Pasoalan anu didiskusikeun ku Kang Yunan, Kang Eddy sareng Kang
Kumincir - oge dina jejer milist lianna antara Ambu, Kang Abbas Amin,
Kang Engkus, Kang Ilen sareng nu sanesna - jelas kaasup pasoalan
pluralisme agama. Pluralisme (agama) benten oge sareng pluralitas.
Ceuk para ahli, saurna, pluralisme agama teh memang eta hiji paham
dina wilayah panalungtikan (studi) agama-agama (religious study).
Ngan, "hanjakal", pluralisme teh lain sinkritisme, pluralisme oge
henteu lain hartina nganggap sakabeh agama sarua, henteu oge nganggap
yen sakabehna bener.
Salah sahiji sumber guareun ngeunaan pluralisme, khususna pamandangan
ti anu ngagem agama Islam (Urang Sunda deui), urang cutat wae di dieu,
sakalian supaya ngajelaskeun deui naon anu di luhur ditembrakkeun.
Sumber anu dimaksud teh pamadehan Kang Jalal dina salah sahiji
wawancara ngeunaan pluralisme ("Rahmat Tuha tidak Terbatas"),
sabagean wae heula anu pakaitna jeung definisi sarta tujuan studi
pluralisme (aslina ieu bahan mangrupa wawancara Sdr Novriantoni (NT)
ti kelompok "Kajian Islam Utan Kayu (KIUK)" sareng Kang Jalal (JR),
Kamis, 28/9/2006), hapunten henteu dialihbasakeun kana basa Sunda :
NT:
Apa yang Anda maksud dengan pluralisme ketika menulis buku itu?
JR:
Isme itu adalah sebuah paham. Ekslusivisme, inklusivisme, dan
pluralisme, di dalam dunia akademis sebetulnya masih bagian dari
religious studies atau pendekatan yang sekular untuk memahami
gejala-gejala keberagamaan. Pluralisme itu bisa berupa paham tapi bisa
juga disebut orientasi keberagamaan. Kita memang harus bisa membedakan
pluralisme dan pluralitas. Pluralistas adalah kenyataan sosial ketika
kita menyaksikan adanya masyarakat yang plural atau majemuk. Tapi
pluralisme adalah sebuah paham dalam religious studies.
Banyak orang menyangka pluralisme itu punya definisi macam-macam.
Sebenarnya tidak! Di dalam dunia akademis, sudah ada kesepakatan dan
batasan-batasan dalam defenisinya. Misalnya, ada penegasan bahwa
pluralisme itu bukanlah sinkretisme. Pluralisme juga bukan menganggap
semua agama sama. Bukan pula menganggap semua benar. Biasanya,
pluralisme dibicarakan dalam tiga bagian atau dalam posisi berhadapan
dengan dua posisi lainnya, yaitu ekslusivisme dan inklusivisme.
NT:
Jadi, ekslusivisme, inklusivisme, dan pluralisme, menjawab satu
pertanyaan mendasar di dalam studi keagamaan. Yaitu, siapakah yang
akan selamat di akhirat nanti? Atau siapa yang kelak akan masuk surga?
JR:
Karena itu, kalau bicara soal pluralisme, pleace pembicaraan itu
dipahami dalam konteks siapa yang akan selamat di akhirat nanti saja.
Bagi kaum ekslusivis, hanya golongan dan agama mereka saja yang akan
selamat. Menurut kaum inklusivis, yang masuk surga hanya orang Islam
dan orang-orang lain yang berakhlak islami. Tapi bagi mereka, Islam
tetap sebagai kriteria pertama. Nah, kaum pluralis berpendapat bahwa
orang yang selamat adalah siapa saja, apapun agamanya, selama memberi
kontribusi yang baik bagi kemanusiaan di dunia ini.
NT
Itu kan pertanyaan metafisis. Yang penting bagi kehidupan sosial kan
hanya implikasi atau dampak sosial masing-masing pandangan. Apa
pentingnya perspektif pluralis di dalam kehidupan sosial kita?
JR:
Dalam masyarakat yang sangat pluralistik, atau ketika kita berhadapan
dengan keragaman dalam teologi, kepercayaan, dan keyakinan, hanya
pluralisme yang dapat diharapkan akan memberi ruang bagi toleransi.
Tapi banyak sekali orang yang menolak pluralisme. Seorang kiai NU di
Jawa Timur pernah mengatakan, "Sudahlah, kita tak usah mengurus apakah
orang masuk surga atau tidak. Itu bukan urusan kita. Serahkan saja
urusannya ke pada Tuhan!" Beliau lupa, jawaban tentang siapa yang akan
masuk surga itu akan sangat mempengaruhi kita dalam memandang agama
lain, dan itu akan menjadi bingkai untuk memahami ajaran-ajaran agama
lainnya.
Ketika saya berpendapat bahwa semua orang, apapun agamanya, asalkan
beramal saleh, akan masuk surga, apa yang akan terjadi pada diri saya
setelah itu? Saya tentu tidak akan menilai orang lain dari label-label
keagamaannya. Saya jadi tak peduli apakah dia Katolik, Kristen, atau
Hindu. Kalau berakhlak mulia, beramal saleh, saya akan berikan segala
kemuliaan kepadanya.
Tapi bagi orang Islam yang berpandangan ekslusif, hanya orang Islam
saja yang akan masuk surga. Orang lain tak akan. Apa yang akan tumbuh
dari sikap demikian tak lain hanya prasangka-prasangka sosial. Nanti,
kalau ada orang Kristiani yang membantu orang Islam, kita langsung
curiga. Bahkan, akan ada dampak etis yang sangat fatal kalau kita
merasa hanya orang Islam saja yang kelak masuk surga. Ketika kita
melihat perilaku kita jauh lebih buruk dari perilaku orang beragama
lain, kita akan selalu mencari justifikasi (pembenaran) untuk
kekurangan kita. Kita katakan, "mereka berbuat baik, tapi pasti tetap
masuk neraka."
