gamparan anu mulya nyaeta kitu sadayana oge meu[euhkana "sense data" diri masing2 bertaut kepada pokok masalah yang senantoasa enjadi POLEMIK manusia 1) mengapa THAN YANG ESA mencipta manusia dengan berbagai bangsa, warna, dan karakternya 2) mengapa TUHAN YANG ESA mencipta manusia di jagat semesta ini di dunia 3) mengapa TUHAN YANG ESA mencipta manusia diantara makhluk2 lainnya 4) mengapa TUHAN YANG ESA mencipta manusia dengan kapaditas AKAL bkan sekedar OTAK 5) mengapa TUHA YANG ESA memberadakan manusia ini di dunia, jika memang kelak harus pulang kembali kepadaNYA
SENSE DATA Tabe pun AMBU ________________________________ From: Abah Abdurrohman <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, November 9, 2008 10:06:37 AM Subject: Re: [kisunda] masalah taqdir Sampurasun Ambu, manawi aya lolongkrang, sim kuring seja ngahaturkeun cocoretan tahun 2000, harita bade di damel buku teu kabujeng.... . Ngeunaan bahasan Alam Semesta...mung dina bahasa Indonesia, aya opat bagian, mung bade nyobi digelar Bagian ka 1 sareng ka 2. Judulna : DIMANAKAH KINI KITA BERADA..? nyanggakeun sabrang salayan lebet ka cabe mah henteu...... AMS DIMANAKAH KINI KITA BERADA? Oleh : H.A.M. Sastra, ME(2000) Bagian Ke 1 Suatu pertanyaan yang sangat tua, bisa jadi sama tuanya dengan umur manusia modern pertama yang diperkirakan lahir dan menjadi penghuni di muka Bumi ini sekitar 100.000 tahun yang lalu. Walaupun tidak secara langsung dan terbuka kepada pihak lain, pertanyaan ini pernah timbul dalam hati dan pikiran setiap manusia termasuk kita setidaknya ditujukan hanya untuk dirinya. Hal ini dianggap wajar karena manusia sebagai makhluk berakal dan berhati nurani selalu diberi rasa ingin tahu tentang yang ada dan mungkin ada. Mengapa manusia selalu bertanya seperti itu? Mungkin bukan jawaban secara fisik yang dicari, karena kita sendiri sadar bahwa sekarang kita hidup berada di suatu alam nyata di sini di dunia yang dikenal sebagai Alam Semesta (“ the Universe”). Lebih dari itu manusia tampaknya ingin mengetahui makna yang terkandung di balik yang nyata ini, dengan menguji suatu proses berpikir sejauh yang bisa difahaminya. Upaya untuk memahami makna ini adalah bagian dari perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Inilah barangkali salah satu ciri dari jiwa penjelajah pikiran yang hidup dari jaman ke jaman. Bahkan bisa juga pertanyaan ini merupakan salah satu indikator bahwa yang bersangkutan memiliki akal sehat yang dinamis sebagai makhluk yang paling sempurna di muka Bumi. Peringatan Bagi Para Pemikir! Memahami hal ihwal Alam Semesta sangat mengasyikkan, namun demikian memasuki masalah ini kita harus memiliki logika yang jernih dan ilmu pengetahuan yang luas serta dasar ”keimanan” kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang kuat, mengingat hal ini sangat komplek dan muskil yang bisa membawa pikiran kita kepada situasi misteri yang tak berujung. Karena tidak menemukan jawaban yang pasti, tidak sedikit orang tersesat lepas kendali sehingga tidak punya keyakinan lagi kepada apapun (“Atheis”), bahkan banyak kasus si antara mereka menjadi frustasi dan dipresi berat yang berakhir tragis menjadi “gila”. Hal ini disebabkan karena imannya rapuh, ilmu pengetahuan terbatas dan logikanya tidak sanggup berpikir kritis yang sistimatis. Dengan tidak bermaksud merendahkan seseorang, para pakar ilmu jiwa menganjurkan bahwa bagi mereka yang merasa kurang mampu untuk memikirkan yang komplek, sebaiknya tidak dan jangan coba-coba