Hikayat Toekang Kopeah

“Kopeah M. Iming Bandoeng.” Sejumput kalimat yang tertera di sebuah rumah
tua di Jalan Ahmad Yani, Bandung, Jawa Barat, itu menegaskan bahwa tempat
tersebut adalah rumah produksi sekaligus toko peci atawa kopiah dengan merek
termasyhur dan legendaris. Bahkan kopiah Iming itu disebut-sebut sebagai
industri peci tertua di Jawa Barat dan Pulau Jawa.

Denyut industri peci Iming di rumah itu dimulai pada 1921. Iming pertama
kali membuat peci dengan bahan beludru hitam. Peci-peci tersebut kemudian
dijual di beranda rumah itu, dijajakan di atas meja kayu bekas peti sabun.
Tempat berjualan itu persis di depan tembok dengan tulisan “Toekang Kopeah”
yang kini kusam dan memudar.

Waktu bergulir. Perjalanan bisnis peci Iming tak selalu mulus, banyak warna
menyertainya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah: kesetiaan dan
konsistensi para perajin serta ahli warisnya untuk melestarikan apa yang
telah dirintis mendiang Iming.

Generasi keempat yang kini mengelola industri peci Iming melakukan proses
produksinya yang sama seperti 88 tahun silam. Sebuah peci yang dibuat dengan
hati dan kesabaran. Ruang produksinya pun masih sama, di salah satu ruangan
yang tak terlalu luas.

Begitu pula dengan para “toekang kopeah” yang mewarisi keahlian dari orang
tuanya sebagai “toekang” puluhan tahun silam. Mereka punya sepenggal impian:
ingin mengarahkan toko peci tersebut menjadi salah satu tujuan wisata cagar
budaya di Kota Bandung. *PRIMA MULIA (TEMPO)*

*http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/06/Fotografi/index.html
*

Kirim email ke