Wisata Caringin Tilu Kian Diburu, Kian Bergincu *Mun ti Bandung ka palih kaler aya tempat anu endah pisan nu kiwari jadi pangjugjugan didinya pisan cinta urang Caringin Tilu ayeuna geus rame pisan Caringin Tilu baheula mah tiiseun pisan*
Caringin Tilu (Cartil), tempat wisata di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, kini kian bergincu dan diburu. Lihat saja, kafe-kafe lesehan kini ditata lebih apik, bak seorang gadis sedang bersolek. Para pemilik kafe lesehan, satu sama lain berusaha memanjakan pengunjung. Pengunjung tempat kuliner diusahakan dapat menikmati keindahan Kota Bandung dari ketinggian Caringin Tilu, atau kini lebih dikenal dengan puncak "Cartil". Pesona tempat wisata Cartil semakin kajojo seperti digambarkan lagu ciptaan Darso. Bukan cuma warga Bandung yang datang, terutama anak-anak muda, tetapi juga dari berbagai kota lainnya. Terlihat kode nomor mobil dari Garut, Sumedang, Bogor, juga Jakarta, terutama pada hari-hari libur. Keramaian akan memuncak manakala malam Minggu. Apalagi saat cuaca cerah. Di sinilah keasyikannya dari Cartil. Dari ketinggian di atas 50 meter, saat malam, kita melihat gebyar lampu-lampu di Kota Bandung dan sekitarnya. Seperti taburan bintang di langit. Seperti dalam bait lain lagu Darso: Mun nyawang ka lebah kota/katingali lampu-lampu jiga bentang baranang... Cartil kini banyak diburu pengunjung. Setiap malam minggu dan malam libur lainnya, ribuan pengunjung remaja dengan menggunakan sepeda motor menyemut di perbukitan Cartil yang merupakan bagian pegunungan Manglayang. Mereka berebut ingin menikmati suasana dan pemandangan Kota Bandung yang eksotik dari ketinggian. Pagi hari, tak mau ketinggalan, para "goweser" (sepeda ontel) menjadikan jalanan menanjak dan berliku dari Cartil sebagai trek yang menantang, sekaligus menyenangkan. Bahkan, tidak sedikit pula pejalan kaki yang turut menikmati, mempercepat denyut jantung sambil menghirup segarnya udara di atas ketinggian perbukitan Cartil. "Kalau hari Minggu, banyak yang berolah raga dengan berjalan kaki dan pakai sepeda ke sini," ujar Asep Jojo (34), seorang pemilik warung di Cartil. Herman (48) bersama anaknya, Rizki (20), warga Pondok Labu Jakarta, sengaja datang ke Bandung pada setiap hari libur hanya untuk bersepeda di Cartil. Mereka mengambil start dari arah "Warban" (Warung Bandrek) ke Cartil. "Wuih, asyik pemandangannya. Tempat ini menjadi favorit keluarga," kata Herman yang setibanya di Cartil langsung menikmati kuliner berupa nasi merah, pepes ayam, dipadu lalap dan sambal. ** WARGA sekitar tak luput pula memanfaatkan Cartil yang semakin menjadi tempat pilihan kunjungan masyarakat. Oleh karena itu, kini berderet warung-warung makan lesehan menawarkan berbagai ragam kuliner. Ada nasi timbel dari beras merah yang masih panas, ayam kampung goreng atau bakar, pepes usus, pepes ayam, pepes jamur, pepes teri, dan makanan yang jika disantap pada udara dingin terasa sangat nikmat. Kenikmatan itu bertambah ketika makannya di atas bale-bale yang terbuat dari palupuh (dari bilah pohon bambu) yang dilapisi tikar pandan. "Apalagi kiciwis-nya yang dicocolkan ke sambal," ujar Gani dan Dina yang sengaja datang ke sana. Kiciwis adalah sejenis lalapan yang berasal dari tunas kol yang telah dipetik. Rasanya sedikit manis. Bila Bondan Winarno bertandang ke Cartil, pasti dia akan berkomentar "maknyus" saat mencicipi ragam kuliner di Cartil. Tak hanya warung, kafe-kafe di Cartil juga menyajikan makanan yang tak kalah menarik. Terlebih, ada sejumlah saung bagi yang ingin makanan lesehan sambil