memasuki pikiran untuk mencari jawaban pertanyaan di atas. Di dalam agama Islam sendiri tidak ada pemaksaan. Allah SWT dalam Al Quran menyatakan bahwa tidak sekali-kali membebani tugas atau kewajiban yang harus dilakukan kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya seperti tercantum dalam Surat Al-Mu’minun 62:” Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada sesuatu kitab yang berbicara dengan kenyataan, sedikitpun mereka tidak akan dirugikan”. Demikian pula untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat cukuplah dengan beriman dan berbuat kebajikan seperti dinyatakan dalam Al Quran Surat An-Nahl 97: ”Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan kebajikan (beramal salih), baik dia laki-laki maupun perempuan, lagi pula beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia, sedangkan di akhirat Kami berikan pembalasan pahala kepadanya, jauh lebih baik dari apa yang mereka perbuat ”. Oleh sebab itu bagi mereka yang merasa kurang mampu, lebih baik berpikir yang sederhana yang realistik, berbuatlah kebajikan dan jagalah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Bagi mereka yang merasa mampu, tentu saja tidak ada larangan menjelajahi cakrawala pikiran seluas-luasnya sepanjang masih dirasakan ada manfaatnya bagi diri dan orang lain serta alam lingkungan sekitarnya, seperti difirmankan Allah SWT dalam Al Quran Surat Al-Mujaadilah 11 :”Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Bersambung) Bagian Ke 2 Memperhatikan serta memikirkan penciptaan Alam Semesta beserta segala sesuatu fenomenanya di dalam Islam sangat dihargai. Manusia diberi kesempatan bahkan dianjurkan untuk memikirkan hal tersebut seperti dinyatakan oleh Allah SWT dalam Al Quran Surat Al-Gasyiah 17-20: ” Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? . Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakan?. Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” . Demikian juga dalam Surat Ar-Rad 2-3, Allah SWT berfirman: ”Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy, dan menundukan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya) , menjelaskan tanda-tanda (kebenaran-Nya) , supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. Akan tetapi suatu hal yang perlu disadari bahwa bagaimanapun manusia ingin mengetahui hakikat rahasia Alam Semesta, kemampuan akal pikiran manusia sangat terbatas. Tidak semua fenomena kehidupan bisa terjawab secara memuaskan dan mungkin tidak akan ditemukan jawabannya sampai akhir jamanpun. Allah SWT memberikan peringatan kepada mereka yang ingin tahu tentang hakikat-Nya seperti tercantum dalam Al Quran Surat Al An’aam 103: ”Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. Berbagai teori menurut para pakar baik filsafat, ilmu bidang fisika, metafisika dan kosmologi maupun teologi dan agama tentang kejadian Alam Semesta telah banyak ditulis dan diperdebatkan. Terjemahan tulisan ilmiah dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan perguruan tinggi terkenal di dunia telah disebarkan melalui internet dan majalah secara luas. Demikian pula beberapa buku yang ditulis para pakar di dalam dan luar negeri bisa diperoleh di toko-toko buku untuk dijadikan acuan antara lain: ”Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama”(Ian G. Barbour, Mizan, 2000), ”Para Pencari Tuhan, Dialog Al-Quran, Filsafat, dan Sains dalam Bingkai Keimanan” (Terjemahan, Syaikh Nadim al-Jisr, Pustaka Hidayah, 1998), ” Ensiklopedi Tematis Spirituialitas Islam” (Buku 1 dan 2, Terjemahan Seyyed Hossein Nasr, Mizan, 2002), ”Penciptaan Alam Semesta” (Terjemahan: Harun Yahya, 2002) dll. