Lihatlah Karangkamulyan Lebih Mendalam

Objek wisata Karangkamulyan termasuk salah satu persinggahan yang paling
ramai dikunjungi orang dibandingkan dengan tempat lainnya di jalur selatan
Jawa Barat, terutama di daerah Priangan. Lokasinya terletak di pinggir jalan
antara Kota Ciamis dan Kota Banjar. Secara administratif, Karangkamulyan
termasuk wilayah Kampung/Desa Karangkamulyan, Kec. Cijeungjing, Kab. Ciamis.

Jika kebetulan Anda punya kesempatan singgah ke lokasi itu, tidak ada
salahnya masuk lebih dalam ke lokasi tersebut. Situs itu menempati lahan
seluas 25 hektare. Sementara areal yang biasa digunakan sebagai tempat
beristirahat berada di bagian muka situs, dengan luas tak lebih dari satu
hektare. Di dalam lahan seluas itu, tersebar sembilan situs atau temuan yang
diperkirakan peninggalan zaman Kerajaan Galuh atau cikal bakal Ciamis.

Dari areal parkir, ada jalan untuk menuju ke sembilan situs, di dekat
pemasangan Gong Perdamaian atau bagian belakang pojok kanan lokasi parkir.
Jalan dengan lebar 3 meter itu akan "memandu" Anda ke dalam situs. Situs
yang ada di dalam itu berupa Batu Pangcalikan, Panyabung Ayam, Sanghyang
Bedil, lambang peribadatan, Cikahuripan, Panyandaan, Pamangkonan, serta
makam Adipati Panaekan dan Sri Begawat Pohaci.

Menurut ahli sejarah Prof. Dr. Dadan Wildan, di daerah itu pernah ditemukan
arca Ganesa. Sekarang, arca tersebut berada di Museum Sri Baduga, Bandung.
Lalu, ditemukan juga arca Siwa dan Nandi. Namun, kedua arca tersebut hilang.
"Secara keseluruhan, situs Karangkamulyan itu berlatar belakang agama Hindu
Siwa," katanya.

Benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh itu
sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan,
tetapi menyebar de-ngan bentuknya yang berbeda-beda. Batu-batu itu berada di
dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang
bentuknya hampir sama. Bangunan itu memiliki sebuah pintu sehingga
menyerupai sebuah kamar. Batu-batu itu memiliki nama dan menyimpan kisahnya
sendiri. Begitu pula di beberapa lokasi lain yang berada di luarnya.

Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang
dihubungkan dengan kisah atau mitos tentang Kerajaan Galuh, seperti
Pangcalikan (tempat duduk), lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat
sabung ayam, dan Cikahuripan.

Jika masuk ke dalam situs, setelah gerbang utama, situs pertama yang akan
dilewati adalah Pelinggih (Pangcalikan). Pelinggih merupakan sebuah batu
bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke
dalam golongan yoni (tempat pemujaan) yang letaknya terbalik, digunakan
untuk altar. Di bawah yoni tersebut, terdapat beberapa batu kecil yang
seolah-olah sebagai penyangga sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen
(kubur batu). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya
17,5 x 5 meter.

Situs berikutnya, yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang
dikelilingi tembok berukuran 6,20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80
sentimeter. Pintu menghadap ke utara. Di depan pintu masuk, terdapat
struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini,
terdapat dua menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60
x 40 sentimeter dan 20 x 8 sentimeter. Bentuknya memperlihatkan tradisi
megalitik.

Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Bedil dapat dijadikan pertanda
datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu
letusan. Kini, pertanda itu sudah tidak ada lagi.

Ada juga situs Penyabungan Ayam yang terletak di selatan Sanghyang Bedil.
Masyarakat sekitar menganggap tempat ini merupakan tempat sabung ayam Raja
Galuh Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus
untuk memilih raja yang dilakukan dengan sistem demokrasi.

Situs lainnya, Lambang Peribadatan, merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi
ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi. Bentuknya indah dihiasi
oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Batu ini
berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 meter, dengan tinggi 60
sentimeter. Batu kemuncak ini ditemukan lima puluh meter di timur lokasi
sekarang. Di tempat ini, terdapat dua unsur budaya yang berlainan, yaitu
adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok menunjukkan lapisan
budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.

Situs panyandaran terdiri atas sebuah menhir dan dolmen yang dikelilingi
oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi
120 sentimeter, lebar 70 sentimeter, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32
sentimeter. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat kelahiran Ciung
Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang
kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke Sungai Citanduy. Setelah
melahirkan, Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari
dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.

Lokasi lainnya adalah sumber air Cikahuripan, sebuah sumur yang letaknya
dekat dengan pertemuan antara dua sungai, Citanduy dan Cimuntur. Sumur ini
merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Di sana, di Karangkamulyan, terdapat pula makam Adipati Panaekan. Adipati
Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat
gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.

Berdasarkan penyelidikan tim arkeologi yang dipimpin oleh Dr. Tony
Jubiantoro pada tahun 1997, situs Karangkamulyan merupakan peninggalan
Kerajaan Galuh yang pertama. Di tempat ini, pernah ada kehidupan mulai dari
abad ke-9 karena dalam penggalian telah ditemukan keramik dari zaman Dinasti
Ming. (Undang Sudrajat/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=155786

Kirim email ke