gamparan ulah rempan
ku abdi diimeutan, dihayati dipahami

Tabe pun 
AMBU



________________________________
From: Abah Abdurrohman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, November 9, 2008 10:06:37 AM
Subject: Re: [kisunda] masalah taqdir


Sampurasun Ambu, manawi aya lolongkrang, sim kuring seja ngahaturkeun cocoretan 
tahun 2000, harita bade di damel buku teu kabujeng.... . Ngeunaan bahasan Alam 
Semesta...mung dina bahasa Indonesia, aya opat bagian, mung bade nyobi digelar 
Bagian ka 1 sareng ka 2. Judulna : DIMANAKAH KINI KITA BERADA..?
nyanggakeun sabrang salayan lebet ka cabe mah henteu...... AMS
 
DIMANAKAH KINI KITA BERADA? 
  
Oleh : H.A.M. Sastra, ME(2000) 
  
Bagian Ke 1 
  
Suatu pertanyaan yang sangat tua, bisa jadi sama tuanya dengan umur manusia 
modern pertama yang diperkirakan lahir dan menjadi penghuni di muka Bumi ini 
sekitar 100.000 tahun yang lalu. Walaupun tidak secara langsung dan terbuka 
kepada pihak lain,  pertanyaan ini pernah timbul dalam hati dan pikiran setiap 
manusia termasuk kita setidaknya ditujukan hanya untuk dirinya. Hal ini 
dianggap wajar karena manusia sebagai makhluk berakal dan berhati nurani selalu 
diberi rasa ingin tahu tentang yang ada dan mungkin ada.  
  
Mengapa manusia selalu bertanya seperti itu? Mungkin bukan jawaban secara fisik 
yang dicari, karena kita sendiri sadar bahwa sekarang kita hidup berada di 
suatu alam nyata di sini di dunia yang dikenal sebagai Alam Semesta  (“ the 
Universe”). Lebih dari itu manusia tampaknya ingin mengetahui makna yang 
terkandung di balik yang nyata ini, dengan menguji suatu proses berpikir sejauh 
yang bisa difahaminya. Upaya untuk memahami makna ini adalah bagian dari 
perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Inilah barangkali salah satu  ciri 
dari jiwa penjelajah pikiran yang hidup dari jaman ke jaman. Bahkan bisa juga 
pertanyaan ini merupakan salah satu indikator bahwa yang bersangkutan memiliki 
akal sehat yang dinamis sebagai makhluk yang paling sempurna di muka Bumi.  
  
Peringatan Bagi Para Pemikir! 
  
Memahami hal ihwal Alam Semesta sangat mengasyikkan, namun demikian memasuki 
masalah ini kita harus memiliki logika yang jernih dan ilmu pengetahuan yang 
luas serta  dasar ”keimanan” kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang kuat, mengingat  
hal ini sangat komplek dan muskil yang bisa membawa pikiran kita kepada situasi 
misteri yang tak berujung. Karena tidak menemukan jawaban yang pasti, tidak 
sedikit orang tersesat lepas kendali sehingga tidak punya keyakinan lagi kepada 
apapun (“Atheis”), bahkan banyak kasus si antara mereka menjadi frustasi dan 
dipresi berat yang berakhir tragis menjadi “gila”. Hal ini disebabkan karena 
imannya rapuh, ilmu pengetahuan terbatas dan logikanya tidak sanggup berpikir 
kritis yang sistimatis. Dengan tidak bermaksud merendahkan seseorang, para 
pakar ilmu jiwa menganjurkan bahwa bagi mereka yang merasa kurang mampu untuk 
memikirkan yang komplek, sebaiknya tidak dan jangan coba-coba memasuki pikiran 
untuk mencari jawaban
 pertanyaan di atas.  
  
Di dalam agama Islam sendiri tidak ada pemaksaan. Allah SWT dalam  Al Quran 
menyatakan bahwa tidak sekali-kali membebani tugas atau kewajiban yang harus 
dilakukan kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya seperti tercantum 
dalam Surat Al-Mu’minun 62:” Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut 
kesanggupannya, dan pada Kami ada sesuatu kitab yang berbicara dengan 
kenyataan, sedikitpun mereka tidak akan dirugikan”. Demikian pula untuk 
mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat cukuplah dengan beriman 
dan berbuat kebajikan seperti dinyatakan dalam Al Quran Surat An-Nahl 97: 
”Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan kebajikan (beramal salih), baik dia 
laki-laki maupun perempuan, lagi pula beriman, akan Kami berikan kepadanya 
kehidupan yang baik di dunia, sedangkan di akhirat Kami berikan pembalasan 
pahala kepadanya, jauh lebih baik dari apa yang mereka perbuat ”. Oleh sebab 
itu bagi mereka yang merasa kurang mampu, lebih baik
 berpikir yang sederhana yang realistik, berbuatlah kebajikan dan jagalah 
keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaan 
masing-masing. 
  
