Pesantren Ampelgading Kabupaten Terung
Sesudah tiga hari, Sultan Demak berangkat ke Ampel. Adapun yang
ditugaskan menunggu di Majapahit adalah Patih Mangkurat serta Adipati
Terung. Mereka diperintahkan menjaga keamanan keadaan dan segala
kemungkinan yang terjadi. Sunan Kudus menjaga di Demak menjadi wakil
Sang Prabu. Di Kabupaten Terung juga dijaga ulama tiga ratus, setiap
malam mereka shalat hajat serta tadarus Al Qur'an. Sebagian pasukan
dan para Sunan ikut Sang Prabu ke Ampelgading. Sunan Ampel sudah
wafat, hanya tinggal istrinya. Istri beliau asli dari Tuban, putra
Arya Teja. Setelah wafatnya Sunan Ampel, Nyai Ageng menjadi sesepuh
orang Ampel. Sang Prabu Jambuningrat sesampainya di Ampel, kemudian
menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Para Sunan dan para Bupati
berganti-ganti menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Prabu
Jimbuningrat berkata bahwa dirinya baru saja menyerbu majapahit, dan
melaporkan hilangnya ayahanda serta Raden Gugur. Ia juga melaporkan
kematian Patih Majapahit dan berkata bahwa dirinya sudah menjadi raja
seluruh tanah Jawa bergelar Senapati Jimbun. Beliau meminta restu,
agar langgeng bertahta dan anak keturunannya nanti jangan ada yang
memotong.
Nyai Ageng Ampel mendengar perkataan Prabu Jimbun, menangis seraya
merangkul Sang Prabu. Hati Nyai Ageng tersayat-sayat perih. Demikian
ia berkata "Cucuku, kamu dosa tiga hal. Melawan raja dan orang tuamu,
serta yang memberi kedudukan sebagai bupati. Mengapa kamu tega merusak
tanpa kesalahan. Apa tidak ingat kebaikan Uwa Prabu Brawijaya? Para
ulama diberi kedudukan dan sudah membuahkan rizki sebagai sumber
makannya, serta diberi kemudahan dan dibebaskan menyebarkan agama?
Seharusnya kamu sangat berterima kasih, tapi akhirnya malah kamu balas
kejahatan, kini mati hidupnya beliau pun tidak ada yang tahu."
Nyai Ageng kemudian menanyai Sang Prabu, katanya, "Angger ! Aku akan
bertanya kepada kamu, jawablah sebenarnya, ayahandamu yang benar itu
siapa? Siapa yang mengangkat kamu menjadi raja di tanah Jawa dan siapa
yang mengizinkan kamu? Apa sebabnya kamu menganiaya orang tanpa dosa?"
Raden Patah kemudian menjawab, bahwa Prabu Brawijaya adalah
benar-benar ayahandanya yang mengangkat dirinya menjadi raja memangku
tanah Jawa dan semua bupati pesisir, dan yang mengizinkan para Sunan.
Mengapa negara majapahit dirusak, karena Sang Prabu Brawijaya tidak
berkenan masuk agama Islam, masih mempercayai agama kafir, Buda kawak
dawuk seperti kuwuk.
Nyai Ageng mendengar jawaban Prabu Jimbun, kemudian menjerit seraya
merangkul Sang Prabu, dengan berkata, "Angger! Ketahuilah, kamu itu
dosa tiga hal mestinya kamu dikutuk oleh Gusti Allah. Kamu berani
melawan Raja lagi pula orang tuamu sendiri, serta orang yang memberi
anugrah kepada kamu. Kamu beran-beraninya mengganggu orang tanpa dosa.
Adanya Islam dan kafir siapa yang menentukan, selain hanya Gusti Allah
sendiri. Orang beragama itu tidak boleh dipaksa, harus keluar dari
keinginan diri sendiri. Orang yang kukuh memegang agamanya sampai mati
itu utama. Apabila Gusti Allah sudah mengizinkan, tidak usah disuruh,
sudah pasti dengan sendirinya memeluk agama Islam. Gusti Allah
bersifat rahman, tidak memerintahkan dan tidak menghalangi kepada
orang beragama. Semua ini atas kehendaknya sendiri-sendiri.
