Sumedang Larang dalam Dinamika Legitimasi, Pendudukan Mataran, dan 
BirokrasiShare
 Monday, April 6, 2009 at 2:32pm
Seperti yang pada umumnya diketahui, Kerajaan Sumedang Larang merupakan salah 
satu kerajaan yang berdiri di Jawa Barat. Merupakan kerajaan Sunda bercorak 
‘unik’, karena kerajaan ini mengalami fase perubahan dari penganut Hindu ke 
penganut Islam. Tidak banyak cerita yang menggambarkan Kerajaan Sumedang Larang 
pada umumnya di wilayah Jawa Barat ini, dan sungguh ironisnya jika kita telaah, 
rata-rata siswa sekolahan dari SD sampai SMA lebih mengenal Pangeran Diponegoro 
daripada Pangeran Kornel, yang dengan sifat kepahlawanannya mempertahankan tiap 
jengkal wilayah Sunda – khususnya Sumedang, dari cengkraman jenderal bengis 
bernama Daendels. Pemaparan yang saya utarakan bukan tertuju kepada segi 
mistiknya, tapi dalam segi keilmuan. Bukan pemaparan tentang keghaiban 
raja-raja 
Sumedang dengan ‘ngahiangnya’, menghilangnya Prabu Siliwangi di Hutan Sancang, 
atau Nyi Roro Kidul yang kabarnya berasal dari puteri Pajajaran yang dikutuk. 
Menelaah dari ketidaktahuan akan arti dari keberadaan Kerajaan Sumedang Larang, 
seperti yang diungkapkan oleh Alm. Prof. Ekadjati mengemukakan bahwa “Sumedang 
Larang dapat dipandang sebagai kelanjutan kerajaan Sunda dan didirikan oleh 
kekuatan-kekuatan yang menghendaki tegaknya kembali keagungan Kerajaan 
Sunda”(1980: 101). Hal ini jelas bahwa Sumedang Larang merupakan satu-satunya 
kerajaan yang berhak dijadikan sebagai penerus kerajaan Sunda. Bukti ini 
diperkuat dengan datangnya empat orang utusan yang menjabat sebagai Kandaga 
Lante (kepala daerah setingkat kabupaten) untuk menyerahkan Mahkota Binokasih 
sebagai lambang kekuasaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun (1580-1608), 
kandaga lante itu masing-masing bernama Embah Jaya Perkosa, Terot Perot, 
Kondang-Hapa, dan Nangganan. Penyerahan itu dilatarbelakangi oleh semakin 
terdesaknya Kerajaan Hindu Pajajaran atas serangan kerajaan-kerajaan Islam, 
seperti Banten dan Cirebon. Dengan tujuan untuk menggantikan kekuasaan Pakuan 
Pajajaran, maka ibukota negarapun didirikan di wilayah Kutamaya, wilayah ini 
berada di dekat Kampung Parigi dan terletak di tengah sawah. 
Hingga tahap demi tahap, Sumedang Larangpun berada dalam wilayah kekuasaan 
Mataram. Hal ini tentunya tidak terlepas dari majunya sistem pertanian yang ada 
pada saat itu. Sistem pertanian ini dipelajari oleh orang-orang Sumedang dari 
orang-orang Mataram, tentunya dengan maksud sebagai ketahanan pangan 
tentara-tentara Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung dalam melawan Belanda 
di 
Batavia. Sumedang sebagai sumber persawahan terlihat di salah satu dokumen VOC 
yang menuliskan bahwa Desa Conggeang merupakan tanah persawahan, mungkin pada 
waktu itulah adanya kesenian baru yang menjadi ciri khas Sumedang pada saat 
ini, 
Ngalaksa. Ya, kesenian yang masih bercorak kental Hindu yang digelar sekali 
lima 
tahun tersebut bertujuan untuk menghargai dan menghormati Dewi Nyi Pohaci dan 
arwah leluhur atas keberhasilan panen. Selain itu, pengaruh kesenian Mataram 
juga terlihat dari tembang (nyanyian berbentuk pupuh) seperti Megatruh, 
Asmaradana, Mijil, ataupun Dandanggula, sehingga asimilasi yang terjadi antara 
Sumedang dengan Mataram banyak ditemukan, baik dalam sistem pertaniannya, 
kesenian, maupun birokrasi, namun tidak menampik bahwa pemberontakan terhadap 
Matarampun pernah terjadi pada tahun 1628. 
Ada beberapa hal yang dijadikan acuan mengapa Sumedang Larang berada dalam 
naungan Kerajaan Mataram (Mataram di sini adalah Mataram Islam), jika ditelaah, 
ada tiga alasan dalam pemerintahan Aria Soeriadiwangsa I (putra Prabu Geusan 
