AMBU mah BASA SUNDA, pasangan ambu AYAH
Sunan Ambu : ibu Guru Minda

KAMUS BAHASA NASKAH DAN PRASASTI SUNDA ABAD 11 S.D 18
(EDITOR: PROF.DR.H.EDI S.EKADJATI)
AMBU, ibu
ambu téré ,  ibu tiri
ambuing, menyahuti semua ibu

AYAH, ayah , bapak

ayayah, ayah, bapak

KAMUS BAHASA SUNDA KUNO - INDONESIA 
(ELIS SURYANI N.S., UNDANG AHMAD DARSA)
AMBU, ibu
ambu téré ,  ibu tiri
ambuing, menyahuti semua ibu
piambuan, ibu kedua , uwak atau bibi

AYAH, ayah , bapak
ayayah, ayah, bapak

A DICTIONARY OF THE SUNDA LANGUAGE OF JAVA
(JONATHAN RIGG)
Ambu, mother (of a human being)
amba, a mother
ambikawi, a mother, a wife
ambuwa, a wife 
(amba, Ambika, Ambalika ,mother -Skr)

Aya(h), father, a very refined and respectful expression.

KAMUS BASA SUNDA
(R.SATJA DI BRATA)
ambu, indung at. ema, disebutkeun ka awéwé anu ngarana nurutkeun ngaran anakna, 
            up. Ambu Misnem (Ma Misnem): indung si Isnem; 
Sunan Ambu : ibu Guruminda (Lutung Kasarung)
ambu-ambu at. ambuing (ambu aing) : diomongkeun nuduhkeun kagét.

tina Kisah Bujangga Manik : jejak langkah peziarah
(TIGA PESONA SUNDA KUNA - J.Noorduyn - A.Teeuw)

A(m)buing tatanghi ti(ng)gal, 
tarik tarik di buhaya,
pawekas pajeueung beungeut,
kita a(m)bu deung awaking
héngan sapoé ayeuna

Ibunda tataplah dengan jelas,
dengan sedalam-dalamnya,
untuk yang terakhir bertatap muka,
kita, ibunda bersamaku
hanya tinggal sehari ini









________________________________
Dari: hangjuang bodas <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sab, 18 September, 2010 05:51:27
Judul: Re: [kisunda] Bahasa - Na Enya, Abah jeung Ambu Nguyang ti Arab?

  
Jadi hayang seuri ngabayangkeunana.....! :-) 
Enya, di milis ieu pan aya Ambu. Tah asana, inyana moal kersaeun disebat "ambu" 
lamun eta kecap teh asalna ti Arab......, sok we geura gentraan....!



