Di cutat tina tulisan Leonardo rimba

 

Salila ieu rea tulisan ngenaan warna agama anu dumasar kana alesan jeung
logika; buah fikir anu dumasar kana prinsip "induksi deduksi" jeung
panalitian kana eusi ajaran agama.

 

Naha teu aya cara lain? tangtuna aya, sanajan carana teu umum. Wiliam James,
salah sahiji anu ngarintis psikologi di Amerika serikat, dina bukuna anu
geus umur saabad judulna " Varieties of Religius Experience"(geus
diterjemahkeun kana bahasa Indonesia)" geus ngama'lum yen kaagamaan teh
mangrupakeun bagian anu moal bisa pisah tina kahirupan tiap individu manusa.
Manusa teh mangrupakeun individu, jeung lain manusa anu ngumpul dina
angka-angka statistik wungkul atawa manusa anu nyiptakeun rekor output
industri.Manusa saenyana manusa...

 

wiliam James, netelakeun yen agama(religi) bakal mangpaat lamun dialam ku
pengalaman pribadi anu jero.hartina, aya pangalam pribadi anu bisa
diterangkeun ku simbol-simbol tina agama anu dihayati kalintang jero anu teu
bisa dipisahkeun deui tina jalan hirupna.agama anu dihartian kitu moal deui
muter balik deui balik deui tina segi alesan (argeument) wungkul, tapi geus
asup kana kesaksian pribadi dina hal kumha sosok imanen jeung transenden anu
disebut "Tuhan/gusti" geus ngiket kongkrit dina kahirupan nu nganut salah
sahiji agama.

 

Nu jentrena kieu :

 

Selama ini kebanyakan tulisan dengan warna agama mendasarkan argumennya pada
logika belaka; penalaran berdasarkan prinsip induksi deduksi dan penelusuran
arti dari ajaran agama. 

Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada, walaupun barangkali cara itu
tidak familiar. William James, seorang perintis psikologi dari Amerika
Serikat, dalam bukunya yang sudah berusia satu abad dan berjudul "Varieties
of Religious Experience" (sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) berusaha
mengerti fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan individu manusia. Manusia sebagai individu, dan bukan manusia
sebagai kelompok angka-angka statistik belaka atau manusia sebagai pembuat
rekor output industri. Manusia sebagai manusia.

William James melihat bahwa agama (religi) hanya berarti apabila dialami
sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada pengalaman pribadi yang bisa
diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol dari agama tertentu yang
dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari narasi
kehidupan seseorang. Agama dalam arti itu tidak lagi berputar di segi
argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam kesaksian pribadi tentang
bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinamakan "Tuhan" telah beraksi
secara konkrit dalam kehidupan pribadi seorang penganut agama.

Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Argumen yang ada hanya
berputar pada agama mana yang paling benar. Tentu saja jawabnya tidak ada.
Sama saja dengan bertanya agama mana yang paling salah. Jawabnya tetap,
tidak ada agama yang salah. Agama adalah buatan manusia. Konsepsi belaka.
"Tuhan" juga adalah konsepsi belaka, suatu abstraksi dari sesuatu yang
diasumsikan dialami secara pribadi oleh orang per orang.

Menurut James, ajaran agama atau religi adalah suatu wadah dialog antara
penganut dan sesuatu yang dipercayainya sebagai "Tuhan". Harus ada dialog
berupa pengalaman pribadi. Apabila itu tidak ada, maka yang terjadi adalah
seperti orang buta yang menuntun orang buta. Seperti menggunakan buku
penuntun doa untuk memimpin orang-orang lain yang membeo di belakangnya.
Hasilnya seperti apa tidak akan dimengerti, dan gunanya untuk apa juga tidak
diketahui. 

Paling jauh orang itu hanya akan membuka buku lain lagi untuk memperoleh
jawabnya, atau bertanya kepada orang lain yang dianggap mengerti. Inilah
situasi di Indonesia.

William James di dalam bukunya melihat bahwa ada dua macam manusia penghayat
keagamaan; yaitu: manusia yang lahir dua kali (twice born), dan manusia yang
lahir satu kali saja (once born).

