Halah waas kopeah M. Iming di hoek di jalan suci nya. Hanjakal tah tara pernah 
ningal di toko2 di jakarta. Ayeuna mah nu daragang ba'da jumaahan di buruan 
masjid2 seueur pisan. Tapi keukeuh peci M. Iming mah tetep di hate. Ngan lamun 
barudak ayeuna teu apal nya atuh moal aya memory peci M. Iming jeung tangtuna 
rada hese jadi tujuan wisata.

Kieu we atuh KO nu caket ka toko M. Iming usul, sakur jalma nu rek ijab kabul 
pasiha haratis atanapi saheunteuna diskon gede2an. Ke inget kawin inget M. 
Iming. Kawin perak kawin emas reugreug jalan2 ka toko M. Iming!!!

 ~ experientia docet sapientiam ~




________________________________
From: mh <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Sent: Saturday, September 4, 2010 11:02:54
Subject: [kisunda] Puasa - Hikayat Toekang Kopeah

  
Hikayat Toekang Kopeah
“Kopeah M. Iming Bandoeng.” Sejumput  kalimat yang tertera di sebuah rumah tua 
di Jalan Ahmad Yani, Bandung,  Jawa Barat, itu menegaskan bahwa tempat tersebut 
adalah rumah produksi  sekaligus toko peci atawa kopiah dengan merek termasyhur 
dan legendaris.  Bahkan kopiah Iming itu disebut-sebut sebagai industri peci 
tertua di  Jawa Barat dan Pulau Jawa. 

Denyut industri peci Iming di rumah itu dimulai pada 1921. Iming  pertama kali 
membuat peci dengan bahan beludru hitam. Peci-peci tersebut  kemudian dijual di 
beranda rumah itu, dijajakan di atas meja kayu bekas  peti sabun. Tempat 
berjualan itu persis di depan tembok dengan tulisan  “Toekang Kopeah” yang kini 
kusam dan memudar. 

Waktu bergulir. Perjalanan bisnis peci Iming tak selalu mulus,  banyak warna  
menyertainya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah:  kesetiaan dan 
konsistensi para perajin serta ahli warisnya untuk  melestarikan apa yang telah 
dirintis mendiang Iming. 

Generasi keempat yang kini mengelola industri peci Iming  melakukan proses 
produksinya yang sama seperti 88 tahun silam. Sebuah  peci yang dibuat dengan 
hati dan kesabaran. Ruang produksinya pun masih  sama, di salah satu ruangan 
yang tak terlalu luas. 

Begitu pula dengan para “toekang kopeah” yang mewarisi keahlian  dari orang 
tuanya sebagai “toekang” puluhan tahun silam. Mereka punya  sepenggal impian: 
ingin mengarahkan toko peci tersebut menjadi salah  satu tujuan wisata cagar 
budaya di Kota Bandung. PRIMA MULIA (TEMPO)
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/06/Fotografi/index.html

 

Kirim email ke