Kartu Lebaran Gubernur

Oleh Syamsul Ma`arief

"Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya
ia menyambung tali silaturahimnya." (H.R. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)



Hadis di atas memiliki makna yang luar biasa. Rasulullah mengajarkan kepada
kita semua agar membangun budaya silaturahim. Manfaat atau keuntungan bagi
orang yang gemar menyambung tali silaturahmi adalah akan dilapangkan
rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Silaturahim berasal dari bahasa Arab
yang bermakna menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki
hubungan nasab. Dalam bahasa Indonesia, kata silaturahim terserap menjadi
silaturahmi yang artinya adalah mengikat tali persahabatan atau
persaudaraan.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Apalagi dengan makna serta manfaat
yang luar biasa, silaturahmi justru menjadi suatu adab yang harus
dibudayakan. Dengan demikian, setiap tahunnya banyak orang yang memanfaatkan
momentum Idulfitri untuk menyambung tali silaturahmi dengan cara mengirimkan
kartu Lebaran. Namun, niat yang baik harus juga diikuti cara yang baik. Riak
kecil yang sedang berkembang di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat
mungkin bisa menjadi contoh.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan berencana mengirimkan kartu Lebaran dan
permohonan maaf kepada sekitar 450.000 warga Jabar. Penerimanya antara lain
organisasi perangkat daerah, pejabat negara, pemangku kepentingan
(stakeholder) pemerintah, hingga tokoh masyarakat. Untuk pengirimannya,
setiap kartu Lebaran menggunakan prangko Prisma Rp 1.500 ditambah biaya
pengiriman Rp 750 per kartu. Jika ditotal, anggaran untuk pengiriman kartu
lebaran ini menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar.

Reaksi dari berbagai kalangan langsung bermunculan. Gubernur dinilai
melakukan pemborosan anggaran dengan mengirim kartu Lebaran kepada sekitar
450.000 warga Jawa Barat. Padahal, saat ini media komunikasi telah begitu
canggih. Gubernur bisa saja menggunakan media pesan singkat atau short
message service (SMS) atau media jejaring sosial seperti Facebook ataupun
Twitter yang kini banyak digunakan masyarakat. Selain lebih cepat dan
tersebar luas, juga dapat lebih menghemat anggaran hingga ratusan juta
rupiah.

Hal lain yang cukup menjadi perhatian adalah foto yang tercantum dalam kartu
Lebaran tersebut. Kartu Lebaran itu bergambar depan foto Ahmad Heryawan
sendirian alias tidak berdampingan mesra dengan Wakil Gubernur Dede Yusuf
seperti pada masa kampanye. Padahal, seharusnya sebagai pejabat yang dipilih
sebagai pasangan dalam pemilihan umum kepala daerah (pemilukada), foto
keduanya bisa disertakan secara berdampingan. Apalagi jika mengatasnamakan
Pemprov Jawa Barat, lebih kompak jika foto Wakil Gubernur pun
diikutsertakan. Jangan sampai hanya karena masalah foto, masyarakat Jawa
Barat menilai ada perpecahan kepemimpinan di Jawa Barat.

Selain itu, terdapat hal lain yang cukup menjadi perhatian banyak pihak,
yaitu asal dana yang digunakan untuk pembuatan dan pengiriman kartu Lebaran
tersebut. Apakah masuk dana APBD Provinsi Jawa Barat atau justru menggunakan
dana pribadi Gubernur? Jika menggunakan dana dari APBD, itu jelas pemborosan
anggaran. Jika menggunakan dana pribadi, hal itu tidak sepenuhnya bisa
diterima karena dengan dana sebesar itu, Gubernur dapat lebih
menyejahterakan rakyatnya dengan program yang lebih bermanfaat.

Tiga prioritas

Berkaca dari hal tersebut, sudah saatnya para pemimpin negeri ini tidak
hanya terfokus pada politik berbasis pencitraan. Rakyat yang merupakan
tanggung jawab terbesarnya menantikan kerja keras dan bukti nyata yang dapat
dirasakan langsung, sebagaimana yang dijanjikannya secara manis pada masa
kampanye terdahulu.

Berdasarkan kebutuhan primernya saja, setidaknya ada tiga hal prioritas yang
harus segera dituntaskan pemimpin negeri ini. Prioritas pertama,
terkenyangkannya perut yang lapar. Sudah begitu banyak berita dan derita
rakyat yang terkena busung lapar di berbagai daerah. Harga melambung tinggi
sehingga masyarakat tidak dapat membeli kebutuhan pokoknya sehari-hari.
Akibatnya, tidak sedikit yang terpaksa memakan nasi aking atau tanaman
umbi-umbian seadanya. Kesulitan ini pula yang merupakan salah satu penyebab
tingginya angka kriminalitas dan bunuh diri.

Prioritas kedua, tersehatkannya tubuh dan jiwa yang sakit. Jangan ada lagi
slogan "orang miskin dilarang sakit". Mahalnya biaya pengobatan menyebabkan
masyarakat tidak produktif. Kerja dan ikhtiar mereka menjadi terhambat
karena tubuh tidak sehat. Akibatnya, angka kemiskinan semakin membengkak
karena turunnya produktivitas masyarakat.

Prioritas ketiga adalah tercerdaskannya pikiran yang bodoh. Faktor
pendidikan memegang prioritas yang cukup penting terhadap kemajuan suatu
bangsa. Terutama pencerdasan generasi muda. Daripada menghamburkan uang
miliaran rupiah untuk kartu Lebaran, sebaiknya pemerintah mengalokasikannya
untuk memperbaiki sarana prasarana serta kualitas pendidikan di daerahnya.
Dengan memenuhi ketiga prioritas tersebut, pemerintah telah menyambung tali
silaturahmi dengan rakyatnya secara lebih berkah. Wallahua`lam
bishshawwab.***

Penulis, Ketua Umum KAMMI Daerah Bandung.

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154164

Kirim email ke