tarbiyah dan Salafy itu sama menyerang NU. Menurut > mereka, yang dimaksud > > ahlussunnah itu adalah versi Ibnu Taymiah, bukan > paham versi Asy'ari. Dalam > > buku-buku mereka paham Asy'ari itu dianggap sesat. > Padahal NU kan menganut > > paham Asy'ari. > > > > > > > > Jihad untuk Negara Nasional > > > > > > Ada yang berpendapat,kalau niat mereka untuk dakwah, > kenapa mereka kok tidak > > > merekrut komunitas lain yang belum beragama, > misalnya. Kalau jamaah NU kan > > hasil jerih payah para wali songo dan ulama > kultural, kenapa mereka tidak > > cari kreasi sendiri agar tidak menimbulkan konflik > sesama umat Islam? > > > > Ya, karena mereka mau mengislamkan orang Islam. Jadi > kita yang sudah Islam > > ini harus diislamkan lagi.ha.ha.. > > > > Jadi iman umat Islam masih perlu diadili. Berarti > mereka merasa paling > > Islam? > > > > O, ya, mereka memang merasa paling Islam. Karena itu > harus kita pahami itu. > > Kalau sikap saya tetap harus moderat. Sepanjang > mereka tidak menyerang kita > > ya kita nggak apa-apa. Tapi mereka menyerang kita, > ya kita harus melawan. > > Karena itu di beberapa tempat seperti di NTT, > Jember, kita lawan karena > > mereka sudah menyerang kita. Di Purwokerto misalnya > orang NU dianggap sesat. > > Saya kan kesana, orang NU di sana dianggap dlalal > finnar, masuk > > neraka.ha..ha.. ya kelompok Salafy itu. Jadi yang > menyerang NU dalam > > peribadatan itu kelompok Salafy, sedang yang > menyerang NU dari segi politik > > kelompok Hizbut Tahrir dan Tarbiyah (PKS). Jadi > orang NU itu harus sadar, > > bahwa sekarang mereka diserang dari berbagai arah. > > > > Jadi secara paradigmatik maupun aksi memang beda > sekali dengan NU? > > Sejak Gus Dur mimpin NU kan membuka cakrawala baru > di kalangan anak-anak > > muda NU. Gus Dur mengevaluasi bahwa formalisasi > syariat ternyata selalu > > gagal, karena itu Gus Dur membuka wacana baru Islam > sebagai etika soial. Dan > > > ini kemudian menjadi gaung NU sampai sekarang, walau > belakangan NU diutik > > dengan formalisasi syariat. Tapi Pak Hasyim Muzadi > dalam berbagai wawancara > > menyatakan tidak memperjuangkan Islam seperti > teksnya tapi yang > > diperjuangkan adalah ruhnya. Bisa saja KUHP seperti > sekarang tapi ruh Islam > > ada di situ. Nah, dalam hal ini pengaruh Gus Dur > sangat besar. > > Tapi di struktural NU sekarang kan dilakukan > pembersihan terhadap > > kelompok-kelompok Gus Dur. Di Lakpesdam, Imdad (M > Imaduddin Rahmat, red) > > bilang kepada saya bahwa dia hanya ditaruh sebagai > pemimpin redaksi > > Tashwirul Afkar. Tapi di struktur Lakpesdam ia sudah > tak masuk. > > Tapi untuk membersihkan orang-orang Gus Dur secara > total tidak bisa. Karena > > pengurus NU yang pandai-pandai adalah "didikan" Gus > Dur. Paling tidak, > > secara visi keagamaan sama karena sebelumnya pernah > lama berinteraksi dengan > > Gus Dur. Misalnya Endang Turmudzi, Sekjen PBNU. Dia > kan orang LIPI. Kemudian > > > Nazaruddin Umar, Katib Aam Syuriah. Nah, ketika > berhubungan dengan dunia > > internasional, kelompok-kelompok "didikan" Gus Dur > inilah yang bisa > > berkomunikasi. Jadi meski mereka ini dibenci tapi > tetap dibutuhkan. Misalnya > > > ada Masdar dan sebagainya. Dan mereka inilah yang > mengerti persoalan yang > > dihadapi NU ke depan dalam menghadapi > kelompok-kelompok Islam radikal itu. > > > > Bisa dijelaskan soal NU dalam kontek negara > nasional? > > NU fiqh mainded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang > berkembang. Fiqh yang > > dikembangkan NU adalah fiqh dalam kontek negara > nasional. Ketika Kiai Hasyim > > Asy'ari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa > resolusi jihad Negara Indonesia > > dalam kondisi bukan negara agama. Karena saat itu > kalimat menjalankan > > syariat Islam sudah dihapus kemudian