panuju pisan abah ! hatur nuhun baktos
________________________________ Dari: oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Rabu, 26 November, 2008 22:29:31 Topik: Re: Bls: [kisunda] diskusi islam jeung urang Pasoalan anu didiskusikeun ku Kang Yunan, Kang Eddy sareng Kang Kumincir - oge dina jejer milist lianna antara Ambu, Kang Abbas Amin, Kang Engkus, Kang Ilen sareng nu sanesna - jelas kaasup pasoalan pluralisme agama. Pluralisme (agama) benten oge sareng pluralitas. Ceuk para ahli, saurna, pluralisme agama teh memang eta hiji paham dina wilayah panalungtikan (studi) agama-agama (religious study). Ngan, "hanjakal", pluralisme teh lain sinkritisme, pluralisme oge henteu lain hartina nganggap sakabeh agama sarua, henteu oge nganggap yen sakabehna bener. Salah sahiji sumber guareun ngeunaan pluralisme, khususna pamandangan ti anu ngagem agama Islam (Urang Sunda deui), urang cutat wae di dieu, sakalian supaya ngajelaskeun deui naon anu di luhur ditembrakkeun. Sumber anu dimaksud teh pamadehan Kang Jalal dina salah sahiji wawancara ngeunaan pluralisme ("Rahmat Tuha tidak Terbatas"), sabagean wae heula anu pakaitna jeung definisi sarta tujuan studi pluralisme (aslina ieu bahan mangrupa wawancara Sdr Novriantoni (NT) ti kelompok "Kajian Islam Utan Kayu (KIUK)" sareng Kang Jalal (JR), Kamis, 28/9/2006), hapunten henteu dialihbasakeun kana basa Sunda : NT: Apa yang Anda maksud dengan pluralisme ketika menulis buku itu? JR: Isme itu adalah sebuah paham. Ekslusivisme, inklusivisme, dan pluralisme, di dalam dunia akademis sebetulnya masih bagian dari religious studies atau pendekatan yang sekular untuk memahami gejala-gejala keberagamaan. Pluralisme itu bisa berupa paham tapi bisa juga disebut orientasi keberagamaan. Kita memang harus bisa membedakan pluralisme dan pluralitas. Pluralistas adalah kenyataan sosial ketika kita menyaksikan adanya masyarakat yang plural atau majemuk. Tapi pluralisme adalah sebuah paham dalam religious studies. Banyak orang menyangka pluralisme itu punya definisi macam-macam. Sebenarnya tidak! Di dalam dunia akademis, sudah ada kesepakatan dan batasan-batasan dalam defenisinya. Misalnya, ada penegasan bahwa pluralisme itu bukanlah sinkretisme. Pluralisme juga bukan menganggap semua agama sama. Bukan pula menganggap semua benar. Biasanya, pluralisme dibicarakan dalam tiga bagian atau dalam posisi berhadapan dengan dua posisi lainnya, yaitu ekslusivisme dan inklusivisme. NT: Jadi, ekslusivisme, inklusivisme, dan pluralisme, menjawab satu pertanyaan mendasar di dalam studi keagamaan. Yaitu, siapakah yang akan selamat di akhirat nanti? Atau siapa yang kelak akan masuk surga? JR: Karena itu, kalau bicara soal pluralisme, pleace pembicaraan itu dipahami dalam konteks siapa yang akan selamat di akhirat nanti saja. Bagi kaum ekslusivis, hanya golongan dan agama mereka saja yang akan selamat. Menurut kaum inklusivis, yang masuk surga hanya orang Islam dan orang-orang lain yang berakhlak islami. Tapi bagi mereka, Islam tetap sebagai kriteria pertama. Nah, kaum pluralis berpendapat bahwa orang yang selamat adalah siapa saja, apapun agamanya, selama memberi kontribusi yang baik bagi kemanusiaan di dunia ini. NT Itu kan pertanyaan metafisis. Yang penting bagi kehidupan sosial kan hanya implikasi atau dampak sosial masing-masing pandangan. Apa pentingnya perspektif pluralis di dalam kehidupan sosial kita? JR: Dalam masyarakat yang sangat pluralistik, atau ketika kita berhadapan dengan keragaman dalam teologi, kepercayaan, dan keyakinan, hanya pluralisme yang dapat diharapkan akan memberi ruang bagi toleransi. Tapi banyak sekali orang yang menolak pluralisme. Seorang kiai NU di Jawa Timur pernah mengatakan, "Sudahlah, kita tak usah mengurus apakah orang masuk surga atau tidak. Itu bukan urusan kita. Serahkan saja urusannya ke pada Tuhan!" Beliau lupa, jawaban tentang siapa yang akan masuk surga itu akan sangat mempengaruhi kita dalam memandang agama lain, dan itu akan menjadi bingkai untuk memahami ajaran-ajaran agama lainnya. Ketika saya berpendapat bahwa semua orang, apapun agamanya, asalkan beramal saleh, akan masuk surga, apa yang akan terjadi pada diri saya setelah itu? Saya tentu tidak akan menilai orang lain dari label-label keagamaannya. Saya jadi tak peduli apakah dia Katolik, Kristen, atau Hindu. Kalau berakhlak mulia, beramal saleh, saya akan berikan segala kemuliaan kepadanya. Tapi bagi orang Islam yang berpandangan ekslusif, hanya orang Islam saja yang akan masuk surga. Orang lain tak akan. Apa yang akan tumbuh dari sikap demikian tak lain hanya prasangka-prasangka sosial. Nanti, kalau ada