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas secara mendalam teori dasar yang telah diungkapkan secara ilmiah dalam buku-buku di atas, tapi yang menarik bagi kita sebagai orang awam adalah konflik dan dilema para pemikir tersebut dalam memahami kejadian Alam Semesta yang tidak terlepas dari pemahaman adanya ”Tuhan”. Walaupun terus diupayakan untuk dipertemukan dan diselaraskan, tampaknya konflik konsep kejadian Alam Semesta menurut filsafat, ilmu pengetahuan, teologi, agama termasuk tasawuf tidak dapat dihindari. Pandangan ”Kebetulan” dan ”Penciptaan Tuhan” Dari sekian banyak konsep, dua di antaranya mempunyai dasar yang sangat bertentangan dalam menjelaskan kejadian Alam Semesta. Pandangan pertama mengatakan bahwa Alam Semesta itu terjadi secara ”Kebetulan”. Menurut faham ini seolah-olah Alam Semesta ”tidak berawal dan tidak akan berakhir” dan segala sesuatu yang ada terjadi dengan sendirinya. Konsep ini melahirkan pemikir ”Atheis” yang tidak percaya pada penciptaan oleh ”Tuhan”. Sedangkan pandangan kedua mengatakan bahwa Alam Semesta ini awalnya terjadi dari ”Ketiadaan”, kemudian ”diciptakan” menjadi ”Ada”. Konsep ini kemudian melahirkan pandangan ”Theis” bahwa Alam Semesta ini dijadikan oleh ”Pencipta” yang membawa kepada keyakinan adanya ”Tuhan”. Kemudian dari segi proses pembentukannya, terdapat dua pandangan yang sangat bertentangan yaitu ”Kekal (Statis)” dan ”Berkembang (Evolusi)”. Semula teori evolusi ini hanya digunakan untuk menjelaskan kejadian kehidupan di muka bumi (Charles Darwin) tapi kemudian digunakan pula untuk menjelaskan kejadian planet dalam tatasurya, bintang-bintang dan galaksi-galaksi menjadi suatu sitim kosmos membentuk Alam Semesta. Dalam perkembangan memasuki abad ke-20 terjadi persilangan pandangan seperti konsep “Dialektik-Materiali stik” yang dianut oleh Karl Marx dan Lenin, dimana proses kejadiannya cenderung meyakini teori evolusi, akan tetapi dia tidak meyakini adanya ”Tuhan” sebagai ”Pencipta-nya” . Di lain pihak terdapat pula pandangan yang tidak percaya pada konsep evolusi Darwin secara utuh, akan tetapi meyakini bahwa penciptanya adalah ”Tuhan” seperti dianut oleh sebagian para ahli teologi dan agama. Mengenai konsep ”Penciptaan”, para pemikir Yunani yang dikembangkan oleh Aristoteles dan pengikutnya sekitar 335 tahun sebelum Masehi, telah mengemukakan hipotesanya tentang keadaan Alam Semesta yang bersifat dualistik (makna ganda) antara esensi “Tuhan” yang sering dianalogkan dengan “Ada Mutlak” dan esensi “Alam” yang sering diartikan “Ada Tidak Mutlak”. Demikian pula dalam kitab ”Weda” yang diyakni berasal dari India dan berkembang pada abad ke 5 sebelum Masehi, segala sesuatu di Alam Semesta ini merupakan manifestasi dari kekuatan suci yang disebut ”Brahman”, yang lebih jauh diartikan sebagai kekuatan abadi yang menjaga segala sesuatu. Kemudian di yakini pula bahwa manakala keabadian ini ditransformasikan pada setiap individu, maka itulah yang disebut “Atman”. Begitu juga dalam konsep “Tao” dari Cina yang memberikan gambaran Alam Semesta sebagai perpaduan pasangan ”Yin” perwujudan bumi dan”Yang” perwujudan langit, pada dasarnya meyakini adanya eksistensi yang aktif dan reseptif. Seperti dikatakan Confusius: “Bagaikan sebagai sebuah sungai yang mengalir, seluruh Alam Semesta terus mengalir, siang dan malam”.