Sabtu, 28 Agustus 2010
 *KPK Pelajari Soal Kartu Lebaran*
  JAKARTA,(GM)-
Kartu lebaran Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat tampaknya akan
berbuntut panjang. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai bersuara soal
kartu Lebaran yang sempat memicu silang pendapat itu. KPK rencananya akan
mengkaji proyek yang menghabiskan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) sebesar Rp 1,5 miliar itu.

"Kita akan pelajari, harus bisa bedakan unsur pribadi atau bukan, itu 'kan
uang APBD," kata Plh. KPK, Haryono Umar di sela-sela acara buka puasa
bersama di kantornya, Jln. H.R. Rasuna Said, Jakarta, Jumat (27/8).

Menurut Haryono, jika memang untuk kepentingan pribadi, para pejabat Jabar
itu harusnya menggunakan dana pribadi. Pimpinan KPK lainnya, Bibit Samad
Rianto menilai harus ada kajian lebih dulu terhadap tender ini, apakah ada
aturan yang mengaturnya. "Kalau ada yang salah, aturannya yang harus
diubah," tandas Bibit.

Tahun ini, gubernur dan wakilnya membagikan 450 ribu kartu Lebaran yang
biaya pengiriman setiap kartu Rp 2.250. Sementara biaya pencetakan kartu,
menurut Gubernur Ahmad Heryawan, Rp 1.000 per lembar. "Saya kira harganya
sangat murah, cuma Rp 1.000 per lembar. Bayangkan dengan harga kartu
undangan kawinan yang biasa Rp 10.000 per buah," ujar gubernur.

Selain biaya pencetakan Rp 1.000 per lembar, untuk pengiriman kartu memakai
prangko prisma seharga Rp 1.500 dan biaya proses di PT Pos Rp 750. Sehingga,
seluruhnya menghabiskan anggaran Rp 1.462.500.000.

Meski memicu pro-kontra terkait kartu Lebaran tersebut, proses pengiriman
dipastikan berlanjut. Kantor Pos Bandung tetap melakukan pelipatan dan
memasukkan kartu Lebaran ke dalam amplop.

"Pengerjaan masih ada. Tapi belum ada kiriman kartu Lebaran lagi," jelas
customer service Kantos Pos Bandung, Karel Yanes, saat ditemui wartawan,
Jumat (27/8).

Sebelum ramai pemberitaan di media massa, ruangan melipat kartu Lebaran
bergambar Ahmad Heryawan berada di samping ruang humas. Tetapi setelah
muncul di media massa, ruangan tersebut sudah tak terpakai dan sepi
aktivitas. Pintu ruangan pun dalam kondisi tertutup. "Mungkin karena ruangan
waktu itu sempit. Jadi, sudah dua hari ini pindah ke ruangan lainnya," ujar
Karel.

Saat wartawan mencoba mengonfirmasi kepindahan ruangan tersebut kepada
bagian humas, ternyata Kepala Humas Kantor Pos Bandung, Suyud Suhendar tidak
masuk kerja. Ketika ditelepon berulang kali sekitar pukul 12.30 WIB, nomor
ponselnya bernada mail box.

Suyud tidak terlihat beraktivitas seperti biasa sejak sehari setelah
menyampaikan informasi kartu Lebaran itu kepada wartawan. "Sejak dua hari
ini beliau (Suyud, red) enggak masuk kerja. Apakah sakit atau tidak, saya
enggak tahu," ucap Karel.

*Sense of crisis*

Badan Kerja Sama Pemuda Islam (BKPI) menilai Gubernur dan Wakil Gubernur
Jabar tidak memiliki sense of crisis terkait kartu Lebaran yang anggarannya
hampir mencapai Rp 1,5 miliar. Terlebih pencetakan kartu dilakukan terpisah,
yang menunjukkan keduanya belum kompak. "Gubernur dan wakilnya tak punya
sense of crisis, di mana masyarakat Jabar saat ini tengah dilanda krisis
ekonomi, ditambah menghadapi Lebaran yang mana harga bahan makanan pokok
melonjak," ujar Ketua Pengurus Pusat BKPI, Ahmad Zakiyudin, Jumat (27/8).

Gubernur dan wakil gubernur, katanya, harusnya mendahulukan kemaslahatan
publik daripada memenuhi target politik masing-masing, yang kerap berdalih
kebijakannya untuk kemaslahatan umat.

"Kalaupun buat kartu Lebaran, harusnya memasang kartu Lebaran dengan foto
yang berbarengan. Tapi ini 'kan tidak. Keduanya seolah terjebak dalam
ketegangan rivalitas kepentingan politik sesaat yang hanya menimbulkan
disharmonisasi, mempertajam polarisasi, dan kemudian memunculkan
instabilitas pemerintahan daerah Jawa Barat," tandas Zaky.

Lebih lanjut dia menyatakan gubernur dan wakil gubernur jangan menggunakan
dana APBD untuk kepentingan politik pribadi mereka. "Tidak seharusnya mereka
melakukan pemborosan anggaran, seolah-olah APBD adalah milik pribadi dan
bisa seenaknya digunakan untuk kepentingan politik pribadi gubernur dan
wagub," kecamnya.

Karena itu, BKPI dengan tegas menolak kartu Lebaran gubernur dan wakil
gubernur serta mengimbau masyarakat Jabar pun menolaknya. (B.37/dtc)**
http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20100828053701&idkolom=beritautama

Kirim email ke