hah, can nikah ?, anggota milis urang sunda, kisunda loba awewe-na, daek ti tanah leluhur bogor ?
2010/8/23 mh <[email protected]> > > > tah hade atuh, mun ka bandung deui, tong poho nyiar mojang bandung, tong > ngajomblo wae, kaburu 2012. > tepungan we kang oman geura, sina mang neangankeun mojang bandung. > tah kang oman, kang roslee reak neangan jodo cenah. hahaha. > > > 2010/8/23 Roslee Kartawi <[email protected]> > >> >> >> Makassar tempohari (6-8 August 2010) >> >> OK ... no bad la ... hmmm ... tetapi untuk SHOPPING sesuai untuk WANITA >> sahaja ... >> Sebab di Makassar terkenal dengan produk SUTERA, MUTIARA, EMAS, CRAFT >> daripada PERAK, Kopi Toraja dan Jus Markisa ... >> >> Penerbangan terus KL-Makassar dengan AirAsia hanya mengambil 2 setengah >> jam sahaja. Akibat Bagasi terbatas makanya tidak banyak yang boleh dibawa >> pulang >> >> He he he >> >> Hmmm 29-31 OCTOBER 2010 akan ke Bandung lagi ... ha ha ha >> >> >> >> >> >> --- On *Mon, 23/8/10, mh <[email protected]>* wrote: >> >> >> From: mh <[email protected]> >> Subject: Re: [kisunda] Puasa - Lebaran Sarung Majalaya? >> To: [email protected] >> Date: Monday, 23 August, 2010, 12:51 PM >> >> >> >> >> mr lee, kumaha makasar euy bejana? >> >> 2010/8/23 Roslee Kartawi >> <[email protected]<http://mc/[email protected]> >> > >> >> >> >> Makasih Bro dengan informasinya ... >> >> Tetapi bagi kebiasaan orang Semenanjung, kami tidak memakai kain sarung >> waktu lebaran hari pertama. Pakaian yang kami pakai adalah Baju Melayu >> lengkap dengan Samping Songket dan Songkok ... >> >> He he he he he >> >> Kain Sarong dipakai untuk Solat hari-hari di rumah atau Solat Jumaat dan >> sebagai pakaian harian di rumah ... he he he he >> >> >> --- On *Mon, 23/8/10, mh >> <[email protected]<http://mc/[email protected]> >> >* wrote: >> >> >> From: mh <[email protected] <http://mc/[email protected]>> >> Subject: [kisunda] Puasa - Lebaran Sarung Majalaya? >> To: "Ki Sunda" >> <[email protected]<http://mc/[email protected]> >> > >> Date: Monday, 23 August, 2010, 10:56 AM >> >> >> >> >> baraya geus mareuli sarung keur lebaran? hehehe. >> >> ====== >> Sabtu, 9 Januari 1999 >> >> *Lebaran dengan Sarung Majalaya* DI kalangan *bandar sarung* Pasar Tanah >> Abang (Jakarta) dan Pasar Turi (Surabaya), kata "*made in Majalaya"*sangat >> akrab di telinga. Sejak 1960-an, istilah itu berarti sarung >> *kelas ekonomi menengah ke bawah*. Dari Majalaya -kota kecil 22 km >> sebelah tenggara kota Bandung- itu, setiap harinya ribuan *kodi* sarung >> tenun dibongkar di *pasar grosir* tadi. >> >> Ciri-ciri sarung Majalaya mudah dikenali. Motifnya monoton kotak-kotak >> atau perpaduan *lurik* horisontal-vertikal, *serat benang*nya sedikit >> kasar. *Acapkali* *pintalan* dan *rajutan*nya sedikit renggang dan mudah >> berbulu. >> >> Pantas harganya lebih murah ketimbang sarung Pekalongan yang terkenal >> halus karena dibuat dengan teknologi *canggih*. Secara *grosiran* sarung >> Majalaya rata-rata harganya sekitar Rp 8.000-Rp 10.000/lembar. Untuk >> menyalurkan bantuan sosial kepada korban bencana, *instansi pemerintah*biasa >> mengambil sarung Majalaya sebagai pengisi paket. >> >> Tetapi pada Ramadhan hingga Lebaran dan Lebaran Haji, order akan sarung >> Majalaya dari berbagai kota di Indonesia terus mengalir, bahkan sejak tiga >> bulan sebelumnya. Bagi sekitar 100 pengusaha *tenun* sarung di Majalaya, >> hal itu membuka *secercah* harapan menyambung hidup. Selama ini mereka * >> megap-megap* di*terpa* badai krisis ekonomi. >> >> Haji Achmad (37) misalnya, sejak Oktober lalu meningkatkan produksi dari >> 280 menjadi 1.400 *kodi*/bulan. Lonjakan order membuat di hari libur pun >> tetap terdengar hiruk-pikuk suara 90 mesin tenun miliknya yang ditangani 70 >> pekerja. Hal sama terjadi pada pabrik tenun milik Haji Usep R (40). Produksi >> mereka langsung di*sambar* bandar sarung dari berbagai kota, diangkut *mobil >> boks* begitu selesai dikemas. >> >> Pasar Tanah Abang menjadi terminal distribusi sarung Majalaya buat >> kota-kota di Indonesia Barat, seperti Palembang, Padang, Medan, dan Banda >> Aceh. Sedangkan Pasar Turi Surabaya, mendistribusikan sarung Majalaya untuk >> kota-kota di Indonesia Timur, seperti Ujungpandang, Gorontalo dan Ambon. >> >> Bahkan, ketika dollar masih menembus *kisaran* Rp 12.000, pedagang dari >> Filipina, Nigeria (Afrika), dan Banglades sering memborong sarung Majalaya >> dari kedua pasar itu. >> *** >> >> UMUMNYA pengusaha tenun sarung Majalaya saat ini adalah generasi kedua dan >> ketiga yang mewarisi usaha orangtua. Sayangnya mesin-mesin warisan mereka >> tidak mengikuti zaman teknologi canggih karena masih *mengandalkan*tenaga >> manual. Setiap mesin dioperasikan seorang pekerja, sehingga tidak >> efisien dan rapi. >> >> Terlepas dari istilah *rezeki musiman*, peningkatan order pada Ramadhan >> ini punya arti tersendiri bagi usaha rakyat berskala kecil yang tersisa di >> Majalaya. Paling tidak, untuk sementara waktu, industri tenun tradisional >> itu pelan-pelan *menggeliat* lagi. >> >> Seakan mendapat suntikan energi baru, suara mesin tenun tak lagi *selirih >> * tiga-empat bulan yang lalu. Pekerja yang *dirumahkan* lantaran krisis >> ekonomi, *dipekerjakan* lagi. Mereka dibayar tidak terlalu jauh dari >> standar *UMR* Jabar yang sebesar Rp 7.200 per hari. >> >> Puluhan pabrik tenun yang selama ini hanya mempertahankan hidup dengan >> mengerjakan pesanan *rajutan* *karung* *tepung terigu*, >> *ikut-ikutan*menyisihkan sebagian waktunya untuk membuat sarung. "Sayang >> kalau momen >> Ramadhan terlewatkan tanpa sarung," ujar Yayat (42), pemilik pabrik tenun >> yang biasa merajut *maklun*, karung tepung terigu. >> >> Di samping *kelihaian* sendiri, pengusaha tesktil *kerap* meraih order >> berkat *kemitraan* Koperasi Pengusaha Pertekstilan (Koppertek) dengan >> pihak luar. Begitu pula dalam urusan *pengadaan* bahan baku benang. Lewat >> koperasi dan bandar-*bandar benang* di Majalaya, para pengusaha sarung >> tidak terlalu sulit mendapatkan benang dari berbagai jenis, seperti >> polyester dan *katun*. >> >> Untuk setiap kodi sarung (sepuluh lembar sarung) dibutuhkan sekitar 6 kg >> benang yang dibeli dalam satuan bal (satu bal *setara* dengan 181,44 kg >> benang). Polyester dibeli Rp 35.000-Rp 40.000/kg, katun 20-S antara Rp >> 900.000 - Rp 1.000.000/bal. Dalam krisis ekonomi, harga bahan tersebut bisa >> naik 30 persen. Keuntungan yang mereka raih tidaklah terlalu besar. Paling >> *banter* 10-20 persen dari harga pokok produksi (HPP). >> >> Dengan meningkatnya produksi, kebutuhan akan benang otomatis ter*dongkrak >> *, tetapi pengusaha tenun tidak pernah risau. Benang bisa juga diperoleh >> dari bahan sisa pabrik tenun modern. Bahan tak terpakai karena salah desain >> di pabrik tekstil besar, di*daur-ulang* pabrik tenun konvensional, >> harganya pun lebih murah 30-50 persen. >> >> Bagian baju berbahan polyester "gagalan" itu didaur-ulang dengan >> mengolahnya menjadi lembaran-lembaran benang. Dari dua ton "gagalan" bisa >> dihasilkan satu ton benang polyester. >> >> Tak mau kalah oleh produk sarung *kelas atas*, pengusaha tenun Majalaya >> suka memberi *embel-embel* pada produknya berupa cap yang mirip merek >> sarung papan atas yang lagi *ngetren*. Misalnya pada tahun 1970-an, >> ketika sarung cap "padi" lagi *naik daun*, Majalaya berusaha *bonceng* * >> tenar* dengan membuat cap "padi jaya" atau "padi mas". Ketika cap "gajah" >> sedang terkenal, mereka *ikut-ikutan* merancang label semisal cap "gajah >> mangga", "gajah duduk", atau "gajah *jongkok*". >> >> Yang pasti dengan merek-merek boncengan itu, banyak warga masyarakat bisa >> berlebaran dengan gaya. Entah, apakah situasi itu juga berlaku di zaman >> krisis sekarang. (nasrullah nara) >> >> © C o p y r i g h t 1 9 9 8 Harian *Kompas* >> >> >> >> >> >> > >