From: mh <[email protected]>
>Subject: [kisunda] Bahasa - Na Enya, Abah jeung Ambu Nguyang ti Arab?
>
>
>  
>Meunang nyalin tina blog-na Kang Ahsa.
>
>==========
>
>Abah-Ambu: Bentuk Pengayaan Bahasa17 09 2010  
>Oleh AHMAD SAHIDIN
>“KITA saling panggil apa ya?” tanya istri saya waktu awal nikah. Saya  jawab, 
>“Anti panggil Aa saja dan Aa memanggil Neng ke Anti.”
>Istri  pun mengangguk. Panggilan Aa dan Neng terus melekat hingga usia satu  
>tahun menikah. Memasuki awal tahun kedua pernikahan, saya dan istri  sempat 
>bersilaturahim kepada teman saya di kampus UIN Sunan Gunung  Djati. Teman saya 
>itu baru menikah dan memanggil istrinya dengan  panggilan ‘Bunda’ dan istrinya 
>memanggilnya ‘Ayah’.
>“Wah, belum punya bayi tapi panggilannnya udah gitu,” ujar istri.  Saya 
>tersenyum. Sepulang dari teman saya dan istri kembali membincangkan  soal 
>panggilan. Dari perbincangan itu muncul ide untuk mengganti  panggilan kita 
>berdua. Istri saya bilang kita harus beda dengan yang ada  dalam keluarga kita.
>“Panggilan ayah dan ibu, mamah dan bapak, ummi dan abi, kan sudah oleh kakak 
>kita. Jadi, apa?”
>“Sudah saja kita pakai panggilan di Sunda: Abah dan Ambu.”
>“Seperti panggilan mertua Kabayan.”
>“Hehehe… bukan. Kata ‘Abah’ sangat dekat dengan istilah ‘Abu’ dalam  bahasa 
>Arab. Orang-orang Arab, biasanya memanggil ayah dengan ‘Aba’.  Nah, 
>orang-orang 
>pesantren dulu, di tanah Sunda dan Batavia menggunakan  pangilan itu menjadi 
>Abah. Sedangkan Ambu berasal dari Ummu. Karena  lidah orang Sunda sangat sulit 
>bilang Ummu dan tidak enak dalam  mengucapkan. Enknya bilang Ambu untuk 
>menyebut 
>ibu.”
>“Benarkah?” tanya istri.
>“Kalau kita baca sejarah bahwa istilah tersebut muncul dari proses  Islamisasi 
>ke Nusantara, khususnya di Sunda. Sejarawan Azyumardi Azra  pernah menerangkan 
>bahwa bahasa Melayu dan Indonesia banyak dipengaruhi  bahasa Arab dan Persia. 
>Misalnya, kata ‘kursi’ berasal dari bahasa Arab.  Fenomena ini disebut 
>‘islamicate’– istilah Marshall  G.S.Hodgson– untuk menyebutkan budaya yang 
>bercorak Islam. Jadi, Abah  dan Ambu atau Abi dan Ummi juga bercorak Islam. 
>Keduanya berasal dari  satu akar.”
>“Jadi, panggil Abah-Ambu?” tanya istri.
>“Ya.”
>Lalu, kami pun saling memanggil dengan panggilan itu.
>Pengaruh Bahasa Arab dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Di Indonesia 
>Tentang pengaruh bahasa ini, ada dua orang yang telah melakukan  penelitian 
>tugas akhir kuliahnya tentang pengaruh bahasa asing terhadap  Bahasa 
>Indonesia. 
>Namanya Hanifullah Syukri dan Anas Sasmita yang  menyelesaikan pendidikan 
>master 
>di Program Pascasarjana UI dan UIN  Syarif Hidayatullah Jakarta, yang keduanya 
>tentang pengaruh bahasa Arab  dalam kehidupan sosial keagamaan di Indonesia.
>Dari hasil penelitiannya itu, Sasmita menyimpulkan bahwa bahasa Arab  
>merupakan 
>alat komunikasi masyarakat baik kepada sesamanya maupun kepada  Tuhan. Ia 
>menemukan sedikitnya 850 kata yang berasal dari bahasa Arab  dan tidak kurang 
>dari 184 kata yang menjadi kata serapan dalam bahasa  Indonesia. Dari sejumlah 
>itu, kata yang dipergunakan dalam kontek syiar  Islam atau dakwah Islam tidak 
>kurang dari 793 kata. Karena itu, bahasa  Arab mempunyai sumbangan yang besar 
>nilainya dalam perbendaharaan kata  bahasa Indonesia.
>Syukri dalam tesisnya menyimpulkan, orang Arab ketika datang menjadi  penyebar 
>agama dengan jalur perdagangan banyak menggunakan bahasa daerah  dan bahasa 
>Indonesia. Mereka beranggapan dengan begitu mereka lebih  mudah berkomunikasi 
>dengan orang lain. Mereka juga tidak berkeberatan  bahasa mereka diadaptasi 
>menjadi bahasa setempat. Ini terbukti pada kata  sekaten yang diambil dari 
>kata 
>dalam bahasa Arab syahadatain. Kata  sekaten kini menjadi bahasa umum di 
>Yogyakarta.
>Pengaruh bahasa Arab dan Islam sangat kentara juga pada khazanah  kebudayaan 
>dan 
>bahasa Sunda. Bahasa Sunda yang pada masa awalnya  dipengaruhi struktur bahasa 
>Sansekerta dari India. Khazanah bahasa Sunda  bertambah setelah masyarakat 
>Sunda 
>menganut agama Islam dan menegakkan  kekuasaannya di Cirebon dan Banten sejak 
>akhir abad ke-16 Masehi.  Beberapa kosakata bahasa Arab yang masuk dalam 
>perbendaharaan bahasa  Sunda, seperti duniya, niyat, selam (Islam), tinja 
>(istinja), masigit,  salat, abdi, korsi, dan sebagainya. Begitu pun dalam 
>tradisi menulis  atau huruf (aksara) yang digunakan dalam menulis oleh 
>masyarakat  terdahulu menggunakan aksara Arab pegon.
>Kemudian seiring dengan berkembangnya masyarakat dan perebutan  kekuasaan 
>antar 
>kerajaan serta masuknya kolonialisme asing, penggunaan  aksara dalam menulis 
>dan 
>idom-idiom berubah atau menyesuaikan dengan  keadaan zaman.
>Nah, berbagai istilah yang disebutkan di atas, termasuk Abah-Ambu  dapat 
>disebut 
>bentuk pengayaan bahasa. Karena itu, tidak mengapa jika  masyarakat Indonesia 
>memilih istilah Abah-Ambu atau Ummi-Abi karena itu  menambah khazanah bahasa 
>Indonesia.
>
>
>PENULIS adalah alumni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan 
>Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
>
>
>
> 

 

Kirim email ke