mr lee, kumaha makasar euy bejana? 2010/8/23 Roslee Kartawi <[email protected]>
> > > Makasih Bro dengan informasinya ... > > Tetapi bagi kebiasaan orang Semenanjung, kami tidak memakai kain sarung > waktu lebaran hari pertama. Pakaian yang kami pakai adalah Baju Melayu > lengkap dengan Samping Songket dan Songkok ... > > He he he he he > > Kain Sarong dipakai untuk Solat hari-hari di rumah atau Solat Jumaat dan > sebagai pakaian harian di rumah ... he he he he > > > --- On *Mon, 23/8/10, mh <[email protected]>* wrote: > > > From: mh <[email protected]> > Subject: [kisunda] Puasa - Lebaran Sarung Majalaya? > To: "Ki Sunda" <[email protected]> > Date: Monday, 23 August, 2010, 10:56 AM > > > > > baraya geus mareuli sarung keur lebaran? hehehe. > > ====== > Sabtu, 9 Januari 1999 > > *Lebaran dengan Sarung Majalaya* DI kalangan *bandar sarung* Pasar Tanah > Abang (Jakarta) dan Pasar Turi (Surabaya), kata "*made in Majalaya"*sangat > akrab di telinga. Sejak 1960-an, istilah itu berarti sarung > *kelas ekonomi menengah ke bawah*. Dari Majalaya -kota kecil 22 km sebelah > tenggara kota Bandung- itu, setiap harinya ribuan *kodi* sarung tenun > dibongkar di *pasar grosir* tadi. > > Ciri-ciri sarung Majalaya mudah dikenali. Motifnya monoton kotak-kotak atau > perpaduan *lurik* horisontal-vertikal, *serat benang*nya sedikit kasar. * > Acapkali* *pintalan* dan *rajutan*nya sedikit renggang dan mudah berbulu. > > Pantas harganya lebih murah ketimbang sarung Pekalongan yang terkenal halus > karena dibuat dengan teknologi *canggih*. Secara *grosiran* sarung > Majalaya rata-rata harganya sekitar Rp 8.000-Rp 10.000/lembar. Untuk > menyalurkan bantuan sosial kepada korban bencana, *instansi pemerintah*biasa > mengambil sarung Majalaya sebagai pengisi paket. > > Tetapi pada Ramadhan hingga Lebaran dan Lebaran Haji, order akan sarung > Majalaya dari berbagai kota di Indonesia terus mengalir, bahkan sejak tiga > bulan sebelumnya. Bagi sekitar 100 pengusaha *tenun* sarung di Majalaya, > hal itu membuka *secercah* harapan menyambung hidup. Selama ini mereka * > megap-megap* di*terpa* badai krisis ekonomi. > > Haji Achmad (37) misalnya, sejak Oktober lalu meningkatkan produksi dari > 280 menjadi 1.400 *kodi*/bulan. Lonjakan order membuat di hari libur pun > tetap terdengar hiruk-pikuk suara 90 mesin tenun miliknya yang ditangani 70 > pekerja. Hal sama terjadi pada pabrik tenun milik Haji Usep R (40). Produksi > mereka langsung di*sambar* bandar sarung dari berbagai kota, diangkut *mobil > boks* begitu selesai dikemas. > > Pasar Tanah Abang menjadi terminal distribusi sarung Majalaya buat > kota-kota di Indonesia Barat, seperti Palembang, Padang, Medan, dan Banda > Aceh. Sedangkan Pasar Turi Surabaya, mendistribusikan sarung Majalaya untuk > kota-kota di Indonesia Timur, seperti Ujungpandang, Gorontalo dan Ambon. > > Bahkan, ketika dollar masih menembus *kisaran* Rp 12.000, pedagang dari > Filipina, Nigeria (Afrika), dan Banglades sering memborong sarung Majalaya > dari kedua pasar itu. > *** > > UMUMNYA pengusaha tenun sarung Majalaya saat ini adalah generasi kedua dan > ketiga yang mewarisi usaha orangtua. Sayangnya mesin-mesin