Belanda datang > lagi akhirnya Kiai > > Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad. Jadi Negara > yang dipertahankan > > waktu itu negara "sekuler" kan. Jadi NU tak bisa > lepas dari negara > > nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, fatwa jihad > Kiai Hasyim itu > > merupakan fatwa pertama di dunia Islam yang > mempertahankan negara > > nasionalis. Belum ada ketika itu ulama yang berfatwa > kewajiban jihad untuk > > mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim > Asy'ari itu pelopor > > pertama. > > > > Apa kira-kira dasar pemikirannya? > > Mungkin bagi Kiai Hasyim yang terpenting Indonesia > merdeka dulu. Apalagi > > bangsa Indonesia mayoritas umat Islam. Ini yang > harus diutamakan. Jadi Kiai > > Hasyim membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan > mempertahankan negara > > nasional. Nah, ini bagi wacana pemikiran > internasional seperti orang-orang > > yang menginginkan sistem kahalifah kontroversi. > > Perjuangan NU berikutnya, dalam sejarahnya, > seluruhnya selalu terkait dengan > > > negara. Soekarno, misalnya, diberi gelar waliyul > amri dlaruri bissyaukah. > > Jadi pemerintah darurat yang mempunyai kekuatan. Ini > asalnya kan diberi oleh > > konfrensi ulama di Cipanas 1954. Kemudian pada 1956 > oleh NU dianggap sah. > > Ini artinya apa? Karena dikaitkan dengan fiqh? Sebab > perempuan yang tidak > > punya wali dalam pernikahan walinya harus Sulthon. > Padahal hadits as-sultonu > > waliyu man laa waliya lah. Sulthon itu adalah wali > bagi orang yang tak punya > > > wali. Kalau Sulthon ini tidak diberi legitimasi > sesuai syariat kan tidak sah > > Sulthon ini. Jadi ini terkait dengan fiqh maka > negara walau sekuler harus > > diakui sah menurut syariah. Nah, cara berpikir ini > saya kira cerdas. Kalau > > nggak gimana. Sulthon itu siapa, padahal kalau orang > kawin harus mencatatkan > > diri ke situ. Nah, itulah NU. > > Tapi ini kemudian disalahpahami oleh kelompok Islam > modernis. Dikira NU itu > > oportunis pada negara karena memberi legitimasi. > Padahal sebenarnya ini > > terkait dengan fiqh. > > > > Faktor lain? > > > > Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu > Kartosuwirjo sedang mengadakan > > pemberontakan. Nah, pemberian gelar waliyul amri > dlaruri bissyaukah itu > > sebagai legitimasi pada Soekarno agar bisa mengatasi > gerakan pemberontakan > > itu. Tapi inti NU itu sebenarnya pada fiqh urusan > perkawinan tadi itu, bukan > > pada fiqh siyasahnya (politik). Selanjutnya > perjuangan NU terus berkait > > dengan negara nasionalisme. Ini yang harus dipahami > oleh kelompok-kelompok > > baru ini seperti Hizbut Tahrir dan sebagainya itu. > (Bersambung) > > > > Selasa 29 Agustus 2006 9:55:56 WIT > > > > NU Dianggap Masuk Neraka > > Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir Indonesia (4) > > > > Dalam edisi kemarin ada beberapa nama dan kutipan > salah tulis. Misalnya di > > situ tertulis Dr Wahba Suhairi. Yang benar adalah Dr > Wahbah Zuhaily. Begitu > > juga Sayid Qutub tertulis sebagai hakim. Yang benar, > Taiqiuddin an-Nabhani > > asalnya seorang hakim, sedang Sayid Qutub seorang > sastrawan. Redaksi mohon > > maaf kepada Pembaca. Pembetulan ini sekaligus > sebagai ralat. Berikut > > lanjutan wawancara dengan KH Imam Ghozali Said, MA. > > > > > > > > Ada yang berpendapat,kalau niat mereka untuk dakwah, > kenapa mereka kok tidak > > merekrut komunitas lain yang belum beragama, > misalnya. Kalau jamaah NU kan > > hasil jerih payah para wali songo dan ulama > kultural, kenapa mereka tidak > > cari kreasi sendiri agar tidak menimbulkan konflik > sesama umat Islam? > > > > Ya, karena mereka mau mengislamkan orang Islam. Jadi > kita yang sudah Islam > > ini harus diislamkan lagi.ha.ha.. > > > > Jadi iman umat Islam masih perlu diadili. Berarti > mereka merasa paling > > Islam? > > > > O, ya, mereka memang merasa paling Islam. Karena itu > harus kita pahami itu. > > Kalau sikap saya tetap harus moderat. Sepanjang > mereka tidak menyerang kita > > ya kita nggak apa-apa. Tapi mereka menyerang kita, > ya kita harus melawan. > > Karena itu di beberapa tempat seperti di NTT, > Jember, kita lawan karena > > mereka sudah menyerang kita. Di Purwokerto misalnya > orang NU dianggap sesat. > > > Saya kan kesana, orang NU di sana dianggap dlalal > finnar, masuk > > neraka.ha..ha.. ya kelompok Salafy itu. Jadi yang > menyerang NU dalam > > peribadatan itu kelompok Salafy, sedang yang > menyerang NU dari segi politik > > kelompok Hizbut Tahrir dan Tarbiyah (PKS). Jadi > orang NU itu harus sadar, > > bahwa sekarang mereka diserang dari berbagai arah. > > > > Jadi secara paradigmatik maupun aksi memang beda > sekali dengan NU? > > Sejak Gus Dur mimpin NU kan membuka cakrawala baru > di kalangan anak-anak > > muda NU. Gus Dur mengevaluasi bahwa formalisasi > syariat ternyata selalu > > gagal, karena itu Gus Dur membuka wacana baru Islam > sebagai etika soial. Dan > > ini kemudian menjadi gaung NU sampai sekarang, walau > belakangan NU > > diutik-utik dengan formalisasi syariat. Tapi Pak > Hasyim Muzadi dalam > > berbagai wawancara menyatakan tidak memperjuangkan > Islam seperti teksnya > > tapi yang diperjuangkan adalah ruhnya. Bisa saja > KUHP seperti sekarang tapi > > ruh Islam ada di situ. Nah, dalam hal ini pengaruh > Gus Dur sangat besar. > > Tapi di struktural NU sekarang kan dilakukan > "pembersihan" terhadap > > kelompok-kelompok Gus Dur. Di Lakpesdam, misalnya, > Imdad (M Imdaduddin > > Rahmat, red) bilang kepada saya bahwa dia hanya > ditaruh sebagai pemimpin > > redaksi Jurnal Tashwirul Afkar. Tapi di struktur > Lakpesdam ia sudah tak > > masuk. > > Tapi untuk membersihkan orang-orang Gus Dur secara > total tidak bisa. Karena > > pengurus NU yang pandai-pandai adalah "didikan" Gus > Dur. Paling tidak, > > secara visi keagamaan sama karena sebelumnya pernah > lama berinteraksi dengan > > Gus Dur. Misalnya Endang Turmudzi, Sekjen PBNU. Dia > kan orang LIPI. Kemudian > > > Nazaruddin Umar, Katib Aam Syuriah. Nah, ketika > berhubungan dengan dunia > > internasional, kelompok-kelompok "didikan" Gus Dur > inilah yang bisa > > berkomunikasi. Jadi meski mereka ini dibenci tapi > tetap dibutuhkan. Misalnya > > > ada Masdar (KH Masdar Faid Mas'udi, Red) dan > sebagainya. Dan mereka inilah > > yang mengerti persoalan yang dihadapi NU ke depan > dalam menghadapi > > kelompok-kelompok Islam radikal itu. > > > > Bisa dijelaskan soal NU dalam kontek negara > nasional? > > NU fiqh minded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang > berkembang. Fiqh yang > > dikembangkan NU adalah fiqh dalam kontek negara > nasional. Ketika Kiai Hasyim > > Asy'ari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa > resolusi jihad, Negara > > Indonesia dalam kondisi bukan negara agama. Karena > saat itu kalimat " > > menjalankan syariat Islam.." sudah dihapus. Kemudian > Belanda datang lagi > > akhirnya Kiai Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa > jihad. Jadi Negara yang > > dipertahankan waktu itu negara "sekuler" kan. Jadi > NU tak bisa lepas dari > > negara nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, > fatwa jihad Kiai Hasyim itu > > merupakan fatwa pertama di dunia Islam yang > mempertahankan negara > > nasionalis. Belum ada ketika itu ulama yang berfatwa > kewajiban jihad untuk > > mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim > Asy'ari itu pelopor > > pertama. > > > > Apa kira-kira dasar pemikirannya? > > Mungkin bagi Kiai Hasyim yang terpenting Indonesia > merdeka dulu. Apalagi > > bangsa Indonesia mayoritas umat Islam. Ini yang > harus diutamakan. Jadi Kiai > > Hasyim membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan > mempertahankan negara > > nasional. Nah, ini bagi wacana pemikiran > internasional - seperti orang-orang > > > yang menginginkan sistem khalifah - kan kontroversi. > > > > Begitu juga perjuangan NU berikutnya, dalam > sejarahnya, seluruhnya selalu > > terkait dengan negara. Soekarno, misalnya, diberi > gelar waliyul amri dlaruri > > bissyaukah (pemerintah darurat yang mempunyai > kekuatan). Ini asalnya kan > > diberi oleh konfrensi ulama di Cipanas 1954. > Kemudian pada 1956 oleh NU > > dianggap sah. Ini artinya apa? Karena dikaitkan > dengan fiqh. Sebab perempuan > > > yang tidak punya wali dalam pernikahan walinya harus > Sulthon. Dasarnya > > adalah hadits as-sultonu waliyu man laa waliya lah. > Sulthon itu adalah wali > > bagi orang yang tak punya wali. Kalau Sulthon ini > tidak diberi legitimasi > > sesuai syariat kan tidak sah Sulthon ini. Jadi ini > terkait dengan fiqh, maka > > negara walau sekuler harus diakui sah menurut > syariah. Nah, cara berpikir > > ini saya kira cerdas. Kalau nggak gimana nasib > perkawinan itu. Sulthon itu > > siapa, padahal kalau orang kawin harus mencatatkan > diri ke situ. Nah, itulah > > NU. > > Tapi ini kemudian disalahpahami oleh kelompok Islam > modernis. Dikira NU itu > > oportunis pada negara karena memberi legitimasi. > Padahal sebenarnya ini > > terkait dengan fiqh. > > > > Faktor lain? > > > > Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu > Kartosuwirjo sedang mengadakan > > pemberontakan. Nah, pemberian gelar waliyul amri > dlaruri bissyaukah itu > > sebagai legitimasi pada Soekarno agar bisa mengatasi > gerakan pemberontakan > > itu. Tapi inti NU itu sebenarnya pada fiqh urusan > perkawinan tadi itu, bukan > > pada fiqh siyasahnya (politik). Selanjutnya > perjuangan NU terus berkait > > dengan negara nasionalisme. Ini yang harus dipahami > oleh kelompok-kelompok > > baru seperti Hizbut Tahrir dan sebagainya itu. > (Bersambung) > > > > iapa Amir-nya di Indonesia? > > Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir Indonesia (5) > > > > Dengan demikian, bisa dijelaskan perbedaan antara NU > dan HTI? > > > > Ya. NU berdiri tahun 1926 dalam proses menuju > pembentukan negara Indonesia. > > Sedang Hizbut Tahrir (HT) berdiri ketika nation > state di tempat ia berdiri > > telah terbentuk, yaitu tahun 1953. Dari segi latar > belakang waktu yang > > berbeda ini, dipahami bahwa sejak awal NU memberi > saham besar terhadap > > pembentukan nation state yang kemudian menjadi > negara Indonesia merdeka. > > > > > > Sedang HT berhadapan dengan negara yang sudah > terbentuk. Maka wajarlah, jika > > HT menganggap bahwa nasionalisme itu sebagai > jahiliyah. Karena mereka anggap > > > menjadi penghalang dari pembentukan > internasionalisme Islam, apalagi > > nasionalisme tersebut tidak memberlakukan syariat > Islam dan lebih banyak > > mengadopsi sistem hukum sekuler Barat. > > NU menerima sistem hukum penjajah dalam keadaan > darurat. Karena negara tidak > > > boleh kosong dari hukum. Selanjutnya, NU berjuang > agar hukum yang berlaku di > > negara ini bisa menjadikan fikih sebagai salah satu > sumber dari hukum > > nasional kita. Dari situ, NU ikut ambil saham dalam > penerapan UU Perkawinan > > dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang saat ini > berlaku di Indonesia. > > Tentu HT belum punya saham dalam memperjuangkan > hukum Islam di negara > > nasional ini, sehingga tidak logis jika HT langsung > menentang negara > > nasional ini gara-gara tidak memberlakukan syariah > Islam secara kaffah. > > Jadi, perjuangan NU dalam menegakkan syariah baik > sebagai etika sosial > > maupun sebagai hukum formal tidak bisa diletakkan di > luar NKRI. Karena NKRI > > ini didapat dengan perjuangan para syuhada