salam

Mudah2an indonesia bisa damai...
kasalahan ieu muncul tina pandangan pidato atawa doktrin media anu nyamikeun teroris jeung Islam, padahal mah coba lamun para petinggi indonesia boga pendapat sorangan mengenai teroris, jiga ahmad dinejad pidato sacara lantang di PBB yen WTC teh konspirasi amerika, alqaida teh saha? pemboman ku Jundullah di daerah perbatasan iran dilakukeun ku amerika... eta pamimpin jundullah oge ngaku di pengadilan yen manehna dina proyek pemboman rakyat teu berdosa di mesjid disalurkeun ku dana amerika. Bahkan ahli politik iran jeung afgan dina berita Al-Alam (bhs arab) jeung Al irin (basa persia) nyarios dimana aya amerika diditu aya terorisme....diditu aya pemboman diditu aya pemecah belah.

Lamun urang baca sejarah, apanan sajarah oge jadi pelajaran... urang tingali nagara timur tengah heula we contohna iran, kulantaran kuring ngiringan beritana... dina sajarah iran ti mulai ayana kedubes Amerika di iran , dokumen pemboman kantor2 ulama jeung kantor2 para aktifis jeung aksi pemboman lainna ditemukeun di kedubes amerika, bahkan dokumen yen presiden pertama Bani sadr namina eta oge kabuktikeun CIA amerika ku kode khusus, dokumen ieu kapanggih saatos kedubes amerika dikuasai ku mahasiswa jeung aktifis iran basa harita, tah didinya alasanna yen kedubes amerika apus di iran.
ayeuna coba tingali berita rakyat amerika oge ayeuna geus mulai rada paham ku katerangan para ahli gedung jeung arsitek WTC jeung sabagean bukti kotak film di pesawat jeung film penanaman bom di gedung seminggu sebelum kejadian, hal ieu ngabukakeun jalmi2 anu berpikir , saha anu ngabom teh?

kadua , Osama anu dikenal pedagang kaya raya, dina sajarah hirupna anjeuna teh sobatan deukeut jeung josbus, mangga tingali pemberitaan sajarah anjeunana... tah naon tah hubungan osama jeung josbus....

Islam jeung masyarakat islam jadi media kajahatan kanggo musuh Islam

tah kudu na mah urang ulah kajebak teroris jeung amerika

rumusna mah kieu we : Amerika + Israel + jalmi anu awam agama ekstrem biasana golongan wahabi (dimanfaatkeun ku amerika)

tah lamun urang bisa awas dina perihal ieu urang moal wani nganyamikeun bahkan ngarendengkeun islam jeung teroris.

jeung ieu judul oge bisa munculkeun kemarahan urang islam.

mudah2an para petinggi urang di pamarentahan teu kabujuk ku Amerika, urang oge teu kajebak ku pemberitaan, jeung anu ngarasa asup kana gerakan ekxtrem supaya tobat... teu ngakhayal. keberadaan nagara ayana ku ayana lemah cai jeung masyarakat jeung pamarentahan, tah lamun maksakeun ku khayalan manehna deuk ngadirikaeun nagara kahayang manehna, kudu narima oge masyarakat ulah maksakeun, kulantaran masyarakat oge salah sahiji syarat keberadaan nagara.
kadua pamarentah mudah2an balik deui kana kahayang rakyatna ulah kajebak2 wae kana ketentual global jeung kapital, kudu balik deui kana asas kemasyarakatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, jeung supaya ngajalankeun ideologi kemanusiaan yang adil dan beradab , sahingga moal mungkin babaturan jeung amerika anu teu boga rasa kamanusaan....

wallahu alam





From: Ii Sumirat <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, September 29, 2010 1:35:46 AM
Subject: RE: [kisunda] Re: [Urang Sunda] Gawat! Densus 88 Habisi Jamaah Sedang Shalat, Dua Tewas

 

Masih pakait oge

 

DETIK: Mantan Panglima TNI: Teroris Sebaiknya Ditangkap Hidup

Posted by: "Sumardjo"
[email protected]


Wed Sep 22, 2010 9:44 pm (PDT)

Tidak mengurangi rasa duka atas gugurnya 3 polisi kita di Sumut, pendapat

Pak Endriatono berikut layak diangkat supaya menjadi isu lebih besar.

POLRI harus cepat2 berbenah, bagaimanapun dikau harapan kami sebagai salah

satu penjaga tatanan sipil di negara ini.

