naha aya naon engke sasih oktober teh? sok ah geura borolokeun. --- Pada Sel, 14/9/10, oman abdurahman <[email protected]> menulis:
Dari: oman abdurahman <[email protected]> Judul: Re: [kisunda] Sejarah - Periodisasi Sajarah Sunda? Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 14 September, 2010, 3:04 AM Nuhun Ambu oge Mh anu tos ngamuat ieu data sejarah ka milist. Seratan anu meh sarimbag nuju dipidamel ku abah Surya (HR Hidayat Suryalaga dina judul makalah anjeunna: "Sunda: Bihari, Kamari, Kiwari, Baring Supagi {Sunda Masa Silam, Masa Lalu, Kini dan Kedepan)". Eta makalah rencana bade dipresentasikeun dina hiji seminar Insya Alloh akhir Oktober 2010. Dina eta makalahna, abah ngadamel pengelompokkan periode ti iraha ka iraha wae anu disebut "masa silam", "masa lalu", "kini" dan kedepan teh. Oge, naon wae enas-enasna tatapakan budaya (utamana ajen inajen) anu tos kahontal dina satiap kelompok eta periodisasi. Mugia wae lancar. Insya Alloh saparantos dipresentasikeun engke ku abdi dibakian ka milist. Hatur nuhun. baktosna, manar 2010/9/14 mh <[email protected]> TAWIS TINEUNG TI MANG YOSEPH ISKANDARby Richadiana Kartakusuma on Monday, September 13, 2010 at 4:11pm TAWIS TINEUNG TI MANG YOSEPH ISKANDAR PERKAWIS SAJARAH SUNDA (130 - 1579 M)Purwacarita Pengertian sejarah secara tradisi adalah beberapa kisah dongeng, legenda, babad, tambo dll. Sesungguhnya hal itu berada dibawah disiplin ilmu sastra, sedangkan sejarah, pembuktiannya harus berdasarkan disiplin ilmu : filologi (ilmu yang mempelajari naskah kuna), epigrafi (ilmu yang mempelajari aksara prasasti), arkeologi (ilmu yang mempelajari artefak-artefak peninggalan sejarah), dan geografi (ilmu yang mempelajari permukaan bumi). Karya sastra bisa diuji dan dikaji oleh disiplin ilmu sejarah sejauh karya sastra yang bernilai sejarah itu dapat menunjang temuan sejarah itu sendiri. Sebaliknya hasil penelitian sejarah dapat disusun menjadi karya sastra yang sering kita sebut roman sejarah. Naskah Pangeran Wangsakerta, menurut <span>Edi S. Ekadjati</span> dan menurut <span>Ayat Rohaedi</span>, adalah naskah sejarah. Sistematika dan pengungkapannya sudah dalam bentuk sejarah, menggunakan referensi atau sumber-sumber tertulis lainnya. Purwayuga Sejarah Sunda dimulai dari masa Purwayuga (jaman purba) atau dari masa Nirleka (silam), yang terbagi atas : Prathama Purwayuga (jaman purba pertama), dengan kehidupan manusia hewan Satwapurusa, antara 1 jt s.d. 600 rb th silam Dwitiya Purwayuga (jaman purba kedua), dengan kehidupan manusia yaksa, antara 500 rb sampai 300 rb tahun silamTritiya Purwayuga (jaman purba ketiga), dengan kehidupan manusia kerdil (wamana purusa), antara 50 rb sampai 25 rb tahu silam. Dukuh Pulasari Pandeglang menurut naskah Pangeran Wangsakerta, kehidupan masyarakat Sunda pertama di pesisir barat ujung pulau Jawa, yaitu pesisir Pandeglang. Dipimpin oleh seorang kepala suku (panghulu) Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya. Sistem religi mereka adalah Pitarapuja, yaitu pemuja roh leluhur, dengan bukti sejumlah menhir seperti Sanghiyang Dengdek, Sanghiyang Heuleut, Batu Goong, Batu Cihanjuran, Batu Lingga Banjar, Batu Parigi, dll. Refleksi dukuh Pulasari dapat kita lihat di kehidupan masyarakat