orang Kristiani yang membantu orang Islam, kita langsung curiga. Bahkan, akan ada dampak etis yang sangat fatal kalau kita merasa hanya orang Islam saja yang kelak masuk surga. Ketika kita melihat perilaku kita jauh lebih buruk dari perilaku orang beragama lain, kita akan selalu mencari justifikasi (pembenaran) untuk kekurangan kita. Kita katakan, "mereka berbuat baik, tapi pasti tetap masuk neraka." Padahal, Alquran sendiri pernah menyindir orang-orang yang berkata demikian. Berkatalah orang-orang Yahudi: "lan tamassana an-nâr illâ ayyâman ma`dûdât (kami tidak akan tersentuh api neraka kecuali sebentar saja). Sebab, kita adalah kekasih-kekasih Allah. Demikian pandangan sebagaian orang Yahudi." Orang Yahudi juga mengklaim laisat an-nashârâ `alâ syai' (orang-orang Nasrani itu tidak bakal mendapat apa-apa). Orang-orang Nasrani membalas, laisat al-yahûd `alâ syai' (orang Yahudi juga tidak akan dapat apa-apa). Tapi di ujung ayat, Alqur'an menegaskan: "Tilka amâniyyuhum!" (itu hanya angan-angan mereka saja). "Waman ya`mal sû'an yuzâ bih" (siapa saja yang berbuat buruk, tidak perduli apapun agamanya, ia akan tetap memperoleh balasan). NT: Apakah gagasan atau sikap pluralistis hanya penting bagi kelompok minoritas, mereka yang merasa tertindas, dan tidak dapat menentukan hitam-putihnya kehidupan sosial? JR: Kalau kita baca buku-buku karangan Karen Armstrong, kita akan tahu bahwa di saat kaum muslimin berada dalam puncak kejayaan peradabannya, justru mereka sangat percaya diri untuk menganut pluralisme. Armstrong pernah bercerita tentang sindrom martir. Di situ dia terangkan bahwa dulunya, justru orang-orang Kristen yang selalu siap-siap untuk mati sahid. Dan demi mati syahid, mereka rela mengecam Islam, memaki-maki Rasulallah, dan melakukan tindakan lainnya. Tapi waktu itu, raja-raja Islam santai-santai saja, tuh. Sebab mereka tahu, mereka ingin syahid. Mereka dibiarkan saja dan tidak dihukum mati. NT: Adakah perbenturan antara konsep pluralisme dengan teologi masing-masing agama yang sudah dimapankan seperti konsep tauhid dalam Islam? JR: Bagi saya, seorang muslim yang pluralis, pasti akan menganut prinsip tauhid. Seorang kristiani yang pluralis, pasti akan percaya bahwa Yesus adalah juru selamat semua umat manusia. Jadi pluralisme itu adalah sebuah orientasi keberagamaan. Kelompok pluralis itu akan ada di kalangan Islam, ada juga di kelompok Kristiani dan agama lain. Kalangan ekslusivis juga ada di berbagai agama dan masing-masing bisa merujuk pada kitab suci masing-masing. Jadi pluralisme adalah sebuah paham dan paham itu berakibat pada perilaku sosial kita. Tapi pluralisme bukan juga menganggap semua agama sama saja karena dalam Alquran juga sudah dikatkan, "walikullin ja`alna minkum syir`atan wa minhâja." Artinya, bagi tiap-tiap agama, telah Kami tetapkan aturan hidup dan syariat masing-masing. Ditegaskan juga, "walau syâ'alLâh laja`alakum ummatan wâhidah" (kalau Allah menghendaki, Dia akan jadikan seluruh agama itu satu saja). Artinya, Allah bisa menjadikan seluruh agama sama saja. Tapi Alqur'an menjelaskan lebih lanjut, "walâkin liyabluwakum" (Dia ingin menguji kalian), "bimâ âtâkum" (dengan agama yang datang kepada kalian). Karena itu, kita dianjurkan untuk "fastabiqul khairât" (berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan), karena "ilayya marji`ukum jamî`an" (hanya kepada-Ku seluruh agama akan berpulang). Ayat ini perlu dikomentari. Menurut saya, hampir tak pernah terdapat kata jamî`an setelah kata marji`ukum kecuali di dalam ayat ini saja. "Ilayya marji`ukum fa unabbiukum bimâ kuntum ta`malûn; inna ilaynâ iyâbahum, tsumma inna `alaynâ hisâbahum." Kepada-Ku juga kalian akan berpulang dan di situlah Aku akan memberitahu apa yang engkau lakukan. Semuanya akan berpulang pada Allah dan dia yang akan membuat perhitungan. Cag heula. manar. 2008/11/24 Kumincir Wikidisastra <[EMAIL PROTECTED] .or.id>: > Lamun sakabeh ajaran teh alus (& bener meureunan), naha atuh nya bet nepi ka > aya jalma anu gunta-ganti atawa pindah ageman? Padahal pan sami wae... > > On Mon, Nov 24, 2008 at 3:02 PM, Yunan Buana wrote: >> >> justru eta kang dud, teu bisa kita bicarakan masalah cangkang, pasti nanti >> akan timbul dalil jeung dalil, rasanya tidak pantas dalil dan dalil >> diperdebatkan, tapi lamun geus bisa nyaho kedirinya bakalan apal, siapa >> dirinya, setiap ngaran pasti ada barangnya, jadi sdh pasti ga bisa nyambung >> kalau hanya berbicara paparan syareat yang pada akhirnya pasti akan >> menjelek-jelekan suatu ajaran, padahal smua ajaran baik tetapi umat2nya-lah >> yang suka menjelekan. > > National service in Indonesia?