Jangan sampai POLRI malah jadi musuh bersama masyarakat.

Indra Subagja - detikNews

Jakarta - Sejumlah pelaku teror tewas didor dalam penyergapan yang dilakukan

Densus 88. Padahal, jika para pelaku teror ditangkap hidup, banyak

keuntungan yang bisa dipetik. Informasi dari pelaku bisa digunakan untuk

mengejar pelaku lain.

"Penting untuk mengungkapkan yang lebih besar, dan juga memudahkan untuk

mengungkap siapa biangnya dan siapa yang membiayai," kata mantan Panglima

TNI, Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, Kamis (23/9/2010).

Dia menjelaskan, kalau terbunuh, akan sulit mengungkapkan jaringan yang

lain. Butuh tenaga ekstra, misalnya dengan penyadapan dan merekrut informan

yang ada di sekeliling pelaku teror itu.

"Lebih mudah kalau hidup, tapi mungkin kepolisian belum siap, daripada jadi

korban," terangnya.

Endriartono memberi contoh dalam penggerebekan tersangka Ibrohim, pelaku

aksi bom di JW Marriott pada 2009 lalu. Saat itu di Temanggung, untuk

menangkap tukang kembang saja polisi sampai membutuhkan waktu 2 malam.

"Kemudian pelaku mati, padahal cost-nya mahal sekali itu. Dia sendirian dan

tidak bersenjata," tambahnya.

Endriartono menduga, aksi pelaku teror yang menyerang Mapolsek Hamparan

Perak itu pun sebagai ajang balas dendam atas aksi penyergapan yang

dilakukan tim kepolisian.

"Akhir-akhir ini polisi menggulung teroris, membunuh, dan menangkap,

akhirnya mereka menjadikan polisi musuh. Mereka tidak peduli yang menangkap

siapa, tapi melihat polisi sebagai lawan," imbuhnya.

Diketahui dalam penggerebekan Densus 88 pada Minggu (19/9) kemarin, 3

terduga pelaku teror tewas didor. Namun kemudian pada Rabu (22/9) dini hari,

pelaku teror membalas menyerang Polsek Hamparan Perak, 3 polisi tewas dalam

insiden ini.

(ndr/fay)

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Agus Wirabudiman
Sent: Monday, September 27, 2010 9:51 PM
To: Majalah Sabili; muhammadiyah society; pesantren daarut tauhid; alumni darularqam; [email protected]; kaulamuda NU; [email protected]; forum lingkar; persaatun pelajar; [email protected]; insan cita; Civil Society; Forum Sosial Milist
Cc: cepi alhakim; [email protected]
Subject: [kisunda] Re: [Urang Sunda] Gawat! Densus 88 Habisi Jamaah Sedang Shalat, Dua Tewas

 

 


Wa'alaikumsalam Wr Wb
Setuju kang Cepi....

"Stop menghakimi dan melanggar HAM atas nama pemberantasan Teroris"

tambihan kang...

"Stop Pengeboman, Perampokan, Kekerasan atas nama Agama/Islam"

Wassalam Wr Wb

--- On Tue, 9/28/10, Cepi Al Hakim <[email protected]> wrote:


From: Cepi Al Hakim <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] Gawat! Densus 88 Habisi Jamaah Sedang Shalat, Dua Tewas
To: "Majalah Sabili" <[email protected]>, "muhammadiyah society" <[email protected]>, "pesantren daarut tauhid" <[email protected]>, "alumni darularqam" <[email protected]>, [email protected], "kaulamuda NU" <[email protected]>, [email protected], "forum lingkar" <[email protected]>, "persaatun pelajar" <[email protected]>, "urang sunda" <[email protected]>, "insan cita" <[email protected]>, "Civil Society" <[email protected]>, "Forum Sosial Milist" <[email protected]>
Cc: "cepi alhakim" <[email protected]>
Date: Tuesday, September 28, 2010, 10:35 AM

 

Ass. Wr.  Wb.

Kita memang mengutuk keji kegiatan terorisme, apapun bentuknya...tapi selama ini Islam selalu yang jadi sasaran. Stop menghakimi dan melanggar HAM atas nama pemberantasan Teroris, janga samapai membuat provokasi dan ummat Islam marah dan menyebabkan hal-hal yang lebih mengarah pada dendam dan menimbulkan masalah baru.