Sunda Kanekes (Baduy). Salakanagara Putri Aki Tirem yaitu Pohaci Larasati, menikah dengan seorang duta niaga dari Palawa (India Selatan) bernama Dewawarman. Ketika Aki Tirem wafat, Dewawarman menggantikannya sebagai penghulu dukuh Pulasari. Dewawarman mengembangkan Dukuh Pulasari hingga menjadi kerajaan corak Hindu pertama di Nusantara, yang kemudian diberi nama Salakanagara. Salaka berarti Perak dan Nagara berarti negara atau negeri. Oleh ahli dari Yunani, <span>Claudius Ptolomeus</span>, Salakanagara dicatat sebagai Argyre. Dalam berita China dinasti Han, tercatat pula bahwa raja Yehtiao bernama Tiao-Pien mengirimkan duta keChina tahun 132 M. menurut <span>Ayat Rohaedi</span>, Tiao berarti Dewa, dan Pien berarti Warman. Salakanagara didirikan tahun 130 M, dengan raja pertamanya Dewawarman I dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gpura Sagara. memerintah hingga tahun 168 M. Wilayahnya meliputi propinsi banten sekarang ditambah Agrabintapura (Gunung Padang Cianjur) dan Apuynusa (Krakatau).Raja Terakhir (ke-8) Dewawarman VIII bergelar Prabu Darmawirya Dewawarman (348-363 M).Tarumanagara Didirikan oleh Jayasingawarman pada 358 M dengan nobat Jayasingawarman Gurudarmapurusa. Penerusnya adalah Purnawarman yang memindahkan pusat pemerintahan dari Jayasingapura (mungkin Jasinga) ke tepi kali Gomati (bekasi) yang diberi nama Sundapura (kota Sunda), bergelar Harimau Tarumanagara (Wyagraha ning tarumanagara), dan disebut pula Sang Purandara Saktipurusa (manusia sakti penghancur benteng) dan juga Panji Segala Raja. Sedangkan nama nobatnya adalah Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati. Raja terakhir Sang Linggawarman sebagai raja ke-12Kerajaan Sunda Tarumanagara dirubah namanya menjadi Kerajaan Sunda oleh Tarusbawa, penerus Linggawarman. Akibatnya belahan timur Tarumanagara dengan batas sungai Citarum memerdekakan diri menjadi Kerajaan Galuh Kerajaan Sunda berlangsung hingga tahun 1482 M, dengan 34 raja. Prabu Maharaja Linggabuana dinobatkan menjadi raja di kerajaan Sunda pada 22 februari 1350 M. Ia gugur bersama putrinya, Citraresmi, dalam tragedi Palagan Bubat akibat ulah Mahapatih Gajahmada. Peristiwa itu terjadi pada 4 September 1357 M. Mahaprabu Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Linggabuana pada usia 9 tahun. Dia membuat Prasasti Kawali di Sanghiyang Linggahiyang atau Astana Gede Kawali. Dia juga yang membuat filsafat hidup :" Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana" (unggul dalam perang, lama hidup di dunia). Wastukancana memerintah selama <span>103 tahun 6 bulan dan 15 hari</span> dalam keadaan damai. Sri Baduga Maharaja adalah putra Prabu Dewa Niskala, cucu dari Prabu Wastukancana. Ia adalah pemersatu kerajaan Sunda, ketika Galuh kembali terpisah. Kerajaan ini lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. Dialah raja pertama yang mengadakan perjanjian dengan bangsa Eropa, yaitu Portugis. Ia berkuasa dari tahun 1482 s.d. 1521M.Kerajaan Galuh Pendirinya adalah Prabu Wretikandayun pada 612 M.Prabu Sanjaya Harisdarma. Ia disebut Taraju Jawadwipa, dan sempat menjadi Maharaja di tiga kerajaan : <span>Kalingga - Galuh - Sunda.