Bagi mereka yang merasa mampu, tentu saja tidak ada larangan menjelajahi 
cakrawala pikiran seluas-luasnya sepanjang masih dirasakan ada manfaatnya bagi 
diri dan orang lain serta alam lingkungan sekitarnya, seperti difirmankan Allah 
SWT dalam Al Quran Surat  Al-Mujaadilah 11 :”Hai orang-orang yang beriman, 
apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, maka 
lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila 
dikatakan : Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan 
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu 
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu 
kerjakan”.(Bersambung) 
  
Bagian Ke 2 
  
Memperhatikan serta memikirkan penciptaan Alam Semesta beserta segala sesuatu 
fenomenanya di dalam Islam sangat dihargai. Manusia diberi kesempatan bahkan 
dianjurkan untuk memikirkan hal tersebut seperti dinyatakan oleh Allah SWT 
dalam Al Quran Surat Al-Gasyiah 17-20: ” Maka apakah mereka tidak memperhatikan 
unta bagaimana dia diciptakan?. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? . Dan 
gunung-gunung, bagaimana ia ditegakan?. Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” .  
Demikian juga dalam Surat Ar-Rad 2-3, Allah SWT berfirman: ”Allah-lah yang 
meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia 
bersemayam di atas ’Arsy, dan menundukan matahari dan bulan. Masing-masing 
beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya) , 
menjelaskan tanda-tanda (kebenaran-Nya) , supaya kamu meyakini pertemuan(mu) 
dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan 
gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.
 Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan 
malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda 
(kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. 
  
Akan tetapi suatu hal yang perlu disadari bahwa bagaimanapun manusia ingin 
mengetahui hakikat rahasia Alam Semesta, kemampuan akal pikiran manusia sangat 
terbatas. Tidak semua fenomena kehidupan bisa terjawab secara memuaskan dan 
mungkin tidak akan ditemukan jawabannya sampai akhir jamanpun. Allah SWT 
memberikan peringatan kepada mereka yang ingin tahu tentang hakikat-Nya seperti 
tercantum dalam Al Quran Surat Al An’aam 103: ”Dia tidak dapat dicapai oleh 
penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah 
Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. 
  
Berbagai teori menurut para pakar baik filsafat, ilmu bidang fisika, metafisika 
dan kosmologi maupun teologi dan agama tentang kejadian Alam Semesta telah 
banyak ditulis dan diperdebatkan. Terjemahan tulisan ilmiah dari Badan 
Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan perguruan tinggi terkenal di dunia telah 
disebarkan melalui internet dan majalah secara luas. Demikian pula beberapa 
buku yang ditulis para pakar di dalam dan luar negeri bisa diperoleh di 
toko-toko buku untuk dijadikan acuan antara lain: ”Juru Bicara Tuhan, Antara 
Sains dan Agama”(Ian G. Barbour, Mizan, 2000), ”Para Pencari Tuhan, Dialog 
Al-Quran, Filsafat, dan Sains dalam Bingkai Keimanan” (Terjemahan, Syaikh Nadim 
al-Jisr, Pustaka Hidayah, 1998), ” Ensiklopedi Tematis Spirituialitas Islam” 
(Buku 1 dan 2, Terjemahan Seyyed Hossein Nasr, Mizan, 2002), ”Penciptaan Alam 
Semesta” (Terjemahan: Harun Yahya, 2002) dll.  
  
Tulisan ini  tidak dimaksudkan untuk membahas secara mendalam teori dasar yang 
telah diungkapkan secara ilmiah dalam buku-buku di atas, tapi yang menarik bagi 
kita sebagai orang awam adalah konflik dan dilema para pemikir tersebut dalam 
memahami kejadian Alam Semesta yang tidak terlepas dari pemahaman adanya 
”Tuhan”. Walaupun terus diupayakan untuk dipertemukan dan diselaraskan, 
tampaknya konflik konsep kejadian Alam Semesta menurut filsafat, ilmu 
pengetahuan, teologi, agama termasuk tasawuf tidak dapat dihindari.  
  
