Rumah Sejarah Inggit Garnasih
Disparbud Masukkan Anggaran Pembenahan pada Perubahan APBD 2010
Kamis, 26/08/2010 - 18:26
  [image: RETNO HY/"PRLM"]
RETNO HY/"PRLM"
Surat Nikah dan Foto Ibu Inggit Garnasih - Soekarno.*

BANDUNG, (PRLM).- Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan Jawa Barat akan memasukkan anggaran pembenahan Rumah Sejarah
Ibu Inggit Garnasih ke perubahan APBD 2010. Untuk melengkapi koleksi Rumah
Sejarah Ibu Inggit Garnasih Disparbud Jabar terus melakukan pendekatan
dengan ahli waris.

Demikian dikatakan Kepala Disparbud Jabar Herdiwan Iing Suranta, kepada
“PRLM”, Kamis (26/8) seputar kembali munculnya polemik Rumah Sejarah Ibu
Inggit Garnasih dalam beberapa hari ini. “Sebetulnya kami terus melakukan
upaya, tapi karena berbagai hal penataan rumah sejarah (Ibu Inggit Garnasih)
itu agak tersendat,” ujar Herdiwan didampingi Kabid Kebudayaan Wiana Sundari
dan Kasi Kepurbakalaan dan Museum, Drs. Eddy Sunarto, yang juga ketua Tim
Pembenahan Rumah Sejarah Ibu Inggit Garnasih.

Dikatakan Herdiwan, sebenarnya upaya-upaya pembenahan dan penataan terus
dilakukan Disparbud Jabar. Hal tersebut dibuktikan dengan dibentuknya Tim
Pembenahan Rumah Sejarah Ibu Inggit Garnasih.

Tim tersebut selain melakukan pembenahan, juga melengkapi koleksi yang dulu
pernah mengisi rumah sejarah tersebut. “Hingga kini baru foto-foto Ibu
Inggit dan Soekarno yang sudah mulai lengkap, rencananya ke depan berupa
benda-benda peninggalan,” ujar Herdiwan.

Namun belakangan muncul kembali pemberitaan tentang rencana ahli waris yang
hendak menjual surat nikah dan cerai Ibu Inggit Garnasih dan Soekarno.
Terhadap kondisi tersebut maka Pemprov Jabar melalui Disparbud Jabar dalam
perubahan anggaran 2010 ini salah satu mata anggaran diperuntukkan untuk
rumah sejarah tersebut.

Selain memasukkan pada perubahan anggaran 2010, Disparbud Jabar juga pada
RAPBD 2011 mendatang juga memasukkan mata anggaran untuk pembenahan Rumah
Sejarah Ibu Inggit Garnasih. “Mudah-mudahan baik Gubenur maupun DPRD Jabar
kelak menyetujui perubahan maupun rencana anggaran tersebut,” harap
Herdiwan.

Sementara itu ahli sejarah Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., berharap
pemerintah daerah memberikan perhatian lebih kepada para pelaku sejarah.
“Bukan hanya kepada Ibu Inggit Garnasih dan rumah warisannya, tetapi juga
para pelaku sejarah lainnya,” ujar Nina.

Dikatakan Nina, selama ini pihaknya terus memperjuangkan agar sejumlah
wanita Jawa Barat diajukan sebagai pahlawan nasional. “Seperti Ibu Inggit
pada tahun 2008 lalu, namun karena ada point yang tidak memenuhi maka Ibu
Inggit tidak dapat masuk katagori pahlawan nasional,” ujar Nina.

Sementara Tito Zeni Asmara Hadi (63), cucu angkat Ibu Inggit Garnasih dan
Soekarno dari Ratna Djuami (87), mengatakan bahwa ahli waris masih membuka
diri untuk bekerjasama dengan pemerintah. Sebagai bentuk kerjasama tersebut
adalah dengan menduplikasi foto-foto dan surat-surat warisan Ibu Inggit dan
Soekarno untuk melengkapi koleksi Rumah Sejarah Ibu Inggit.

Berkenaan dengan seputar pemberitaan di media massa, Tito mengatakan bahwa
hal tersebut tercetus, bilamana pemerintah tidak ada niat untuk memberikan
kompensasi. “Saya dan keluarga besar Ratna Djuami masih memiliki harga diri,
mana mungki menjual warisan keluarga yang juga warisan negara,” ujar Tito.
(A-87/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/120835

Kirim email ke