Ulun) tergabung atau bergabung dengan Mataram. Perihal pertama, karena adanya 
pretentie (pengakuan sebagai hak) Mataram atas Sumedang Larang pada tahun 1614. 
Hal ini dikemukakan bahwa Mataram benar-benar ingin melakukan ekspansi untuk 
menguasai seluruh wilayah Jawa. Hegemoni yang dilakukan oleh Belanda pada saat 
itu memicu Sultan Agung untuk melakukan perlawanan dan penyerangan ke Batavia. 
Untuk itu, sebagai batu loncatan ataupun sebagai tanda kejayaan wilayah 
Sumedang 
Larang pun dijadikan pretentie yang bernilai ekonomis. Berkaitan dengan perihal 
pertama, hal kedua yang mampu dititikberatkan kepada pretentie yaitu bahwa 
tidak 
mampunya raja melakukan sebuah penolakan terhadap pengakuan sebagai hak 
(pretentie) terhadap Mataram. Kekuatan persenjataan dan keprajuritan Mataram 
yang kuat, telah memberikan indikasi terhadap hal itu. Mataram dikenal sebagai 
kerajaan agraris pedalaman militeris. Hal ini terbukti bahwa hampir seluruh 
wilayah Jawa berada dalam kekuasaannya, kecuali Kerajaan Banten, perluasan ini 
dilakukan sdengan cara penyerbuan. Hal ketiga terkait dengan hubungan 
kekeluargaan, R. Aria Soeriadiwangsa I atau Pangeran Rangga Gempol mempunyai 
seorang Ibu (permaisuri Prabu Geusan Ulun) yang bernama Ratu Harisbaya. Ratu 
ini 
mempunyai darah Mataram, dimana kaitannya adalah bahwa ia sepupu Seda Krapyak 
(ayah Sultan Agung). Pada walnya, Ratu Harisbaya adalah seorang permaisuri raja 
Kesultanan Cirebon (Panembahan Ratu). Dengan kenyataan ini, sangat mudah bagi 
Mataram untuk menguasai Sumedang Larang, karena dapat diindikasikan bahwa 
pewaris kerajaan tersebut juga mempunyai keturunan yang berasal dari Mataram. 
Dengan kenyataan ini, tingkatan birokrasi dalam sejarah Kerajaan Sumedang 
Larang 
pernah dinaungi oleh Kerajaan Mataram, yang terletak di wilayah pedalaman Jawa 
ini. Sehingga kedudukan penguasa Sumedang Larang, dirubah menjadi Bupati 
Wedana. 
Gelar kebangsawananpun tidak lepas dari jawa sentrisme (setidaknya sebagian 
besar seperti itu), seperti sebutan pangeran (sebagai keturunan langsung 
raja/putra raja), lalu bupati Sumedang biasanya disebut dengan panembahan, 
adapun disebut dengan adipati dengan tambahan aria apabila bupati tersebut 
mempunyai gelar kebangsawanan raden. Selain itu, tumenggung merupakan gelar 
yang 
lebih rendah terhadap bupati (atau bisa juga disebut juga dengan dipati), 
pejabat yang lebih rendah lagi yaitu rangga yang merupakan sebutan patih 
wedana, 
sedangkan ngabehi atau demang diperuntukan bagi bupati-bupati yang berada di 
daerah kecil. Sebutan-sebutan lain bagi rakyat terhadap bupatinya yaitu kanjeng 
dalem, kawula dalem atau gamparan dalem, sedangkan sebutan bagi kaum menak yang 
tidak berkedudukan dalam pemerintahan pada saat itu disebut juga dengan juragan 
(laki-laki) atau juragan istri (perempuan). Sepertinya sejarah kerajaan Sunda 
tidak terlepas dari pengaruh jawa, seperti pada Mataram Islam pada saai itu, 
bukan hanya penguasaan, tapi juga hubungan keluarga. Bukankah Kerajaan Sunda 
Galuh yang nantinya menjelma sebagai Kerajaan Sunda Pajajaran yang memberikan 
legitimasi terhadap Kerajaan Sumedang Larang juga bertalian darah dengan 
keluarga Wangsa Sanjaya yang membangun Mataram kuno? (lihat Prasasti Canggal 
yang berangka tahun 732 m), disana tertulis bahwa Sanjaya merupakan pendiri 
wangsa Sanjaya, ia merupakan anak Sanaha (saudara perempuan Sanna). Sanna 
apabila kita kaitkan dengan Carita Parahyangan, merupakan penguasa Kerajaan 
Galuh dan akan digantikan juga dengan Sanjaya. Apakah ini indikasi bahwa 
pemimpin wilayah Kabupaten Sumedangpun juga merupakan seorang yang berdarah 
Jawa? entahlah. 

diunduh dari : http://www.facebook.com/note.php?note_id=89004206631


      

Kirim email ke