Padahal, Alquran sendiri pernah menyindir orang-orang yang berkata
demikian. Berkatalah orang-orang Yahudi: "lan tamassana an-nâr illâ
ayyâman ma`dûdât (kami tidak akan tersentuh api neraka kecuali
sebentar saja). Sebab, kita adalah kekasih-kekasih Allah. Demikian
pandangan sebagaian orang Yahudi." Orang Yahudi juga mengklaim laisat
an-nashârâ `alâ syai' (orang-orang Nasrani itu tidak bakal mendapat
apa-apa). Orang-orang Nasrani membalas, laisat al-yahûd `alâ syai'
(orang Yahudi juga tidak akan dapat apa-apa). Tapi di ujung ayat,
Alqur'an menegaskan: "Tilka amâniyyuhum!" (itu hanya angan-angan
mereka saja). "Waman ya`mal sû'an yuzâ bih" (siapa saja yang berbuat
buruk, tidak perduli apapun agamanya, ia akan tetap memperoleh
balasan).
NT:
Apakah gagasan atau sikap pluralistis hanya penting bagi kelompok
minoritas, mereka yang merasa tertindas, dan tidak dapat menentukan
hitam-putihnya kehidupan sosial?
JR:
Kalau kita baca buku-buku karangan Karen Armstrong, kita akan tahu
bahwa di saat kaum muslimin berada dalam puncak kejayaan peradabannya,
justru mereka sangat percaya diri untuk menganut pluralisme. Armstrong
pernah bercerita tentang sindrom martir. Di situ dia terangkan bahwa
dulunya, justru orang-orang Kristen yang selalu siap-siap untuk mati
sahid. Dan demi mati syahid, mereka rela mengecam Islam, memaki-maki
Rasulallah, dan melakukan tindakan lainnya. Tapi waktu itu, raja-raja
Islam santai-santai saja, tuh. Sebab mereka tahu, mereka ingin syahid.
Mereka dibiarkan saja dan tidak dihukum mati.
NT:
Adakah perbenturan antara konsep pluralisme dengan teologi
masing-masing agama yang sudah dimapankan seperti konsep tauhid dalam
Islam?
JR:
Bagi saya, seorang muslim yang pluralis, pasti akan menganut prinsip
tauhid. Seorang kristiani yang pluralis, pasti akan percaya bahwa
Yesus adalah juru selamat semua umat manusia. Jadi pluralisme itu
adalah sebuah orientasi keberagamaan. Kelompok pluralis itu akan ada
di kalangan Islam, ada juga di kelompok Kristiani dan agama lain.
Kalangan ekslusivis juga ada di berbagai agama dan masing-masing bisa
merujuk pada kitab suci masing-masing.
Jadi pluralisme adalah sebuah paham dan paham itu berakibat pada
perilaku sosial kita. Tapi pluralisme bukan juga menganggap semua
agama sama saja karena dalam Alquran juga sudah dikatkan, "walikullin
ja`alna minkum syir`atan wa minhâja." Artinya, bagi tiap-tiap agama,
telah Kami tetapkan aturan hidup dan syariat masing-masing. Ditegaskan
juga, "walau syâ'alLâh laja`alakum ummatan wâhidah" (kalau Allah
menghendaki, Dia akan jadikan seluruh agama itu satu saja). Artinya,
Allah bisa menjadikan seluruh agama sama saja.
Tapi Alqur'an menjelaskan lebih lanjut, "walâkin liyabluwakum" (Dia
ingin menguji kalian), "bimâ âtâkum" (dengan agama yang datang kepada
kalian). Karena itu, kita dianjurkan untuk "fastabiqul khairât"
(berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan), karena "ilayya marji`ukum
jamî`an" (hanya kepada-Ku seluruh agama akan berpulang). Ayat ini
perlu dikomentari. Menurut saya, hampir tak pernah terdapat kata
jamî`an setelah kata marji`ukum kecuali di dalam ayat ini saja.
"Ilayya marji`ukum fa unabbiukum bimâ kuntum ta`malûn; inna ilaynâ
iyâbahum, tsumma inna `alaynâ hisâbahum." Kepada-Ku juga kalian akan
berpulang dan di situlah Aku akan memberitahu apa yang engkau lakukan.
Semuanya akan berpulang pada Allah dan dia yang akan membuat
perhitungan.
Cag heula.
manar.
2008/11/24 Kumincir Wikidisastra <[EMAIL PROTECTED]>:
> Lamun sakabeh ajaran teh alus (& bener meureunan), naha atuh nya bet nepi ka
> aya jalma anu gunta-ganti atawa pindah ageman? Padahal pan sami wae...
>
> On Mon, Nov 24, 2008 at 3:02 PM, Yunan Buana wrote:
>>
>> justru eta kang dud, teu bisa kita bicarakan masalah cangkang, pasti nanti
>> akan timbul dalil jeung dalil, rasanya tidak pantas dalil dan dalil
>> diperdebatkan, tapi lamun geus bisa nyaho kedirinya bakalan apal, siapa
>> dirinya, setiap ngaran pasti ada barangnya, jadi sdh pasti ga bisa nyambung
>> kalau hanya berbicara paparan syareat yang pada akhirnya pasti akan
>> menjelek-jelekan suatu ajaran, padahal smua ajaran baik tetapi umat2nya-lah
>> yang suka menjelekan.
>
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/