Pandangan ”Kebetulan”  dan ”Penciptaan Tuhan” 
  
Dari sekian banyak konsep, dua di antaranya mempunyai dasar yang sangat 
bertentangan dalam menjelaskan kejadian Alam Semesta. Pandangan pertama 
mengatakan bahwa Alam Semesta itu terjadi secara ”Kebetulan”. Menurut faham ini 
seolah-olah Alam Semesta ”tidak berawal dan tidak akan berakhir” dan segala 
sesuatu yang ada terjadi dengan sendirinya. Konsep ini melahirkan pemikir 
”Atheis” yang tidak percaya pada penciptaan oleh ”Tuhan”. Sedangkan pandangan 
kedua mengatakan bahwa Alam Semesta ini awalnya terjadi dari ”Ketiadaan”, 
kemudian ”diciptakan” menjadi ”Ada”. Konsep ini kemudian melahirkan pandangan 
”Theis” bahwa Alam Semesta ini dijadikan oleh ”Pencipta” yang membawa kepada 
keyakinan adanya ”Tuhan”. 
  
Kemudian dari segi proses pembentukannya, terdapat dua pandangan yang sangat 
bertentangan yaitu ”Kekal (Statis)” dan ”Berkembang (Evolusi)”. Semula teori 
evolusi ini hanya digunakan untuk menjelaskan kejadian kehidupan di muka bumi 
(Charles Darwin) tapi kemudian digunakan pula untuk menjelaskan kejadian planet 
dalam tatasurya, bintang-bintang dan galaksi-galaksi menjadi suatu sitim kosmos 
membentuk Alam Semesta.  
  
Dalam perkembangan memasuki abad ke-20 terjadi persilangan pandangan seperti 
konsep “Dialektik-Materiali stik” yang dianut oleh Karl Marx dan Lenin, dimana 
proses kejadiannya cenderung meyakini teori evolusi, akan tetapi dia tidak 
meyakini adanya ”Tuhan” sebagai ”Pencipta-nya” . Di lain pihak terdapat pula 
pandangan yang tidak percaya pada konsep evolusi Darwin secara utuh, akan 
tetapi meyakini bahwa penciptanya adalah ”Tuhan” seperti dianut oleh sebagian 
para ahli teologi dan agama.  
  
Mengenai konsep ”Penciptaan”, para pemikir Yunani yang dikembangkan oleh 
Aristoteles dan pengikutnya sekitar 335 tahun sebelum Masehi, telah 
mengemukakan hipotesanya tentang keadaan Alam Semesta yang bersifat dualistik 
(makna ganda) antara esensi “Tuhan” yang sering dianalogkan dengan “Ada Mutlak” 
dan esensi “Alam” yang sering diartikan “Ada Tidak Mutlak”. Demikian pula dalam 
kitab ”Weda” yang diyakni berasal dari India dan berkembang pada abad ke 5 
sebelum Masehi, segala sesuatu di Alam Semesta ini merupakan manifestasi dari 
kekuatan suci yang disebut ”Brahman”, yang lebih jauh diartikan sebagai 
kekuatan abadi yang menjaga segala sesuatu.  Kemudian di yakini pula bahwa 
manakala keabadian ini ditransformasikan pada setiap individu, maka itulah yang 
disebut “Atman”. Begitu juga dalam konsep “Tao” dari Cina yang memberikan 
gambaran Alam Semesta sebagai perpaduan pasangan ”Yin” perwujudan bumi 
dan”Yang” 
 perwujudan langit, pada dasarnya meyakini adanya eksistensi yang aktif dan 
reseptif. Seperti dikatakan Confusius: “Bagaikan sebagai sebuah sungai yang 
mengalir, seluruh Alam Semesta terus mengalir, siang dan malam”.(Sackio Murata, 
The Tao of Islam, 1996) 
  
Disamping teori kuno di atas, orang “Baduy” yang hidup sangat sederhana di 
wilayah Banten Selatan (usianya belum diketahui pasti?) juga mempunyai suatu 
konsep kejadian Alam Semesta. Konsep mereka tampaknya tidak jauh dari para 
pemikir Yunani kuno. Cuplikan pemikirannya penulis ambil dari Buku 8 Riwayat 
Baduy yang diususn oleh ”Sursa (Suria Saputra)” Bogor, tahun 1950 sebagai 
berikut: 
  
