Eta cik kang saurna tos aya nu nawis 2 M ku belanda, saha anu teu kabita (ieu 
duit) panginten jaman kieu mah saha anu teu peryogi kalebet ahli waris.. 

Terus saurna kieu :

“Saya masih punya nurani, meskipun terus dibohongi saya tidak akan sampai 
menjual ke Belanda. Entah untuk suatu saat, karena umur saya terus bertambah 
dan saya harus melaksanakan wasiat almarhumah untuk membangun Rumah Sakit 
Bersalin Inggit Garnasih,” ujar Tito

 

Gaduh nurani panginten kacintaan ka Indonesia nya nasionalisme tapi 
ditungtungan oge nyuhungkeun perhatosan.  Da pami ngawangun rumah sakit teh ku 
artos artos2 keneh.

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Muhammad Ziaulhaq
Sent: Wednesday, August 25, 2010 1:03 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [kisunda] Re: Sejarah - Surat Nikah Sukarno Rek Dijual?

 


Salam...

Cik ah Kang IS oge milis: kira-kira naon hubungan rasa nasionalisme jeung duit??

....

Baktos, Zya.

--- On Wed, 8/25/10, Ii Sumirat <[email protected]> wrote:


From: Ii Sumirat <[email protected]>
Subject: RE: [kisunda] Re: Sejarah - Surat Nikah Sukarno Rek Dijual?
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 25, 2010, 10:27 AM

  

Hiji dua jeung nu gubug na jendral sudirman anu kungsi heboh dinu tipi, pakuat 
kaitna anger antara duit pabeulit jeung nasionalisme

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of mh
Sent: Tuesday, August 24, 2010 2:55 PM
To: Ki Sunda
Subject: [kisunda] Re: Sejarah - Surat Nikah Sukarno Rek Dijual?

 

  


Keluarga Inggit Ganarsih Tunggu Itikad Baik Pemerintah


Selasa, 24/08/2010 - 21:19 

Image removed by sender. RETNO HY/"PRLM"

RETNO HY/"PRLM"

Tito Zeni Asmara Hadi (63) menunjukkan surat-surat warisan Ibu Inggit Garnasih 
dan Soekarno kepada Kasi Kepurbakalaan dan Museum, di Bidang Kebudayaan 
Disparbud Jabar, Drs. Eddy Sunarto, Selasa (24/8).*

BANDUNG, (PRLM).- Ahli waris Ibu Inggit Garnasih masih menunggu itikad baik 
dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat untuk bersama-sama merealisasikan wasiat 
dari almarhumah. Selama ini pemerintah provinsi selalu memberi janji, namun 
selalu tidak ada realisasi meski program sudah masuk dalam Anggaran Pendapatan 
dan Belanja Daerah yang disetujui dan disepakati eksekutif dan legislatif.

“Sebenarnya saya sudah tidak ingin untuk berhubungan dengan pemerintah. Karena 
apa yang dijanjikan selalu tidak sesuai dengan kesepakatan, terakhir pada tahun 
lalu di mana semula kesepakatan yang dilakukan antara pemerintah dan ahli 
waris, tapi menjelang pelaksanaan jadi dilimpahkan ke pihak ketiga,” ujar Tito 
Zeni Asmara Hadi (63), di sela-sela rembukan antara dirinya selaku pihak ahli 
waris dengan Tim Pembenahan Rumah Sejarah Ibu Inggit Garnasih, bertempat di 
rumah Inggit Garnasih Jalan Ciateul No. 8, Bandung.

Dikatakan Tito, cucu Ibu Inggit Garnasih dari Ratna Djuami (87) anak angkat 
Inggit Garnasih dan Soekarno, bahwa pihaknya bersedia untuk menyerahkan semua 
barang warisan Ibu Inggit Garnasih dan Soekarno. Namun pihaknya tidak 
menginginkan peristiwa tahun 2003 di mana kesepakatan terjadi antara ahli waris 
dengan pemerintah yang langsung gubernur yang waktu itu H.R. Nuriana. Namun di 
tingkat bawah kesepatan tidak dilaksanakan.

Sementara menurut Kasi Kepurbakalaan dan Museum, di Bidang Kebudayaan Disparbud 
Jabar, Drs. Eddy Sunarto, pihaknya hingga kini masih berupaya kembali ditemukan 
kesepakatan ataupun solusi antara pemerintah dengan ahli waris Ibu Inggit 
Garnasih. “Kita tidak ingin kalau masalah ini kembali menimbulkan kekecewaan 
dari pihak keluarga ahli waris, karenanya kita berharap ada solusi dan jalan 
pemecahan terbaik,” ujar Eddy ditemani Eha Solihat dan Tini Rustini dari Tim 
Pembenahan Rumah Sejarah Ibu Inggit Garnasih.

Terhadap niat baik Disparbud Jabar, Tito selaku ahli waris sudah berbesar hati 
mau memberikan berkas-berkas surat Ibu Inggit dan Soekarno untuk diduplikasi 
(scanner), demikian pula halnya untuk batu pipisan (alat tumbuk membuat jamu). 
Namun untuk barang-barang mebel berupa buffet, lemari, dipan, meja tamu, meja 
belajar dan lainnya, ahli waris belum mau memberikan.

“Saya masih punya nurani, meskipun terus dibohongi saya tidak akan sampai 
menjual ke Belanda. Entah untuk suatu saat, karena umur saya terus bertambah 
dan saya harus melaksanakan wasiat almarhumah untuk membangun Rumah Sakit 
Bersalin Inggit Garnasih,” ujar Tito. (A-87/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/120675

 

<<image001.jpg>>

Kirim email ke