warisan mereka > tidak mengikuti zaman teknologi canggih karena masih *mengandalkan* tenaga > manual. Setiap mesin dioperasikan seorang pekerja, sehingga tidak efisien > dan rapi. > > Terlepas dari istilah *rezeki musiman*, peningkatan order pada Ramadhan > ini punya arti tersendiri bagi usaha rakyat berskala kecil yang tersisa di > Majalaya. Paling tidak, untuk sementara waktu, industri tenun tradisional > itu pelan-pelan *menggeliat* lagi. > > Seakan mendapat suntikan energi baru, suara mesin tenun tak lagi > *selirih*tiga-empat bulan yang lalu. Pekerja yang > *dirumahkan* lantaran krisis ekonomi, *dipekerjakan* lagi. Mereka dibayar > tidak terlalu jauh dari standar *UMR* Jabar yang sebesar Rp 7.200 per > hari. > > Puluhan pabrik tenun yang selama ini hanya mempertahankan hidup dengan > mengerjakan pesanan *rajutan* *karung* *tepung terigu*, > *ikut-ikutan*menyisihkan sebagian waktunya untuk membuat sarung. "Sayang > kalau momen > Ramadhan terlewatkan tanpa sarung," ujar Yayat (42), pemilik pabrik tenun > yang biasa merajut *maklun*, karung tepung terigu. > > Di samping *kelihaian* sendiri, pengusaha tesktil *kerap* meraih order > berkat *kemitraan* Koperasi Pengusaha Pertekstilan (Koppertek) dengan > pihak luar. Begitu pula dalam urusan *pengadaan* bahan baku benang. Lewat > koperasi dan bandar-*bandar benang* di Majalaya, para pengusaha sarung > tidak terlalu sulit mendapatkan benang dari berbagai jenis, seperti > polyester dan *katun*. > > Untuk setiap kodi sarung (sepuluh lembar sarung) dibutuhkan sekitar 6 kg > benang yang dibeli dalam satuan bal (satu bal *setara* dengan 181,44 kg > benang). Polyester dibeli Rp 35.000-Rp 40.000/kg, katun 20-S antara Rp > 900.000 - Rp 1.000.000/bal. Dalam krisis ekonomi, harga bahan tersebut bisa > naik 30 persen. Keuntungan yang mereka raih tidaklah terlalu besar. Paling > *banter* 10-20 persen dari harga pokok produksi (HPP). > > Dengan meningkatnya produksi, kebutuhan akan benang otomatis ter*dongkrak*, > tetapi pengusaha tenun tidak pernah risau. Benang bisa juga diperoleh dari > bahan sisa pabrik tenun modern. Bahan tak terpakai karena salah desain di > pabrik tekstil besar, di*daur-ulang* pabrik tenun konvensional, harganya > pun lebih murah 30-50 persen. > > Bagian baju berbahan polyester "gagalan" itu didaur-ulang dengan > mengolahnya menjadi lembaran-lembaran benang. Dari dua ton "gagalan" bisa > dihasilkan satu ton benang polyester. > > Tak mau kalah oleh produk sarung *kelas atas*, pengusaha tenun Majalaya > suka memberi *embel-embel* pada produknya berupa cap yang mirip merek > sarung papan atas yang lagi *ngetren*. Misalnya pada tahun 1970-an, ketika > sarung cap "padi" lagi *naik daun*, Majalaya berusaha *bonceng* *tenar*dengan > membuat cap "padi jaya" atau "padi mas". Ketika cap "gajah" sedang > terkenal, mereka *ikut-ikutan* merancang label semisal cap "gajah mangga", > "gajah duduk", atau "gajah *jongkok*". > > Yang pasti dengan merek-merek boncengan itu, banyak warga masyarakat bisa > berlebaran dengan gaya. Entah, apakah situasi itu juga berlaku di zaman > krisis sekarang. (nasrullah nara) > > © C o p y r i g h t 1 9 9 8 Harian *Kompas* > > > > >