Bermula, maka jagatraya ini suwung, awang-awang uwung-uwungan belum ada. Suwung 
di sini kami artikan ”ada dalam tiada”, ialah ”adanya itu tidak tampak oleh 
mata kepala” karena matanyapun belum ada. Dari keadaan suwung ini lama dan lama 
sekali menjadi cair. Dari keadaan cair ini ada bagian bagian yang menjadi 
kental. Selanjutnya dari bagian yang kental ini, ada yang mula-mula keras 
sebesar ”cariu ading”, di tempat yang kini disebut ”Sasaka Domas”. Cariu ading 
(Schismatogootis latifolia MIQ var. Rubescens. 422), buahnya bulat pipih, garis 
tengah  l.k. 2 cm warnanya merah kekuning-kuningan. 
  
Walaupun sangat sederhana, konsep Baduy telah memberikan gambaran cara berpikir 
proses kejadian secara sisitimatis menggunakan kaidah logika yang tinggi.  
Namun sebab awalnya jelas dikatakan sebagai suatu yang tak berwujud dan tak 
terwujudkan atau dalam bahasa Sunda disebut “Suwung”(Ketiadaan?). Sedangkan 
galaksi dan tata surya digambarkannya sebagai kumpulan kabut yang melayang 
mengarungi ruang yang maha luas atau mereka sebut dengan “awang-awangan 
uwung-uwungan” seperti halnya teori pembentukan tata surya dan galaksi menurut 
“Kant-Laplace” . Konsep ini dapat dianalogikan dengan konsep “evolusi”, namun 
secara eksplisit tidak menyatakan bahwa “Suwung” itu “Tuhan”, karena 
ketiadaannya tidak dapat disaksikan sesuatupun. 
  
Konsep-konsep kuno di atas pada prinsipnya telah mengakui adanya Pencipta 
sebagai sebab awal dan wujud (eksistensi) Alam Semesta sebagai obyek akibat 
penciptaan-Nya. Dalam wujud  penciptaan tersebut terdapat “pasang-pasangan” 
seperti bumi dan langit, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan 
buruk, salah dan benar dan banyak lagi. Pasang-pasangan ini lebih jauh telah 
diartikan sebagai tanda atau simbul adanya hubungan Pencipta (Tuhan) dengan 
yang diciptakan-Nya (makhluk). Cara berpikir mereka umumnya dimulai dari naluri 
kemudian dikembangkan oleh logika memasuki prinsip-prinsip ilmu filsafat. 
(Bersambung) . 
  


--- On Sun, 11/9/08, richadiana kartakusuma <richadianakartakusu [EMAIL 
PROTECTED] com> wrote:

From: richadiana kartakusuma <richadianakartakusu [EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [kisunda] masalah taqdir
To: [EMAIL PROTECTED] .com
Date: Sunday, November 9, 2008, 9:25 AM


TAQDIR ! memang selalu berkait kepada SAng Pencipta dan yang Diciptakannya, 
tetapi TAQDIR secara infinitif atau dalam tataran kata adalah sekedar meminjam 
istilah saja, karena sinonim pengertian inti (esensi) taqdir itu sendiri juga 
terdapat dan dimiliki oleh semua bangsa didunia. 

Jadi padanan Taqdir itu banyak masing2 individu/kelompok manusia juga punya 
dengan tanpa menyimpang kepada pemahaman apapun bentuk agama yang ada di dunia. 
Sebab, bukankah agama juga merupakan taqdir bagi manusia atas pengakuannya 
kepada SANG PENCIPTA, pengakuan diri atas kelemahan-kelemahan dan keterbatasan 
manusia dalam keberadaanya sebagai makhluk di dunia.