Manusia yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman
relijius traumatis: suatu perjumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan
pribadi itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga
akan dimengerti oleh orang lain juga. Narasi akan berupa deskripsi tentang
hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang sehingga
mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis berupa
pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan berubah
total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang percaya penuh
bahwa "Tuhan" memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi tertentu di
hidupnya.

Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong seperti yang dialami oleh
sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu kata penuh makna yang
terkait erat dengan hidupnya hari per hari, menit per menit, detik per
detik. Tuhan hidup di dalam diri subyek.

Manusia yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami
pengalaman relijius traumatis. Hidup berjalan sebagaimana adanya tanpa
merasa perlu adanya intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadi. Tanpa merasa
perlu adanya intervensi yang benar-benar terasakan bahwa "Tuhan" berbicara
kepada subyek dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa diartikan lain.
Karena tidak ada keinginan dan harapan bahwa Tuhan perlu hadir secara
pribadi, maka kehidupan subyek akan berjalan seperti itu saja selama
hidupnya. Memang relijius, tetapi relijius suam-suam kuku saja. Tidak ada
yang istimewa, semuanya seperti terstruktur dalam buku petunjuk. Hidup
seperti apa adanya. Gembira bila sedang gembira, dan sedih bila sedang sedih
Mereka yang mengalami kelahiran dua kali secara relijius terutama berasal
dari kalangan Protestan, dan mereka yang cuma lahir sekali terutama berasal
dari kalangan Katolik. Itu menurut penelitian William James dengan
kesaksian-kesaksian tertulis yang tak terhitung banyaknya di dalam bukunya
itu.

Mereka yang mengalami kelahiran dua kali adalah mereka yang hidupnya bisa
berubah total setelah bertemu "Tuhan". Bisa menjadi seorang yang taat
beragama walaupun tadinya seorang yang tidak percaya. Bisa melakukan hal-hal
luar biasa walaupun tadinya tidak memiliki tenaga dan daya untuk itu. Tetapi
mereka yang hanya lahir sekali saja hanya akan seperti itu saja selama
hidupnya. Pengalaman relijiusnya terutama bersifat komunal, dan bukan
pengalaman pribadi bertemu dengan "Tuhan" dalam suatu ruang dan waktu
tertentu.

Masyarakat Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir satu kali saja.
Jarang kita bertemu seseorang yang asli, yang mengalami sentuhan "Tuhan",
yang memiliki pengalaman relijius traumatik sehingga tidak lagi tergoyahkan
di dalam imannya. Yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar
walaupun semua orang lain tidak percaya.

Dan lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki suatu pengalaman relijius
dalam arti orthodoks konvensional atau menuruti ajaran-ajaran majelis ulama
ini atau majelis ulama yang itu. Tidak seperti itu maksudnya. Kelahiran dua
kali melalui pengalaman relijius traumatik adalah pengalaman pribadi yang
berada di luar jangkauan kategori-kategori KTP. Bisa saja dikategorikan
sebagai musyrik atau bidah. Tetapi itu genuine, asli, dan itulah yang
berarti besar secara rohaniah karena tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan
keyakinan orang itu.

Kalau yang lahir hanya satu kali, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu
saja. Komunal berupa hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan.
Yang mencari "Tuhan" kesana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah
kurang lebih menurut William James.





 

 

From: Halimun An

 

haturan kang maman,

 aduh meni rareuwas sim kuring, maksad sim kuring mah nu naros bade di

waler ku kayakinan naon? sanes sim kuring terang ti rupi2 kayakinan kulan.

Supados teu pasea we masihan ide kitu teh hehehe

 

nu sim kuring terang mah urusan kaimanan jawab ku akal tina hate, urusan
kadunyaan jawab 

ku kapinteran, kacerdasan, IQ tina otak.

Sabab otak mah sok bangor, sok ngareka-reka, digambar2, dikira2.

urusan hate urusan jiwa/ruh, urusan otak urusan raga.

teu langkung bade nguping gerentes nu mana. 

 

teu sadaya sunda islam, teu sadaya islam sunda

 

sim kuring rumaos tuturut munding ka ajaran rosul Muhammad saw,

nu saurna budaya arab atanapi budaya deungeun hehehehe

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke