baraya geus mareuli sarung keur lebaran? hehehe.

======
Sabtu, 9 Januari 1999

*Lebaran dengan Sarung Majalaya*  DI kalangan *bandar sarung* Pasar Tanah
Abang (Jakarta) dan Pasar Turi (Surabaya), kata "*made in Majalaya"* sangat
akrab di telinga. Sejak 1960-an, istilah itu berarti sarung *kelas ekonomi
menengah ke bawah*. Dari Majalaya -kota kecil 22 km sebelah tenggara kota
Bandung- itu, setiap harinya ribuan *kodi* sarung tenun dibongkar di *pasar
grosir* tadi.

Ciri-ciri sarung Majalaya mudah dikenali. Motifnya monoton kotak-kotak atau
perpaduan *lurik* horisontal-vertikal, *serat benang*nya sedikit kasar. *
Acapkali* *pintalan* dan *rajutan*nya sedikit renggang dan mudah berbulu.

Pantas harganya lebih murah ketimbang sarung Pekalongan yang terkenal halus
karena dibuat dengan teknologi *canggih*. Secara *grosiran* sarung Majalaya
rata-rata harganya sekitar Rp 8.000-Rp 10.000/lembar. Untuk menyalurkan
bantuan sosial kepada korban bencana, *instansi pemerintah* biasa mengambil
sarung Majalaya sebagai pengisi paket.

Tetapi pada Ramadhan hingga Lebaran dan Lebaran Haji, order akan sarung
Majalaya dari berbagai kota di Indonesia terus mengalir, bahkan sejak tiga
bulan sebelumnya. Bagi sekitar 100 pengusaha *tenun* sarung di Majalaya, hal
itu membuka *secercah* harapan menyambung hidup. Selama ini mereka *
megap-megap* di*terpa* badai krisis ekonomi.

Haji Achmad (37) misalnya, sejak Oktober lalu meningkatkan produksi dari 280
menjadi 1.400 *kodi*/bulan. Lonjakan order membuat di hari libur pun tetap
terdengar hiruk-pikuk suara 90 mesin tenun miliknya yang ditangani 70
pekerja. Hal sama terjadi pada pabrik tenun milik Haji Usep R (40). Produksi
mereka langsung di*sambar* bandar sarung dari berbagai kota, diangkut *mobil
boks* begitu selesai dikemas.

Pasar Tanah Abang menjadi terminal distribusi sarung Majalaya buat kota-kota
di Indonesia Barat, seperti Palembang, Padang, Medan, dan Banda Aceh.
Sedangkan Pasar Turi Surabaya, mendistribusikan sarung Majalaya untuk
kota-kota di Indonesia Timur, seperti Ujungpandang, Gorontalo dan Ambon.

Bahkan, ketika dollar masih menembus *kisaran* Rp 12.000, pedagang dari
Filipina, Nigeria (Afrika), dan Banglades sering memborong sarung Majalaya
dari kedua pasar itu.
***

UMUMNYA pengusaha tenun sarung Majalaya saat ini adalah generasi kedua dan
ketiga yang mewarisi usaha orangtua. Sayangnya mesin-mesin warisan mereka
tidak mengikuti zaman teknologi canggih karena masih *mengandalkan* tenaga
manual. Setiap mesin dioperasikan seorang pekerja, sehingga tidak efisien
dan rapi.

Terlepas dari istilah *rezeki musiman*, peningkatan order pada Ramadhan ini
punya arti tersendiri bagi usaha rakyat berskala kecil yang tersisa di
Majalaya. Paling tidak, untuk sementara waktu, industri tenun tradisional
itu pelan-pelan *menggeliat* lagi.

Seakan mendapat suntikan energi baru, suara mesin tenun tak lagi
*selirih*tiga-empat bulan yang lalu. Pekerja yang
*dirumahkan* lantaran krisis ekonomi, *dipekerjakan* lagi. Mereka dibayar
tidak terlalu jauh dari standar *UMR* Jabar yang sebesar Rp 7.200 per hari.

Puluhan pabrik tenun yang selama ini hanya mempertahankan hidup dengan
mengerjakan pesanan *rajutan* *karung* *tepung terigu*,
*ikut-ikutan*menyisihkan sebagian waktunya untuk membuat sarung.
"Sayang kalau momen
Ramadhan terlewatkan tanpa sarung," ujar Yayat (42), pemilik pabrik tenun
yang biasa merajut *maklun*, karung tepung terigu.

Di samping *kelihaian* sendiri, pengusaha tesktil *kerap* meraih order
berkat *kemitraan* Koperasi Pengusaha Pertekstilan (Koppertek) dengan pihak
luar. Begitu pula dalam urusan *pengadaan* bahan baku benang. Lewat koperasi
dan bandar-*bandar benang* di Majalaya, para pengusaha sarung tidak terlalu
sulit mendapatkan benang dari berbagai jenis, seperti polyester dan *katun*.

Untuk setiap kodi sarung (sepuluh lembar sarung) dibutuhkan sekitar 6 kg
benang yang dibeli dalam satuan bal (satu bal *setara* dengan 181,44 kg
benang). Polyester dibeli Rp 35.000-Rp 40.000/kg, katun 20-S antara Rp
900.000 - Rp 1.000.000/bal. Dalam krisis ekonomi, harga bahan tersebut bisa
naik 30 persen. Keuntungan yang mereka raih tidaklah terlalu besar. Paling *
banter* 10-20 persen dari harga pokok produksi (HPP).

Dengan meningkatnya produksi, kebutuhan akan benang otomatis ter*dongkrak*,
tetapi pengusaha tenun tidak pernah risau. Benang bisa juga diperoleh dari
bahan sisa pabrik tenun modern. Bahan tak terpakai karena salah desain di
pabrik tekstil besar, di*daur-ulang* pabrik tenun konvensional, harganya pun
lebih murah 30-50 persen.

Bagian baju berbahan polyester "gagalan" itu didaur-ulang dengan mengolahnya
menjadi lembaran-lembaran benang. Dari dua ton "gagalan" bisa dihasilkan
satu ton benang polyester.

Tak mau kalah oleh produk sarung *kelas atas*, pengusaha tenun Majalaya suka
memberi *embel-embel* pada produknya berupa cap yang mirip merek sarung
papan atas yang lagi *ngetren*. Misalnya pada tahun 1970-an, ketika sarung
cap "padi" lagi *naik daun*, Majalaya berusaha *bonceng* *tenar* dengan
membuat cap "padi jaya" atau "padi mas". Ketika cap "gajah" sedang terkenal,
mereka *ikut-ikutan* merancang label semisal cap "gajah mangga", "gajah
duduk", atau "gajah *jongkok*".

Yang pasti dengan merek-merek boncengan itu, banyak warga masyarakat bisa
berlebaran dengan gaya. Entah, apakah situasi itu juga berlaku di zaman
krisis sekarang. (nasrullah nara)

© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian *Kompas*

Kirim email ke