(Sackio Murata, The Tao of Islam, 1996) Disamping teori kuno di atas, orang “Baduy” yang hidup sangat sederhana di wilayah Banten Selatan (usianya belum diketahui pasti?) juga mempunyai suatu konsep kejadian Alam Semesta. Konsep mereka tampaknya tidak jauh dari para pemikir Yunani kuno. Cuplikan pemikirannya penulis ambil dari Buku 8 Riwayat Baduy yang diususn oleh ”Sursa (Suria Saputra)” Bogor, tahun 1950 sebagai berikut: Bermula, maka jagatraya ini suwung, awang-awang uwung-uwungan belum ada. Suwung di sini kami artikan ”ada dalam tiada”, ialah ”adanya itu tidak tampak oleh mata kepala” karena matanyapun belum ada. Dari keadaan suwung ini lama dan lama sekali menjadi cair. Dari keadaan cair ini ada bagian bagian yang menjadi kental. Selanjutnya dari bagian yang kental ini, ada yang mula-mula keras sebesar ”cariu ading”, di tempat yang kini disebut ”Sasaka Domas”. Cariu ading (Schismatogootis latifolia MIQ var. Rubescens. 422), buahnya bulat pipih, garis tengah l.k. 2 cm warnanya merah kekuning-kuningan. Walaupun sangat sederhana, konsep Baduy telah memberikan gambaran cara berpikir proses kejadian secara sisitimatis menggunakan kaidah logika yang tinggi. Namun sebab awalnya jelas dikatakan sebagai suatu yang tak berwujud dan tak terwujudkan atau dalam bahasa Sunda disebut “Suwung”(Ketiadaan?). Sedangkan galaksi dan tata surya digambarkannya sebagai kumpulan kabut yang melayang mengarungi ruang yang maha luas atau mereka sebut dengan “awang-awangan uwung-uwungan” seperti halnya teori pembentukan tata surya dan galaksi menurut “Kant-Laplace” . Konsep ini dapat dianalogikan dengan konsep “evolusi”, namun secara eksplisit tidak menyatakan bahwa “Suwung” itu “Tuhan”, karena ketiadaannya tidak dapat disaksikan sesuatupun. Konsep-konsep kuno di atas pada prinsipnya telah mengakui adanya Pencipta sebagai sebab awal dan wujud (eksistensi) Alam Semesta sebagai obyek akibat penciptaan-Nya. Dalam wujud penciptaan tersebut terdapat “pasang-pasangan” seperti bumi dan langit, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, salah dan benar dan banyak lagi. Pasang-pasangan ini lebih jauh telah diartikan sebagai tanda atau simbul adanya hubungan Pencipta (Tuhan) dengan yang diciptakan-Nya (makhluk). Cara berpikir mereka umumnya dimulai dari naluri kemudian dikembangkan oleh logika memasuki prinsip-prinsip ilmu filsafat. (Bersambung) . --- On Sun, 11/9/08, richadiana kartakusuma <richadianakartakusu [EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: richadiana kartakusuma <richadianakartakusu [EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [kisunda] masalah taqdir To: [EMAIL PROTECTED] .com Date: Sunday, November 9, 2008, 9:25 AM TAQDIR ! memang selalu berkait kepada SAng Pencipta dan yang Diciptakannya, tetapi TAQDIR secara infinitif atau dalam tataran kata adalah sekedar meminjam istilah saja, karena sinonim pengertian inti (esensi) taqdir itu sendiri juga terdapat dan dimiliki oleh semua bangsa didunia. Jadi padanan Taqdir itu banyak masing2 individu/kelompok manusia juga punya dengan tanpa menyimpang kepada pemahaman apapun bentuk agama yang ada di dunia. Sebab, bukankah agama juga merupakan taqdir bagi manusia atas pengakuannya kepada SANG PENCIPTA, pengakuan diri atas kelemahan-kelemahan dan keterbatasan manusia dalam keberadaanya sebagai makhluk di dunia. YANG BERBEDA adalah... cara memandang dan mengkonsepkannya oleh manusia. Satu hal pasti bahwa manusia dianugrahi senjata ampuh oleh yang MAHA KUASA (SANG PENCIPTA) yakni AKAL dengan kapasitas