ambu bisa oge disebutkeun ka awewe nu ngaranna nurutkeun ngaran anakna / 
biasana 
sok disambungkeun jeung ngaran anakna anu cikal : Ambu Iteung = indung si 
Iteung.
ambuing = ambu aing = indung aing
Sunan Ambu = indung Guruminda/Sangkuriang dina sasakala Lutung 
Kasarung/Sangkuriang
Upami nurutkeun conto anu diluhur Sunan Ambu jigana tiasa digentos ku Ambu 
Sunan 
?  




________________________________
Dari: mh <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Terkirim: Jum, 17 September, 2010 22:26:22
Judul: [kisunda] Bahasa - Na Enya, Abah jeung Ambu Nguyang ti Arab?

  
Meunang nyalin tina blog-na Kang Ahsa.

==========

Abah-Ambu: Bentuk Pengayaan Bahasa17 09 2010 
Oleh AHMAD SAHIDIN
“KITA saling panggil apa ya?” tanya istri saya waktu awal nikah. Saya jawab, 
“Anti panggil Aa saja dan Aa memanggil Neng ke Anti.”
Istri pun mengangguk. Panggilan Aa dan Neng terus melekat hingga usia satu 
tahun 
menikah. Memasuki awal tahun kedua pernikahan, saya dan istri sempat 
bersilaturahim kepada teman saya di kampus UIN Sunan Gunung Djati. Teman saya 
itu baru menikah dan memanggil istrinya dengan panggilan ‘Bunda’ dan istrinya 
memanggilnya ‘Ayah’.
“Wah, belum punya bayi tapi panggilannnya udah gitu,” ujar istri. Saya 
tersenyum. Sepulang dari teman saya dan istri kembali membincangkan soal 
panggilan. Dari perbincangan itu muncul ide untuk mengganti panggilan kita 
berdua. Istri saya bilang kita harus beda dengan yang ada dalam keluarga kita.
“Panggilan ayah dan ibu, mamah dan bapak, ummi dan abi, kan sudah oleh kakak 
kita. Jadi, apa?”
“Sudah saja kita pakai panggilan di Sunda: Abah dan Ambu.”
“Seperti panggilan mertua Kabayan.”
“Hehehe… bukan. Kata ‘Abah’ sangat dekat dengan istilah ‘Abu’ dalam bahasa 
Arab. 
Orang-orang Arab, biasanya memanggil ayah dengan ‘Aba’. Nah, orang-orang 
pesantren dulu, di tanah Sunda dan Batavia menggunakan pangilan itu menjadi 
Abah. Sedangkan Ambu berasal dari Ummu. Karena lidah orang Sunda sangat sulit 
bilang Ummu dan tidak enak dalam mengucapkan. Enknya bilang Ambu untuk menyebut 
ibu.”
“Benarkah?” tanya istri.
“Kalau kita baca sejarah bahwa istilah tersebut muncul dari proses Islamisasi 
ke 
Nusantara, khususnya di Sunda. Sejarawan Azyumardi Azra pernah menerangkan 
bahwa 
bahasa Melayu dan Indonesia banyak dipengaruhi bahasa Arab dan Persia. 
Misalnya, 
kata ‘kursi’ berasal dari bahasa Arab. Fenomena ini disebut ‘islamicate’– 
istilah Marshall G.S.Hodgson– untuk menyebutkan budaya yang bercorak Islam. 
Jadi, Abah dan Ambu atau Abi dan Ummi juga bercorak Islam. Keduanya berasal 
dari 
satu akar.”
“Jadi, panggil Abah-Ambu?” tanya istri.
“Ya.”
Lalu, kami pun saling memanggil dengan panggilan itu.
Pengaruh Bahasa Arab dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Di Indonesia 
Tentang pengaruh bahasa ini, ada dua orang yang telah melakukan penelitian 
tugas 
akhir kuliahnya tentang pengaruh bahasa asing terhadap Bahasa Indonesia. 
Namanya 
Hanifullah Syukri dan Anas Sasmita yang menyelesaikan pendidikan master di 
Program Pascasarjana UI dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang keduanya 
tentang pengaruh bahasa Arab dalam kehidupan sosial keagamaan di Indonesia.
Dari hasil penelitiannya itu, Sasmita menyimpulkan bahwa bahasa Arab merupakan 
alat komunikasi masyarakat baik kepada sesamanya maupun kepada Tuhan. Ia 
menemukan sedikitnya 850 kata yang berasal dari bahasa Arab dan tidak kurang 
dari 184 kata yang menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia. Dari sejumlah 
itu, kata yang dipergunakan dalam kontek syiar Islam atau dakwah Islam tidak 
kurang dari 793 kata. Karena itu, bahasa Arab mempunyai sumbangan yang besar 
nilainya dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia.
Syukri dalam tesisnya menyimpulkan, orang Arab ketika datang menjadi penyebar 
agama dengan jalur perdagangan banyak menggunakan bahasa daerah dan bahasa 
Indonesia. Mereka beranggapan dengan begitu mereka lebih mudah berkomunikasi 
dengan orang lain. Mereka juga tidak berkeberatan bahasa mereka diadaptasi 
menjadi bahasa setempat. Ini terbukti pada kata sekaten yang diambil dari kata 
dalam bahasa Arab syahadatain. Kata sekaten kini menjadi bahasa umum di 
Yogyakarta.
Pengaruh bahasa Arab dan Islam sangat kentara juga pada khazanah kebudayaan dan 
bahasa Sunda. Bahasa Sunda yang pada masa awalnya dipengaruhi struktur bahasa 
Sansekerta dari India. Khazanah bahasa Sunda bertambah setelah masyarakat Sunda 
menganut agama Islam dan menegakkan kekuasaannya di Cirebon dan Banten sejak 
akhir abad ke-16 Masehi. Beberapa kosakata bahasa Arab yang masuk dalam 
perbendaharaan bahasa Sunda, seperti duniya, niyat, selam (Islam), tinja 
(istinja), masigit, salat, abdi, korsi, dan sebagainya. Begitu pun dalam 
tradisi 
menulis atau huruf (aksara) yang digunakan dalam menulis oleh masyarakat 
terdahulu menggunakan aksara Arab pegon.
Kemudian seiring dengan berkembangnya masyarakat dan perebutan kekuasaan antar 
kerajaan serta masuknya kolonialisme asing, penggunaan aksara dalam menulis dan 
idom-idiom berubah atau menyesuaikan dengan keadaan zaman.
Nah, berbagai istilah yang disebutkan di atas, termasuk Abah-Ambu dapat disebut 
bentuk pengayaan bahasa. Karena itu, tidak mengapa jika masyarakat Indonesia 
memilih istilah Abah-Ambu atau Ummi-Abi karena itu menambah khazanah bahasa 
Indonesia.
PENULIS adalah alumni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan 
Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
http://ahmadsahidin.wordpress.com/2010/09/17/abah-ambu-bentuk-pengayaan-bahasa/




Kirim email ke