Nyai Ageng Ampel
Nyai Ageng Ampel berkata lagi, "Cucu! Kamu aku ceritakan sebuah kisah,
dalam Kitab Hikayat diceritakan di tanah Mesir, Kanjeng Nabi Dawud,
putranya menginginkan tahta ayahandanya. Nabi Dawud sampai mengungsi
dari negara, putranya kemudian menggantikannya menjadi raja. Tidak
lama kemudian Nabi Dawud bisa kembali merebut negaranya. Putranya naik
kuda melarikan diri kehutan, kudanya lepas tersangkut-sangkut
pepohonnan, sampa iia tersangkut tergantung di pohon. Itulah yang
dinamakan hukum Allah.
Ada lagi cerita Sang Prabu Dewata Cengkar, ia memburu-buru tahta
ayahandanya, tetapi kemudian dikutuk oleh ayahandanya kemudian menjadi
raksasa, setiap hari makan manusia. Tidak lama kemudian, ada Brahmara
dari tanah seberang datang ke Jawa bernama Aji Saka. Aji Saka
memamerkan ilmu sulap di tanah Jawa. Orang jawa banyak yang cinta
kepada aji Saka, dan benci kepada Dewata Cengkar. Ajisaka diangkat
menjadi raja, Dewata Cengkar diperangi sampai terbirit-birit, tercebur
ke laut, dan berubah menjadi buaya, tidak lama kemuian mati. Ada lagi
cerita di Negara Lokapala juga demikian, Sang Prabu Danaraja berani
kepada ayahandanya, hukumnya masih seperti yang kuceritakan tadi,
semua menemui sengsara. Apa lagi seperti kamu, memusuhi ayahanda yang
tanpa tata susila, kamu pasti celaka, matimu pasti masuk neraka, yang
demikian itu hukum Allah". Sang Prabu Jimbun mendengar kemarahan eyang
putrinya menjadi sangat menyesal di hati, tetapi semua sudah terjadi.
Nyai Ageng Ampel masih meneruskan gejolak amarahnya, "Kamu itu
dijerumuskan oleh para ulama dan para Bupati. Tapi kamu koq mau
menjalani, yang mendapat celaka hanya kamu sendiri, lagi pula
kehilangan ayah, selama hidup namamu buruk, bisa menang perang tetapi
musuh orang tua raja. Karena itu bertobatlah kepada Yang Maha Kuasa,
kiraku tidak bakal memperoleh pengampunan. Pertama memusuhi ayah
sendiri, kedua membelot kepada Raja, ketiga merusak kebaikan dan
merusak negara tanpa tahu adat. Adipati Ponorogo dan Adipati Penging
pasti tidak akan menerima rusaknya Majapahit, pasti ia akan membela
kepada ayahnya, itu saja sudah berat tanggunganmu."
Nyai Ageng tumpah-ruah meluapkan amarahnya kepada Prabu Jimbun.
Setelah itu, Sang Prabu diperintahkan kembali ke Demak, serta
diperintahkan agar mencari hilangnya ayahandanya. Apabila sudah
bertemu dimohon pulang kembali ke Majapahit, dan ajaklah mampir ke
Ampelgading. Akan tetapi apabil tidak berkenan, jangan dipaksa, karena
jika sampai marah maka ia akan mengutuk, kutukannya pasti makbul.
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/