kuring resep ka toto chan, tokoh dina buku karangan tetsuko kuroyanagi. cenah mah eta buku teh otobiografi tetsuko-san sorangan. toto-chan teh budak nu dianggap badeur ku guruna di sakola nepi ka dikaluarkeun. indungna kapaksa neangan deui sakola. nepi ka manggih sakola nu gerbangna tina tangkal hirup, kelasna tina gerbong kareta urut. toto nu badeur, toto nu malaweung teh ditarima. waas we basa memeh asup toto-chan teh kudu 'diwawancara' ku kapala sakola anyar. lain kapala sakola nu rea nanya, tapi meh dua jam si kapala sakola teh ngadengekeun dongeng toto-chan. ti dinya toto mimiti resep ka kapala sakola teh. da samemehna mah euweuh jelema gede nu daek ngadengekeun ocehan manehna, komo nepi ka dua jam mah.
kuring ge kenal jeung farid gaban, ngan manehna mah boro-boro kenal ka uing haha. kenal pedah sok resep macaan tulisanna di milis 'jurnalisme'. saurang 'urut' wartawan. make urut teh pedah ayeuna manehna teh balik ka lemburnya jadi patani :) . manehna ningali sakola di indonesia teh 'goreng'. manehna ngarasa bersukur bisa kaluar samemeh lulus. ngan ku kitu ge, ku teu boga ijasah, farid gaban bisa jadi jalma nu sukses. wartawan nu jadi pananyaan wartawan sejenna. jadi wartawan nu paningali ku kuring mah idealis. nolak amplop salasahijina. dudi --- SEMOGA ANAKKU TIDAK MINTA SEKOLAH By: Jazimah Al-Muhyi Saya merasa bahwa sistem persekolahan di Indonesia pada umumnya belum baik. Bahkan saya terkadang menyesali waktu-waktu yang saya buang percuma di bangku sekolah selama belasan tahun. Dan bersyukur segera mengakhirnya pada semester 3. Saya adalah orang yang merasakan indahnya belajar di luar sistem sekolah. Masa-masa paling indah, masa-masa tak sekolah :-) Kini saya punya anak. Yang sulung umur 4 tahun, yang kedua 2 tahun. Umumnya sudah masuk TK dan PAUD. Dan pertanyaan demi pertanyaan terus kami terima Sekolah belum? Sekolah di mana? Kelas berapa? Sudah bisa apa? Aulia/Mbak Lia (si sulung) yang sensitif itu terlihat tertekan dengan pertanyaan yang diajukan. Saya pun sesungguhnya juga demikian (he he, kan yang mewariskan sifat sensitif ke Mbak Lia tak lain adalah ibunya) Tapi saya tidak tega kalau harus menyerahkan anak saya ke lembaga persekolahan yang ada di dekat saya, yang tidak sesuai standar pendidikan yang saya pahami. Belum lagi `memaksa' anak-anak bangun pagi, pasti membuat hari pagi tidak indah lagi. Saya pikir, belum saatnya anak-anak itu didisiplinkan sedemikian rupa. Kecuali kalau ada sekolah yang seperti Qoryah Thoyyibah. Mau masuk jam berapa aja, terserah. Ada sih TK dan PAUD yang menurut kami bagus, tapi lokasinya jauh. Mungkin harus satu jam lebih untuk sampai sana. Ada 2 pilihan. Naik motor dengan resiko terkena polusi selama berangkat dan pulang. Atau naik bis yang ngebutnya luar biasa tidak tahu aturan. Dua-duanya tidak menyenangkan. Maka saya dan suami akhirnya memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anak. Ini memang bukan keputusan yang mudah. Terlebih kami yakin, hujan pertanyaan seputar sekolah itu masih akan terus menerpa kami. Saya, suami dan anak-anak. Belum lagi kalau kumpul-kumpul keluarga lebaran nanti. Apa yang membuat saya keberatan dengan sistem sekolah yang ada? Satu, penyeragaman. Untuk apa segala sesuatu harus sama? Bukankah senyatanya kehidupan