Pami bupati nu ayeuna mah jelas berdarah jawa : ) 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Fariman Whk
Sent: Tuesday, August 10, 2010 2:01 PM
To: [email protected]
Subject: [kisunda] Sumedang Larang dalam Dinamika Legitimasi, Pendudukan 
Mataram, dan Birokrasi

 

  

Sumedang Larang dalam Dinamika Legitimasi, Pendudukan Mataran, dan Birokrasi

 
<http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&appid=2347471856&p%5b%5d=1596818624&p%5b%5d=89004206631>
 Share

 Monday, April 6, 2009 at 2:32pm

Seperti yang pada umumnya diketahui, Kerajaan Sumedang Larang merupakan salah 
satu kerajaan yang berdiri di Jawa Barat. Merupakan kerajaan Sunda bercorak 
‘unik’, karena kerajaan ini mengalami fase perubahan dari penganut Hindu ke 
penganut Islam. Tidak banyak cerita yang menggambarkan Kerajaan Sumedang Larang 
pada umumnya di wilayah Jawa Barat ini, dan sungguh ironisnya jika kita telaah, 
rata-rata siswa sekolahan dari SD sampai SMA lebih mengenal Pangeran Diponegoro 
daripada Pangeran Kornel, yang dengan sifat kepahlawanannya mempertahankan tiap 
jengkal wilayah Sunda – khususnya Sumedang, dari cengkraman jenderal bengis 
bernama Daendels. Pemaparan yang saya utarakan bukan tertuju kepada segi 
mistiknya, tapi dalam segi keilmuan. Bukan pemaparan tentang keghaiban 
raja-raja Sumedang dengan ‘ngahiangnya’, menghilangnya Prabu Siliwangi di Hutan 
Sancang, atau Nyi Roro Kidul yang kabarnya berasal dari puteri Pajajaran yang 
dikutuk. 
Menelaah dari ketidaktahuan akan arti dari keberadaan Kerajaan Sumedang Larang, 
seperti yang diungkapkan oleh Alm. Prof. Ekadjati mengemukakan bahwa “Sumedang 
Larang dapat dipandang sebagai kelanjutan kerajaan Sunda dan didirikan oleh 
kekuatan-kekuatan yang menghendaki tegaknya kembali keagungan Kerajaan 
Sunda”(1980: 101). Hal ini jelas bahwa Sumedang Larang merupakan satu-satunya 
kerajaan yang berhak dijadikan sebagai penerus kerajaan Sunda. Bukti ini 
diperkuat dengan datangnya empat orang utusan yang menjabat sebagai Kandaga 
Lante (kepala daerah setingkat kabupaten) untuk menyerahkan Mahkota Binokasih 
sebagai lambang kekuasaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun (1580-1608), 
kandaga lante itu masing-masing bernama Embah Jaya Perkosa, Terot Perot, 
Kondang-Hapa, dan Nangganan. Penyerahan itu dilatarbelakangi oleh semakin 
terdesaknya Kerajaan Hindu Pajajaran atas serangan kerajaan-kerajaan Islam, 
seperti Banten dan Cirebon. Dengan tujuan untuk menggantikan kekuasaan Pakuan 
Pajajaran, maka ibukota negarapun didirikan di wilayah Kutamaya, wilayah ini 
berada di dekat Kampung Parigi dan terletak di tengah sawah. 
Hingga tahap demi tahap, Sumedang Larangpun berada dalam wilayah kekuasaan 
Mataram. Hal ini tentunya tidak terlepas dari majunya sistem pertanian yang ada 
pada saat itu. Sistem pertanian ini dipelajari oleh orang-orang Sumedang dari 
orang-orang Mataram, tentunya dengan maksud sebagai ketahanan pangan 
tentara-tentara Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung dalam melawan Belanda 
di Batavia. Sumedang sebagai sumber persawahan terlihat di salah satu dokumen 
VOC yang menuliskan bahwa Desa Conggeang merupakan tanah persawahan, mungkin 
pada waktu itulah adanya kesenian baru yang menjadi ciri khas Sumedang pada 
saat ini, Ngalaksa. Ya, kesenian yang masih bercorak kental Hindu yang digelar 
sekali lima tahun tersebut bertujuan untuk menghargai dan menghormati Dewi Nyi 
Pohaci dan arwah leluhur atas keberhasilan panen. Selain itu, pengaruh kesenian 
Mataram juga terlihat dari tembang (nyanyian berbentuk pupuh) seperti Megatruh, 
Asmaradana, Mijil, ataupun Dandanggula, sehingga asimilasi yang terjadi antara 
Sumedang dengan Mataram banyak ditemukan, baik dalam sistem pertaniannya, 
kesenian, maupun birokrasi, namun tidak menampik bahwa pemberontakan terhadap 
Matarampun pernah terjadi pada tahun 1628. 
Ada beberapa hal yang dijadikan acuan mengapa Sumedang Larang berada dalam 