</span> Sang Manarah yang dalam dongeng disebut Ciung Wanara. Ia putera Prabu Premana Dikusumah dari Naganingrum.Kerajaan Pajajaran Pajajaran adalah sebutan pengganti atas bersatunya kerajaan Galuh dengan kerajaan Sunda, yang dipegang oleh satu penguasa : Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran atau Sri Sang Ratu Dewata.Penggantinya adalah Prabu Sanghyang Surawisesa, yang berkuasa di belahan barat Jawa barat, karena di sebelah timur sudah berdiri kerajaan Islam Pakungwati Cirebon, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau Haji Abdullah Iman. Dia adalah putra sulung Sri Baduga Maharaja dari Subanglarang yang beragama Islam. Subanglarang adalah murid Syekh Quro Hasanudin Pura Dalem Karawang. Tahta kerajaan Pajajaran berlangsung turun-temurun : Ratu Dewata; Ratu Sakti, Prabu Nilakendra dan yang terakhir Prabu Ragamulya Suryakancana. Di pihak Cirebon sendiri, putera Susuhunan Jati Cirebon, yaitu Pangeran Sabakingkin, telah berhasil mendirikan kerajaan bercorak Islam Surasowan Wahanten (Banten) dan melakukan beberapa kali penyerbuan ke Pajajaran.Pakuan Pajajaran direbut dan dimusnahkan oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Hasanudin.Pajajaran sirna ing bhumi, atau Pajajaran lenyap dari muka bumi pada tanggal 11 bagian terang bulan wasaka tahun 1511 Saka atau 11 Rabi'ul Awal 978 hijriah atau tanggal 8 mei 1579 M.Sebagai tunas-tunas Pajajaran, muncullah 3 kerajaan Islam di tatar Sunda : Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon;Kerajaan Islam Surasowan Banten; dan Kerajaan Islam Sumedanglarang.Kebudayaan Sunda adalah kebudayaan yang diciptakan manusia Sunda dalam kehidupan masyarakat mereka melalui proses pendidikan. Syarat lahirnya kebudayaan :kebudayaan Sunda :Manusia sebagai pelaku : Manusia SundaTempat sebagai wadah : Tatar Sunda Peristiwa sebagai proses : Kehidupan masyarakat SundaSistem Pendidikan : Adat, mandala, pesantren, sekolahKekuatan eksternal utama yang berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Sunda sepanjang perjalanan sejarahnya hingga sekarang secara kronologis adalah : Kebudayaan HinduKebudayaan IslamKebudayaan JawaKebudayaan Eropa, danKebudayaan globalPertanyaan untuk kita adalah apakah kita memiliki kekuatan kebudayaan internal yang mampu menyaring pengaruh kebudayaan global, kemudian mengolahnya untuk dipadukan dengan kebudayaan yang telah kita miliki ? kiranya jawaban untuk kita adalah : Segera memperkuat diri kita dengan pengetahuan, pengamatan, apresiasi dan penertaan diri kita tentang kebudayaan kita sendiriMemperluas dan memperdalam mengenai kebudayaan (makna, ruang lingkup, fungsi, isi, manfaat) Mengamati, mengikuti dan menafsirkan tentang kebudayaan global yang masuk kedalam dunia kita (baik-buruk penampilan dan nilainya, baik-buruk dampaknya pada diri dan masyarakat kita, dll)Mendiskusikan dengan siapa saja hasil pengamatan dan penafsiran kita tersebut yang secara tidak langsung menguji kebenaran dan menyebarluaskan pandangan kita.Sikap yang diperlukan adalah sikap kita yang : rasional / kritisprofessional (keahlian dalam ilmu dan teknologi)kreatif (rancage) dinamis (motekar)efisien (saeutik mahi, loba nyesa)tepat waktu (!) dan kerjasama (sabilulungan)http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/tawis-tineung-ti-mang-yoseph-iskandar/431948304474