ini memang berisi orang-orang yang berbeda? Agar si miskin tak minder pada si kaya? Bukan dengan cara itu solusinya. Biarkan yang memang berbeda terlihat bedanya, agar bisa lebih mudah mengajarkan konsep berbagi, empati, berderma. Saya sedih dengan kenyataan bahwa seringkali pihak sekolah menaruh konsentrasi terlalu besar pada masalah seragam ini. Tidak jarang siswa dihukum hanya masalah ikat pinggang, kaos kaki. Saya pun ingin punya anak yang disiplin. Tapi bukan dengan cara seperti itu. Dua, semua dipandang sama Anak dipandang sebagai gelas kosong yang boleh diisi apa saja oleh pengajarnya. Bukan sebagai seorang hebat yang butuh dipandu untuk menemukan kehebatannya. Empat tahun lebih membersamai anak-anak, saya seringkali takjub dengan kemampuan nalar, emosi, kreasi dan sebagainya dari mereka. Saya yakin bukan anak saya saja yang begitu. Pastilah semua anak juga seperti itu. Dinamis, kreatif, percaya diri, cekatan, ingin tahu, ingin selalu mencoba. Dan menurut pengalaman saya, sistem sekolah MEMBUNUH satu per satu keistimewaan itu.. Tiga, banyaknya jajanan tidak sehat di luar sekolah yang mudah dikonsumsi anak. Saat Aulia mengangguk saat saya tawari masuk PAUD dekat rumah, hampir-hampir saya ingin memasukkannya ke PAUD. Tapi suami kemudian mengingatkan. (Suami dulu pernah bilang, "Mama yakin kalau doktrin-doktrin para pengajar PAUD itu akan sama dengan doktrin-doktrin yang Mama berikan selama ini ke anak-anak?) Ya, kasihan anak-anak kalau mereka harus menerima sistem nilai yang berbeda. Ya, saya harus berjuang. Saya tidak boleh menyerah. Bukankah saya telah mengambil keputusan dengan keyakinan? Mengapa harus goyah? Kemarin, saat berada di lokasi acara Batang Book On The Street, yang salah satu acaranya adalah lomba mewarnai anak TK, saya menyaksikan seorang anak yang muram sepanjang acara lantaran dia belum menyelesaikan pewarnaan gambarnya dan waktu sudah habis. Temannya menyanyi gembira dipandu seorang pendongeng, dia duduk di pangkuan Ayahnya tanpa senyum. Saat itulah saya menjadi lebih paham tentang tulisan yang pernah saya baca. Bahwa secara psikis, anak usia TK itu belum siap berkompetisi. Untuk anak-anak TK, mereka semua harus diyakinkan bahwa mereka semua hebat, mereka semua adalah pemenang. SEMUA anak HEBAT, SEMUA anak adalah PEMENANG. Harus demikian agar semua anak memiliki harga diri yang sama, agar semua anak memiliki nilai diri yang positif, agar semua anak berbahagia. Hingga, kelak apabila mereka menjadi guru, mereka menjadi guru yang bahagia. Polisi yang bahagia, petani yang bahagia, pedagang yang bahagia, pejabat yang bahagia Pribadi yang bahagia, insya Allah akan memancarkan energi semangat dan kebahagiaan untuk sekelilingnya. Pribadi yang bahagia, alergi dengan segala hal yang bersifat menyengsarakan sesama. Itulah masalahnya. Begitu sulit mencari sekolah yang misinya memBAHAGIAkan anak. Yang memperlakukan SEMUA anak didiknya dengan istimewa, karena semua manusia terlahir istimewa. So, sekarang tugas saya adalah membuat anak-anak bahagia di rumah, bahagia saat beraktivitas bersama saya, agar tidak minta sekolah :-) (plus tugas tambahan menyiapkan mental kalo ditanya soal sekolah sama kakek nenek, om tante, juga pakde budenya nanti, hehe) Mohon masukan dari teman-teman ya