naungan Kerajaan Mataram (Mataram di sini adalah Mataram Islam), jika ditelaah, 
ada tiga alasan dalam pemerintahan Aria Soeriadiwangsa I (putra Prabu Geusan 
Ulun) tergabung atau bergabung dengan Mataram. Perihal pertama, karena adanya 
pretentie (pengakuan sebagai hak) Mataram atas Sumedang Larang pada tahun 1614. 
Hal ini dikemukakan bahwa Mataram benar-benar ingin melakukan ekspansi untuk 
menguasai seluruh wilayah Jawa. Hegemoni yang dilakukan oleh Belanda pada saat 
itu memicu Sultan Agung untuk melakukan perlawanan dan penyerangan ke Batavia. 
Untuk itu, sebagai batu loncatan ataupun sebagai tanda kejayaan wilayah 
Sumedang Larang pun dijadikan pretentie yang bernilai ekonomis. Berkaitan 
dengan perihal pertama, hal kedua yang mampu dititikberatkan kepada pretentie 
yaitu bahwa tidak mampunya raja melakukan sebuah penolakan terhadap pengakuan 
sebagai hak (pretentie) terhadap Mataram. Kekuatan persenjataan dan 
keprajuritan Mataram yang kuat, telah memberikan indikasi terhadap hal itu. 
Mataram dikenal sebagai kerajaan agraris pedalaman militeris. Hal ini terbukti 
bahwa hampir seluruh wilayah Jawa berada dalam kekuasaannya, kecuali Kerajaan 
Banten, perluasan ini dilakukan sdengan cara penyerbuan. Hal ketiga terkait 
dengan hubungan kekeluargaan, R. Aria Soeriadiwangsa I atau Pangeran Rangga 
Gempol mempunyai seorang Ibu (permaisuri Prabu Geusan Ulun) yang bernama Ratu 
Harisbaya. Ratu ini mempunyai darah Mataram, dimana kaitannya adalah bahwa ia 
sepupu Seda Krapyak (ayah Sultan Agung). Pada walnya, Ratu Harisbaya adalah 
seorang permaisuri raja Kesultanan Cirebon (Panembahan Ratu). Dengan kenyataan 
ini, sangat mudah bagi Mataram untuk menguasai Sumedang Larang, karena dapat 
diindikasikan bahwa pewaris kerajaan tersebut juga mempunyai keturunan yang 
berasal dari Mataram. 
Dengan kenyataan ini, tingkatan birokrasi dalam sejarah Kerajaan Sumedang 
Larang pernah dinaungi oleh Kerajaan Mataram, yang terletak di wilayah 
pedalaman Jawa ini. Sehingga kedudukan penguasa Sumedang Larang, dirubah 
menjadi Bupati Wedana. Gelar kebangsawananpun tidak lepas dari jawa sentrisme 
(setidaknya sebagian besar seperti itu), seperti sebutan pangeran (sebagai 
keturunan langsung raja/putra raja), lalu bupati Sumedang biasanya disebut 
dengan panembahan, adapun disebut dengan adipati dengan tambahan aria apabila 
bupati tersebut mempunyai gelar kebangsawanan raden. Selain itu, tumenggung 
merupakan gelar yang lebih rendah terhadap bupati (atau bisa juga disebut juga 
dengan dipati), pejabat yang lebih rendah lagi yaitu rangga yang merupakan 
sebutan patih wedana, sedangkan ngabehi atau demang diperuntukan bagi 
bupati-bupati yang berada di daerah kecil. Sebutan-sebutan lain bagi rakyat 
terhadap bupatinya yaitu kanjeng dalem, kawula dalem atau gamparan dalem, 
sedangkan sebutan bagi kaum menak yang tidak berkedudukan dalam pemerintahan 
pada saat itu disebut juga dengan juragan (laki-laki) atau juragan istri 
(perempuan). Sepertinya sejarah kerajaan Sunda tidak terlepas dari pengaruh 
jawa, seperti pada Mataram Islam pada saai itu, bukan hanya penguasaan, tapi 
juga hubungan keluarga. Bukankah Kerajaan Sunda Galuh yang nantinya menjelma 
sebagai Kerajaan Sunda Pajajaran yang memberikan legitimasi terhadap Kerajaan 
Sumedang Larang juga bertalian darah dengan keluarga Wangsa Sanjaya yang 
membangun Mataram kuno? (lihat Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 m), 
disana tertulis bahwa Sanjaya merupakan pendiri wangsa Sanjaya, ia merupakan 
anak Sanaha (saudara perempuan Sanna). Sanna apabila kita kaitkan dengan Carita 
Parahyangan, merupakan penguasa Kerajaan Galuh dan akan digantikan juga dengan 
Sanjaya. Apakah ini indikasi bahwa pemimpin wilayah Kabupaten Sumedangpun juga 
merupakan seorang yang berdarah Jawa? entahlah. 

 

diunduh dari : http://www.facebook.com/note.php?note_id=89004206631

 



Kirim email ke