Apakah tidak ada cara yang lebih persuasif dalam menangani tersangka Teroris, selain memberondong dan menangkap orang yang salah.

Wassalam,
 Al Hakimc

 

Gawat! Densus 88 Habisi Jamaah Sedang Shalat, Dua Tewas

JPNN - Padang Today

Image removed by sender. klik untuk melihat foto
Ilustrasi

Tindakan yang dilakukan Densus 88 terhadap Khairul Ghozali bersama 4 orang jemaahnya saat shalat maghrib di Jalan Besar Medan-Tanjung Balai Asahan, dinilai sebagai tindakan yang biadab tidak berperikemanusiaan.

Pernyataan tersebut ditegaskan Adil Akhyar Al Medani, didampingi putri kandung ustadz Ghozali, Rabbaniyah (17) kepada Sumut Pos (grup Padang-Today.Com) Jumat (24/9) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Jalan Hindu Medan.

"Biadab. Saat orang shalat dihabisi, seolah-olah negera ini bukan Negara hukum. Dalam penyerangan biadab itu, dua orang jemaah itu tewas di tempat akibat ditembaki Densus 88, sedangkan seorang lagi dapat melarikan diri. Sementara itu abang saya, ustadz Ghozali itu terus dianiaya diinjak-injak densus, namun abang saya itu tetap terus shalatnya," tegas pemilik Pondok Pesantren Dkwah Daarul Syifaa.

Atas penyerangan yang tidak berprikemanusiaan itu, sambung Akhyar, diharapkan agar presiden segera meninjau dan membubarkan Densus 88 karena telah melanggar dan bertindak diluar hukum.

"Saya minta agar presiden SBY agar memperhatikan konfrensi pers ini.Jangan presiden hanya mendengarkan laporan sepihak dari Kapolri BHD.Kami juga meminta pada komisi III DPR-RI, untuk segera mngusut tuntsa kasus ini, dan segera meninjau kembali densus 88, karena sudah tidak berprikemanusiaan," tegas Akhyar.

Akhyar sendiri sudah mengetahui keberadaan abang kandungnya tersebut, ustadz Ghozali yang saat ini info yang dia terima berada di Mebes Polri.Sementara itu langkah hukum yang akan ditempuh keluarga besar Ghozali yakni sudah melamporkan kasus ini ke Amnesty Internasional.

"Saat ini kami sudah memberikan keterangan pada Amnesty Internasional, laporan tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, nah untuk keponakan saya yang masih berumur beberapa bulan yang ditahan Polres Tanjung Balai, bersama ibunya Kartini Panggabean, kami juga sudah melaporkan ke Komisi Perli Anak Indonesia," beber pria berjubah putih ini.

Akhyar juga menceritakan selamatnya Kartini Panggabean istri dari ustadz Ghozali, karena Cici (Kartini Panggabean red) berada di ruangan lain. "Namun usai penyerangan tersebut tidak berapa lama datang Polres Tanjung Balai, ke kediaman abang saya seolah-olah tidak mengetahui penyerangan tersebut.Saat itulah Kartini Panggabean bersama anaknya yang masih berumur beberapa bulan diboyong ke Polres, dengan alasan polisi untuk diminta keterangannya," terangnya.

Sementara itu salah seorang putrid ustadz Ghozali, yakni Rabbaniyah, pelajar Kelas 2 SMA Kelas Muhammdiyah 18 Kampung Lalang yang turut mendampingi pamannya Adil Akhyar Al Medani, di LBH Medan Jalan Hindu Medan, berharap orangnya tuanya tersebut segera pulang kerumah untuk berkumpul bersama keluarganya.

"Saya berhaharap buya (ayah) pulang secepatnya untuk berkumpul bersama keluarga lagi.Saya yakin buya tidak bersalah untuk itu saya hanya hanya bisa menyerahkan dan berdoa pada Allah SWT," beber gadis manis berkerudung hijau ini. Walaupun, ayahnya dicap teroris oleh Densus 88, namun Rabbaniyah tetap percaya pada orang tuanya dan tetap bersemangat untuk bersekolah.

"Saya berharap kasus penganiayaan buya saya dilakukan Densus 88, saat menjalankan ibadah shalat maghrib, dapat menjadi perhatian serius dari bapak Presiden SBY, agar polisi-polisi itu segera ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku," tegas Rabbaniyah.(rud)



http://padang-today.com/index.php?today=news&id=21235



 


Kirim email ke