menikmati panorama Kota Bandung. Parkir mobil dan sepeda motor serta toilet pun kini lebih ditata lagi. Jika ke Cartil, bawalah teropong. "Coba kalau ada penyewaan teropong di sini, pasti laku," kata Fadhil (23) yang datang bersama pacarnya, Laras (20). Dari ketinggian tempat ini, pengunjung dapat saling menebak di daerah mana jajaran lampu yang memanjang atau gedung apa yang ada cahaya lampu merah bak bintang kejora di kawasan Jln. Soekarno-Hatta, tepatnya di daerah Metro atau Margahayu Raya. Sementara itu, nun jauh di selatan, tampak kumpulan cahaya lampu seperti gugusan bintang Bima Sakti. Lebih asyik lagi saat menjelang matahari terbit. Ada sunset di puncak Gunung Manglayang. Atau jika memandang ke arah Garut, kepulan asap dari kawah Kamojang terlihat mirip cendawan. Belum lagi pesona pegunungan di seputar selatan Kota Bandung. Terlihat ada kabut menjalar di kaki bukit nun jauh di sana. Saat matahari kian meninggi, tampak lika-liku kaki gunung yang menyerupai akar-akar pohon raksasa. Hal tersebut membuat pengunjung betah berlama-lama menikmatinya. ** Ternyata , di Cartil juga sering digunakan shooting video klip untuk promosi lagu dan iklan kendaran mobil. Bahkan tak menutup kemungkinan, alam asri daerah Cimenyan ini dijadikan tempat shooting sinetron atau film cerita. Dengan pesonanya, belakangan, tak heran sering terjadi kemacetan di kawasan Cartil, terlebih saat pergantian tahun atau hari libur panjang. Malam tahun baru di atas Cartil selalu mengundang cerita yang memorinya tak lekang dimakan waktu, terutama bagi muda-mudi yang berpacaran. Kemeriahan ini menjadi berkah bagi Agus dan kawan-kawan yang menjadi juru parkir dadakan. Lapangan sepak bola di Cartil penuh motor dan mobil. "Lumayanlah, kenging Rp 800.000," ujar Agus menceritakan pengalamannya. Untuk kafe "lesehan" yang berjumlah 25 buah, semuanya dikelola oleh warga setempat. Menurut salah seorang pengelola kafe lesehan, Nany (23) , setiap malam Sabtu dan Minggu rata-rata penghasilannya antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Kawasan Cartil bisa ditempuh dari berbagai arah. Bagi penggemar sepeda bisa dari arah Jln. Pasirlayung-Padasuka, tetapi tanjakannya cukup berat. Sementara lewat Jln. Pasir Honje, Jln. Jatihandap, atau dari Dago, rutenya agak jauh. Namun bagi yang senang berpetualang, rute ini cukup mengasyikan. Sayangnya, jalan aspal dari arah "Warban" kini sudah mulai rusak kembali. Kemungkinan akibat tak ada drainase sehingga tergerus air saat musim hujan. Ada juga jalan yang belum diaspal. Jalan ini butuh perhatian pemerintah. Menikmati wisata Cartil juga bisa sekaligus menikmati objek wisata lain, seperti tempat outbond Kampung Bamboo dan Saung Angklung Mang Udjo. Kemudian, ada juga Galeri Jeihan jika ingin menikmati pameran lukisan. Fasilitas penginapan juga telah ada. Cartil sebenarnya masyhur sejak dulu, ditandai adanya patilasan keramat Mbah Dalem "Sutra Kembang" yang lebih dikenal dengan makam "Kuburan Panjang". "Biasanya kalau bulan Mulud banyak yang berziarah. Mereka datang dari mana-mana, Sumedang, Garut, sampai Cirebon ," kata Ndul (35), warga Kampung Cicayur, Desa Cimenyan, yang rumahnya terletak di seberang makam. Jika ingin datang ke Cartil lebih baik menggunakan motor. Meski sudah mulus beraspal, tetapi jalannya tak begitu lebar, hanya sekitar 2,5 meter. Jalannya juga berliku-liku dan menanjak. Oleh karena itu, dengan menggunakan sepeda motor, pengunjung akan cepat sampai dan lancar dalam perjalanan. (Ahmad Yusuf/"PR")*** web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=151133