yang tiada batas untuk membaca dan menghayati lingkungan kebudayaannya dimana manusia ditakdirkan berada, maka disitu pula manusia mengembangkan akalnya melalu daya cipta sesuai kebutuhannya. Namun tetap terkait pada keterbatasannya sebagai makhluk, dan dari keterbatasan inilah manusia berusaha menghubungkan diri kepada YANG MENCIPTA, disinilah lahir apa yang disebut AGAMA salah satu contoh paling TEGAS bahwa AGAMA lahir sesuai pengalaman keterbatasan manusia (JAJATEN NINGGANG PAPASTEN) adalah cara memandang jagat semesta yang merupakan GIFT dari Sang Pencipta, itu nampak pada cara pandang dunia timur dan cara pandang dunia barat Agama adalah daya cipta manusia itu sendiri sebab dimanapun siapapun tahu (universal) bahan TUHAN itu satu dan di situ begitu pun nenrk moyang kita pun tahu bahwa TUHAN adalah "bhinneka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa adhi paramartha" namun kekuatan kapasitas daya dan cipta manusialah yang menyebabkan berbeda cara menterjemahkannya. ... Daya cipta atau akalbudi tidak memiliki konotasi suatu entitas tertentu yang berbeda dari tubuh (anggana)tetapi mempnya status metafisik yag khusus pada manusia. Akal budi dimengerti secara fungsional dengan mengacu pada tipe-tipe aktivitas tertentu, direalisasikan ketika manusia menilai dan mengarahkan tindakan. Dikontrol oleh Hati Dalam setiap aktivitas mental, HATI (esensi roh) ini disebut JIWA (KESADARAN) atau JIWA SPIRITUAL. Maka daya cipta setiap aktivitas manusia, betapun kecilnya, baik aktivitas kognitif maupun evaluatif senantiasa disertai maksud, perasaan, keinginan. Sehingga manusia mampu membeda kan dan mengkatagori yang benar, yang salah, setuju atau tidak setuju. Termasuk memutuskan sesuatu itu baik dan benar serta turut memerintahkan untuk bertindak sesuai keputusan nya. Jadi akal budi dikontrol oleh hati menilai dan menjaring syarat-syarat suatu situasi dan memerintahkan untuk bertindak dengan baik. nyanggakeun Tabe pun AMBU ________________________________ From: Abbas Amin <abas_amin08@ yahoo.com> To: urangsunda <[EMAIL PROTECTED] ups.com> Cc: kisunda <[EMAIL PROTECTED] .com> Sent: Sunday, November 9, 2008 7:44:20 AM Subject: [kisunda] masalah taqdir upami urang bade ngabahas Taqdir, kedah diemut di na dua hal : 1. Yen Allah teh Maha Adil 2. Yen Allah teh Maha Kawasa Upami Allah Maha Adil, naon atuh margina nangtoskeun jalmi kedah kitu kedah kieu ? sareng bakal kitu bakal kieu ? Upami jalmi anu nangtoskeun sagalana, Allah mah ngan ukur NYIPTA wungkul, dimana atuh Maha Kawasana Allah ? Tah ku margi aya patarosan sakitu, upami ngabahas Taqdir kedah nyepeng jejeran dua eta nu diluhur, nya eta Maha Adil sareng Maha Kawasa. Ku margi kitu, sim kuring nyebatkeun yen Taqdir teh, kajadianana tina Qadha sareng Qadar. Qadha hartosna Allah Maha Kawasa lantaran tindakan naon wae nu dilakukeun ku manusa AnjeunNa tos Uninga; pilihan naon wae nu dilakukeun ku manusa masih keneh aya di na Program Anjeunna. Qadar, hak pilih manusa ku ngagunakeun BRAIN nu meunang bebas DAMELAN AnjeunnNa. Tah didieu Maha Adilna Allah. Tah ku margi eta, tos kacumponan KaMAHAADILAN sareng KAMAHAKAWASANA Allah di na waktos anu sami . Tindakan vs Program. Mudah2an tiasa katampi, upami henteu , nya atuh da abdi ge sami sareng sadayana wargi2 masih milarian keneh. Da dugi ka tutup ieu umur moal aya perena soal "milari" mah......... ......... ......... .... Da Usaha tea nu diparentahkeun ka urang oge sanes ? Hasilna mah nya teu langkung Gusti Nu Murbeng Alam, kapan