yang > gugur pada prakemerdekaan > > maupun pascakemerdekaan. Pendek kata, NU tidak bisa > terpisah dari negara > > nasional ini. > > > > Mestinya, suatu ormas dapat diakui legal di negara > ini harus terdaftar di > > Depkum HAM. Apakah ini berlaku bagi HTI? > > > > Nah itu masalahnya. Saya tidak tahu. Yang jelas, HTI > dapat leluasa melakukan > > kegiatan pascareformasi. Tapi jika dilihat dari > semua kegiatan yang > > dilakukan, tampaknya HTI belum mengantongi izin > sebagai ormas. Karena jika > > nanti dipelajari tujuan berdirinya ormas ini oleh > pemerintah, pasti ormas > > ini dilarang karena menentang konstitusi negara. Hal > seperti itu yang > > terjadi di Yordan, Syiria, Libanon, Malaysia, dan > lain-lain. Jadi, HT di > > semua negara itu menjadi organisasi bawah tanah. > > Indikator ini tampaknya ada di Indonesia. Buktinya, > tidak jelas siapa > > Amirnya. Yang tampak itu Ismail Yusanto sebagai juru > bicara. Atau di Jawa > > Timur itu siapa Amirnya? Yang kelihatan dr Usman > sebagai humas atau > > jubirnya. Jabatan ketua DPD I, DPD II HTI, itu > sebenarnya kamuflase untuk > > mengelabui agar diakui sebagai ormas yang legal. > Kalau tujuannya menentang > > konstitusi negara, bagaimana mungkin bisa diakui? > Tapi saya tidak tahu. > > Barangkali sudah mengantongi izin. Ini yang perlu > dijelaskan oleh HTI dan > > pemerintah. > > Realitanya, sistem sel seperti yang terjadi di > Yordan, Mesir, Sudan, dan > > lain-lain juga berlaku di sini. Di sini mestinya > pemerintah cermat. Namun > > saya yakin, BIN sudah tahu masalah ini, tapi sengaja > dibiarkan. > > Semua yang saya jelaskan itu berdasarkan > sumber-sumber primer tulisan > > pendiri dan aktifis HT di Yordan, Palestina, Syiria, > Libanon dan Mesir. Di > > antaranya Al Daulah al Islamiyah karya Taqiyuddin > Nabhani, Kaifa Huddimat al > > Khilafah karya Abdul Qodim Zallum, dan lain-lain > yang semuanya ada di > > Perpustakaan An-Nuur. > > > > Harapan Anda pada HTI dan NU? > > Antara NU dan HTI itu memang ada perbedaan prinsip, > tapi ada juga kesamaan. > > Keinginan untuk melaksanakan ajaran Islam dalam > semua aspek kehidupan itu > > sama antara keduanya. Hanya perbedaannya, adalah > bagaimana cara > > merealisasikannya. NU lebih realistis, sedang HTI > utopis. > > Lah, kapan khalifah seperti yang dicita-citakan itu > akan muncul? Wong > > prediksinya - yang katanya 30 tahun dari berdirinya > HTI, sistem khalifah > > akan terbentuk di seluruh dunia Islam. Buktinya > mana? Di Yordan saja masih > > jauh, apalagi di Indonesia. > > Karena itu, hal-hal yang sama mestinya bergerak > secara koordinatif. Obyek > > dakwah yang sudah menjadi kaplingan NU, jangan > diganggu. Apalagi itu > > jelas-jelas masjidnya NU, lembaga pendidikan NU, dan > lain-lain. > > NU sendiri mestinya mampu merumuskan tujuan idealnya > di negeri ini. > > Sekaligus merumuskan langkah-langkah realistis untuk > mencapai tujuan itu. > > Dalam hal ini, kita bisa berguru pada HTI dengan > empat marhalah perjuangan > > HT yang populer itu. (takwin syakhsiyah islamiyah - > pembentukan pribadi > > islami, taw'iyah - penyadaran keislaman, tatsqif > (intelekktualisasi), dan > > takwinud daulah - pembentukan negara khilafah atau > populer juga dengan > > istilah taslimul hukm - merebut kekuasaan). > > Ke depan, saya mengharap, HTI berhenti dan tidak > mengganggu obyek-obyek > > dakwah NU. Jika tidak, NU akan melawan. > > > > Kalau begitu, HT tidak boleh mempunyai aset? > > > > Ya pasti. Karena di Indonesia baru berkembang dan > legalitasnya masih > > dipertanyakan. Mungkin karena faktor inilah > aktifis-aktifis HT memanfaatkan > > toleransi warga NU sehingga masjid-masjidnya banyak > dikuasai oleh HT. Remaja > > > Masjid Surabaya, misalnya, sudah dikuasai mereka. > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