YANG BERBEDA adalah... cara memandang dan mengkonsepkannya oleh manusia. Satu 
hal pasti bahwa manusia dianugrahi senjata ampuh oleh yang MAHA KUASA (SANG 
PENCIPTA) yakni AKAL dengan kapasitas yang tiada batas untuk membaca dan 
menghayati lingkungan kebudayaannya dimana manusia ditakdirkan berada, maka 
disitu pula manusia mengembangkan akalnya melalu daya cipta sesuai 
kebutuhannya. Namun tetap terkait pada keterbatasannya sebagai makhluk, dan 
dari  keterbatasan inilah manusia berusaha menghubungkan diri kepada YANG 
MENCIPTA, disinilah lahir apa yang disebut AGAMA

salah satu contoh paling TEGAS bahwa AGAMA lahir sesuai pengalaman keterbatasan 
manusia (JAJATEN NINGGANG PAPASTEN) adalah cara memandang jagat semesta yang 
merupakan  GIFT dari Sang Pencipta, itu nampak pada cara pandang dunia timur 
dan cara pandang dunia barat 

Agama adalah daya cipta manusia itu sendiri sebab dimanapun siapapun tahu 
(universal) bahan TUHAN itu satu dan di situ begitu pun nenrk moyang kita pun 
tahu bahwa TUHAN adalah "bhinneka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa adhi 
paramartha" 

namun kekuatan kapasitas daya dan cipta manusialah yang menyebabkan berbeda 
cara menterjemahkannya. ... 

Daya cipta atau akalbudi tidak memiliki konotasi suatu entitas tertentu yang 
berbeda dari tubuh (anggana)tetapi mempnya status metafisik yag khusus pada 
manusia. 

Akal budi dimengerti secara fungsional dengan mengacu pada tipe-tipe aktivitas 
tertentu, direalisasikan ketika manusia menilai dan mengarahkan tindakan. 
Dikontrol oleh  Hati Dalam setiap aktivitas mental, HATI (esensi roh) ini 
disebut JIWA (KESADARAN) atau JIWA SPIRITUAL.

Maka daya cipta setiap aktivitas manusia, betapun kecilnya, baik aktivitas 
kognitif maupun evaluatif senantiasa disertai maksud, perasaan, keinginan. 
Sehingga manusia mampu membeda kan dan mengkatagori yang benar, yang salah, 
setuju atau tidak setuju. Termasuk memutuskan sesuatu itu baik dan benar serta 
turut memerintahkan untuk bertindak sesuai keputusan nya. 

Jadi akal budi dikontrol oleh hati menilai dan menjaring syarat-syarat suatu 
situasi dan memerintahkan untuk bertindak dengan baik.  

nyanggakeun 
 
Tabe pun
AMBU  
   



  

      
 




________________________________
 From: Abbas Amin <abas_amin08@ yahoo.com>
To: urangsunda <[EMAIL PROTECTED] ups.com>
Cc: kisunda <[EMAIL PROTECTED] .com>
Sent: Sunday, November 9, 2008 7:44:20 AM
Subject: [kisunda] masalah taqdir


upami urang bade ngabahas Taqdir, kedah diemut di na dua hal :
1. Yen Allah teh Maha Adil
2. Yen Allah teh Maha Kawasa
 
Upami Allah Maha Adil, naon atuh margina nangtoskeun jalmi kedah kitu kedah 
kieu ? sareng bakal kitu bakal kieu ?
 
Upami jalmi anu nangtoskeun sagalana, Allah mah ngan ukur NYIPTA wungkul, 
dimana atuh Maha Kawasana Allah ?
 
Tah ku margi aya patarosan sakitu, upami ngabahas Taqdir kedah nyepeng jejeran 
dua eta nu diluhur, nya eta Maha Adil sareng Maha Kawasa.
 
Ku margi kitu, sim kuring nyebatkeun yen Taqdir teh, kajadianana tina Qadha 
sareng Qadar.
 
Qadha hartosna Allah Maha Kawasa lantaran tindakan naon wae nu dilakukeun ku 
manusa AnjeunNa tos Uninga; pilihan naon wae nu dilakukeun ku manusa masih 
keneh aya di na Program Anjeunna.
 
Qadar, hak pilih manusa ku ngagunakeun BRAIN nu meunang bebas DAMELAN 
AnjeunnNa. Tah didieu Maha Adilna Allah.
 
Tah ku margi eta, tos kacumponan KaMAHAADILAN sareng KAMAHAKAWASANA Allah
di na waktos anu sami . Tindakan vs Program.
 
Mudah2an tiasa katampi, upami henteu , nya atuh da abdi ge sami sareng sadayana 
wargi2 masih milarian keneh. Da dugi ka tutup ieu umur moal aya perena soal 
"milari" mah......... ......... ......... ....
 
Da Usaha tea nu diparentahkeun ka urang oge sanes ? 
Hasilna mah nya teu langkung Gusti Nu Murbeng Alam, kapan 

 
    


      

Kirim email ke