Gusti Allah tidak menyiksa orang kafir yang tidak bersalah, serta
tidak memberi ganjaran kepada orang Islam yang bertindak tidak benar,
hanya benar dan salah yang diadili dengan keadilan. Ingat-ingatlah
asal-asalmu, ibu-mu Putri Cempa menyembah Pikkong, berwujud kertas
atau patung batu. Kamu tidak boleh benci kepada orang yang beragama
Buddha. Matamu itu berkacalah, agar tidak blero penglihatanmu, tidak
tahu yang benar dan yang salah. Katanya anaknya Sang Prabu, kok tega
menelan kepada ayahanda sendiri. Bisa-bisanya sampai hati merusak tata
krama. Berbeda matanya orang Jawa. Orang Jawa matanya hanya satu, maka
ia menjadi tahu benar dan salah, tahu yang baik dan yang buruk, pasti
hormat kepada ayah, kedua kepada raja yang memberi anugrah, ia wajib
dijunjung tinggi.
Ikhlasnya hati bakti kepada ayah, tidak berbakti kepada orang kafir,
karena sudah kewajiban manusia berbakti kepada orang tuanya. Kamu aku
dongengi, Wong Agung Kuparman, itu beragama Islam, punya mertua kafir,
mertuanya benci kepada Wong Agung karena lain agama, mertuanya selalu
mencari cara agar menantunya mati. Tetapi Wong Agung selalu hormat dan
sangat menjunjung tinggi kedua orang tuanya. Ia tidak memandang orang
tua dari segi kekafirannya, tetapi posisinya sebagai orangtuanya. Maka
Wong Agung selalu menjunjung hormat kepaa mertuanya itu. Itulah angger
yang dinamakan orang berbudi baik. Tidak seperti tekadmu, ayahanda
disia-siakan, mentang-mentang kafir Buddha tidak mau berganti agama.
Itu bukan patokanmu. Aku akan bertanya sekarang, apakah kamu sudah
memohon kepada orang tuamu, agar beliau pindah agama? Mengapa
negaranya sampai kamu rusak itu bagaimana?
Prabu Jimbun berkata, bahwa ia belum memohon pindah agama, sesampainya
di Majapahit langsung saja mengepung. Nyai Ageng Ampel tersenyum sinis
dan berkata, "Tindakanmu itu makin salah. Para Nabi di jaman kuno, ia
berani kepada orang tuanya itu karena setiap hari sudah mengajak
berpindah agama, bahkan sudah ditunjukkan mukjizat kepadanya, tetapi
tidak berkenan. Karena setiap hari sudah dimohon agar memeluk agama
Islam, tetapi ajakan tadi tidak dipikirkan, masih melestarikan agama
lama, maka kemudian dimusuhi. Jika demikian caranya, meskipun melawan
orang tua, lahir batin tidak salah. Tapi orang seperti kamu?
Mukjizatmu apa? Apabila benar Khalifatullah berwenang mengganti agama,
coba keluarkan apa mukjizatmu, aku lihat?"
Prabu Jimbun mengakui bahwa ia tidak memiliki mukjizat apa-apa, hanya
menurut perkataan buku, katanya apabila mengislamkan orang kafir besok
akan mendapat ganjaran surga. Nyai Ageng Ampel tersenyum tetapi tambah
amarahnya. Kata-kata saja koq dipercayai, pun bukan buku dari leluhur.
Orang mengembara kok diturut perkataanya, yang mendapat celaka ya kamu
sendiri. Itu pertanda ternyata masih mentah pengetahuanmu. Berani
kepada orang tua, karena keinginanmu menjadi raja, kesusahannya tidak
dipikir. Kamu itu bukan santri yang tahu sopan santun, hanya
mengandalkan surban putih, tetapi putihnya kuntul, yang putih hanya di
luar, di dalam maerah. Ketika kakekmu masih hidup, kamu pernah berkata
bila akan merusak Majapahit, kakekmu melarang. Malah berpesan dengan
sungguh-sungguh jangan sampai memusuhi orang tua. Sekarang kakekmu
sudah wafat, wasiatnya kamu langgar. Kamu tidak takut akibatnya? Kini
kamu minta izin kepadaku, untuk menjadi raja di tanah Jawa, aku tidak
berwenang mengizinkan, aku rakyat kecil dan hanya perempuan, nanti
buwana balik namanya. Karena kamu yang semestinya memberi izin
kepadaku, karena kamu Khalifutullah di tanah Jawa, hanya kamu sendiri
yang tahu, seluruh kata-katamu lidah api. Aku sudah tuwa tiwas,
sedangkan jika kamu nanti tia, akan tetap menjadi tuanya seorang raja."
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/